Recent Posts

Pantan Terong, Aceh Tengah, Bukit Indah untuk Melihat Danau Lot Tawar

5 komentar

Pagi-pagi sekali, setelah berendam di pemandian air panas Simpang Balek, kami berkemas menuju Takengon, Aceh Tengah. Melalui jalur umum, kami hanya butuh sekitar tiga puluh menit untuk ke sana. Namun untuk apa terburu-buru....Perjalanan itu tak hanya tentang tempat yang dituju, cerita pada setiap kelokan jalan yang kita ambil dan hal-hal tak terduga yang kita temukan juga penting sebagai kenangan. Jadi, kami meninggalkan jalur umun, mengambil jalan menanjak, melintasi jalan-jalan kecil berkelok, melewati perumahan sederhana berseling perkebunan kopi milik warga.

AC mobil si adek bungsu sedang bermasalah, tapi siapa yang butuh AC di daerah dataran tinggi Aceh Tengah? Buka saja jendela dan nikmati udara segar perbukitan yang menyapa kulit.

Saat roda berguling, aku merasa  bebas... Perbukitan hijau terasa lebih nikmat di mata dibanding jalanan besar dipadati kendaraan dan asap-asap polusi. Riuhnya anak-anak berlari di jalan atau mengayuh sepeda lebih menyenangkan dibanding suara raungan motor anak-anak di bawah umur di jalan-jalan kota. 

Puncak bukit Pantan Terong.

Banyak yang bilang bukit Pantan Terong yang berada pada ketinggian 1.830 meter dari permukaan air laut adalah titik terbaik untuk melihat keindahan Danau Lot Tawar dan keramaian Kota Takengon.  Jadi kesanalah kami menuju...


 

Tak hanya perbukitan, kebun dan ladang pun tampak berseling dengan rumah-rumah sederhana milik masyarakat lokal. Wajah-wajah petani kemerahan yang berpapasan pun tampak ramah dan bersahaja.

Aceh Tengah diberkahi dengan tanah subur.. Tak hanya tanaman kopi namun juga ragam jenis sayuran dan buah yang akan dijual hingga ke kabupaten-kabupaten lain. 

Jadi teringat sewaktu sekolah pesantren dulu. Di asrama kami, santrinya berasal dari Takengon seringkali membawa banyak hasil kebun sekembali dari liburan... Satu kotak jeruk Takengon yang rasanya manis, segar khas mampu kami habiskan dalam sekali duduk. Begitu pula alpukat yang legit-legit lembut itu. Anugerah banget kalau di kamar ada yang dari Takengon.

Pemandangan biji kopi sedang dijemur di perjalanan kami

Kami juga melewati berhektar perkebunan kopi dengan pohon-pohonnya yang rendah dan buah-buah yang masih mengkal.Kabarnya bila musim petik tiba banyak yang mendadak menjadi pemetik kopi musiman. Harganya lumayan banget untuk mereka.

Dan setelah kelokan ke sekian, sampailah kami di puncak bukit Pantan Terong.... Ada sebuah plang nama dan bangunan bercat kuning yang tampaknya digunakan sebagai warung bagi pengunjung. Dan ketika kami berdiri di pinggir tebing, tampaklah kota Takengon di bawah sana. Sekitar kami angin dingin bertiup namun matahari mampu menghangatkan..

Terletak di kecamatan Bebesan, kawasan ini kerap dikunjungi wisatawan lokal atau dari luar Aceh.

Sayangnya kabut masih menyelimuti pandangan kami... Beberapa kali aku mengambil foto namun tak terlalu puas dengan hasilnya. Kabut membentuk serupa selaput di lensa kamera... Atau aku saja yang tak pintar teknik memoto ya.

Dari sini kami bisa melihat Danau Laut Tawar, berputar ke arah lain, ada sebidang tanah lapang yang adalah tempat pacuan kuda belang Bebangka...juga bandar udara Rembele.

Setelah puas melihat-lihat, dari Bukit Pantan Terong mobil membawa kami menuruni bukit. Jalanan yang sempit ditambah adanya  perbaikan jalan membuat perjalanan kami tersendat sebentar. Tak apa, toh kami akhirnya terus melaju menuju pusat keramaian di kota Takengon, mengunjungi Gua Putri Pukes dan juga Danau Laut Tawar.. 

Tunggu cerita selanjutnya #halah!

Ikut Asma Nadia National Writing Workshop Ahhh!

16 komentar

~~Malam-malam tak bisa tidur itu menyiksa~~

Rumah sepi ; anak-anak muda penghuni kontrakan seberang jalan tak lagi terdengar, jarum jam sudah melangkahi angka dua belas, namun sisa kafein masih mengalir di darah, menahan pikiran untuk lelap. Pundak yang kaku, jari jemari yang rasanya keram sangat tidak nyaman, membuatku bangkit dan meninggalkan kasur.

Di benakku, semua pikiran berputar-putar : revisi naskah lama yang ditolak dua penerbit, draft novel tentang Tamiang yang tak kunjung menemukan ending, ide-ide untuk meningkatkan traffic blog, cerpen untuk dikirim ke media cetak… Datang berganti-ganti, meneror, menimbulkan mual dan rasa tak mampu. Banyak maunya kamu Haya!

Menghidupkan kembali laptop yang masih panas bukan pilihan baik sebenarnya, tapi mau apa lagi? Bukannya mencoba kembali untuk mengetik, aku malah tergoda mengecek akun-akun media sosial. Jreng gojreng! mataku menubruk sesuatu yang menarik Asma Nadia National Writing Training. Foto para pemateri dalam bulatan kecil dan tulisan Peluang Naskah Diterbitkan terekam di manik mataku, menggoda. Mereka itu orang-orang terkenal dan berguru kepada mereka adalah yang aku butuhkan. Lagi pula, bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki mimpi yang sama bisa memompa semangat. Iya kan?


 




Tahun 2012, aku sempat bertemu Asma Nadia dalam acara Inagurasi Angkatan ke-16 Forum Lingkar Pena Jakarta. Yang kuingat jelas adalah gaya bicara dan sikap tubuhnya ketika mengisi workshop serupa motivator yang menghipnotis… Dan saat ini aku butuh mantra-mantra yang kerap Mbak Asma Nadia tebar itu!

Maka, jadilah... 

Hari Minggu tanggal 2 Oktober, aku sudah sampai di Gedung Jakarta Design Center, sepuluh menit kurang dari jam sembilan. Kaget juga melihat ke dalam ruang Lotus yang bangku-bangkunya sudah ramai. Tadinya aku pikir, tak akan seramai ini. Untungnya masih ada sisa bangku untukku di deretan pertama. 

Sesi Pertama adalah duet mesra antara ayah Isa Alamsyah dan bunda Asma Nadia. Materi tentang kenapa harus menulis, bagaimana untuk menjadi penulis, mencari dan mengembangkan ide cerpen, novel dan non fiksi disajikan dengan hidup. Yakinlah tak ada dari kami yang mengantuk.

Sedikit bocoran materi untuk kamu :

IDE, temukan yang unik, beda, tidak lazim, kontroversi, diluar batas kewajaran, tidak klise, hal-hal yang sedang digandrungi, ada unsur-unsur pembaharuan yang orisinil yang membuat karya kita tak akan membekas. Bebaskan saja imajinasi kita untuk membuat cerita dengan kegilaan ide yang ada di kepala kita.

JUDUL, haruslah punya kekuatan untuk memancing dan menarik minat pembaca, jangan terlalu panjang atau terlalu pendek namun pas dan menggambarkan isi cerita. Carilah judul terbaik dan benar-benar terdengar megah.

OPENING, Buka cerita dengan kalimat-kalimat/ide menggebrak yang menarik, tidak bertele-tele, namun tidak membocorkan cerita dan mampu membangun rasa penasaran pembaca.

KONFLIK, adalah nyawanya cerita. Jadi harus ditampilkan dengan kuat. Konflik yang sering muncul berkisar pada masalah cinta, misteri, komedi atau tragedi. Namun ingat, solusi konflik nantinya harus memuaskan dan rasional. 

ENDING, ending yang baik adalah ending yang meninggalkan kesan mendalam, membuat pembaca marah atau sedih atau gembira. Ending tak harus berada di bagian paling akhir cerita, bisa disisipkan bagai bagian 'tersembunyi' hingga pembaca tak bisa menebak di awal.

Tuh, cetar kan materinya? Itu cuma secuil bocoran, yang kami dapat lagiiiii banyak... lagiiiii bombastis!


Setelah sholat dzuhur dan makan siang, SESI KEDUA tak kalah seru. Mas Guntur Soehardjanto telah siap dengan obrolan tentang serba-serbi  SKENARIO. Beliau adalah penulis skenario film Assalamualaikum Beijing, Love Spark in Korea, 99 Cahaya di Langit Eropa dan yang sebentar lagi akan dirilis, Cinta Lelaki Biasa dan Pinky Promise.

Sebagai penyuka film sejak kecil, mas Guntur memiliki ketertarikan kuat dan rasa penasaran akan semua film-film yang beliau tonton sewaktu kecil.  'Ini ceritanya benar nggak sih? pertanyaan itu kerap datang selesai ia menonton.

Lalu, apa saja hal yang mas Guntur perhatikan ketika akan membuat sebuah film?

"Cerita yang dekat dengan kehidupan kita agar penonton bisa mencintai karakter-karakter yang dihadirkan, masalah dan penyelesaikan yang bisa diterima logika, konflik menarik, ide-ide yang sesuai momentum ketika film itu dibuat dan yang penting adanya pesan-pesan inspiratif di dalamnya yang mampu menyadarkan secara halus," ujar pria asal Tumenggung ini.

Tak cukup tiga pemateri, setelah sholat Ashar pemateri selanjutnya datang , Mas Agung Pribadi, penulis buku Gara-Gara Indonesia yang dijuluki Historivator pertama di Indonesia. Mas Agung memberi tips bagaimana menulis karya non fiksi dengan aroma dan gaya fiksi yang menghibur. Bagaimana menulis hal-hal yang tak terpikirkan oleh kita dengan gaya dan bahasa yang menggelitik. Hingga pembaca secara perlahan dibawa pada 'kesadaran' akan suatu hal. Begitulah lebih kurang... ^^ Kalau kamu penasaran, sana ke toko buku dan cari bukunya mas Agung Pribadi yess?

Sesungguhnya foto bareng itu adalah keharusan demi kenangan

Sepuluh menit sebelum pukul lima sore, Mbak Asma Nadia pamit karena harus ke Budapest untuk urusan syuting film baru yang diangkat dari novel beliau. Iya, MAU ADA FILM BARU LAGI! Judulnya Surga yang Tak dirindukan II yang akan tayang 15 Desember 2016. Selain itu akan ada film baru juga Cinta Laki-laki Biasa. Produktivitas Asma Nadia benar-benar bikin iri ya..

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang karya-karya beliau, kepoin aja akun-akun media sosialnya mbak Asma Nadia. Akun media sosial beliau selalu aktif dan update, asyik buat diintip.

Dan begitulah, dalam satu hari kemarin, kepala rasanya penuh, semangat rasanya terpompa. Asiknya masih ada sesi-sesi selanjutnya minggu depan 9 Oktober 2016 dengan pemateri tak kalah keren Helvy Tiana Rosa, Hilman Hariwijaya dan Alim Sudio. Tak sabarrr.... ^^

Happy writing, happy blogging!

Haya Nufus

5 Hal Keren yang Harus Kamu Lihat di Bener Meriah, Aceh

15 komentar

Rencana untuk ke Kabupaten Bener Meriah sudah ada sejak aku masih di Madagaskar dulu. Sebagai orang berdarah Aceh kental tanpa campuran, ada rasa bersalah sebelanga karena hanya mengenal setitik saja dari nanggroe. Luas Aceh, ujung ke ujung itu adalah 58.375,63 km2, ada 23 kabupaten/kota yang tersebar dengan ragam adat, budaya dan bahasanya. Dan kamu duhai Haya, sudah sejauh apa kamu mengenal tanah kelahiran yang kamu banggakan itu? Hanya wilayah pesisir timur-utara saja? Aishhhh!! Malu lah....

Jadi, begitu anak-anak menerima raport kenaikan kelas Ramadhan kemarin,  aku langsung meminta bang IQ untuk memesan tiket Jakarta - Banda Aceh. Berencana mencicil Jalan-Jalan Keliling Aceh, melepas rindu sambil memperkenalkan Anak-anak pada nanggroe. Aku dan anak-anak saja yang pulang, karena Bang IQ masih punya kewajiban di kantor, tak bisa ambil cuti. Tak apa, susul kami lebaran nanti ya bang ^^ dan jangan lupa transferannya...Hahaha

Dari Banda Aceh, kami singgah di Beureunun, Aceh Pidie beberapa hari, menjenguk mamak, maksyiek dan keluarga. Lalu, dengan minibus L300, meluncurlah kami menuju Kabupaten Bener Meriah. Bukan tanpa perencanaan, karena di Simpang Balek sana, si adek bungsu semata wayang sudah menunggu.

The .. L300

Meski ini adalah kali pertama aku ke Kabupaten Bener Meriah, tak ada getar-getir khawatir bepergian hanya bertiga dengan Anas dan Azzam. Kalau keliling Aceh, yakin aja nggak akan kenapa-kenapa, rasanya semua orang di jalan itu sodara. Jago kandang banget aku memang. Beda rasanya kalau di tempat lain, ke mall aja minta diantar bang IQ.

Dan begitu L300 itu meninggalkan kota juang Bireun, pemandangan mulai tampak beda, perbukitan dengan pohon-pohon hijau di satu sisi dan lembah di sisi lain. Jalanan mulai melingkar membawa kami ke dataran tinggi, wajar saja udara mulai terasa sejuk. Ada juga lahan kosong dan perkebunan berseling rumah-rumah penduduk.



Mungkin, dulu sepanjang jalan menuju Kabupaten Bener Meriah lebih hijau dengan hutan yang rimbun. Namun penebangan hutan untuk beragam alasan susah sekali dihentikan. Butuh keseriusan pemerintah dan kesadaran warga dalam menjaga kelestarian alam.

Kami berhenti sebentar di sebuah mesjid ketika waktu zuhur tiba. Ketika berwudhu, air yang keluar dari keran sangat dingin ~serupa air yang telah disimpan di dalam kulkas~. Suara-suara yang terdengar telinga kami pun mulai beragam, Suku Gayo dengan dialek mendayu mirip dialek India bercampur Bahasa Aceh yang lebih berat dan Bahasa Jawa yang medhok membuai telinga. Dulu sekali, aku pernah ingin belajar Bahasa Gayo. Rasanya lidah jadi seksi-seksi gimana gitu... ^^d

Lalu, setelah dua jam setengah dari Beureunun sampailah kami di Simpang Balik. Rasanya ajibbb! Satu keinginan terkabul, Alhamdulillah...!! 

Kabupaten Bener Meriah adalah kabupaten termuda yang memekarkan diri dari kabupaten Aceh tengah pada tahun 2004. Dengan pusat pemerintahannya di Simpang Tiga Redelong, Kabupaten Bener Meriah, pantas dilirik untuk tujuan jalan-jalan asik kamu. Meski, kondisi alam, tradisi kesenian dan adat istiadatnya memiliki banyak kesamaan dengan Aceh Tengah, ada sentuhan rasa yang berbeda.. Karena setiap tempat itu unik temans.

Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan saat berkunjung ke Bener Meriah? Setidaknya ada 5 hal keren yang harus kamu lihat di Aceh Bener Meriah. Cekidot!

1. Gunung Burni Telong


Gunung Burni Telong yang menjulang tinggi akan mudah kita lihat dari kejauhan, meski seringkali puncaknya tertutup kabut. Gunung Berapi aktif ini menjadi ikon Aceh Bener Meriah, dengan hutan yang melingkupinya. Terletak di atas ketinggian 2.600 meter di atas permukaan air laut, gunung ini pernah meletus pada tahun 1924.  

Sayang oh sayang, aku hanya menatap dari jauh, tanpa sempat untuk masuk dan menjenguk ke dalam hutannya atau mendaki sampai ke puncak. Mungkin itu pertanda, kalau aku harus kembali lagi kemari lain waktu dengan persiapan dan rencana yang lebih matang.

2. Pemandian Air Panas


Kolam pemandian air panas di Simpang Balek, Sumber foto : benermeriah.com

Karena adanya gunung berapi aktif, maka pada beberapa titik bisa ditemukan sumber air panas. Awalnya kami berencana mandi dan berendam air panas di kolam Bandar Lampahan, karena menurut adek bungsu, disana lebih bersih dan pemandangannya lebih bagus, namun mungkin karena Ramadhan kolam itu tutup. Jadi kami bergerak ke kolam pemandian air panas di Simpang Balek. Tempat ini juga sepi, sodara-sodara! Jadi berasa kolam milik pribadi hihi. Asiknya lagi, kolam ini tertutup dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Ya iyalahhhh!!!

Anak-anak jelas kesenangan, namun ternyata air di kolam pemandian laki-laki lebih panas daripada di kolam pemandian wanita. Baru beberapa menit, tubuh anak-anak sudah merah serupa terebus dan tenaga mereka seakan tersedot membuat lemas. Tumben aja, nggak perlu teriak-teriak buat ajak udahan. Tapi.... karena kolam sepi, puas juga kami mandi sambil berenang. 

3. Pacuan Kuda



Ah,  mana ada lomba pacuan kuda saat Ramadhan! Adanya malah di bulan Agustus, saat memeriahkan Hari Kemerdekaan RI atau acara-acara kebudayaan tahunan. Kami memang salah waktu datang kemari. Tapi gimana lagi, kesempatan dan waktu yang kami punya ya memang pas liburan Ramadhan. 

Meski begitu, aku pergi jugalah ke arenanya untuk melihat tanah yang kosong dan deretan bangku penonton yang sepi. Pokoknya, diusahakan, sebisanya untuk balik lagi kemari.... Aamiin!

Kalau pas ada perlombaan Pacuan Kuda, pasti bakal rame kayak di foto pinjaman dari Citra Rahman pemilik https://hananan.com ini.

Kebayang meriah, rame dan serunya acara lomba kan? Kalau kamu ingin tahu lebih tentang Pacuan Kuda, silahkan ke blognya Citra ya... di https://hananan.com/2013/03/17/pacu-kude-di-tanah-gayo/ Citra sempat melihat acara lomba itu di Takengon, Aceh Tengah, namun sedikit banyak acaranya mirip lahh

4. Air Terjun Tansaran Bidin

Sumber foto : https://i.ytimg.com/vi/1rFwbzAUf7c/maxresdefault.jpg

Lagi-lagi.....,  sayang banget kami tak sampai ke air terjun indah di Bener Meriah ini. karena Air Terjun Tansaran Bidin nan eksotis ini letaknya termasuk sulit dijangkau dan juga karena si adek bungsu sedang hamil besar sayang kalau dipaksa untuk mengantar kami kemari.  BANG IQ AYO KITA LIBURAN LAGI KE BENER MERIAH!! #caps lock jebol

Air terjun yang terletak di Kampung Wonosari kecamatan Bandar ini oleh warga lokal kerap dijadikan lokasi untuk pengambilan foto prewedding. Sayangnya beberapa saat lalu sempat terjadi kecelakaan disini, calon mempelai pengantin terpeleset hingga jatuh dan terbawa arus. Keduanya diberitakan tak tertolong. Sedih ya... Berlibur ke alam memang harus waspada dan hati-hati. Keindahan yang tampak untuk kita syukuri dan nikmati...

5. Monumen Radio Rimba Raya

Foto milik Citra Rahman http://hananan.com

Zaman sekolah dulu, di sekolahku ada seorang guru senior yang suka sekali mengkisahkan tentang peran penting Radio Rimba Raya yang terletak di kecamatan Pintu Rime, Bener Meriah ini.

Sejarah mencatat, ketika Belanda telah menguasai Ibu kota pemerintahan Indonesia, dan mengumumkan kemenangan mereka melalui radio Hilversum milik Belanda, sayup-sayup dari pelosok dataran tinggi Aceh, penyiar Radio Rimba Raya membantah hal tersebut kepada dunia. INDONESIA MASIH ADA! Siaran ini tertangkap sejumlah radio di negara-negara tetangga Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina bahkan Australia.

Radio yang mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia ini terletak di kecamatan Pintu Rime. (sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Radio_Rimba_Raya)

Dan Monumen Radio Rimba Raya ini dibangun tahun 1987, sebagai monumen peringatan sejarah yang juga dijadikan tempat wisata. Oya, foto di atas juga milik Citra.

Jadi, itulah secara umum 5 hal keren dari Bener Meriah. Kalau kamu adalah tipe pejalan petualangan, yakinlah kamu akan menemukan hal-hal lain selain lima ini.
Sudah dulu yakk....

Happy travelling, happy blogging!

Haya Nufus

The Girl on the Train, Novel Thriller Pertama Paula hawkins

4 komentar

Judul            : The Girl on the Train
Penulis         : Paula Hawkins
Penerjemah  : Ingrid Nimpoeno
Penerbit       : Noura Books
Kode/Label : DEWASA

Ini novel, sampulnya aja udah menarik. Segala keistimewaannya bisa ditampilkan dengan lugas dan sangat menggoda disana. Coba lihat, kalimat ‘Kau tak mengenalnya, tapi dia tahu siapa dirimu’ benar-benar pas diksinya untuk memancing rasa penasaran para penikmat fiksi thriller psikologis serupaku. Ditambah percikan darah di huruf L dari kata Girl, menggambarkan rasa-rasa ‘kemisteriusan yang kejam’ #Halah ini lebai! 

Lalu, testimoni dari Stephen King yang berbunyi "Membuatku tak bisa tidur hampir sepanjang malam”, stiker hitam bertulis ‘Segera difilmkan oleh DreamWorks Studios dan tulisan Instan #1 New York Times Bestseller, telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar di Amerika dan Inggris, telah diterbitkan dalam 60 edisi rasa-rasanya membuat mulut spontan berdecak dan tangan gatal untuk membawa novel ini ke kasir. 

Bukan itu saja, narasi singkat di halaman awalnya juga adalah jalinan kata yang tak hanya indah namun juga mampu menyapa panca indera pembaca.

Dia terkubur di bawah pohon birkin perak, di dekat rel kereta tua, kuburannya ditandai dengan tumpukan batu. Sesungguhnya hanya setumpuk kecil batu. Aku tidak ingin tempat peristirahatannya tampak mencolok, tapi aku tak bisa meninggalkannya tanpa kenangan. Dia akan tidur dengan damai disana, tak seorangpun mengusiknya, tidak ada suara kecuali kicau burung dan gemuruh kereta yang melintas.

Dan, begitu jalinan kisah itu hadir halaman ke halaman, susah untuk berhenti. Beruntunglah aku yang punya sangat banyak waktu di rumah… Ketika anak-anak ke sekolah, suami ke kantor, hanya ada aku dan novel. Err ada tumpukan kain kusut minta disetrika juga sih... ada ikan yang perlu digoreng dan sayur yang mau dilodeh... tapi urusan domestik itu bisa menunggu ^^

Tentang apa?
Novel ini bergenre thriller dengan mengambil sudut penceritaan yang berganti-ganti antara Rachel, Megan dan Anna.

Rachel, wanita pecandu alkohol yang baru saja bercerai. Ia selalu menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi dan sore hari. Meski ia sudah dipecat ia bertindak seakan masih dalam rutinitas kantor agar temannya tak mengusirnya dari rumah sewa mereka. Kehidupannya kacau dan ia hilang kendali untuk memperbaikinya. Kereta yang dinaikinya selalu berhenti di sinyal lampu merah,kawasan rumah-rumah bergaya Victoria. Dari jendela kereta situlah ia menjadi serupa pengintai kehidupan sepasang suami istri yang awalnya tampak mesra. Ia membayangkan mereka adalah pasangan sempurna serupa kehidupan yang pernah dimilikinya, apalagi rumah itu hanya berseling beberapa rumah dari rumah yang dulu adalah milikinya. Namun semua khayalannya buyar ketika ia menyaksikan salah seorang dari mereka berkhiaat. Dan ia merasa sangat marah.

Megan, penghuni rumah nomor lima belas yang haus petualangan. Ia sering membayangkan dirinya berada bebas di Spanyol, Italia, Cinque Terre atau tempat jauh lainnya. Namun nyatanya ia hanya memiliki kehidupan rutin yang membosankan dengan menikahi Scott, laki-laki setia yang mencintainya dan sangat menginginkan seorang anak. Ia juga mencintai Scott namun tak bisa meredam sikap pembangkangnya. Lagipula ia punya rahasia besar yang ia sembunyikan dari semua orang. Masa lalunya tak mudah. Ia takut jika Scott tahu, suaminya itu tak akan pernah memaafkannya. Kegundahannya itu membuatnya rutin menemui seorang terapis… juga seorang kekasih gelap. Ia terus melakukan kesalahan hingga tak lagi ada waktu untuk memperbaikinya.

Anna, istri kedua Tom, mantan suami Rachel. Ia dinikahi setelah Tom bercerai dengan Rachel. Anna  digambarkan sebagai wanita ‘abu-abu’. Ia merasa Rachel adalah ancaman baginya dan Cathy, sang putri. Ia ketakutan setiap Rachel nekat datang ke rumah mereka dengan ancaman dan tingkah gilanya karena mabuk…. Beberapa kali ia menelpon polisi untuk menghentikan Rachel, namun telepon-telepon berisik setiap malam tak juga berhenti.

Lalu, terjadilah pembunuhan itu. Pembunuhan yang sulit dipecahkan oleh para polisi. Pembunuhan yang membuat koran dan stasiun televisi setempat memberitakannya. Pembunuhan yang pada akhirnya mengantarkan ketiga wanita ini pada nasib yang sama. Nasib serupa apa? Nasib 'abu-abu'!

Tentang Penulis
Paula Hawkins bekerja sebagai jurnalis selama lima belas tahun, sebelum mulai menulis fiksi. Lahir dan dibesarkan di Zimbabwe, Paula pindah ke London pada 1989 dan tinggal di sana semenjak itu. The Girl on the Train adalah novel thriller pertamanya.

Sulit menemukan kekurangan novel ini. Taburan testimoni dari ragam harian populer juga penulis lain malah membuat kilau novel ini lebih disetujui. Tapi karena ini novel urban dewasa, ada beberapa hal yang tak sesuai dengan budaya kita.  Jadi, kalau kamu belum dewasa, jangan baca novel iya ya... ^^d

Udah, gitu aja.
Happy reading, happy blogging!

Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

7 komentar

Judul : Lelaki Tua dan Laut
Penulis : Ernest Hemingway
Penerjemah : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Seri Sastra Dunia
Tahun Terbit : Mei, 2016
Harga : Rp.50.000

Ernest Hemingway sebagai pengarang dan Sapardi Djoko Damono sebagai penerjemah.  Dua nama besar di sampul depan buku inilah yang membuat aku tertarik untuk mengulurkan tangan, meraih buku ini dari rak, membolak-balik halamannya secara acak dan lalu membawanya ke meja kasir. Dua nama besar ini membuatku tak hanya ingin mengetahui kisah cerita tentang Lelaki Tua dan Laut namun juga ingin belajar bagaimana cara mereka berkisah.

Untuk sebuah novel, buku ini tidak tebal, hanya 102 halaman. Namun kisah seorang pelaut tua di Teluk Meksiko yang ditulis tahun 1951 silam ini punya sesuatu hingga layak meraih penghargaan Pulitzer Prize for Fiction dua tahun kemudian (1953) juga Nobel Prize in Literature di tahun 1954. 'Sesuatu itu bernama kekuatan untuk mempengaruhi pembaca. Perjuangan lelaki tua menghadapi ganasnya laut seorang diri mampu teranalogikan dengan kerasnya keinginan meraih mimpi dalam kehidupan. Semangat dan keinginan kuat karakter utamanya membuat pembaca terbawa gairah dan merasa malu untuk menyerah.

Novel ini berkisah tentang seorang nelayan tua bernama Santiago yang genap 84 hari lamanya tidak berhasil menangkap ikan seekor pun. Orang-orang menganggap ia 'salao', orang paling sial di antara yang sial. Karenanya seorang anak laki-laki yang biasa menemaninya melaut pun dilarang orang tuanya untuk kembali melaut bersamanya. Namun Santiago meyakini bahwa 85 adalah angka keberuntungannya.

Maka pada hari ke-85, ketika langit masih gelap, berlayarlah ia sendirian ke laut yang lebih jauh dengan keyakinan bahwa ia akan menangkap ikan besar, lebih besar dari yang biasa ditangkap nelayan lain.. 

Dari halaman 17 hingga 96, pembaca dibawa ikut ke lautan, merasai asinnya air laut yang menampar perahu, mendengar desis sayap-sayap kaku sekelompok ikan terbang yang melesat dari air ke udara, menerka-nerka pergerakan ikan-ikan di dalam air gelap, ikut takjub dengan kelompok lumba-lumba, penyu, ubur-ubur juga burung-burung pemberi pertanda di langit.

Kenyataannya, keberuntungan yang ia yakini tidak datang dengan mudah. Butuh pertarungan sengit bersama matahari yang muncul tenggelam, berhari-hari. Ketika ia telah mendapat peruntungan itu, sekawanan hiu mengejarnya dengan ganas, tak hanya sekali, terhitung sampai lima kali! Ia harus bertahan untuk tetap hidup di laut, memakan ikan mentah untuk sumber tenaga, menghemat air tak seberepa di botol bekalnya,mengobati tangannya yang terluka dan mencoba beristirahat sementara sekitarnya mengancam nyawanya.

Kekuatan itu muncul dari monolog-monolog Santiago, 
Kita beruntung bahwa tidak harus mencoba membunuh matahari atau bulan atau bintang-bintang. Cukuplah hidup di laut dan membunuh saudara-saudara kita yang sejati (ikan-ikan). Halaman 57
Apapun yang terjadi, aku harus membuang isi perut lumba-lumba itu supaya tidak membusuk dan kemudian memakannya sebagian agar tenagaku bertambah. Halaman 58
Mestinya tadi kubawa macam-macam perlengkapan, pikirnya. Tetapi kau tidak membawanya, lelaki tua. Sekarang bukan saatnya untuk berpikir tentang segala yang tak kau miliki. Pikirkan tentang segala yang kau miliki. Halaman 87
"Tetapi lelaki tidak diciptakan untuk dikalahkan,"
"Seorang lelaki bisa dihancurkan tetapi tidak dikalahkan." Sayang sekali aku telah membunuh ikan-ikan itu. Sekarang saat-saat berbahaya akan tiba dan aku bahkan tak memiliki kait. Dentuso itu kejam dan gesit dan perkasa dan cerdik. Tetapi aku lebih cerdik darinya... Halaman 81
Dan banyak kalimat pemompa semangat lainnya yang menyuruhnya tetap berpikir jernih betebaran halaman ke halaman. 

Dan pertanyaannya adalah, apakah orang-orang akan mencarinya atau bahkan tak ada yang menyadari kalau ia hilang di laut? Lalu apakah ia akan berhasil sampai ke darat membawa pulang ikan besar kebanggaannya atau kalah oleh hiu-hiu pemangsa itu?

Cari tahu sendiri ya kawan... Nggak asik kalau endingnya dibocorin disini ^^ Lebih asik kalau kita baca sedikit biografinya yang tertulis di bagian pengantar buku ini.

Ernest Hemingway, pengarang roman dan cerita pendek Amerika yang termasyhur ini dilahirkan tahun 1899 di Oak Park, Illinois. Ia dianggap pengarang berbahasa Inggris terbaik pada zamannya. Karya-karyanya yang berjudul The Old Man and the Sea, A Farewell to Arms, The Sun Also rises, For Whom the Bell Tolls, Across the River and Into the Trees, dan lain-lain, besar sekali pengaruhnya terhadap sastra dunia. 

Selama hidupnya, ia senang bepergian,  memancing atau berburu, bahkan pernah lama mengembara di Afrika. Ia meninggal pada tahun 1961.

Selain novel Lelaki Tua dan Laut, roman lainnya juga telah diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar berjudul Pertempuran Penghabisan.Sayangnya aku belum nemu roman yang itu. Mudah-mudahan lain kali bisa baca dan membandingkannya.

Happy reading, happy blogging!