Recent Posts

Parc de Lémuriens Antananarivo, Madagaskar, Berwisata Sambil Belajar Menyayangi Hewan Langka

6 komentar


‘Itu King Julien di film Madagascar kan Ma? Terus, Alex, Melman,Gloria dan para piguinnya mana?’


Kalimat tanya bersemangat dari Ulwan putra pertama saya memancing Azzam adiknya untuk mendekat, ikut memperhatikan primata berbulu abu-abu keputihan yang memiliki ekor bercincin hitam dan putih. Hewan itu berdiri tak jauh dari kami. Matanya tajam dengan tatapan yang tampak galak namun tak membuat kedua putra saya takut. Keduanya menatap takjub, seakan telah kenal lama melalui cerita-cerita kartun yang mereka tonton. Ulwan benar, hewan itu adalah Ring Tailled Lemur, hewan endemik Madagaskar yang dijadikan karakter King Julien di film Madagascar karya DreamWorks yang populer sejak tahun 2005 lalu.
 Namun ia tak percaya ketika saya katakan tak ada Alex si singa, Melman si jerapah, Gloria si kuda nil dan para penguin di belantara Madagaskar. Sehingga kami tak akan menemui hewan-hewan itu di tempat wisata yang sedang kami kunjungi ini. Ia kecewa sebentar namun lalu terhibur karena telah bertemu dengan aneka spesies lemur lain yang baru kali ini ia lihat langsung.

Saat ini kami tinggal di Antananarivo, ibukota Madagaskar, sebuah negara pulau di Samudera Hindia. Pulau yang terletak di lepas pesisir timur Benua Afrika ini adalah pulau terbesar keempat di dunia dengan ragam flora dan fauna bersifat endemik dan khas, sekitar 80 persennya tak ditemukan di tempat lain di dunia. Salah satu fauna yang popular adalah lemur.
Sebagai negara Afrika, alam madagaskar masih sangat alami dengan savana, perbukitan, hutan-hutan juga pantai yang indah. Namun di ibu kota yang terletak di dataran tinggi tak banyak tempat hiburan, terutama buat anak-anak. Taman-taman bermain tak terlalu nyaman, pusat perbelanjaan hanya ada beberapa bahkan tak ada bioskop di kota. Namun sebagai negara yang popular dengan hewan langka, Antananarivo memiliki tempat wisata yang berbeda yang tak dimiliki negara lain yaitu Parc de lémuriens. Tempat ini tentu menjadi pilihan menarik sebagai destinasi berlibur di akhir pekan bagi kami.
Dari rumah kami berangkat sekitar pukul delapan. Dengan mengendarai mobil pribadi kami menempuh 22 km menuju arah barat daya, keluar kota. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke Parc de lémuriens yang terletak di antara desa Fenoarivo dan desa Imerintsiatosika.


Kami memasuki gerbang yang langsung mengarah ke pusat informasi. Tak ramai orang kala itu. Hanya ada pengunjung berkebangsaan Perancis dan Amerika yang sempat berbalas sapa dengan kami sebentar. Seorang laki-laki muda bertubuh kurus berkulit gelap menyapa kami dengan ramah. Ia memperkenalkan diri sebagai Marc yang akan menjadi pemandu kami. Ia bisa berbahasa Inggris, meski Ulwan dan Azzam lebih sering bertanya dalam bahasa Perancis.
Sebagai informasi, Madagaskar yang adalah bekas koloni Perancis masih mendapat banyak pengaruh Perancis termasuk bahasa. Madagaskar memiliki dua bahasa resmi yaitu Malagasy dan Perancis. Sekolah-sekolah juga mengadopsi sistem pendidikan Perancis disini.
Marc menjelaskan terlebih dahulu tentang rute yang akan kami lewati juga peraturan yang harus kami patuhi ; diantaranya harus tetap tenang dan tidak panik ketika berada dekat lemur, tak menyentuh dan memberi mereka makan juga tak berjalan jauh tanpa pemandu. Kami lalu keluar dari pusat informasi, menuju jalan setapak, memulai tur.
Sejarah Singkat
Ada puluhan -bahkan beberapa peneliti berpendapat ratusan- spesies lemurs di Madagascar. Sayangnya sejumlah besar spesies telah punah akibat lahan hutan yang berkurang, perubahan iklim juga tingkat kematian yang tinggi. Di Parc de lémuriens atau taman lemur ini  hanya ada sembilan spesies yang bisa kami jumpai.
Kawasan seluas lima hektar ini didirikan tahun 2000 oleh Laurent Amouric dan Maxime Allorge. Taman ini dibuat menyerupai habitat asli para lemur dilengkapi fasilitas kesehatan dan tempat perawatan. Dibuka bagi pengunjung umum untuk proses pendidikan dan menghidupkan perekonomian masyarakat setempat.
Lemur di taman ini berasal dari sumbangan Kementerian Air dan Hutan Madagaskar, pertukaran lemurs dengan cagar alam lain, juga lemurs yang berhasil diselamatkan dari pemburu illegal.
Bertemu para Lemurs
Suara jeritan terdengar begitu kami menapaki jalan setapak taman. Lemur yang menurut Mitology Romawi berarti roh atau spirit memang memiliki suara melengking keras dan tajam. Suara itu saling berjawab antara beberapa lemur, begitulah cara mereka berkomunikasi.

Kelompok pertama yang kami temui adalah Black and White Ruffed Lemurs yang dalam bahasa latinnya disebut Varecia variegate. Sesuai dengan namanya mereka memiliki bulu berwarna hitam dan putih. Mereka senang memajat pohon, bergantungan dengan tangannya yang panjang. Pemandu menjelaskan kalau mereka rata-rata bisa hidup hingga usia 37 tahun. Lemur ini tak terusik dengan kehadiran kami di dekat mereka. Sata memegang tangan Azzam erat khawatir kalau ia merasa takut. Namun ia tak tampak takut dan memintaku melepaskan tangannya setelah berjanji tak akan terlalu jauh dengan kami.
“Warnanya mirip panda ma.” Komentar Azzam yang saya iyakan.

Kami terus berjalan hingga sampai ke bawah pohon besar dengan ranting-ranting kurus. Dibawahnya kami menemukan Common Brown Lemur atau Eulemur fulvus. Lemur ini bertubuh lebih kecil. Mereka berjalan mendekati kami dengan bebas dan tak canggung, tampak telah terbiasa dengan kehadiran pengunjung. Sayang sekali kami tak dizinkan menyentuh mereka.

Di depan kami aliran sungai Katsaoka bewarna keruh mengalir. Marc menjelaskan kalau aliran sungai ini mengelilingi taman, berfungsi sebagai pembatas taman dengan pedesaan. Para lemur tak bisa berenang, karenanya mereka tak akan pergi menjauhi taman.



 Kami lalu bertemu kelompok Sifaka. Sifaka terbagi dua yaitu Coquerel’s sifaka atau Propithecus coquereli dan Crown sifaka atau Propithecus coronatus disebut demikian karena di bagian kepala tampak pola yang menyerupai mahkota. Marc meminta Ulwan dan Azzam memperhatikan bagian kening hewan itu, dan keduanya gembira begitu bisa melihat pola mahkota itu.
“Wah, Sifaka ini rajanya Lemur! Karena itu ia punya mahkota.” Marc tertawa mendengar kalimatnya.
 “Kamu tahu, mereka juga bisa menari. Perhatikan ketika mereka berjalan!” pinta Marc lagi kepada keduanya.
Marc benar, karena Sifaka memiliki tungkai yang panjang, mereka bisa berjalan dengan kedua kaki, lalu pada saat-saat tertentu melompat gesit dan lincah seakan menari. Karena itu mereka dijuluki ‘the dancing lemur’ atau lemur yang bisa menari. Mereka juga mahir memanjat dengan tangan, berpindah dari satu dahan ke dahan pohon lain tanpa melukai diri, meski pohon itu berduri.
Marc menjelaskan kalau Sifaka terbiasa hidup bersama 3 sampai 16 ekor jantan dan betina. Mereka menandai daerah mereka dengan bau tubuh mereka. Setiap hari mereka memeriksa kawasan mereka agar kelompok lain tak mendekat. Jika ada kelompok lain mereka akan melakukan konfrontasi. 

Melewati hutan bambu kami bertemu dengan lemurs bertubuh yang kecil. Mereka berkumpul sambil memakan ranting bambu muda. Mereka adalah Eastern lesse bamboo lemur atau Hapalemur griseus. Meski bertubuh kecil mereka memiliki pencernaan yang kuat dan gerakan yang tak kalah lincah.

Dari sana kami bertemu juga Lemur catta atau Ring Tailed lemur si King Julien. Saat itulah Ulwan bertanya dimana karakter hewan lain yang ia kenal dari film kesayangannya tersebut. Lemur ini sangat mudah ditandai karena ekornya yang panjang memiliki cincin bewarna hitam dan putih. Mereka juga seringkali menjadi ikon produk souvenir.
Pemandu menjelaskan kalau lemur catta yang juga punya nama lain Maki ini termasuk yang populer namun galak. Mereka  tak senang terhadap pengunjung, mereka juga senang menggigit. Makanya mereka mewanti kami agar tak terlalu mendekat dan menjaga jarak. Yah begitulah, yang cantik memang cenderung susah didekati.
Puas menatap mereka dari jarak aman, Marc mengajak kami ke bagian atas menuju kandang kelompok Lemurs Nocturnal. Kami berjalan mendaki, melewati jembatan kayu.


“Apa itu nocturnal?” kali ini Ulwan yang bertanya.
“Hewan yang beraktivitas di malam hari dan tidur di waktu siang.”
“Oh, seperti kelelawar?”
“ya, seperti kelelawar.” Jawabku.
Marc mengigatkan agar kami melangkah perlahan dan tak menyalakan flash kamera ketika memotret karena akan mengganggu mereka yang sedang tidur. Kandang terbuat dari papan dengan beberapa bilik tersekat kawat, lantainya dilapisi rumput tebal dengan batang-batang pohon beranting. Di salah-satu dinding kawatnya kami melihat seekor lemur menempel. Lemur itu tidak sedang tidur namun bergerak pelan merayapi dinding kawat. Dialah Mongoose lemur atau Eulemur mongoz. Lemur Mongoose ini adalah lemur yang tak biasa. Dia hidup secara diurnal juga nocturnal tergantung musim. Pada musim panas dan kering mereka memilih tetap di kandang atau tidur di dahan-dahan pohon di hutan, namun ketika musim dingin mereka beraktivitas di siang hari.
Di bilik lainnya, tampak batang bambu yang diletak melintang. Di lubangnya seekor lemur kecil tidur bergelung. Ukurannya hanya kira-kira sekepalan tangan. Ia membuka matanya sebentar dengan malas sebelum kembali melanjutkan tidur, ialah Cheirogaleidae disebut juga dwarf lemur.  Lemur ini adalah lemur terkecil namun hewan nocturnal golongan primata terbesar di dunia.
Kami keluar dari sana. Ulwan dan Azzam terdengar bernapas lega. Ternyata sejak di kandang nocturnal tadi mereka menahan diri untuk tak berbicara atau menimbulkan suara berisik. Saya senang tak hanya karena mengetahui mereka mengerti aturan yang harus dipatuhi namun juga karena mereka peduli terhadap hewan-hewan itu.
Kebun Botani
Upaya untuk melestarikan lemur tentu harus berbarengan dengan melestraikan lingkungan hidup mereka. Maka di taman ini ditanam juga sekitar 70 spesies tanaman, beberapanya termasuk native atau pohon khas Madagaskar, sebagai upaya penghijauan. Beberapa pohon yang terdapat di taman ini adalah rosewood, terminalia, amontana, Madagascar spiny thickets juga Baobab yang melegenda. Jenis tanaman utama adalah pinus dan vegetasi bambu. Semuanya mencapai hampir 6000 pohon.
Kura-Kura dan hewan lainnya.

 Kami sampai ke bagian akhir dari rute yang dijelaskan Marc tadi. Ada beberapa lempeng batu besar yang disusun serupa tempat untuk perlindungan. Di bawah lempengan itu kami melihat hewan melata dengan cangkang besar di atas tubuhnya. Ya, selain lemur di taman ini juga bisa ditemui kura-kura jenis Astrochelys radiate yang khas dari Madagaskar. Usia kura-kura bisa diketahui dengan menghitung lingkaran yang terbentuk di cangkangnya. Jumlah lingkaran mengisaratkan jumlah umur.
Serupa dengan lemur, kura-kura Madagaskar juga terancam punah akibat kehilangan habitat asli juga perburuan liar yang marak. Meski pun hal ini telah diataur dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Flora dan Fauna, namun banyak hukum yang diabaikan oleh beberapa oknum. Jumlah keberadaan hewan-hewan ini diberitakan terus menurun. Di alam liar tak lebih baik, oleh karena itu tempat konservasi serupa Taman lemur ini memang dibutuhkan.
Belanja Souvenir


Matahari mulai naik di atas kepala ketika kami mengakhiri rute, dan kembali ke pusat informasi yang juga merangkup restoran. Kami menolak halus tak makan disana karena membawa bekal dari rumah. Namun kami masuk ke toko souvenir dan membeli beberapa oleh-oleh. Ragam souvenir yang dijual disini memang lucu dan menarik. Diantaranya kaos dengan gambar karakter para lemur, tempelan kulkas, gantungan kunci, boneka lemur, dan aneka kerajinana tangan. Harga termasuk terjangkau meski masih di atas harga pasar.

Tips berkunjung ke Parc de lémuriens
·        Taman lemur ini buka setiap hari termasuk hari Minggu dan hari libur nasional, sejak pukul 9.00 sampai 17.00. Namun kunjungan dibatasi hanya satu jam tiga puluh menit saja. Tidak perlu membooking. Karena biasanya pengunjung masih bisa ditangani oleh manajemen atau pemandu yang berjaga.
·        Jika ingin melihat para lemurs diberi makan oleh petugas datanglah sekitar pukul 10 pagi dan pukul 4 sore.
·        Sebelum berkunjung sebaiknya, mencari referensi terlebih dahulu tentang para lemurs karena jika tidak kita akan bingung mengingat nama-nama lemurs dan mencocokkan dengan bentuk mereka.
·        Angkutan umum kurang nyaman, bisa juga menyewa taxi dengan biaya yang bisa ditawar.
·        Bawalah kamus Perancis – Inggris atau kamus Indonesia – Malagasy yang bisa didapatkan di KBRI Antananarivo untuk memudahkan komunikasi.

Biaya
·        Biaya masuk atau tiket Ar 25.000 (Rp.125.000) /orang dewasa, anak-anak 4-12 tahun Ar.10.000 (Rp.50.000)/orang, di bawah usia 4 tahun gratis.
·        Biaya untuk pemandu Ar. 10.000 (Rp.50.000) /grup

Informasi bisa didapatkan melalui :
Website                                                   : www.lemurspark.com
Alamat kantor di Antananarivo        : Lot II H 22 Ampandrana Ouest BP 3979 – Antananarivo
Email                                                      : lemurspark@moov.mg
Telepon                                                   : 033 11 252 59
               033 14 791 13
                            

ASUS EeeBook 202 for Productivity and Creativity

14 komentar

 [BLOG COMPETITION] Makin Produktif dan Kreatif Bersama Notebook Kesayangan

I will not only be
Someone’s daughter
Someone’s wife or
Someone’s mother
I will have equal opportunities
My life will be mine.
(unknown)

Quotes itu kutemukan tahun 2010, kusalin di catatan harian berharap mewujud serupa mantra yang mampu memotivasi aktualisasi diri. Nyatanya, makna kalimat-kalimat disana hari ke hari pada tahun itu, berbalik mengejek karena aku menemukan diriku terjebak dalam labirin ketakutan yang kuciptakan sendiri. Preet Aktualisasi diri! Aku bahkan terancam kehilangan nama kecil!

Jati Diri

Tahun 2010, setelah gelar Ners tersemat, setelah satu setengah tahun memantaskan diri dengan ragam skill sebagai perawat di Rumah Sakit, setelah putra kedua lahir aku pindah ke Jakarta menemani suami yang bekerja sebagai abdi negara di salah-satu kementerian RI. 

Berada di Jakarta ternyata tak seindah angan. Kota metropolitan itu memacak kakiku serupa dalam kubangan cemas berlebih. Rasa percaya diri perlahan terkikis oleh wajah-wajah tanpa senyum yang bergerak terburu dimana-mana. Berita-berita kriminal di televisi pintar sekali mengintimidasi. Tantangan demi rintangan yang ditawarkan membuatku merasa tak mampu. Maka aku mundur menarik diri dalam ruang nyaman namun melenakan. Merasa terus berada di rumah adalah pilihan terbaik.

Sampai ancaman lain muncul : kehilangan jati diri dan yang paling menakutkan kehilangan mimpi, sesuatu yang sama menakutkannya. Panggilan Haya atau Nufus mulai menghilang berganti sapaan ‘Mama Anas’ Ummi Azzam’ atau ‘Bu Iqbal’. For God sake I love my own name! Jangan salah paham, sebagai istri dan ibu dari dua putraku kala itu, aku merasai mendapat anugerah terindah dari Tuhan. Namun, ada ego intelektual. ada ambisi, ada keinginan untuk tampil yang membisiki untuk meraih lebih dari itu. Berdenyar-denyar membuat susah tidur dan uban tumbuh lebih dini. Dilema antara besar angan dan nyali yang ciut.

Dan, ketika perlahan aku mulai membiasakan diri dengan riuhnya ibukota, mulai mengikuti wawancara satu demi satu, mulai mengenal komunitas yang bisa aku ikuti demi upgrading diri, berita penugasan suami keluar negeri datang. Aku dan anak-anak harus ikut pindah. Dan ini bukanlah penugasan tunggal, akan ada negara-negara lain untuk kami tempati dalam selang waktu tertentu. Begitu siklus kerja suamiku. Menyesuaikan diri adalah keharusan. Horeeee!!! Another challenge to beat? Menyesali diri tak akan membawaku kemana-mana.

Sampai ide serupa ilham itu muncul. Fokuslah menulis Haya! Jadi blogger, jadi novelis, jadi cerpenis atau penulis lepas. Jadilah full time writer! Itu adalah pekerjaan yang bisa dilakukan dalam situasi yang aku punya. Maka selembar kartun berjudul ‘PETA HIDUP’ tertempel di dinding dengan target-target yang harus kucapai.

Membangun branding melalui kegiatan blogging, mencari referesi atau ide untuk cerita-cerita fiksi, menggali informasi tentang lomba-lomba menulis, memburu media-media yang menerima tulisan hingga penerbit yang bisa mewujudkan mimpiku untuk menjadi penulis pun kulakukan. Jelas aku butuh dukungan fasilitas untuk browsing, pengetikan, dan semua kegiatan komputansi lain.

Untunglah aku bisa mengandalkan semua produk ASUS milikku. ASUS adalah brand teknologi yang kami pilih masa ke masa, model ke model.



Namun semua tidaklah instan. Ada banyak penolakan-penolakan, email-email tanpa balasan, revisi naskah berkali-kali untuk lalu kembali mencari media lain yang menyediakan ruang bagi penulis lepas. Tekat dan semangat pantang menyerah adalah keharusan. Butuh lebih dari satu tahun, hingga akhirnya nama Haya Nufus mulai mejeng di beberapa majalah nasional dan buletin cetak : artikel perjalanan dan cerita bersambung. Juga sebuah novel perdana hasil menjuarai Lomba Menulis Novel tingkat Nasional lahir dengan namaku sebagai penulisnya. Puas? Ya belumlah!





KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Selain itu blogging membawa pengaruh tak sedikit bagiku. Informasi dan ragam pos dari teman blogger membuka caraku berpikir bahwa tak semua patut ditakuti. Ada orang-orang yang berpikiran positif dan menyebarkannya untuk mengalahkan rasa takut. Memang banyak informasi yang betebaran, namun selektif memilih berita adalah keharusan. Aku melihat betapa serunya para Travel Blogger yang melakukan perjalanan ke tempat baru yang asing, melihat para lifestyle blogger yang pintar memanfaatkan peluang apapun . Semua itu membuatku berpikir bahwa aku harus berubah, harus keluar dari zona nyaman, mencoba hal baru dan begitu itu kulakuakan ternyata aku ketagihan. Aku keluar dari labirin dan membuka diriku lebih luas!

Maka pada setiap aktivitas dan perjalanan aku ingin tetap terus menulis dan terhubung. Untuk itu aku butuh perangkat yang mendukung hidup sehari-hari yang lebih dinamis.

Pernah aku mendapat email dari seorang editor yang mengabarkan kalau artikelku akan dimuat di majalah mereka namun harus revisi dalam waktu dua hari dengan penambahan beberapa foto. Itu terjadi secara mendadak dan mereka butuh cepat untuk mengejar waktu cetak, sementara aku sedang di luar kota. Konyol saja kalau tantangan itu terlewat hanya karena aku tidak memegang laptop. Waktu itu, kami sampai memutuskan untuk pulang lebih awal, dan sampai di rumah aku mengabaikan waktu tidur untuk menyelesaikan revisi dan memilih foto-foto pelengkap. Andai waktu itu aku sudah punya ASUS E202 yang karena ringan dan mungil pasti telah kubawa serta dalam perjalanan, liburan kami bisa berlanjut satu atau dua hari lagi.

Notebook tipis, mungil, ringan namun berdaya dan memiliki performa tinggi bukan lagi mitos. ASUS terus berinovasi dan menghadirkan seri E202 untuk kebutuhan mobile penggunanya demi kreativitas dan produktivitas dalam mewujudkan mimpi-mimpi.

Kenapa ASUS E202?

Karena ASUS EeeBook 202 dengan Intel® processor layaknya otak yang jenius hingga menjadi produk terbaik generasi terkini. Aku yakin kapasitas performa dalam urusan per-komputeran akan memberi hasil terbaik. Mau berselancar di web untuk keperluan riset bagi bahan tulisan, terhubung dengan teman melalui ragam media sosial, menonton video, pengetikan dan ragam multitasking yang kita butuhkan lainnya, semua akan lancar tanpa kendala.

Dirancang Bagi yang Aktif dan Terus Bergerak

Ide bisa datang dimana saja dan kapan saja, aku tak mau kehilangan ide itu hanya karena malas membuka laptop. Ketika sedang mengantri di ruang tunggu dokter, menunggu teman di café, menunggu janji temu dengan wali kelas anak-anak, juga saat mudik ke Aceh atau traveling ke tempat-tempat baru. Ada menit-menit yang bisa digunakan untuk menuangkan ide atau menyelesaikan naskah. ASUS E202 yang ringan hanya seberat 1,21 kg akan mudah diselipkan dalam tas, dimensinya yang hanya 193 x 297 mm bahkan lebih kecil dari ukuran kertas A4. Sangat memudahkan untuk dibawa kemana-mana, nggak bikin pundak pegal ketika menggendongnya dan juga ringan dipangku.



Gimana? Mungil banget kan? Meski mungil, ASUS E202 bertenaga loh. Kecil-kecil cabe rawit. Buktinya ASUS E202 memiliki daya tahan batere yang tinggi, hingga 8 jam tanpa dicas! Jadi kelebihan lainnya ada pada daya tahan batere. Long battery life for all day computing, 8 HoursBATTERYLIFE! Karena memang notebook ini menggunakan prosesor Intel hemat daya dan dapat diisi ulang melalui port USB 3.1 Type-C. Memudahkan banget ya.

Jadi jangan khawatir, akan kesulitan mencari stop kontak ketika berada di luar ruangan atau di tempat-tempat umum.

Kubayangkan aku akan berda di sebuah taman, dengan ASUS E202 yang begitu ringan dan stylist di pangkuan, mengetik naskah calon novel dan menikmati diri sendiri dengan udara yang segar. Tanpa ribet mencari colokan untuk mencas batere! What a wonderful moment! Merasa diri bebas kendala. Ngetik sambil cuci-cuci mata, mencari karakter yang manis dan loveable untuk calon novel yang bisa saja hilir mudik di sekitar. Mengetik di dalam ruangan memang memberi ruang konsentrasi, namun berada di luar ruangan mampu memancing ide-ide baru. Ya kan?

Pilihan Warna yang Hidup


Asiknya lagi ASUS E202 yang hadir dalam versi windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam warna-warna pilihan yang cocok untuk mengekspresikan kepribadian pemakainya. Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge. Tinggal pilih sesuai selera. Favoritku adalah warna merah! Kesannya mencolok dan menarik perhatian, seperti aku yang ingin diperhitungan dalam produktivitas dan kreativitas yang kumiliki. Merah juga penyemangat untuk tampil berani dan percaya diri. Apapun warna pilihannya, semua keren-keren kok! 


Perangkat Pendukung yang Lengkap  

Lalu meski terkesan mungil nan sederhana, ASUS E202 tetap dilengkapi dengan USB port, micro HDMI port dan slot MicroSD yang kita pasti kita butuhkan untuk mendukung kegiatan kita. Menyimpan dan memindahkan data dari dan ke memory eksternal, terhubung dengan perangkat lain tidak akan jadi masalah. USB 3.1 tipe C yang kecepatan transfernya lebih cepat 11X dibanding USB 2.0 juga akan menghemat waktu kita karena bisa digunakan dengan berbagai arah dengan colokan reversible yang siap sedia. Hemat waktu banget!
Sentuhan yang nyaman 

Aku terbiasa mengetik panjang, sehari terkadang hingga sepuluh halaman jika sedang mengejar DL untuk lomba novel. Touchpad yang nyaman, responsive dengan akurasi tinggi adalah keharusan. ASUS E202 11,6 inci, memiliki touchpad dengan ukuran 36% lebih besar disbanding yang dimiliki laptop sejenisnya. Kesepuluh jariku akan mudah menjangkau tuts-tuts keyboard tanpa cepat lelah. Karena bagi seseorang yang bekerja dengan mengandalkan jari-jari, kenyamanan yang ditawarkan keyboard harus mendapat perhatian tinggi. Dengan fitur teknologi ASUS Smart Gesture, touchpad juga lebih intuitive layaknya layar semtuh handphone. Ngetiknya bisa santai, nggak perlu pake tenaga!


Keyboard yang Durable, full-size chiclet menambah kenyamanan semakin berbeda, jarak antar keyboard 1.66 mm, kekokohan ketika mengetik akan terasa. Bahkan kabarnya, tahan sampai 10 juta kali pengetikan. Luarrr biasa!.

Fanless Design : Tidak Berisik
Selain berada di taman atau aku juga sering sengaja bangun tengah malam dan mencuri waktu senyap untuk melanjutkan naskah atau memulai cerita baru. Jelas aku tidak ingin mengganggu penghuni kamar atau rumah lainnya yang sedang tertidur lelap. Fanless Design, tanpa gerung kasar membuat ASUS 202 berbaur bersama kesenyapan sekitar dengan begitu baik.Begitu pula ketika berada di fasilitas publik yang mengutamakan kenyamanan setiap pengunjung serupa pustaka. Menghidupkan notebook tak akan mengganggu pengunjung lain.

Teknologi Terbaru 802.11ac Wi-Fi

Kata siapa menulis fiksi itu murni hanya mengkhayal. Tetap butuh riset untuk penggambaran setting tempat dan waktu, karakteristik tokoh-tokohnya baik yang protagonis, antagonis maupun pelengkap berdasarkan budaya atau asal-usulnya. Jadi berselancar di dunia maya untuk keperluan browsing jelas butuh koneksi internet yang cepat. Apalagi kalau mau sekalian download atau streaming video. ASUS E202 dilengkapi teknologi terbaru 802.11ac Wi-Fi yang hampir tiga kali lipat lebih cepat disbanding 802.11n

Begitu pun ketika menulis untuk artikel perjalanan atau kegiatan blogging. Perangkat yang mendukung untuk terhubung dengan internet adalah keharusan.

Suara dan Gambar yang Dalam, Optimal dan Kaya



 Ketika bosan atau butuh penyegaran agar bisa lanjut menulis, mendengar musik dan menonton video adalah dua pilihan selingan. Fitur 2 kualitas audio terbaik juga speaker depan, front-facing speakers, yang adalah teknologi ASUS Sonicmaster terkolaborasi dengan ASUS Golden Ear team ciptakan suara yang lebih dalam dan bersih. Teknologi ASUS Splendid dengan system vivid memberikan warna-warna yang tampil di layar display teratur optimal untuk semua gambar. Video dan film yang aku tonton akan lebih kaya dan dalam.


ASUS WebStorage
  
Dan dari semua kelebihan di atas ASUS cloud service menawarkan ASUS Webstorage sebagai penyimpan data online yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Semua data dapat tersinkronisasi dengan baik dan mudah. Simpan-simpan data, foto-foto dan ragam konten multimedia lainnya tanpa takut kepenuhan. ASUS E202 memberi ruang 16GB Webstorage secara gratis untuk satu tahun. Benar-benar mendukung kehidupan online insan aktif nan kreatif masa kini kan?

Jadi, jelaslah ASUS E202 adalah pilihan oke untuk kreaivitas dan produktivitas kita.



Dan sebagai penutup kukatakan bahwa, aku butuh ASUS E202 karena sekarang yang kuraih belumlah cukup. Mimpi-mimpi bergerak membesar dan faktanya kreativitas dan produktivitas adalah sesuatu yang dinamis, bahkan kita tak tahu ujung dari proses itu. Kreativitas hari ini akan menjadi sesuatu yang basi di esoknya. Teknologi berubah dengan cepat dan hanya pribadi yang mampu membaca peluang yang akan datang yang akan menjadi pemenang.

Dan tenang sajalah, karena ASUS akan terus mendampingi kita dengan ragam inovasi terkininya.

Oke teman-teman, itu saja yang ingin aku ceritakan.
Happy Blogging!
Happy Life!

Haya Nufus