Menanti kelahiran putriku

5 komentar

Fhoto dari Google
   Kuingin anak ketigaku seorang putri lucu dengan pipi chubby kemerahan.Tak apa rambutnya tak hitam lurus asal bisa kukepang dua atau cocang udang kecil-kecil dengan pita warna-warni aneka bentuk. Kulitnya juga tak harus putih, sawo matang juga akan serasi dengan gaun-gaun cantik berwarna pink atau biru muda yang dipadukan dengan jilbab mungil dan sepatu warna senada. Harusnya ia seorang ...
putri karena anak pertama dan kedua adalah jagoan-jagoan yang senang sekali bermain harimau-harimauan, tentara-tentaraan, memanjat segala benda yang bisa dipanjat, bermain tali-temali atau kabel-kabel listrik yang diikat pada semua benda yang bisa diikat; dari pintu ke jendela pada kaki kursi lalu pada roda sepeda terpalit-palit melintasi dapur dan berujung di pintu lemari hingga terciptalah sarang laba-laba raksasa di seluruh ruangan. Jagoan-jagoan ini juga senang mengotak-atik barang elektronik.Entah berapa banyak mouse, key board, handphone, radio yang menjadi korban keingintahuan mereka.Sehingga aku jadi ingin tahu bagaimana rasanya membesarkan seorang anak perempuan. Apakah ia juga memiliki energi yang melimpah untuk membuatku selalu berdecak? Akankah sama ‘kekacauan’ yang ia buat?
   Dan kini aku sedang memikirkan prosesi kelahirannya; bisakah ia lahir dengan cara yang berbeda dengan kedua abangnya?. Anas- Muhammad Nashih Ulwan putra pertamaku kukandung selama sembilan bulan saat aku sedang sibuk-sibuknya berkutat dengan teori-teori keperawatan di semester empat dan lima. Tapi ia sama sekali tak menggangu. Ialah yang sering kuajak menjelajahi teori-teori kesehatan jiwa; kebutuhan Dasar Manusia; kesehatan lingkungan; epidemiologi, ia terdiam saat aku berusaha memahami perbedaan-perbedaan jejas di ilmu patobiologi, ia akan menendang lebih keras saat aku dipusingkan oleh hitungan-hitungan statistik kesehatan. Dan meski perutku semakin gendut ia sama sekali tak membuatku minder berjalan bersama teman-teman kuliahku yang modis.
   Kelahirannya juga tak menyela jadwal kuliahku karena ia lahir tepat ketika liburan semester ganjil hingga aku tak harus mengambil non aktif. Anas lahir secara normal dengan waktu yang terhitung cepat. Antara bukaan satu hingga sepuluh hanya delapan jam. What a good boy!
   Putra keduaku Azzam Dhiaulhaq juga kukandung selama Sembilan bulan meski Sarjana keperawatan telah tersemat dibelakang namaku aku masih harus mengikuti Kepaniteraan Klinik Keperawatan Senior di Rumah Sakit, di Panti Wredha dan di komunitas. Seperti abangnya ia juga tak membuatku menunda menyelesaikan tugas-tugas praktek ini. Bahkan ia kubawa naik ke panggung ketika wisuda mendapatkan ijazah Ners. Hingga selamat yang diucapkan bapak dekan sepertinya juga untuk kehadirannya. Dan ia lahir secara sexia cesaria karena dokter khawatir dengan denyut jantungnya yang meningkat ketika aku tak juga merasakan kontraksi, padahal ia sudah memasuki usia 40 minggu dalam kandunganku.
   Dan itu semua (segala keluhan wanita hamil dan prosesmelahirkan) tak cukup membuatku untuk berhenti mempunyai anak lagi hanya aku ingin sesuatu yang berbeda. Aku ingin ia tidak perlu kukandung selama sembilan bulan. Aku tidak ingin ia lahir dari rahimku, aku ingin ia lahir dari hatiku. Aku ingin ia adalah seorang putri yang oleh Allah diberi cobaan tanpa memiliki ayah dan ibu. Aku ingin ia adalah putri yang benar-benar membutuhkan tanganku  menggantikan tangan ibu yang tidak ia miliki untuk menenangkan tidurnya yang gelisah, menetramkan hatinya yang gundah dan membimbingnya untuk mampu menegakkan badan percaya diri menyongsong mimpi-mimpi yang harus ia miliki sama seperti yang dimiliki oleh anak-anak lain dan membuatnya percaya bahwa ia juga pantas memiliki keluarga yang lengkap. Karena aku percaya Every child needs a family. Anak yang diasuh dalam sebuah keluarga lengkap akan merasakan kehangatan kasih-sayang hingga ia dewasa ia akan menularkan kehangatan-kehangatn itu bagi orang di sekelilingnya.
   “Fikirkan hukum muhrim” kata suamiku ketika aku menyampaikan keinginanku ini. Aku sadar dengan menjadi putriku ia tidak lantas terbebas dari aturan hijab terhadap suami dan putra-putraku. Ketika ia baligh nanti ia tetap harus menutup auratnya didepan mereka. Apa itu akan jadi masalah?. Lalu bagaimana dengan keluarga besar?. Harusnya ini juga bukan masalah jika semua memiliki pemahaman yang sama bukankah Rasulullah saw bersabda :
“Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orangtua yang muslim dalam makan dan minumnya sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk syurga.” (HR. Abu Ya’la dan Thobroni. Shohih At-Targhib. Al-Albaniy:2543
Juga hadits lainnya:

“Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk”.
(HR. Ibnu Majah)
   Sebenarnya hadits ini membuatku berfikir lagi. Jika kami benar-benar akan mengadopsi seorang anak yatim mampukah kami memperlakukannya dengan baik hingga berhak menjadi pemilik sebaik-baik rumah kaum muslimin. Dan jujur aku takut juga jika tidak mampu memperlakukannya dengan sebaik mungkin. Semua kita tahu merawat anak bukanlah pekerjaan mudah. Tidak hanya kebutuhan materiil yang kita penuhi namun kita juga bertanggungjawab membentuk ia menjadi pribadi yang mengenal Allah; tuhannya. Memang selain mengadopsi, menyantuni anak yatim sebagai anak asuh, menjadi donator panti asuhan  juga bisa menjadi pilihan hanya memiliki ia di rumah seperti anak sendiri rasanya lebih menggetarkan. Terlebih setiap mendengar lirik-liril lagu Zain Bhikha ; My mom is amazing.

She wakes up early in the morning with a smile
And she holds my head up high
Don't you ever let anybody put you down
Cos you are my little angel
Then she makes something warm for me to drink
Cos it's cold out there, she thinks
Then she walks me to school, Yes I aint no fool
I just think my Mom is amazing

She makes me feel
Like I can do anything
and when she's with me
there's no where else, I'd rather be

After School, she's waiting by the gate
I'm so happy that I just can't wait
To get home to tell her how my day went
And eat the yummy food, only my Mom makes
Then I wind her up cos I don't wanna bath
And we run around the house with a laugh
No matter what I say, she gets her way
I think my Mom is amazing

In the evening, she tucks me into bed
And I wrap my arms around her head
Then she tells me a tale of a girl far away
Who one day became a princess
I’m so happy, I don't want her to leave
So she lies in bed with me
As I close my eyes, how lucky am I
To have a Mom that's so amazing

Then I wake up in the morning, she's not there
And I realize she never was
And I'm still here in this lonely orphanage
With so many just like me
And as my dreams begin to fade
I try hard to look forward to my day
But there's a pain in my heart that's a craving
How I wish I had a Mom that's amazing
Would be amazing

Bukankah lirik ini cukup mewakili isi hati gadis kecil yang menginginkan seorang ibu? Dan bait-bait terakhir. Duh…. Dalam sebuah Hadits Qudsi:
Anak yatim menangis, arasy berguncang. Sabda Tuhan: Demi keagungan-Ku, siapa saja yang menghiburnya dan menghentikan tangisannya, Aku pastikan baginya surga (Hadis Qudsi 208).
Jaid, aku saat ingin ia lahir ditengah-tengah keluargaku. Semoga suatu hari, semoga tidak lama lagi. Bagaimana denganmu teman?

Jakarta, 8 September 2011

5 komentar :

  1. mimpi lama yang belum terwujud ya dek????....

    BalasHapus
  2. salah-satu mimpi dari begitu banyak mimpi yg belum terwujud kak...hiks..hiks...cepat bangunkan kami!!

    BalasHapus
  3. Semoga Allah mudahkan meraihnya ;)

    BalasHapus
  4. Amin...terima kasih mbak Yunda

    BalasHapus
  5. Kok baru ngeh ya ada tulisan ini di blog Atun. Jadi teringat beberapa hari yg lalu mengutarakan niat serupa kpd suami dan mendapat jawaban yg sama sprti jwban suami Atun. Anak yg ingin Odah asuh sekelas sm si Kakak. Kasihan, udh kls 2 ga bs baca dan sudah diingatkan oleh wali kelasnya kalo tdk berubah akan tinggal kelas. Kata pengasuh panti mmg dia ga pnya smangat belajar. Odah pkr kalo tgl di rmh bisa belajar sama anak2..

    BalasHapus