Nikah dong guys! : sebuah provokasi.

19 komentar

Sebenarnya apa sih yang membuat laki-laki menunda melamar seorang gadis (janda kembang) untuk menjadi istrinya?padahal terkadang  (bagi yang pacaran) sudah jalan berduaan, sudah berkali-kali bilang Ich Liebe dich...eu te amo, sudah habis uang untuk dinner bareng, nonton bareng atau sekedar ngasih hadiah-hadiah kecil. Beberapa teman menjawab : ingin mapan dulu,  belum nemu yang ideal (fisik???) , masih perlu penjajakan lebihhhhh.
Dan apa pula yang membuat wanita terkadang  menolak lamaran seorang pria? Beberapa mungkin menjawab : Wah dia gajinya kecil, nyari yang berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribadi,dll), yang cantik (banyak yg ngelirik)ngajawab : akukan cantik jadi bisa dong milih2 yang perfect (ceilah neng nggak ada manusia di dunia ini yang sempurna).  Nah kamu? Alasanmu apa? ;p
Sekedar ingin berbagi pengalaman boleh ya… Aku menikah saat masih semester empat dengan seorang laki-laki yang juga masih kuliah di semester enam. Kok bisa?
Bisa aja dong. Yah awalnya memang tidak gampang. Berlika-liku menyesuaikan dua pribadi dengan karakter yang berbeda. Pontang panting meredakan ego dan emosi jiwa muda tapi Alhamdulillah hampir tujuh tahun  kami menikah  kami menemukan kekuatan masing-masing dan tetap mencoba saling menutupi kelemahan. Karena suami istri itu punya dua daya positif dan negative yang terus tarik ulur pengaruh mempengaruhi. Jika daya positif bertemu positif, dahsyat! akan terbentuk kepribadian yang baru yang lebih baik.
 Awalnya keluarga besarku kaget  Kenapa anak gadisnya yang tidak pernah berpacaran tiba-tiba mengatakan akan ada seorang laki-laki bersama keluarganya  yang datang bersilaturrahmi yang nantinya akan dilakukan proses saling mengenal antar keluarga. Ibuku bingung, kakak-kakak ku juga keberatan. Dan jika bapakku masih hidup aku tahu hanya ada satu kata darinya “tidak”.  Alasannya adalah aku masih kuliah dan dimata mereka aku akan mengalami banyak kesulitan (apalagi aku katanya yang paling manja) jika menikah sekarang. Dan aku adalah anak kelima dari enam bersaudara yg kesmuanya perempuan hanya kakak pertamaku yang sudah menikah. Itu artinya aku akan melangkahi tiga orang kakak perempuanku!. Tambahan lagi calon suamiku itu masih mahasiswa dengan kata lain belum punya pendapatan (masih kere). Complicated sebenarnya. Tapi semuanya berjalan aku juga heran dari mana keberanianku untuk meyakinkan keluarga. Kalau ditanya apa sih yang membuat aku mau menikah saat itu? Kalau aku jawab cinta percaya nggak? Tapi benar kan, apa sih yang nggak bisa dibuat oleh cinta? Ingak kisah cinta Laila Majnun yang melegenda? Lalu cintanya Raja Julius Caesar dan panglima perang Romawi Mark antony yang mampu melakukan hal gila demi cintanya pada  Cleopatra sang ratu Mesir. Banyakkan cerita2 cinta di dunia ini yg membuat org mampu melakukan sesuatu yang rasanya mustahil. Apalagi Cuma diajak nikah saat kuliah ya ??. Katanya kan kalau cinta sudah melekat tahi onta rasa coklat nah loh (tapi nggak sudi deh makan tahi onta.).. Dan tiba-tiba saja kakak kelasku ini mengajak nikah (nggak mau pacaran katanya).Dan tanggal 21 Mei 2005 kami menikah. Teman-teman kampus kaget tapi senangnya mereka datang satu bus ke rumahku yang berjarak  sekitar tiga jam perjalanan dari Banda Aceh.
Setelah menikah kemandirianku langsung diuji. Aku adalah adik kecil dari empat orang kakakku yang biasanya selalu ditemani, diantar, bajupun kadang dicuciin, dimasakin. Tapi saat jadi istri aku harus bisa melakukan apa-apa sendiri. Dan akupun tak ingin mengeluh kepada keluarga; ini adalah pilihanku aku akan menanggung segala konsekuensinya. Seperti pulang sendirian dengan bus malam Medan-Banda Aceh setelah mengantar suami ke Bandara Polonia karena harus segera kembali ke Bandung menyelesaikan kuliahnya.  Naik pesawat malam sendirian ke Jakarta. Aku ini Cuma anak dusun belum pernah ke luar dari tempurung Aceh apalagi naik pesawat sendirian. Apalagi malam-malam pukul Sembilan dari Medan dan sampai pukul dua belas malam di Jakarta (padahal aku tahu saat itu aku sudah hamil empat minggu). Dan kami tak langsung ke Bandung karena jadwal kereta apinya besok pagi. Saat itu tak mungkin naik taksi dan menginap di hotel (uang hanya cukup untuk makan dan   perjalanan ke Bandung). Kami memutuskan menghabiskan malam di  area Bandara Soeta yang mulai sepi sambil memandangi langit malam yang gelap (Tuhan hidupku tak segelap itu akan ada sinar esok harikan?). kami bercerita banyak tentang mimpi-mimpi kami. Dan aku tak melihat ia yang sekarang aku dapat melihat ia bertahun-tahun yang akan datang dari visinya. Kamipun sepakat akan terus berjuang untuk mandiri dan meraih mimpi-mimpi kami.
Di rumah kosnya ia membuka Warung Digital Printing dengan bermodalkan satu desktop dan printer di kawasan Daarut Tauhid. Ia juga menawarkan pembuatan website ke perusahaan-perusahaan. Akupun menghubungi teman-temanku menawarkan buku-buku referensi kuliah untuk semester ini dan semester akan datang (dengan menggadaikan mahar sebagai modal), mencari buku-buku second dan murah di kawasan Palasari. Menjual organizer Board hingga  pernak-pernik lainnya.  
Alhamdulillah kami memiliki orangtua dan keluarga yang begitu perhatian (meski kami tak ingin membebani). Kedua Ibu  yang selalu mensupport, kakak-kakak dan adik yang selalu bertanya “perlu beli apa bulan ini?” yang meski kujawab “nggak ada kak”. Tetap saja esoknya nominal di rekeningku bertambah. Dan SPP yang selalu tercukupi dari beasiswa. Allah memudahkan.
Dan tahunpun berlalu. Inilah kami sekarang sebuah keluarga dengan dua orang putra yang special. Kami mensyukuri pernikahan ini, mensyukuri cinta yang Allah selipkan di hati kami.

Gerimis rasa berbalut
kayuh mengayuh pasang sepasang
Aku mensyukuri cinta ini
iring seiring meski kadang menyebrang ego


Masih terlalu pagi bagi kita menuai upah
nikmati tangis kanak-kanak
yang kan kita rindu saat uban tersapu di penantian


Semoga senja kita tak sepi


Guys punya keluarga itu indah. Akan selalu ada ruang untuk kembali ketika lelah. Akan ada seseorang yang membuatmu tersenyum meski terkadang hidup itu pelik. Di keluarga kita berbagi segala rasa. Makanya guys nikah dong!!



19 komentar :

  1. subhanallah.... kisahnya sungguh luar biasa
    sangat inspiratif...
    semoga Allah melanggengkan pernikahan kalian.
    amin

    BalasHapus
  2. Amin ya rabbal alamin..terima kasih mas..

    BalasHapus
  3. Kisah seperti ini yang perlu untuk d share, makasih tulisannya mbak... Semoga Allah Melanggengkan Pernikahan kalian, Aamiin.. :)

    BalasHapus
  4. Subhanallah..Indahnya pernikahan... ^_^

    BalasHapus
  5. Trm ksh lagi mas Andro, mlm kemarin baca tulisannya mas insan robbani ttg pernikahan jd ada ide buat nulis pengalaman sdr...amin..

    BalasHapus
  6. Sepakat Latifah emang indah! yah kalau ada duka... biasa kan?? itu gelombang kehidupan namanya :)

    BalasHapus
  7. Nikah dong guys! : sebuah provokasi.

    Subhanallah kisahnya..! DAN saya terprovokasi. :)

    nice share.. salam ukhuwah.

    BalasHapus
  8. Subhanallah...
    Makasih ceritanya, jadi buka wawasan nih...

    Saya pernah mau diajak ke rumah keluarga pacar (ngenalin keluarga). padahal baru mau diajak yah? udh engga mau ajah, takut disuruh nikah soalna... :D

    tapi akhirnya sadar juga kalu saia salah...

    BalasHapus
  9. Mas ROe : Ayoo semangat mas ROe cepet jumpai orang tuanya he..he...

    Mbak Dienz : Makasih jg mbak dah baca tulisan saya... Ntar kalo diajak lagi mau ya.. ;) paling nggak tahu keluarganya gmn.. salam kenal.

    BalasHapus
  10. doakan saya bunda.. semoga proses itu lancar. hehe

    BalasHapus
  11. Ya nak (he..he..) smg lancar..amin ..

    BalasHapus
  12. Atun.. Tulisannya indah, mengalir sampai aku terhanyut dan ngiri dengan kebahagiaan kalian..^^ Bang Ibal emang top dah! hehe

    BalasHapus
  13. Iri ya? bagus itu...he..he.. ayo ciptakan keluarga yg bahagia juga med ...fahri juga top dah!!!

    BalasHapus
  14. iya tun..aku juga hadir saat akad kalian,,,dan berpikir kapan aku di posisi itu yah...insyaallah suatu saat...

    BalasHapus
  15. iya Tia..Insya Allah suatu saat

    BalasHapus
  16. Ish, provokator.

    Saya sih belum pernah nolak lamaran orang. Palingan dulu cuma nolak seseorang yang ngajak ta'aruf, dengan alasan perbedaan pola pikir. Dia mikirnya "ta'aruf aja dulu, kalo cocok nikah, kalo gak cocok ya udah" dan saya mikirnya "ta'aruf itu berarti sudah melangkah lebih dekat ke pernikahan jadi harus dipikirkan matang2 mau ta'aruf dengan dia atau tidak". Dan sekarang dia udah nikah sama orang lain. Alhamdulillaah..

    BalasHapus
  17. He..he.. artinya dia mmg bkn jodohmu mbak :) jodohmu pasti untukmu bukan untukku :) :D

    BalasHapus