Recent Posts

Review Izin untuk Penataan Perizinan Perkebunan Sawit Tak Hanya Sebuah Pilihan Namun Keharusan.

8 komentar
Foto dari mongabay.co.id

Sejauh apapun waktu membawa kita pergi, akan ada kenangan-kenangan masa silam yang sulit dilupakan, menetap di bagian hippocampus otak. Tersimpan, tak hilang, ketika ada pemicu ia akan bangkit menghadirkan nostalgia.

Semasa kanak-kanak, aku dan keluarga tinggal di sebuah dusun kecil di Aceh Tamiang bagian Hulu. Dusun kami dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Menuju ke arah utara, selatan, barat dan timur deretan pohon dari genus Elaeis itu yang kami temui. Tahun sembilan puluhan, perkebunan sawit itu masih berseling hutan karet dan pohon-pohon tinggi yang membentuk hutan heterogen. Menghijau di sisi liukan panjang Sungai Kaloy.

Sungai Kaloy yang bercahaya keperakan setiap tertimpa cahaya mentari itu selalu mengizinkan kami membaurkan diri ke dalam tubuhnya. Kami bisa berenang, menyelam sambil membuka mata dan melihat makhluk sungai yang hidup dalam kejernihan airnya . Kerap kami bermain ‘lempar-cari batu putih’. Batu itu mudah sekali mata kami temukan bersama batu lainnya di dasar sungai, karena air sungai itu  bening serupa kaca. Arusnya meski deras, tak membuat kami takut. Ia serupa ibu yang menjaga kami aman dalam rengkuhannya. Di atas pantainya, kami akan menggelar tikar, makan bersama teman dan guru; berwisata secara sederhana di akhir tahun ajaran sekolah.

Namun lambat laun, alam berganti bentuk. Ada tangan-tangan yang tak berhenti bergerak, mengambil apa saja yang alam sediakan.

Akal kami begitu naïf ketika itu. Bagaimana bisa kami tak risau akan truk besar yang hilir mudir mengangkuti balok-balok kayu dari hutan dan membawanya keluar dusun entah kemana? Bagaimana hutan heterogen yang perlahan berubah menjadi perkebunan sawit, hektar demi hektar? Jalan raya yang tak pernah bagus ; diaspal untuk kembali hancur tergilas truk yang membawa berton-ton beban di atasnya? dan asap yang membauri udara kami dari corong-corong pabrik sepanjang waktu, tahun ke tahun?

Awalnya aku menyukai aroma itu --aroma daging buah sawit yang diolah menjadi minyak-- namun lalu sadar akan konsekuensi logis yang harus kami terima. Hukum sebab akibat yang berlaku secara universal, serupa : makan akan membuat perut kenyang, air akan membuat tubuh basah, api akan membakar dan perlakuan buruk terhadap alam akan menimbulkan petaka.

Suatu hari di penghujung tahun 1996, hujan mengguyur sejak subuh tanpa berhenti. Tak terlalu deras namun tengah hari sungai meluap. Airnya membanjiri rumah-rumah, menyisakan atap saja yang tampak mata. Warga yang tinggal di bantaran sungai mengungsi, beberapa rumah panggung kayu bergerak hanyut serupa bahtera Nabi Nuh. Satu orang tetangga kami meninggal, beberapa terluka dan kerugian material yang tak sedikit. Peristiwa banjir bandang itu dikabarkan ke seantero Nangroe oleh Harian Umum, memancing simpati namun tak cukup bertenaga untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut.

Sejak itu Sungai Kaloy berubah gemuk dengan debit air melimpah dan bewarna kuning coklat tanah akibat erosi setiap musim penghujan. Ia serupa wanita obesitas yang kesulitan melakukan diet. Anak-anak tak lagi dizinkan orang tua untuk berenang karena khawatir akan hanyut dibawa arus.

Jika kondisi serupa itu terus terbiarkan, bayangkan apa yang terjadi tahun-tahun ke depan. Bisa jadi, generasi setelah kita tak akan sempat menikmati alam yang bestari. Kejadian yang kami alami, jelas terjadi juga di wilayah Aceh dan Indonesia lainnya. Kasus di dusun kami hanya satu dan sekian banyak kasus yang harus dicarikan solusinya.

DAMPAK POSITIF DAN PENTINGNYA REVIEW IZIN UNTUK PENATAAN PERIZINAN KELAPA SAWIT

Akar permasalahan tentu ada pada Hak Guna Usaha yang telah dipegang oleh beberapa Pengusaha Kelapa Sawit. Menurut Baihaqi, anggota Badan Pekerja dan aktivis Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) di Banda Aceh, 80 persen dari wilayah Aceh Tamiang yaitu 1.957.02 km2 telah dikuasai oleh pemilik HGU (Hak Guna Usaha) sawit (sumber data : mataaceh.org). 80 persen jelas bukan wilayah yang sempit.

Karenannya Review Izin untuk Penataan Perizinan atau pengkajian ulang terhadap para pengusaha kelapa sawit yang telah mengantongi Hak Guna Usaha sangat perlu dilakukan. Izin dan legalitas yang mereka miliki, benarkah digunakan dengan bijak dan taat tanpa adanya kelalaian akan kewajiban? Tak hanya itu, meski jika ternyata semua telah sesuai aturan perlu juga untuk mereview/mengkaji ulang dampak lingkungan yang diakibatkan ; adakah terjadi kerusakan parah yang kerugiannya lebih besar dibanding kemanfaatannya?

Perizinan yang diberikan pemerintah kepada pengusaha kelapa sawit tentu harus punya masa berlaku yang pengkajiannya haruslah dilakukan secara periodik. Apalagi jika terbukti ada pelanggaran, izin pengusaha yang bersangkutan bisa dicabut sebagai tanda keseriusan pemerintah dan sebagai pembelajaran bagi pengusaha yang lainnya. Tak boleh ada pembiaran dan pemakluman akan hal ini.

Review Izin untuk Penataan Perizinan  ini berguna sebagai alat pengawasan dalam keserasian pengelolaan Sumber Daya Alam terhadap perkembangan pembangunan dalam aspek ekonomi, sosial dan tentu saja lingkungan hidup.

USAHA YANG BISA DILAKUKAN PEMERINTAH

Pemerintah memang telah melakukan sesuatu, Foresthint memberitakan bahwa Presiden Jokowi telah melakukan pengarahan untuk melakukan moratorium sawit dan tambang di Aceh, yang dinyatakan siap oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam pertemuan dengan menteri LHK, Siti Nurbaya di Jakarta. Namun perusahaan-perusahaan Kelapa Sawit di 16 kabupaten di Aceh telah mendapatkan izin jauh sebelum moratorium itu dilakukan. Kita butuh upaya yang lebih serius dan nyata (sumber mataaceh.org)

Apa yang bisa dilakukan pemerintah?

1. Secara transparan bekerja sama dengan lembaga-lembaga non pemerintahan untuk pengawasan dan melakukan Review Izin Untuk Penataan Perizinan Hak Guna Usaha Kelapa Sawit. Lembaga non pemerintah yang terpercaya akan memberi sinergi positif dan dapat menumbuhkan kepercayaan publik.

2. Bersama polisi hutan dan masyarakat luas memantau dan mencegah illegal logging yang terkadang terjadi akibat ketidak taatan perusahaan terhadap batasan wilayah pembukaan lahan oleh pengusaha pemegang Hak Guna Usaha atau pihak lain.

3. Menindak lanjuti secara berani, adil dan transparan terhadap pemegang Hak Guna Usaha yang melanggar aturan dan terbukti melakukan tindakan yang mengancam lingkungan.

4. Cegah praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dalam penerbitan izin Hak Guna Usaha Kelapa Sawit.

5. Sosialisasi ke masyarakat sekitar kawasan, untuk mengedukasi juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian. Para pekebun tradisional juga butuh pengetahuan akan tata cara membuka lahan yang ramah lingkungan.

6. Sudah saatnya melibatkan perempuan untuk membenahi krisis ekologi.

DAMPAK YANG DIRASAKAN DAN PERAN YANG BISA DILAKUKAN KAUM PEREMPUAN

Perempuan adalah kelompok yang rentan akan dampak perubahan lingkungan. Krisis Ekologi yang terjadi mempengaruhi kehidupan mereka. Praktik pembukaan lahan telah mempersemppit bahkan merebut lahan dan ruang produktivitas kaum perempuan dan masyarakat lokal. Perusahana tak bertanggung jawab telah menyingkirkan mereka ke garis kemiskinan dan keterbatasan.

Di dusun ku, dulunya banyak wanita bekerja sebagai pemetik kapas, petani cokelat dan penderes getah. Ada juga yang menanam tanaman pangan untuk kebutuhan harian di atas lahan-lahan pinggiran hutan. Namun ketika lahan itu dipakai untuk perkebunan sawit mereka tersingkir. Pembebasan lahan membuat petani tradisional kehilangan sumber penghasilan dan membawa mereka menjadi pihak yang tak diuntungkan.

Secara kodrat, kaum perempuan dan alam memiliki ikatan. Naluri melindungi diri dan generasi yang ada pada wanita bisa diarahkan untuk melindungi alam dan lingkungan hayati. Karena alam tempat kita hidup harus bisa kembali melahirkan kehidupan, serupa perempuan.

Perempuan bisa memegaruhi komunitas di sekitar mereka untuk melakukan gerakan perbaikan hutan dan pengelolaan lahan. Menanamkan kesadaran kepada para pemuda dan anak-anak akan pentingnya menjaga ekosistem.

SAWIT BUKAN SOLUSI

Benarkah sawit secara signifikan meningkatkan pendapatan daerah yang secara otomatis mensejahterakan masyarakat? Mitos yang kita percaya seakan sawit harus diperjuangkan demi angka-angka pertumbuhan perekonomian. Nyatanya kesejahteraan itu sering kali terhenti pada pemilik dan pengusaha saja. Para pekerja, buruh kelapa sawit dan keluarganya juga petani tradisional masih hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Sebaliknya, buruknya dampak lingkungan yang terjadi lebih faktual terlihat mata kita. Apa kita rela, sekelompok orang menggerogoti hasil alam demi kesejahteraan mereka sendiri dan menyisakan kerusakan bagi kita dan anak cucu kita? Jadi, mari desak pemerintah untuk melakukan Review Izin untuk Penataan Perizinan Kelapa Sawit, karena sawit bukan solusi.

Referensi :

mataaceh.org

www.mongabay.co.id



Datang ya ke rumah kami!

5 komentar

"Datang ya ke rumah kami!"
Seminggu menjelang Idul Fitri, undangan serupa itu telah berkali-kali aku terima. Teman-teman sesama Warga Negara Indonesia di Antananarivo memang memiliki kebiasaan melakukan acara open house keliling dari rumah ke rumah setiap Idul Fitri tiba. Tujuannya jelas untuk memeriahkan lebaran di negeri orang juga ajang kumpul dan mengakrabkan diri. Rata-rata makanan yang dihidangkan adalah masakan nusantara yang memang selalu lidah kami rindukan. Dan kemarin aku juga latah mengucap kalimat yang sama.
'Datang ya ke rumah kami, Idul Fitri ke-tiga jam 11 siang sampai selesai!"
Kalimatku mantap tak hanya kepada teman Indonesia namun teman-teman muslim dari India, Algeria dan Malagasy yang sering bertemu pada acara sholat teraweh bersama di musalla Kedutaan Besar Republik Indonesia di Antananarivo. Meski hati deg-degan juga, mau masak apa?

Maka sejak undangan itu aku lontarkan, aku sering membolak-balik tumpukan majalah 'resep' yang selalu aku titipkan ketika suami atau teman ke Indonesia, melihat-lihat resep yang ada disana sambil mencari ide. Aku juga menelusuri aneka resep di internet, hingga lalu memutuskan untuk menyajikan nasi kuning komplit dengan pelengkapnya : sambal goreng hati, ayam bakar, telur rawis, tomat timun, kering tempe dan perkedel untuk para tamu. Kalau sambal goreng hati, telur rawis dan ayam bakar tentu tak masalah, aku sudah pernah memasaknya beberapa kali. Perkedel dan kering tempe, kebetulan seorang teman bisa dimintai tolong untuk menyiapkan. Nah masalahnya adalah nasi kuning yang menjadi menu utamanya, aku sama-sekali belum pernah membuatnya karena di Aceh Pidie, kampung kelahiranku, nasi kuning tak terlalu populer dibanding nasi lemak dan nasi gurih khas Aceh.

Untungnya mudah sekali menemukan resep nasi kuning yang cocok di internet , resep itu lalu aku tulis di buku catatan khusus kumpulan resep lalu aku uji dulu dalam porsi kecil keesokan paginya. Tentu setelah semua bahan tersedia. Dan ternyata, berhasil!. Suami dan anak-anak yang mencoba untuk kali pertama mengacungkan dua jempol. Jelas menambah rasa percaya diri.

Idul Fitri pun tiba. Malam idul fitri ketiga aku bergadang mengerjakan semua hidangan. Memanggang ayam di oven, merebus dan memotong-motong hati, menggoreng kentang dan mencampurnya dengan sambal goreng juga menyiapkan jus natural dari buah asli. Khusus nasi kuning, langkah-langkahnya benar-benar aku perhatikan dengan teliti, agar tekstur dan rasa nasinya pas. Untunglah aku masih memiliki daun salam kiriman teman, juga pohon daun jeruk yang masih tumbuh subur di pot halaman rumah. Pohon jeruk ini adalah pemberian teman yang kembali ke tanah air tahun lalu, terasa penting untuk kelengkapan anekan hidangan nusantara. Malagasy tak biasa memakai daun jeruk dalam masakan mereka. Bumbu-bumbu yang lain tak masalah karena bisa kubeli di pasar sini. Tak apa lelah, asal semua berjalan lancar dan memuaskan.

Dan ketika para tamu berdatangan, ketika hidangan telah terhidang aku deg-degan lagi menunggu respon mereka yang biasanya memang sering riuh dan apa adanya. Namun tak ada yang berespon, mereka makan dengan lahap seolah sengaja membuatku tegang. Hingga seorang teman berkata. “Tegang amat sih? Nasinya enak kok, semuanya pas di lidah!.” Senyumku pun melebar, selebar daun pintu yang terbuka bagi para tamu. Ini adalah berkah Idul Fitri di tanah rantau, berkah silaturrahmi!. Oo tentu juga berkat resep oke dari internet!


Kartu Pos Favorit (bagian II) Wajah Anak-Anak Dunia

17 komentar

Sudah lama sejak aku memposkan tulisan tentang Kartu Pos Favorit Bagian I. Baru sekarang teringat dan terpikir untuk melanjutkan lagi, menjadikan blog ini galeri bagi kartu pos-kartu pos milikku. Selain untuk rekreasi juga untuk berbagi cerita dari sebuah kartu pos kepada pembaca.

Di bagian II ini, aku ingin menampilkan kartu pos dengan tema 'Wajah Anak-Anak Dunia'. Ah, anak-anak memang ditakdirkan Tuhan untuk terlahir dengan polah dan sikap yang manis gemasin... dari belahan dunia manapun mereka berasal. Mereka itu murni dan apa adanya. 


Dutch Children's Dance



Kartu ini dikirim oleh teman postcrossing dari Belanda bernama Kelly yang senang bermain volli dan sering mengikuti turnamen volli di tempatnya, pada tanggal 8 Juli 2014. Sudah lama ya... 

Awal melihat kartu ini rasanya tuhhh senang banget. Fotonya natural dengan anak-anak berpakaian tradisional Belanda yang sedang menari berkelompok. Tengoklah ke kaki mereka! Mereka pakai klompen, sepatu khas Belanda zaman dulu lohhh ^^ Anak-anak itu terasa hidup di imajiku. Dengan celoteh riuh dan gerak bebas tarian mereka. Dan rasa-rasanya aku bisa mencium aroma keju meliuk-liuk di udara.

Tolong Tuhan, berikan aku izin untuk sekali saja sampai ke Belanda! AAMIIN

 

The Simplicity and Pureness of the Tibet children



Wajah-wajah anak Tibet ini terbingkai close-up di kartu. Bintik-bintik merah di muka jelas menampakkan betapa kulit mereka telah beradaptasi sedemikiannya terhadap udara pegunungan yang dingin di Tibet, Tiongkok. Baju berlapis-lapis yang tampak berat toh tak menghalangi mereka untuk lincah dan bersuka ria. Tampaknya mereka sedang menaikkan layang-layang.

Kartu ini dikirim oleh Wenting, postcrosser baikkkkk banget asal Cina. Kami beberapa kali bertukar pesan di kartu. Wenting menyukai anak-anak dan mendedikasikan hidupnya untuk mereka. Dia itu tipe wanita Cina modern yang keibuan, menurutku.

Oya, kartu ini dikirim tanggal 10 Juli 2014.

 

Innocent Kids of Kalash - Pakistan



Pakistan, negeri ini menjadi akrab ketika aku membaca memoar perjalanannya Agustinus Wibowo. Kartu ini dikirim dari Lahore oleh Irfan pada Juli 2014. Sesuai dengan judulnya, wajah anak-anak Kalash ini tampak innocent kan temans? Meski sedikit tampak belepotan namun kegantengan dan kecantikan anak-anak ini tak bisa tersamarkan. Semoga hidup mereka akan bahagia. Aamiin


The baby girl and her mom from Czech Republic



Olala! Lihat pipi si bayi yang gempil itu ! Juga pada kedua bola matanya yang bulat seakan sadar sebuah kamera sedang mengabadikannya. Bayi perempuan memang punya banyak asesoris untuk didandani ya.. dres dan penutup kepala berenda itu adalah sempurna! ^^

Kartu ini dikirim dari Praha, ibu kota Republik Ceko tanggal 25 April 2014. Menurut Peter yang mengirimkan, kartu ini telah berusia 26 tahun dan foto ini mengingatkannya akan masa kecilnya. Dulu, pakaian tradisional serupa wanita ini dipakai dalam keseharian wanita Ceko, namun kini hanya sebagai penarik turik pada masa-masa tertentu saja.

 

Girl and her Granny from Romania



Kartu pos hitam putih ini istimewa! Istimewa dalam arti 'jangan sampai hilang atau rusak'. 

Aku suka semua hal yang ditampakkan kartu ini : wajah nenek dan cucu perempuannya, pakaian yang mereka pakai, kain, penutup rambut, sepatu bahkan kaos kaki mereka. Rasa-rasanya semua tradisional dari benang yang dipintal sendiri ya?. Nenek ini serupa dengan nenek-nenek Eropa yang mungkin akan kita temui di desa-desa pertanian mereka. 

Baiklah, lima ini dulu ya temans. 

Oh iyaaaa.... Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan... Semoga amal ibadah kita berkah dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Aamiin  

 

Cara Mengirim Artikel Jalan-Jalan untuk Rubrik Oleh-Oleh Majalah Femina

18 komentar

Majalah Femina adalah satu dari majalah besar yang semakin eksis di Indonesia. Terbit seminggu sekali dengan ragam rubrik dan isu adalah bukti para pengasuhnya tak main-main. Mereka bergerak dinamis, profesional, selalu beradaptasi cepat dengan perkembangan masa ke masa. Karenanya kalau kita ingin artikel atau tulisan kita dimuat di Femina, kita juga harus menulis dengan apik dan serius.

Ada beberapa rubrik yang dibuka bagi penulis freelance : Fiksi (cerpen dan cerbung), gado-gado dan rubrik Oleh-oleh. Rubrik Oleh-Oleh berisi tentang kisah perjalanan, kunjungan wisata juga tempat-tempat menarik di suatu wilayah dalam negeri juga luar negeri.

13 Mei 2015 saya mencoba peruntungan saya dengan mengirimkan artikel jalan-jalan berjudul 'Perjalanan Menuju Hutan Batu Tsingy de Bemaraha, situs Unesco di Madagaskar'. Adalah sebuah keberuntungan yang manis email saya mendapat respon kilat, hanya jeda hitungan menit. Hal yang sangat jarang terjadi kan? Respon itu berupa konfirmasi kalau artikel saya akan mereka muat di femina, namun harus masuk daftar antrian untuk waktu yang belum ditentukan. Tak apa! Saya rela menunggu dengan berdebar... ^^


Desember, sang editor kembali menghubungi saya melalui email, mengatakan kalau artikel saya akan dimuat untuk edisi januari 2016.

Yang berkesan bagi saya adalah, proses editing terjadi secara dua arah antara editor dan saya sebagai penulisnya. Perbaikan kalimat yang tidak efektif, data-data yang kurang dan juga penambahan foto-foto yang dibutuhkan membuat kami bolak-balik berbalas email. Editor menandai bagian yang harus saya perbaiki dan saya juga bisa belajar membaca yang diinginkan oleh editor. Biaya perjalanan yang awalnya saya tulis secara umum, kembali harus saya telusuri lebih detil. Semua itu membuat artikel saya serupa didandani dan tampil lebih baik.



Dan semua usaha itu rasanya terbayar manis ketika seorang teman memperlihatkan foto penampakan artikel tersebut di Femina edisi Januari. Saat itu saya masih di Madagaskar sedang bersiap untuk pulang.

Kamu punya kisah perjalanan dan ingin mengirimkannya ke Femina? Berikut sarat teknisnya:

  • Ketik ceritamu dengan font Arial 12 spasi 1 sebanyak 4-5 halaman ukuran kertas letter.

  • Sertakan sekitar 15  foto, boleh dalam resolusi rendah, namun nanti akan diminta resolusi besar jika akan dimuat.

  • Kirimkan artikel dan foto dalam bentuk attachment ke email kontak@femina.co.id dengan memberi menyertai keterangan [Rubrik Feature] di judul email.

  • Di badan email tulis pengantar singkat  tentang diri kita, alamat, nomor identitas, karya-karya yang pernah kita hasilkan juga nomor rekening dengan sopan.

    Akan ada honor manis yang ditransfer tak lama setelah waktu pemuatan, jadi selamat mencoba ya ^^

    Haya Nufus

Famadihana : Tradisi/Ritual Suci Menyampaikan Cinta Kepada Jenazah Leluhur Di Madagaskar.

4 komentar

Matahari bergerak ke arah barat, ketika beberapa jenazah mulai dikeluarkan dari makam. Satu, dua, tiga, terhitung belasan jenazah dengan bungkus kafan yang telah menguning, bahkan ada yang beberapa kainnya telah terurai kembali menjadi benang. Jenazah-jenazah itu digotong oleh anggota keluarga laki-laki dengan tangan yang sigap. Aroma jenazah yang bercampur rempah pengawet dan rupa wewangian menggelitik hidung. Tapi saya tak hendak mundur. Saya bergerak mendekat, berusaha untuk menjenguk ke arah pintu makam. Pintu batu itu tampak berat, tentu butuh beberapa orang untuk membukanya tadi. 

Makam Batu serupa ruang dengan rak-rak untuk meletakkan jenazah seluruh anggota keluarga.

Dari celah pintu yang memiliki tinggi tak sampai dua meter, saya bisa melihat sedikit ke bagian dalam makam. Makam itu berupa ruangan dengan rak-rak semen tersusun. Rak teratas diperuntukkan bagi jenazah lama yang telah mengering yang tak lagi menimbulkan bau dan rak bagian bawah bagi jenazah baru yang masih mengalami proses pembusukan. Seluruh jenazah keluarga dikumpulkan dalam satu makam, generasi ke generasi. Begitulah tradisi pemakaman Malagasy (sebutan bagi penduduk Madagaskar) dilakukan. 

Selfie dulu ^^

Tiga tahun sudah saya tinggal di Madagaskar. Sebuah negara pulau di Samudera Hindia, lepas pantai Afrika tenggara. Negara ini disebut juga sebagai Pulau Merah, karena tanahnya yang keras dan bewarna merah. Menariknya, beberapa peneliti sejarah menyebutkan bahwa leluhur Malagasy berasal dari nusantara, Indonesia. Para pelaut tangguh nusantara sekitar 350 SM telah melakukan pelayaran sengit dengan menggunakan perahu cadik hingga menyentuh tanah Madagaskar. Jauh sebelum suku Batu dari Afrika timur menyeberangi Selat Mozambik turut menjadi penghuni pulau ini. Pelaut dari Borneo ini dipercaya mendirikan pemukiman yang disebut-sebut menjadi cikal kerajaan terbesar di Madagaskar ; Kerajaan Merina.

Wajar jika kedua negara memiliki kemiripan tak hanya dari karakter fisik masyarakatnya namun juga pada beberapa kebudayaan atau tradisi yang ada. Salah satu tradisi yang memiliki kemiripan itu adalah famadihana, sebuah tradisi ganti kafan bagi Malagasy (sebutan rakyat Madagaskar) yang memiliki kemiripan dengan upacara Ma’nene di Tanatoraja Sulawesi Selatan. Mirip namun tak semua prosesnya sama.

Kesempatan untuk melihat langsung upacara famahadiana datang secara tak sengaja. Ketika itu saya berada di KBRI, saya mendengar pejabat KBRI mendapat undangan dari keluarga Jendral Ramarolahy Philibert, saya memberanikan diri untuk minta diizinkan ikut bersama rombongan. Tentu, saya diizinkan bergabung.

Hari Minggu pukul tujuh pagi kami bergerak menuju desa Ambohimiadana yang termasuk dalam region Analamanga. Kami harus melewati jalan berkelok-kelok melingkari perbukitan. Pemandangan bukit nan hijau, berseling perkebunan jagung dan sayur milik masyarakat setempat. Dari Antananarivo, ibu kota Madagaskar yang adalah tempat mukim kami dibutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke desa.

Kami dijamu di tranogasy, rumah tradisional milik ahli waris Jendral Ramarolahy Philibert yang terbuat dari papan dengan beranda kayu di lantai atasnya. Melepas lelah sebentar sambil berbicara santai kami disuguhkan mokary, penganan tradisional berbahan kelapa yang dibuat anggota keluarga wanita.

Lalu kami diajak ke tenda besar di lapangan desa. Disanalah semua sanak saudara dan para tamu berkumpul. Aroma makanan memenuhi udara, menyebar ke setiap penciuman tamu yang duduk di tenda berterpal biru. Di bagian belakang tenda grup musik hiragasy telah siap dengan alat musiknya, menghibur para tamu, di bagian depan tenda juga ada grup musik lainnya dengan gitar tradisional.

Kelompok Pemusik di area tenda tamu

Awalnya saya menyangka akan menyaksikan upacara sakral kematian yang dipenuhi dengan tangis duka dan rasa sedih sanak keluarga. Namun saya salah, wajah-wajah yang saya temui adalah wajah dengan kegembiraan. Bagi Malagasy, Famadihana adalah upacara kebanggaan, menyenangkan arwah para leluhur dengan membersihkan makam, mengganti kafan dan menyemprotkan wewangian. Malagasy percaya, arwah leluhur masih memegang kendali atas kehidupan mereka. Dan ritual ini diperuntukkan sebagai penghormatan dan menghibur para arwah yang dilakukan setiap dua tahun atau tujuh tahun, sesuai dengan kemampuan keluarga. Juga sebagai waktu pertemuan kembali sanak saudara yang hidup dan mati untuk melepas rindu.

Tradisi ini mengajak kita melihat kematian dengan pemahaman yang berbeda. Kematian bukanlah hal yang harus ditakuti. Malagasy percaya arwah leluhur tidak akan pergi ke alam lain sampai jasad mereka benar-benar terurai. Sementara waktu itu mereka masih bisa terhubung dengan kehidupan.

Kelompok Pemusik tradisional di lapangan dengan tenda tamu

Selesai makan kami bersama keluarga dan para tamu, berarak naik ke atas perbukitan tempat makam keluarga berada. Foto-foto berbingkai diarak oleh anak-anak, berfungsi untuk mengenali jenazah dengan foto semasa hidupnya. Bendera Madagaskar dibawa sepanjang jalan, berkibar-kibar ditiup angin sikut memeriahkan suasana. Rombongan ini sengaja menimbulkan keriuhan sepanjang jalan dengan sorak-sorai, memanggil orang-orang yang berpapasan dengan mereka untuk menggabungkan diri, berjalan serupa pawai di hari kemerdekaan.

Arakan menuju makam batu di atas bukit


Sampai di atas bukit, semuanya berhenti. Kami mengelilingi makam yang telah dibersihkan beberapa hari sebelumnya. Makam itu tampak jelas baru selesai dicat ulang dengan warna abu-abu dan putih. Semak-semak pun telah dibersihkan.

Meskipun famadihana bukanlah ajaran agama atau kenegaraan, namun daam prakteknya Malagasy memasukkan unsur nasional dan agama melalui lambang-lambang negara, lagu dan khutbah kristian.

Seorang pendeta naik ke atas makam batu bersama beberapa perwakilan anggota keluarga, menyampaikan khutbah tentang kematian juga ajakan berbuat kebaikan. Angin perbukitan bertiup namun panas matahari musim panas terasa menyengat di atas kepala. Selesai khutbah, lagu nasional Malagasy berjudul Ry Tanindrazanay malala ô! yang memiliki arti Oh, tanah tercinta dari leluhur kami! dinyanyikan bersama iringian musik para senimana. Lalu dilanjutkan dengan lagu-lagu rohani berisi puji-pujian kepada Tuhan. Para hadirin khitmat bernyanyi hingga lirik terakhir.

Dan sampailah pada puncak acara, pertemuan kembali dengan para leluhur. Beberapa lelaki masuk ke dalam makam batu, mengangkat jenazah yang jumlahnya belasan dari rak semen dengan tikar, lalu digotong keluar makam. Tikar-tikar tersebut lalu digelar kembali di atas rumput bersih untuk meletakkan para jenazah. Kain sutra baru dibentangkan untuk membalut mereka. Sembari anggota keluarga bekerja musik terus terdengar. Para seniman memainkan alat musik secara bergantian. 

Salin kafan

 

Peluh membanjir, udara pengap karena orang semakin ramai berkumpul ingin melihat aktivitas tersebut. Saya menyibak kerumunan perlahan, mencari tempat yang pas untuk menyaksikan dengan lebih jelas, hingga berhasil sampai di baris depan. Saya melihat jelas tiga jenazah dengan sigap diurusi secara bergantian. Kafan lama mereka tak dibuka namun langsung dibungkus lapis kain baru, mungkin khawatir kalau bagian jasad akan terserak. Lalu dua jenazah yang tampak telah mengecil dijadikan satu dalam balutan rapat sutera baru. Bagian kepala dan kaki diikat dengan tali. 

 
Anggota keluarga mengeluarkan jenazah dari makam batu

Matahari telah bergerak ke arah barat, jam tangan saya menunjukkan pukul tiga. Butuh waktu beberapa jam untuk merapikan semua jasad leluhur dan keluarga. Setelah seluruh jenazah rapi, mereka diarak keliling makam, diajak bersuka cita dengan kafan baru dan wewangian. Jenazah ini adalah orang-orang terkasih mereka. Telah bertahun-tahun terpisah alam namun Malagasy percaya para leluhur mereka tak pergi, tetap mengawasi dan melihat yang ahli waris lakukan. 

Anggota keluarga memeluk jenazah yang telah rapi dan bersih sambil menunggu jenazah-jenazah yang lain dirapikan.

Hari semakin senja ketika prosesi itu selesai. Jenazah-jenazah dimasukkan kembali ke dalam makam batu dengan kondisi bersih dan baru. Lalu pintu batu makam ditutup kembali secara rapat. Bagian luarnya ditimbun tanah dan rumput-rumput agar tersamar dari luar.