Book Review : Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela

18 komentar
Judul                     : Totto-chan
Pengarang             : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa           : Widya Kirana
Penerbit                 : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesebelas : September 2006
Jumlah Halaman     : 271

Apa yang akan kamu (posisikan dirimu sebagai orang tua atau guru) lakukan ketika melihat anak usia Sekolah Dasar sedang mengaduk-aduk bak penampungan kotoran, mencedokinya dan menuangkannya ke tanah hingga hampir mengosongkan seluruh isi bak penampungan kotoran tsb?. Hal yang umum adalah merasa jijik dan berteriak memarahi si anak atas ulahnya yang "keterlaluan". Tapi bukan itu yang dilakukan oleh kepala sekolah Sosaku Kobayasi
. Ia punya cara tersendiri untuk mengajarkan seorang anak arti tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap hal yang dilakukannya tanpa membuat anak merasa dihakimi. Ia bertanya "Kau sedang apa?". "Dompetku jatuh". "Oh begitu" katanya lalu pergi meninggalkan si anak. Selang beberapa waktu kemudian ia kembali." Kau sudah menemukan dompetmu?". "Belum" jawab si anak di tengah-tengah gundukan yang semakin berbau busuk dengan keringat berleleran dan pipi yang memerah. Kepala sekolah mendekat dan berkata ramah ”kau akan mengembalikan semuanya ketika selesaikan?”. “Ya” jawab si anak. Kepala sekolahpun pergi. Sementara sang anak mulai berfikir dan memandang gundukan kotoran itu. Ia bisa memasukkan kembali kotoran padat tapi bagaimana airnya yang dengan cepat meresap ke tanah. Iapun bekerja keras dan memutuskan ikut memasukkan tanah basah kembali kedalam bak penampungan. Sejak kejadian itu iapun tak pernah lagi menjatuhkan barang-barangnya kekakus. 
Gadis kecil itu adalah Totto chan (Tetsuko kuroyanagi). Seorang anak yang pernah dikeluarkan dari sekolah padahal ia baru kelas satu ketika itu. Alasannya adalah guru-guru di sekolahnya yang lama tak mampu lagi menghadapi ulah-ulahnya yang dianggap mengacaukan kelas. Beruntung ia memiliki ibu bijaksana yang tak ingin totto chan kehilangan keceriaannya. Ibunya lalu menyekolahkannya ke Tomoe Gakuen. Sebuah Sekolah Dasar yang menggunakan gerbong-gerbong kereta api bekas sebagai kelas-kelasnya. Sekolah dimana murid-murid boleh duduk sesuka hati, dimana saja dan kapan saja dan boleh memilih pelajaran awal yang diinginkannya. Belajarpun tak melulu di dalam kelas. Mereka bisa belajar di taman, di kuil kuhonbutsu bahkan di persawahan. Dan ternyata sekolah itu mampu membuatnya berkesan dan membentuk karakter kepribadiannya yang kuat dan ia berjanji kepada kepala sekolah jika ia dewasa nanti ia akan mengajar di sekolah ini. Namun janji itu tak mungkin terlaksana Tomoe Gakuen terbakar tahun 1945 oleh karena bom yang dijatuhkan pesawat pembom B29. Dan sebagai gantinya ia menulis sebuah buku tentang hari-harinya belajar di Sekolah Tomoe Gakuen dan betapa kepala sekolah Sosaku Kobayasi memiliki cinta yang luar biasa kepada anak-anak dan bagaimana ia mendidik mereka.
Saat membaca kejadian demi kejadian yang dialami Totto-chan rasanya enggan berhenti hingga selesai di halaman terakhir. Membaca buku pertamanya ini bagai melihat dunia kanak-kanak yang bernyanyi. Setiap episodenya adalah pembelajaran yang juga ditujukan kepada kita selaku orang dewasa tentang saling berbagi, menghargai, persahabatan dan tanggung jawab. Murid-murid dengan karakter yang berbeda-beda ; Kasuaki-chan yang menderita polio, Takahasi-chan yang mengalami gangguan pertumbuhan, Tai-chan yang suka bereksperimen sains dll diberi keyakinan bahwa mereka adalah anak yang baik, bahwa mereka mampu dan bisa seberat apapun tantangannya. Di sekolah ini anak-anak mulai membentuk persepsi yang positif tentang dirinya dan orang-orang di sekitar mereka yang tentu saja menjadi awal dari tergalinya potensi mereka pada bidang yang mereka minati. Tak hanya berpatok pada angka-angka hasil ujian yang cenderung hanya menguji kemampuan kognitif belaka.
Saya menyukai tokoh kepala sekolah yang mampu mendengarkan semua cerita Totto-chan selama empat jam penuh. Menjadi pendengar bukanlah hal yang menyenangkan tapi kepala sekolah begitu sabar dan tetap antusias menyimak cerita gadis kecil itu. Juga menyukai saat kepala sekolah mengatakan "kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan?" setiap kali Totto-chan terlibat masalah. Seandainya Totto-chan tidak belajar di Tomoe Gakuen mungkin ia akan dicap sebagai anak nakal,tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung. Sehingga sangat disayangkan sekolah itu terbakar. Memang tak ada yang tersisa dari sebuah peperangan selain kehancuran.
Seperti ibunya Totto-chan saya juga ingin anak-anak saya tidak menjadi anak yang bermasalah karena saya tahu setiap anak akan baik atau buruk tergantung bagaimana ia diperlakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Saya menyukai buku ini karena mampu menjawab kebingungan saya akhir-akhir ini. Dimana anak-anak usia pra sekolah telah dituntut menguasai baca, tulis, hitung sebagai sarat awal masuk Sekolah Dasar. Di Tomoe Gakuen anak-anak tidak banyak dituntut mereka akan dibimbing sesuai minat masing-masing. Dan terbukti di kemudian hari mereka berhasil menekuni minat mereka tersebut ketika dewasa.
Buku ini haruslah dimiliki oleh orang-orang yang perduli terhadap perkembangan anak dan para orang tua. Meski berlatar tahun 1940-1945 tapi masih cukup relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini.






18 komentar :

  1. hampir beli buku ini tempo hari...
    tapi gara2 disebelahnya ada buku yang dari dulu saya incar.gak jadi...
    :D

    tambah pengen beli :)

    BalasHapus
  2. Iya beli aja, ada buku lanjutannya jg tp aku jg blm baca.... Makasih sudah berkunjung...

    BalasHapus
  3. nice post atun..baru kali ini berkunjung ke blo atun hehe

    BalasHapus
  4. Makasih Tia...sering2 datang ya..he..he.. Aton sering ke blog tia ;p

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum, blogwalking, baca2 n salam kenal ^_^
    Saya follow Blognya, follow balik ya ke AndyOnline.Net
    jangan lupa buat yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)

    BalasHapus
  6. Terima kasih mas andy... saya jg sudah follow.

    BalasHapus
  7. harusnya diikutin kontesnya pakde nih mbak, cek aja linknya di blog saya yang book review:always, Laila.. caioyu!!

    BalasHapus
  8. Iya jg ya dhe..tp mgkn hrs ditls ulg.. Thanks info@

    BalasHapus
  9. Bener juga, anak-anak jman sekarang, baru bisa ngomong aja udah langsung diajarin huruf2, angka2, dsb. Sepertinya agak 'memaksakan' ya?

    Pengen beli buku ini ah.....

    BalasHapus
  10. sudah lama tau tentang keberadaan buku ini, tapi tak kusangka kalo buku ini sangat sarat makna. kukira hanya menceritakan kehidupan seorang gadis jepang kecil, seperti di komik-komik itu.

    tertarik untuk mencarinya nanti di gramed.makasih yaa infonyaaa
    dan good luck buat kontesnyaa :)

    BalasHapus
  11. @ Mbak DewiFatma : Dilema emang mbak..abis msk SDSN ada seleksinya kan...ck..ck... msk SDN biasa pake prioritas umur..(jd curhat). Btw thanks udah mampir ke blog aku ya mbak..slm kenal.

    @ mbak armae : awalnya aku jg mikir gitu mbak tapi pas baca jd nggak mau brenti. Thanks sdh follow.. aku jg ngikutin popcornnya ya... Good luck jg buat mbak armae

    BalasHapus
  12. buku nya bagus sekali, aku sampe baca berulang dan pengennya anakku disekolahkan di sekolah yg tdk "maksa' anak.

    salam kenal :)

    BalasHapus
  13. iya setuju mbak kecuali anaknya emang senang belajar ya.. dan sesuaikan jg dgn minatnya. Salam kenal jg mbak..

    BalasHapus
  14. Buku ini aku udah baca. Tapi aku udah lupa ceritanya gimana~ inget lagi karena baca review ini :p

    BalasHapus
  15. Wah ketahuan tuh banyak yg dibaca jd sdkt2 ada yg lupa ya...

    BalasHapus
  16. dari dulu pengen banget baca buku ini....sampe sekarang belum kesampean..hiks...

    BalasHapus
  17. aduh dibaca dong mbak Hana :)

    BalasHapus
  18. Kayaknya menarik ni buku, ntar nyari di gramed ahh..

    BalasHapus