Sehatkan anakku...

15 komentar

Sejak umurnya belum genap dua tahun  aku telah melihat ada yang aneh dengan lehernya. Ketika ia berteriak,  menangis atau tertawa akan terlihat seperti benjolan yang akan kembali hilang begitu ia diam. Tentu saja aku khawatir maka aku membawanya ke spesialis anak di salah-satu Praktek spesialis di Banda Aceh. Sang dokter memeriksa lehernya, meraba-raba dengan kedua tangannya.  Ia melihat benjolan itu karena anakku terus menangis saat diperiksa. Tapi ia hanya diam pun ketika kutanya sakit apa anakku. Dan dia lalu menulis resep yang ternyata hanya multivitamin. Tak puas aku membawanya ke dokter spesialis anak yang lain namun sayang sepertinya dokter itu tak melihat benjolan itu karena ia mengatakan tak ada apa-apa hanya aku yang terlalu khawatir. Setiap anakku sakit dan setiap aku membawanya ke dokter aku selalu bertanya tentang benjolan itu tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Hingga saat usianya tiga tahun
kami pindah ke Bekasi karena suamiku bekerja di Jakarta. Akupun mencoba membawanya ke spesialis bedah karena fikirku jika dokter anak tak melihat mungkin dokter bedah akan lebih teliti. Dokter itu masih muda tapi ia mempercayai setiap keluhanku. Ia mengatakan bahwa tak teraba ada massa di leher anakku tapi ia melihat ada benjolan seperti balon yang keluar ketika anakku berteriak . Ia mengatakan ada semacam tekanan pada bagian leher tapi itu perlu pemeriksaan lebih jauh. Dan dengan mempertimbangkan kondisi anakku yang belum bisa diajak kerjasama ketika dilakukan pemeriksaan ia menyuruh kami untuk menunggu ketika anakku sudah lebih besar dan ia menyarankan untuk dilakukan USG leher.
Hari-haripun berjalan seperti biasa. Ia tetap aktif dan tak ada keluhan spesifik tentang lehernya. Hanya sekali-kali ia menderita ispa atau sariawan. Hingga usianya lima tahun ia tak lagi secengeng dahulu dan sudah lebih berani. Mungkin ini saat yang tepat kembali memeriksakan penyakitnya itu. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aku berfikir bahwa kami harus mencari dokter terbaik di kota ini tapi informasi yang kami punya sangat sedikit. Awalnya terfikir untuk membawanya ke RS kanker tapi aku begitu takut membayangkan jika itu adalah kanker. Maka aku membawanya ke puskesmas untuk minta rujukan ke RS pemerintah dan lagi-lagi dokter tak melihat dan merasakan adanya kelainan di leher anakku karena memang ia tak berteriak atau menangis saat itu. Aku meyakinkannya bahwa benjolan itu telah ada sejak tiga tahun yang lalu dan aku yang setiap hari melihatnya merasa tidak tenang. Aku bertanya bolehkah anakku dirujuk ke RS besar. Ia mengatakan harus ada diagnose yang jelas untuk merujuk pasien. Dokter itu wanita kemungkinan besar seorang  ibu juga yang tentu sering mencemaskan anaknya maka dengan naluri ibuku aku mencoba membuatnya mengerti hingga ia membuat rujukan untuk anakku ke bidang bedah umum salah satu RS pemerintah terbesar di Jakarta  dengan diagnose suspek Lymphadenopathy yaitu pembesaran kelenjar getah bening.
Esoknya kami berangkat ke RS saat mengurus administrasi petugasnya mengatakan lebih baik kami ke bedah anak saja dan akupun setuju. Di ruang tunggu aku tak putus-putusnya berdoa agar Allah menyayangi anakku, menyehatkannya dan menghindarkannya dari hal yang buruk. Dokter bedah anak itupun kami temui namun hanya sebentar ketika ia mendengar keluhanku dan melihat sekilas pada anakku ia menyarankan agar kami ke bagian bedah kardiovaskuler. Itu adalah bedah yang mengkhususkan pada bidang jantung dan pembuluh darah. Awalnya aku tak bisa berfikir kenapa harus ke bagian itu? Yang aku tahu dokter bedah jantung sering melakukan operasi dengan kelainan jantung seperti melakukan  Pembedahan Coronary Arteri Bypass Grafting  pada penyakit jantung iskemik atau penyakit arteri koroner. Tapi tak ada pilihan aku dan anakku keluar tapi sayang perawatnya mengatakan bedah kardiovaskuler jadwalnya besok. Kamipun pulang hari itu tanpa hasil.
Esoknya kami datang lagi namun dokternya telah keluar. Ini kesalahanku yang tidak bertanya jam berapa jadwal dokter tsb. Tak mungkin kami pulang tanpa hasil padahal jarak rumah dan RS ini jauh bisa memakan waktu dua jam perjalanan. Kami bertanya pada perawat bagaimanan sebaiknya apa yang harus kami lakukan. Iapun kemudian menelfon dokter tersebut dan syukurnya ia akan kembali akupun disuruh menunggu. Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan apalagi menunggu sebuah vonis untuk anakku. Kami menunggu di depan Poli Bedah Cardiovaskuler sejam, dua jam hingga tiga jam berlalu. Melihat seorang perawat masuk membereskan berkas-berkas lalu clening service masuk membersihkan ruangan. Apa benar dokter akan kembali. Akupun bertanya lagi pada perawat lain yang ternyata tidak tahu aku menunggu. Ia lalu menelfon lagi dan menyuruh kami menunggu lagi. Hingga akhirnya ia membawa kami kebagian lain dari rumah sakit ini ke kantor sang dokter .Ya Allah pertemukanlah kami dengan dokter yang tepat yang mengerti kondisi anakku. Asistennya menjumpai kami dan bertanya tentang keluhanku akupun mengulang lagi cerita yang sama tentang benjolan itu ia menyuruh anakku berteriak lalu bertanya kenapa kemari harusnya ke Bedah tumor . Oh God not again!. Dokter bedah anak yang menunjuk kemari bu dan benjolannya di daerah leher mungkin ada hubungannya dengan pembuluh darah atau semacamnya. Kataku coba menjelaskan.  Iapun lalu menjumpai dokter dan memberikan status anakku. Dokter ini berusian sekitar empat puluhan aku bisa menangkap kesan cerdas pada matanya hingga lalu aku membangun persepsi bahwa ia adalah dokter yang tepat. Dan untungnya lagi di sofa juga ada seorang dokter senior yang sedang beristirahat setelah melakukan operasai. Dokter pertama memeriksa leher anakku menyuruhnya untuk berteriak. Dan ia melihatnya, ia lalu meraba-raba leher anakku dengan kedua tanganya menyuruh anakku membuka mulut dan memeriksa tenggorokan. Ini bisa saja Hemangioma katanya dengan tidak yakin tapi ibu jangan takut dulu. Allah bagaimana mungkin aku tidak khawatir, dia adalah anakku yang sebagian hatiku telah terpaut padanya. Hemangioma adalah sejenis Kanker pembuluh darah what a nighmare! . Aku membantah dalam hati bukan…bukan itu kan Allah. Tolong berikan diagnose yang lain. Memang benjolan itu ada dan tidak normal tapi please Allah buat itu seperti polidaktili yang abnormal tapi tidak berbahaya atau mamae tambahan yang dimiliki oleh beberapa wanita ada tapi tidak mengganggu.
Tapi dokter itu kembali menyuruh Anakku berteriak dan bertanya pada teman dokternya yang duduk sofa. Mereka berdiskusi dengan aku sebagai informan mereka. Ia bertanya banyak padaku ; apakah anakku sering mengeluh nyeri? Adakah gangguan tumbuh kembang?sering batuk? Sering muntah saat terbangun dari tidur?. Ia lalu menjelaskan bahwa benjolannya keluar tapi langsung masuk dan tak ada massa. Akupun mengatakan segala hal yang aku tahu tentang dugaan dokter bedah sebelumnya bahwa itu adalah tekanan udara atau cairan?. Dan iapun mengubah diagnose mengerikan itu menjadi diagnose yang begitu asing di telingaku Divertikel Trakhea/esophagus. Yaitu suatu kelainan anatomis esophagus yang memiliki rongga/celah yang oleh karena peningkatan tekanan intraluminal berkepanjangan seperti batuk kronik. Tapi anakku bukanlah penderita batuk kronik. Lalu ia mengatakan bahwa ini adalah kasus yang jarang harusnya dokter anak, dokter bedah duduk bersama menganalisa kasus ini. Setiap dokter dengan ilmu dan keahlian yang berbeda-beda tentu akan memberikan kontribusi yang berbeda. Memang saat ini tak ada efek yang tampak namun dikhawatirkan jika pecah akan masuk ke rongga thorak. Dan satu-satunya penanganannya adalah dengan pembedahan. Hanya saja harus dipastikan dulu ini benar-benar sebuah divertikel. Karenanya dokter menyarankan untuk dilakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging).
Membayangkan prosedur tindakan-tindakan ini saja sudah membuat kami takut. Namun jika memang ini Yang Allah berikan pada anakku kami harus kuat. Selalu ada penyelesaikan dari setiap masalah yang Allah berikankan?.

Anas bayi

Anas saat baru bisa merangkak

15 komentar :

  1. Mbakkk, semoga anaknya cepat sembuhhh yaaaa....
    Kecilnya lucu banget~ :D :D

    BalasHapus
  2. Makasih doa dan kunjungannya(mbak?) una.... iya lucu ;D ;D

    BalasHapus
  3. ih ya Allah meni kasihan ^^ semoga anaknaya selalu ada dilindungan Allah SWT dan semoga cepat diberi kesembuhan.
    kunjungan pertaman, salam kenal yah mbak ^^

    BalasHapus
  4. Amin semoga Asep jg sehat ya...:-) terima kasih kunjungannya.. slm knl juga.

    BalasHapus
  5. semoga anaknya slalu sehat ya mbak,
    aku follow ya
    mudah2an berkenan berkunjung en follow balik...

    BalasHapus
  6. Amin... makasih mbak doa dan follow@. udah aku follow balik ya

    BalasHapus
  7. semoga anaknya cepat sembuh ya, mbak.
    ngomong2, saya kelahiran lhokseumawe, tapi belum pernah kembali ke Aceh sana :(

    BalasHapus
  8. Amin, makasih doanya...oya ortunya org Aceh? atau numpang lahir doang mas? he..he.. wah sekali-kali jenguk dong tanah kelahirannya. Suami saya org lhokseumawe jg...

    BalasHapus
  9. Saya ikut prihatin mbak....pasti berat menerima ujian sakit,, sabar ya mbak,, teruslah berusaha,, pasti Allah akan memberikan jalan...

    BalasHapus
  10. Amin iya mil...makasih ya... kamu juga jaga kesehatan ya..:)

    BalasHapus
  11. semoga anas cepat sembuh ya..., km slalu berdo'a disini...

    BalasHapus
  12. om do'ain saat ini ade udah sehat, doa dari kami sekeluarga dan dari semua smoga bisa ade jadi putra yang hebat dan kuat

    BalasHapus
  13. Amin...makasih doanya om...:)

    BalasHapus
  14. Maaf saya baru baca tulisan ini,bagaimana kabar anak ibu?

    BalasHapus