Lelaki (Cinta) Pertamaku

20 komentar


Picture froom Google

Mengenangnya adalah mengenang segala keindahan, meski kasih itu tak pernah terucap. Seperti malam ini lagi-lagi aku merinduinya. Merindui langkah-langkah besar  kakinya, merindui sorot matanya, merindui  suaranya. Ia laki-laki pertama yang hadir sepanjang memori merekam masa kehidupanku karenanya tak mungkin aku melupainya. Benar, cinta pertama itu akan terus membekas meski banyak cinta-cinta lain menorehkan warna tapi ia tak kan terganti.
Apa yang harus aku ceritakan tentangnya agar kau tahu bahwa meski dalam kebersamaan kami yang singkat namun banyak bagian darinya telah menjadi bagian dariku. Diamnya sama seperti diamku. Marahnya selalu mampu meredam kenakalanku. Ia yang mengajarkan aku rasa syukur dengan segala kesederhanaan dan kerja kerasnya hingga terkadang membuatku merasa menjadi anak miskin. Sebenarnya miskin dan kaya itu dilihat dari segi apa? Harta? Mungkin iya. Dan aku (dulunya)
terbiasa mengganggap keluarga kami miskin. Berpindah-pindah kontrakan dari tahun ke tahun. Seingatku ada empat rumah  kontrakan yang kami tempati. Sebuah rumah dekat kantor camat ketika aku belum bersekolah, rumah papan tingkat dua yang tak jauh dari sungai ketika aku masuk Sekolah Dasar, rumah permanen dekat lapangan bola ketika aku tsanawiyah dan terakhir rumah petak sempit dekat terminal ketika itu aku baru saja akan Aliyah. Sebenarnya laki-laki itu pernah membangun sebuah rumah sederhana untuk kami di dusun Pulau Tiga ini (sebuah dusun di pelosok Aceh Tamiang) namun belum lagi kami tempati banjir bandang menghancurkan harapan kami. Kami tak menyalahkan siapa-siapa hanya geram dengan ulah para penebang liar (atau ada yang diberi izin) yang begitu rakus menggunduli hutan kami hingga tak mampu menampung debit air dan melongsorkan perbukitan.
Aku juga tak banyak protes dengan seragam-seragam sekolah yang tak pernah baru maklum aku putri kelima dari enam bersaudara jadi banyak seragam-seragam kakak-kakakku yang bisa kupakai. Aku sama sekali tak keberatan. Karena iapun tak pernah mementingkan kesenangannya. Ia lebih mengerti arti pengorbanan.
Namun seiring kedewasaanku aku berfikir benarkah keluarga kami miskin?. Kakak pertama dan keduaku (lalu aku beberapa tahun kemudian) disekolahkan Bapak ke pondok pesantren terkenal di Langsa, ibu kota kabupaten kami ketika itu yang tentu biaya sekolahnya lebih besar dari sekolah di dusun kecil kami. Kakak ketiga masuk SMA di Banda Aceh dengan mengontrak sebuah kamar (padahal Banda Aceh-Pulau Tiga jauhnya sepuluh jam perjalanan) tentu butuh biaya tambahan.  Tamat dari pesantren kakak pertama dan keduapun dikuliahkan Bapak ke Banda Aceh. Sementara beberapa anak yang rumahnya jauh lebih bagus dari kami banyak yang putus sekolah.  Bapak tidak punya kendaraan apapun  hanya sebuah sepeda tua yang sesekali ia pakai ke toko atau ke mesjid namun dengan mudah memenuhi permintaan kakakku membelikan computer dan buku-buku yang tidak sedikit setiap bulan. Miskinkah kami?
Bapak adalah sosok lelaki berkarakter. Ia tegas mendidik kami. Dalam lingkungan pergaulan yang buruk (banyak penjudi, pemabuk dan hamil di luar nikah) di dusun kami, ia mampu menciptakan kapsul pelindung bagi putri-putrinya.  Keenam putrinya memutuskan berjilbab sendiri tanpa ada yang menyuruh ketika baligh (tamat SD) padahal saat itu Syariat Islam belum lagi bergema.Tak pernah kami diizinkan keluar malam apalagi menonton dangdutan pada setiap pernikahan-pernikahan tetangga kami. Kami diajarkan mengaji dan sholat di rumah. Dan ia adalah contoh langsung kami karena iapun selalu Sholat tepat waktu di mesjid. Hidupnya begitu teratur dalam kesahajaan.
Picture Froom Google

Picture Froom Google

Hanya satu keinginannya yaitu kembali ke kampung halamannya di Beureunun Aceh Pidie  (berjarak sekitar delapan jam perjalanan). Ia pernah berkata bahwa ia akan pulang, berhenti berdagang ketika tiga anak perempuannya telah selesai kuliah dan ketiganya akan membantu biaya kuliah ketiga adik di bawahnya. Kami tak tahu apakah ia benar-benar bermaksud begitu.
Dan setelah menunaikan ibadah haji. Ketika itu aku baru duduk di kelas satu Aliyah. Iapun pulang ke kampungnya kampung kita semua. Ia meninggal tanpa memberikan peringatan apa-apa. Tak ada sakit. Aku tak bersamanya ketika itu hanya seorang sahabatnya menjemputku di pesantren.
Wajah pucat Bapak menyambutku dingin. Aku benar-benar tak percaya. Aku berharap ia hanya tertidur sebentar dan orang-orang itu salah telah mengatakannya meninggal. Baru dua minggu yang lalu aku melihatnya duduk seperti biasa di Toko kami sambil menunggu pembeli. Baru dua minggu yang lalu aku berpamitan padanya. Aku ingin ia bangun!. Tahukah ia betapa aku mencintainya dan aku belum pernah mengungkapkan isi hatiku. Betapa aku sangat ingin memijitinya ketika ia lelah, membuatkan teh hangat seperti biasa ketika ia pulang dari toko, menyiapkan peralatan sholatnya dan membuatnya bangga telah memiliki putri seperti kami. Belum ada yang aku lakukan untuknya. Namun ia tak pernah lagi bangun. Aku hanya bisa mencium kening dinginnya untuk terakhir kalinya, ikut menyolatkannya dan mengantarkannya ke kampungnya.

Ada yang tertinggal ketika ia pergi
Padahal ia tak hendak kembali
Berbiru-biru rasa yang terpendam
Berpatah-patah kata yang terbungkam
Aku menyelam dalam diriku
Dirinya adalah aku
Gerak langkah yang kutiru
Harusnya tak membuatku bisu

Allah ampunkan segala dosa-dosanya tempatkan ia disisiMu. Sungguh ia adalah lelaki yang baik.
Dan sepeninggalnya ia tetap mewariskan semangat luar biasa bagi keluarga kami. Adikku dan ibuku menggantikan perannya mengurus toko kami  membiayai sekolah kami. Lalu kakak kedua setelah menyelesaikan sarjananya ia meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di Banda Aceh dan menemani ibu karena adikku akan melanjutkan kuliah di Banda Aceh. Lalu ketika ibu mulai letih kakak ketigaku menyelesaikan serjananya lalu juga pulang menemani kakak kedua.  
Dan ketika keenam putrinya telah sarjanan dan berkeluarga kami meminta ibu untuk beristirahat di Rumah yang Bapak bangun di Beureunun. Rumah yang luas untuk anak-anak dan cucu-cucunya. Rumah yang tak sempat beliau tinggali namun meninggalkan begitu banyak kenangan indah bersamanya.

20 komentar :

  1. my dad is my hero too! :) nice post :))

    BalasHapus
  2. kt sm2 memiliki ayah yg hebat ya..thanks for visiting my blog..kehormatan nih dikunjungi penulis Best Seller.. semoga buku ketiganya sukses ya ^_^

    BalasHapus
  3. indah banget ya mbak cerita cintanya,bikin hati jadi rindu..hehee
    oia mbak,ada tugas nih buat mbak tentang sebelas,mau ya mbak berkunjung balik...

    BalasHapus
  4. udah ke rmh mbak atma..oke siap bu guru! he..he..

    BalasHapus
  5. cerita yg menginsfirasi mbak,,asal aceh ya,, tdk jauh dgn saya,,salam kenal kembali ya,,sxalian izin follow

    BalasHapus
  6. dlu saya tidak terlalu mengerti peran ayah, tapi sekarang seiring dengan beranjak dewasa nya usia, saya mulai merasakan peran ayah itu ternyata dibalik layar dan cukup cukup berpengaruh.

    BalasHapus
  7. Mas Al-kahfi : trm ksh mas kunjungan dan follownya, iya dari Aceh, mas dari mana? Padangkah?

    auraman : Besar sekali peran ayah meski kadang tak banyak kata... Trm Ksh kunjungannya :)

    BalasHapus
  8. saya dari medan ,,tetanggaan dgn aceh,, kok nebaknya padang,,:)

    BalasHapus
  9. Nebak aja mas nggak ada alasan khusus...iya dekat bgt...sodara dan teman jg byk di Medan. Sekali2 jalan2 ke Aceh mas, klo org Aceh sih sering bgt ke Medan ya...

    BalasHapus
  10. ayah tuh yang mendidik kita untuk siap menghadapi keras dunia dengan penuh semangat,jadi menurut aku ayah tuh salah satu kunci yang menentukan karakter building dari seorang anak

    BalasHapus
  11. membaca cerita di atas membuat saya ingin pulang kampung , berkumpul dg keluarga, bertemu bapak ibu.
    btw, salam kenal juga yach ^_^

    BalasHapus
  12. Andy : benar sekali,biasanya ayah yang mengajarkan kedisiplinan dan kerja keras ibu yang mengajarkan kasih sayang dan kelembutan...(nggak baku jg sih). Thanks kunjungannya ^_^

    Mbak ria haya: Smg sll ada waktu utk pulang kampung ya mbak...

    BalasHapus
  13. ayah, kaulah lenteraku..
    cahaya hidupku..
    inspiratif banget mbak, mengingatkan kita agar selalu menghargai merekan..
    btw ditunggu ya followbaliknya :)

    BalasHapus
  14. Suka bacanya, jadi kengen Ayahku :D
    Semoga dalam beberapa hari ini aku bisa mudik menemuainya...

    Salam kenal juga yaa...

    BalasHapus
  15. Terima kasih mbak Yunda. Amin semoga bs berjumpa sang ayah segera.

    BalasHapus
  16. selalu ingat wajah teduh ayah atun..ketika hari jum'at datang ke pesantern...alllhumma firghlahu warhamhu..

    BalasHapus
  17. Terharu...mengingatkanku pada sosok Bapak yang luar biasa...
    InsyaAllah syurga telah menantinya...Amiiin...

    BalasHapus