Wake me up!

10 komentar


Mendadak resah di penghujung tahun 2011. Beberapa episode kehidupanpun  berlalu. Dimulai masa -masa yang sulit ditarik dari laci memori, kanak-kanak yang penuh petualangan, masa remaja yang merekahkan ego dan menuai banyak arti cinta dalam persahabatan dan kini: dewasa (benar sudah dewasa?).

Mendadak ingat umur! ini bukan sekedar takut tua... maksudku tua memang proses alami yang tak bisa dicegah. Hanya kok setua ini masih begini? Tak ada pencapaian apa-apa. Stagnan!

Ilmu lumpuh terbelit rubuh?
Langkah terkayuh tak sampai setengah
Mimpi tertempel pada dinding berpeluh
Ada yang salah pada fikir yg terasah
Ada yang keliru pada jiwa yang mengeluh
Duh

Dan selembar kertas karton di dinding itu mengejek. Sudah bertahun-tahun tertempel di dinding hingga melusuh dan memudar (sepudar semangatku?). Please wake me up! I have to do something! 

10 komentar :

Posting Komentar

Cerpen : Banta Cut

17 komentar


Hari masih gelap ketika sebuah jeritan terdengar dari balik ruangan berterali besi.
”Argh! Buka pintu!” suara itu lantang berulang-ulang diiringi suara gembok besar yang tergantung di palang kunci menggedor-gedor pintu.
”Jangan ribut!, kami masih mau tidur.”
” Buka pintu!”
Banta Cut pemuda berusia 17 tahun itu seperti kesetanan. Ia mengamuk, menerjang segala yang ada didekatnya. Ia baru dimasukkan kemari seminggu yang lalu setelah sebelumnya dihajar orang-orang kampung karena membakar sebuah rumah. Pardi pasien Skizophrenia Paranoid yang meringkuk di tempat tidur besi tak berkasurpun menjadi sasarannya. Banta memukul Pardi bertubi-tubi. Hingga memancing keributan pasien-pasien yang lain. Hingga tiga sosok perawat yang bertugas malam itu muncul dari kamarnya yang ber-AC yang terletak di sebelah ruangan itu. Harusnya mereka dapat mendengar keributan itu dari tadi. Satu orang membukakan pintu sementara dua perawat lain bergegas meringkus tangan Banta dan memisahkannya dari pasien-pasien lain yang mulai bingung. Mereka lalu menariknya keluar. Meski Banta meronta-ronta ketiga perawat itu lebih kuat. Ia digelandang ke sebuah kamar yang jauh lebih kecil berukuran satu kali satu meter. Mereka segera menyuntikkan diazepam hingga tubuhnya melemah, ia merintih pelan dan semakin pelan.
            ”Tuhan, tolong aku” ia tersesat dalam labirin tak bernama.
            ”Kau memiliki takdirmu sendiri”

17 komentar :

Posting Komentar

Mother's day

2 komentar







                   Kartu Selamat Hari ibu dari anakku.

2 komentar :

Posting Komentar

Book review : Therapy

10 komentar



Judul                   : Therapy
Pengarang           : Sebastian Fitzek
Penerbit               : Ufuk Publishing Hpuse
Jumlah Halaman   : 497


Novel International Best Seller ini dibuka oleh sebuah prolog yang langsung membuat saya penasaran. Bagaimana mungkin  Josy gadis berumur 12 tahun anak seorang psikiater populer, Viktor Larenz yang menderita penyakit aneh, lenyap secara misterius saat sedang menunggu dokter di sebuah klinik. Tak ada yang melihatnya pergi juga tak ada bukti atau jejak yang menunjukkan ia diculik.  DR. Victor Larenz sang ayahpun menghadapi hal itu dengan sangat buruk –satu-satunya masa genting yang benar-benar serius dalam hidupnya-
Selama masa empat tahun kemudian ia menjadi sosok yang sangat parah, berganti-ganti Rumah Sakit hingga bertemu DR.Roth di Spartan Privat Klinik Psikosomatik Berlin yang menjadi psikiaternya.  Ia tidak hanya dituduh mengalami kelainan jiwa namun juga melakukan pembunuhan. Siapa yang dibunuh? Hingga mendekati halaman terakhir saya tetap tak bisa menebaknya. (semua tebakan saya meleset!).

10 komentar :

Posting Komentar

Cerbung : Part One

14 komentar


Tak tertepis bayang itu menghantam telak rasa suka.

Aku tak bisa berpaling,tak ingin menghindar

Cerita bertahun-tahun yang lalu kembali mengetuk ruang memoriku. Memunculkan seraut pesona penebar debar aneh. Itu dulu.

                “Butuh payung?”
Sesosok lelaki telah berdiri disampingku dengan payungnya yang terkembang. Aku tersenyum, dia juga tersenyum. Berjalan di bawah rinai hujan bersama orang yang kau cintai membuatmu tak perduli yang lainnya. Tak perduli pada banyak mata yang memandang iri penuh selidik juga tak perduli pada bisik-bisik mereka. Saat itu di bawah hujan hanya ada kau dan dia.
                “Bagaimana lamaranku? Sudah kau pertimbangkan?”
                “Bapak mau menikah?” pertanyaan konyol
                “Kalau mempelai wanitanya bersedia”
Aku merona malu. Menunduk menatap sepatuku yang basah.

14 komentar :

Posting Komentar

Lelaki (Cinta) Pertamaku

20 komentar


Picture froom Google

Mengenangnya adalah mengenang segala keindahan, meski kasih itu tak pernah terucap. Seperti malam ini lagi-lagi aku merinduinya. Merindui langkah-langkah besar  kakinya, merindui sorot matanya, merindui  suaranya. Ia laki-laki pertama yang hadir sepanjang memori merekam masa kehidupanku karenanya tak mungkin aku melupainya. Benar, cinta pertama itu akan terus membekas meski banyak cinta-cinta lain menorehkan warna tapi ia tak kan terganti.
Apa yang harus aku ceritakan tentangnya agar kau tahu bahwa meski dalam kebersamaan kami yang singkat namun banyak bagian darinya telah menjadi bagian dariku. Diamnya sama seperti diamku. Marahnya selalu mampu meredam kenakalanku. Ia yang mengajarkan aku rasa syukur dengan segala kesederhanaan dan kerja kerasnya hingga terkadang membuatku merasa menjadi anak miskin. Sebenarnya miskin dan kaya itu dilihat dari segi apa? Harta? Mungkin iya. Dan aku (dulunya)

20 komentar :

Posting Komentar

Ketika Kematian Begitu Dekat

21 komentar

Pengalaman ini sebenarnya ingin aku lupakan karena terkadang membuat traumatis jiwaku terungkit. Namun kesadaran akan hikmah dari peristiwa inilah yang ingin kubagi untuk semua bahwa kematian bisa datang kapanpun. Meski tak ada sakit yang kau derita atau usiamu masih belia.
Pada hari Minggu beberapa tahun yang lalu aku dihadapkan pada peristiwa yang benar-benar membuatku merasa kecil.

21 komentar :

Posting Komentar

Nikah dong guys! : sebuah provokasi.

19 komentar

Sebenarnya apa sih yang membuat laki-laki menunda melamar seorang gadis (janda kembang) untuk menjadi istrinya?padahal terkadang  (bagi yang pacaran) sudah jalan berduaan, sudah berkali-kali bilang Ich Liebe dich...eu te amo, sudah habis uang untuk dinner bareng, nonton bareng atau sekedar ngasih hadiah-hadiah kecil. Beberapa teman menjawab : ingin mapan dulu,  belum nemu yang ideal (fisik???) , masih perlu penjajakan lebihhhhh.
Dan apa pula yang membuat wanita terkadang  menolak lamaran seorang pria? Beberapa mungkin menjawab : Wah dia gajinya kecil, nyari yang berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribadi,dll), yang cantik (banyak yg ngelirik)ngajawab : akukan cantik jadi bisa dong milih2 yang perfect (ceilah neng nggak ada manusia di dunia ini yang sempurna).  Nah kamu? Alasanmu apa? ;p
Sekedar ingin berbagi pengalaman boleh ya… Aku menikah saat masih semester empat dengan seorang laki-laki yang juga masih kuliah di semester enam. Kok bisa?

19 komentar :

Posting Komentar

Sehatkan anakku...

15 komentar

Sejak umurnya belum genap dua tahun  aku telah melihat ada yang aneh dengan lehernya. Ketika ia berteriak,  menangis atau tertawa akan terlihat seperti benjolan yang akan kembali hilang begitu ia diam. Tentu saja aku khawatir maka aku membawanya ke spesialis anak di salah-satu Praktek spesialis di Banda Aceh. Sang dokter memeriksa lehernya, meraba-raba dengan kedua tangannya.  Ia melihat benjolan itu karena anakku terus menangis saat diperiksa. Tapi ia hanya diam pun ketika kutanya sakit apa anakku. Dan dia lalu menulis resep yang ternyata hanya multivitamin. Tak puas aku membawanya ke dokter spesialis anak yang lain namun sayang sepertinya dokter itu tak melihat benjolan itu karena ia mengatakan tak ada apa-apa hanya aku yang terlalu khawatir. Setiap anakku sakit dan setiap aku membawanya ke dokter aku selalu bertanya tentang benjolan itu tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Hingga saat usianya tiga tahun

15 komentar :

Posting Komentar

Book Review : Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela

18 komentar
Judul                     : Totto-chan
Pengarang             : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa           : Widya Kirana
Penerbit                 : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesebelas : September 2006
Jumlah Halaman     : 271

Apa yang akan kamu (posisikan dirimu sebagai orang tua atau guru) lakukan ketika melihat anak usia Sekolah Dasar sedang mengaduk-aduk bak penampungan kotoran, mencedokinya dan menuangkannya ke tanah hingga hampir mengosongkan seluruh isi bak penampungan kotoran tsb?. Hal yang umum adalah merasa jijik dan berteriak memarahi si anak atas ulahnya yang "keterlaluan". Tapi bukan itu yang dilakukan oleh kepala sekolah Sosaku Kobayasi

18 komentar :

Posting Komentar

Yang tertinggal ketika ia pergi

2 komentar
Ada yang tertinggal ketika ia pergi
padahal ia tak hendak kembali
Berbiru-biru rasa yang terpendam
Berpatah-patah kata yang terbungkam

Aku menyelam dalam diriku
dirinya adalah aku
Gerak langkah yang kutiru
harusnya tak membuatku bisu

Jakarta Sept '11

2 komentar :

Posting Komentar

Hanya Kata

Tidak ada komentar
Hanya kata terkadang bukan cerita
Alur tergegas tak sulit
Hanya ingin terkadang bukan cita
Yah syukuri saja.

Menulis puisi seharusnya bisa lebih mudah. Karena esensinya tidak terletak pada panjang pendeknya bait tapi pada emosi dan luapan makna dari kata-kata tersebut. Bandingkan dengan menulis artikel, cerpen atau bahkan novel. tentu perlu usaha lebih  dengan ide cerita, karakter tokoh, penggambaran konflik lalu menciptakan penyelesaian konflik yang harus diterima akal pembaca hingga proses menuju ending. Makanya saya bersyukur malam ini hanya bisa menulis puisi pendek di atas.Biar hanya empat baris itu sudah lebih panjangkan daripada puisi Kucing menderas dalam darahnya Sutarji Calzom Barih yang hanya berisi satu kata "ngiaw". Meski belum tentu lebih indah dan bermakna.

Ingin sih suatu hari bisa menjadi penulis dengan nafas panjang, menyembuhkan penyakit asma menahun yang selalu kumat ketika berusaha sedikit lebih keras berkutat dengan ide-ide yang muncul tenggelam. Tapi ya untuk malam ini cukup puisi itu saja.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

T.I.T.A.N.I.C

2 komentar

Titanic pecah menghempas puing-puing
kesegala sudut pandang
Heran, padahal tak ada gunung es
Rusiapun tak punya kepentingan disini
Penat cepat menyulut kata-kata yang akan membombardir
seiring telunjuk terangkat


Tapi tunggu..


lihatlah puing-puing itu
Hasil kreatif tangan-tangan kecil yang punya segala rasa ingin tahu
Baiklah tak akan aku batasi imajinasi mereka

2 komentar :

Posting Komentar

Menanti kelahiran putriku

5 komentar

Fhoto dari Google
   Kuingin anak ketigaku seorang putri lucu dengan pipi chubby kemerahan.Tak apa rambutnya tak hitam lurus asal bisa kukepang dua atau cocang udang kecil-kecil dengan pita warna-warni aneka bentuk. Kulitnya juga tak harus putih, sawo matang juga akan serasi dengan gaun-gaun cantik berwarna pink atau biru muda yang dipadukan dengan jilbab mungil dan sepatu warna senada. Harusnya ia seorang ...

5 komentar :

Posting Komentar

Malam ini aku dan anakku keliling dunia

2 komentar
Malam ini aku dan anakku berencana keliling dunia. Dari rumah dinas kami di Cijantung terlebih dahulu aku mengajaknya melihat kepulauan nusantara: sumatra, jawa, kalimantan, sulawesi dan Irian. Meski dipisahkan oleh laut pulau-pulau ini adalah satu kesatuan Indonesia. Anakku bertanya dimana rumah neneknya. Aku menunjuk sebuah titik di ujung pulau Sumatra. Aceh. Kukatakan padanya “Aceh adalah nanggroemu, kemanapun kamu.....

2 komentar :

Posting Komentar

Duh

Tidak ada komentar
Ilmu lumpuh terbelit rubuh?
Langkah terkayuh tak sampai setengah
Mimpi tertempel pada dinding berpeluh
Ada yang salah pada fikir yg terasah
Ada yang keliru pada jiwa yang mengeluh
Duh

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Aku mensyukuri cintamu

Tidak ada komentar
Gerimis rasa berbalut
kayuh mengayuh pasang sepasang
Aku mensyukuri cintamu
iring seiring meski kadang menyebrang ego


Masih terlalu pagi bagi kita menuai upah
nikmati tangis kanak-kanak
yang kan kita rindu saat uban tersapu di penantian


Semoga senja kita tak sepi

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Puisi

Tidak ada komentar
Rasa selalu ada pada kata yang berganti
pun pahit hanya bahasa cecapmu yang berbeda
Bermain dengan jiwa; meredup, melayang
wariskan wajah baru pada hidup pada mati

Menjejak aroma kenanga di luar; tak ada yang sama
hanya kumpulan peristiwa yang kan terbuang
atau tersimpan pada laci-laci berdebu

Harusnya aku tak mati malam ini
tak selalu terhempas pada kekosongan

(dari karya yang tak selesai)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar