Malam ini aku dan anakku keliling dunia

2 komentar
Malam ini aku dan anakku berencana keliling dunia. Dari rumah dinas kami di Cijantung terlebih dahulu aku mengajaknya melihat kepulauan nusantara: sumatra, jawa, kalimantan, sulawesi dan Irian. Meski dipisahkan oleh laut pulau-pulau ini adalah satu kesatuan Indonesia. Anakku bertanya dimana rumah neneknya. Aku menunjuk sebuah titik di ujung pulau Sumatra. Aceh. Kukatakan padanya “Aceh adalah nanggroemu, kemanapun kamu.....
pergi di belahan bumi manapun kamu hidup, pulanglah suatu ketika”. Anakku tersenyum “aku anak Aceh ma” katanya bangga. Kuusap kepalanya lalu kugandeng tangannya ada yang ingin kutunjukkan. Kami terbang berputar-putar, mataku mencari-cari hingga beberapa saat aku tak yakin dimana letak titik itu. Sebuah dusun kecil di pelosok Tamiang; Pulau Tiga.

Aku ingin berbagi kenangan masa kecilku dengannya, namun sepertinya dusun itu terlalu kecil hingga tak mungkin dapat kutunjukkan padanya dari atas sini. Tapi aku masih ingat jelas akan aliran sungai kaloy di antara deretan perkebunan sawit tempat aku bermain, mencari udang, berenang hingga berjam-jam. Airnya yang jernih dan sejuk membuat aku dan teman-temanku betah meski buku-buku tangan kami membiru dan bibir kami memucat karena kedinginan. Sungai itu pula yang menghidupkan imajinasiku pertama sekali karena puisi pertamaku lahir disitu, di antara pasir-pasir pantainya yang luas, di antara tebu-tebu liar yang menari tertiup angin. 

Sungai itu anugerah masa kecilku. Tapi sungai itu kini telah hilang tak ada lagi pantai tak tampak lagi ikan-ikan kecil berenang dalam kejernihannya dan tak ada lagi kanak-kanak yang bercanda dalam keharmonisan riak alirannya (orang tua mereka takut anak-anaknya hanyut-red). Semuanya berganti dengan ‘kubangan’ keruh berlumpur yang engkaupun akan ragu mencuci tanganmu disitu. Illegal logging menodainya. Keserakahan manusia menghilangkan salah-satu anugerah alam bagi anak cucunya.

Tanganku ditarik anakku membuat aku sadar kembali dimana kami kini. Ia menunjuk sebuah daratan besar berbentuk tidak beraturan yang berada di arah...... Indonesia.

“ini apa ma?” 

“ini Australia. Aku lalu membawanya pada sekumpulan binatang yang sedang melompat-lompat, binatang itu tampak lucu dengan kantong di perutnya.

“Disini banyak kangguru nak, kaki-kakinya sangat kuat ia bisa berlari dengan kecepatan 30 mil perjam” anakku lalu berdiri melompat-lompat meniru cara kangguru berlari. Lompatan anakku tinggi sekali hingga sepasang kaki kecilnya menginjak sebuah daratan besar berwarna pink. Aku perhatikan ini adalah daratan Rusia yang sangat luas, hingga jika kita berjalan dari ujung ke ujung Rusia kita akan menjalani hampir separuh bumi ini.

“ yang biru ini kan lebih besar ma” anakku protes

“yang biru ini lautan sayang” anakku benar batapa lautan ini sangat luas. Hampir dua pertiga dari bumi ini adalah lautan.kutunjukkan padanya lautan Atlantik, Pasifik dan Hindia.

Aku lalu mengajaknya menyebrangi lautan Atlantik mendarat di sebuah negeri cantik, Paris Perancis. Kami memandang kagum pada menara Eifel yang menjulang anggun, mengunjungi museum Louvre tempat dipajangnya lukisan-lukisan masterpiece dari pelukis-pelukis hebat dunia. Kami lalu melihat kerumunan orang-orang dengan berbagai ras berjalan cepat pada suatu kawasan bangunan, Sorbone University. Aku menatap anakku penuh arti. Ambisi seorang ibu membakar hatiku.

“ kamu mau kuliah disini?” ia balas menatapku ragu, alisnya berkerut.
“ Ini kampusnya orang-orang hebat, ilmuwan dunia” alisnya semakin berkerut, akal kanak-kanaknya berusaha mencerna kata-kataku.

“ Polisi itu paling hebat ma, aku mau jadi pak polisi” gantian alisku yang berkerut

“Polisi?”
“Iya ma, polisi lalu lintas. Kalau ada orang jahat yang ngebut aku tembak ke atas Dor..dor..” ia lalu berlari mengambil tembak mainannya lalu dengan gagah berdiri bergaya bak polisi mengejar penjahat di film-film koboi.

“Dor..dor”. ambisiku bagai tersiram air. Yah jadi apapun bolehlah asal jangan jadi mafia. Sekarang ini dimana-mana banyak mafia di kepolisian, di peradilan, di dewan rakyat bahkan mungkin di kampus-kampus atau sekolah-sekolah juga ada dari skala bileh, sure, mjuloh,gurita sampai skala paus.

“Jadi apapun boleh nak, tapi jadilah orang baik” putusku akhirnya menyadari tak guna memaksa ambisiku untuknya. Anakku punya ingin dan citanya sendiri. Anakku tersenyum dengan senyuman khasnya menampakkan gigi-giginya yang unik.

Mataku lalu tertuju pada sebuah gambar berwarna putih. Itu Svalbard. Aku baru tahu kalau Svalbard itu benar-benar ada tadinya kufikir hanya negri fiktif versi Golden Compass Movie dimana terdapat kingdom of the ice bears, kerajaan beruang es yang dipimpin oleh rajanya bernama Lorek Berninson.

Anakku tampak menguap. Kulirik jam di dinding telah menunjukkan pukul 20.30 WIB. It’s time to sleep. Aku lalu mengajaknya merekatkan double tape pada bagian belakang peta dunia ini dan menempelkannya di dinding bersebelahan dengan poster Hijaiyahnya. Masih banyak negara yang belum kami kunjungi. Aku berjanji akan mengajaknya lagi lain kali. Semoga ada pelajaran yang ia dapat malam ini. Setidaknya ia tahu bahwa dunia ini tidak hanya selebar cijantung ini hingga pemikirannya akan terbuka kelak. Amin.

3 Mei 2010
Love: Mama & Anas

2 komentar :

  1. wah kami jd rindu ma anas jg azam... kapan ya bs kumpul lagi....

    BalasHapus
  2. sama mamanya?? iya kpn2 kunjungi kami ya...

    BalasHapus