Ketika Kematian Begitu Dekat

21 komentar

Pengalaman ini sebenarnya ingin aku lupakan karena terkadang membuat traumatis jiwaku terungkit. Namun kesadaran akan hikmah dari peristiwa inilah yang ingin kubagi untuk semua bahwa kematian bisa datang kapanpun. Meski tak ada sakit yang kau derita atau usiamu masih belia.
Pada hari Minggu beberapa tahun yang lalu aku dihadapkan pada peristiwa yang benar-benar membuatku merasa kecil.
Sepotong nyawa yang aku miliki bagaikan partikel debu yang tak ada artinya sama sekali. Jika Allah berkehendak bisa saja aku ikut tertimbun reruntuhan atau terseret dalam air bah Tsunami yang mengganas. Minggu itu tanggal 26 Desember 2005 aku berada di Lingke di kos seorang teman karena rencananya kami akan menghadiri acara reuni teman-teman sekolah dulu. Kamu bisa lihat di peta betapa Banda Aceh yang terletak di ujung Sumatra begitu kecil dibanding luas lautan yang mengelilinginya, yah seperti pulau-pulau lain juga di Indonesia.
Awalnya pukul delapan terjadi gempa yang kurasa lebih besar dari gempa-gempa yang pernah terjadi selama aku hidup. Kami berlarian keluar dari rumah. Tetangga yang lain juga histeris; panik. Aku hanya berzikir (masih tenang) melihat kabel-kabel, pohon-pohon yang berayun, air di selokan yang tumpah ke aspal. Dalam hati aku berkata semua akan baik-baik saja tapi setelah beberapa menit gempa tak juga berhenti hingga kami mendengar sebuah wartel rubuh dan tembok Asrama Brimob runtuh (mulai sedikit khawatir). Aku menelfon kakak dan adikku yang berada di kos kami daerah Lamreung namun sepertinya tak ada jaringan sama sekali.
Dan gempapun berhenti. Dengan rasa ingin tahu aku dan seorang temanku berjalan ingin melihat reruntuhan tembok Brimob namun belum sampai ke tujuan ketika kami melihat orang-orang berlari ke arah kami sambil berteriak “Lari ie laot teka, lari air laut naik!”. Deg! dalam ketidakmengertian kami juga berlari mengikuti arus manusia yang memadati jalanan. Mobil-mobil, sepeda motor berdesakan ke satu arah. Temanku terus menarik tanganku, jujur saat itu aku lebih banyak bingungnya daripada takut hingga ketika aku menoleh ke belakang kearah Tugu pelajar Simpang Mesra tampaklah air tinggi bergulung-gulung; air bah yang mengganas mengejar kami menelan segala yang ia temui tanpa ampun. Bagai ada yang menuntun beberapa di antara kami berbelok menuju toko yang terbuka dan naik ke lantai atas. Saat menaiki tangga itu aku merasakan kaki dan bawahan rokku tersapu air. Semuanya terjadi dalam hitungam detik. Di lantai dua kami naik lagi keatap bangunan. Dari atas itulah kami melihat pemandangan yang mengerikan. Allah… kemana semua mobil, motor dan orang-orang yang tadi berdesakan di jalanan? Bangunan-bangunan di depan kami semua terendam hingga menyisakan bumbungan atap. Tampak juga seorang laki-laki tersangkut di atas tiang listrik dengan darah di kakinya. Orang-orang menangis. Seorang ayah bertubuh kekar terduduk lunglai menangisi anak dan istrinya yang tertinggal di rumah. Seorang anak kebingungan mencari-cari ibunya. Seorang temanku dengan tubuh basah kuyup terlihat gemetar ternyata ia baru diselamatkan dari lantai satu yang telah penuh air. Temanku yang lain kakinya terluka ketika memanjat tembok menaiki gedung.
Kamipun terus digoyang gempa. Air di bawah masih menderas, menghitam. Pikiran yang bercampur aduk terus memenuhi otakku. Bagaimana jika gedung ini runtuh? Bagaimana jika air terus naik ke tempat kami? Aku merasakan ketakutan yang sangat. Membayangkan diriku tenggelam,  air masuk ke hidung, mulut, telinga dan memenuhi paru-paru serta semua rongga di tubuhku hingga membuatku sesak. Mendengar rintihan di sekelilingku membuatku gemetar. Aku merasa sangat tak berdaya. Betapa kecilnya aku. Betapa semuanya begitu mudah bagiNya. Allah bisa menghancurkan semuanya dalam hitungan detik. Kenapa selama ini aku begitu sombong? Menunda-nunda melakukan kewajibanku? Menyepelekan amalan-amalan yang Allah perintahkan? Seolah-olah aku masih punya banyak waktu di dunia ini. Aku sadar aku belum siap mati. Astagfirullah saat itulah aku teringat Al-quran saku di ranselku yang secara tidak sengaja terbawa karena kemarin aku mengikuti pengajian di mushalla kampus. Berdua kami membaca ayat-ayatNya memohon kemurahan hatiNya. Mengeja tanda-tanda kekuasaanNya yang begitu jelas di hadapan kami. Dan kepasrahanpun menyelimutiku. Perlahan aku merasa tenang. Menutup mata dan terus beristighfar.
Setelah beberapa jam air menyurut, kamipun turun. Saat itu air setinggi lutut. Kami berjalan mencari tempat yang aman. Beberapa orang tentara membantu kami dan memberitahukan daerah-daerah yang aman. Kami memutuskan mengikuti orang banyak menuju ke arah Lampineung. Di kiri kanan jalan kami melihat kehancuran kota ini, di sekeliling kami tampak mayat-mayat mengenaskan terkapar sepanjang jalan. Kami terus berjalan hingga beberapa kilometer dan singgah di sebuah Sekolah Dasar yang terletak jauh dari kejadian. Dan tak tampak lagi tanda-tanda bencana dan memutuskan bermalan di sekolah itu.  Malam itu aku memikirkan kakak dan adikku dan berharap pamanku menjemput kami. Aku sangat mengkhawatirkan mereka karena kos kami terletak berseberangan dengan sungai Lamnyoung yang alirannya langsung bermuara ke lautan hanya beberapa kilometer. Dalam bayanganku kondisinya pasti lebih parah dari Lingke.
Esoknya aku bergegas ingin kembali ke kosanku aku harus menemukan kakak dan adikku sedang temanku ia akan ke rumah pamannya di Lampeneurut. Aku ditemani temanku yang lain menuju Lamreung melewati pasar Ulee Kareng jalanan masih bersih hingga memasuki simpang tujuh terus ke arah meunasah papeun jalanan terlihat berlumpur dan beberapa rumah tampak roboh. Pada sebuah mesjid tampak banyak jenazah sedang dimandikan (sekedarnya). Aku mendekat dan meminta izin seorang tengku untuk membuka kafan-kafan itu mungkin ada wajah-wajah yang kukenal. Mungkin teman atau saudara?. Tapi semua berwajah asing atau aku yang tak lagi bisa mengenali mereka karena kondisi jenazah yang tragis?. Tengku itu mengatakan kemungkinan ini adalah korban-korban yang terseret arus dari Krueng Raya.
Aku meneruskan perjalanan dan sampai ke kos namun tak ada siapa-siapa kondisi rumah kos sangat kotor. Komputer, lemari, lemari buku,tempat tidur tertutupi lumpur hitam tebal. Peralatan dapur sudah tak jelas lagi keberadaannya. Aku mencari-cari hingga melihat anak ibu kos ia mengatakan semua selamat dan mengungsi ke Blang bintang. Aku bersyukur kakak dan adikku selamat dan mereka juga mengkhawatirkanku. Akupun menyusul mereka ke Blang Bintang. Malamnya kami dijemput oleh ibu dan orang-orang kampung kami yang juga mencari saudara-saudara mereka. Tapi pamanku belum juga datang dan aku mulai mencemaskannya. Ibuku mengatakan daerah Punge  (lokasi rumah paman) termasuk daerah yang terparah.  Mereka tak menemukan siapapun di sana. Hingga saat ini kami tak juga mendengar kabar keberadaan pamanku dan keluarganya.
Betapa banyak korban dari kejadian yang akhirnya kutahu bernama Tsunami itu. Allah punya rahasia yang kadang tak mampu kita ungkap. Ada hikmah di setiap peristiwa. Semoga Allah menempatkan para korban di tempat yang layak di sisiNya dan menjadikan kita mampu melihat tamnda-tanda dari kekuasaanNya.
Picture From Google

Picture From Google

Picture From Google


Tulisan ini diikutsertakan pada Give Away Pengalaman Pertama Mbak Una yang diadakan oleh mbak Una.


21 komentar :

  1. Huaaa, ga kebayang rasanya gimana tuh.
    Aku waktu itu juga ngerasain gempa jogja dan itu serem banget, gimana tsunami :-s

    Terimakasih yaa mbak, segera kucatat :)

    BalasHapus
  2. pengalaman padalh guru yang bijak,,,,

    BalasHapus
  3. Mudah2an kita nggak ngalamin lg ya mbak Una... Makasih udah buat kontes jd ada alasan utk nulis kejadian ini.

    BalasHapus
  4. Jasmine : Bener banget.... mksh kunjungannya

    BalasHapus
  5. Innalillah... Astagfirullohaladziim...merinding sekali saya baca kisahnya mbak,, alhamdulillah saya belum pernah mengalami hal seseram itu.. dan sebenarnya dalam hati keegoisan sy pun gak ingin hal itu dialami.. ~_~

    Tp Alhamdulillah ini nasihat kematian yg langsung menancap tajam..semoga Allah lebih menjadikan diri kita lebih bermakna lg dalam menjalani hidup, agar ketika maut itu menjemput, kita dalam keadaan yg sebaik-baiknya... Allahumma Aamiin.. salam kenal mbak, trimakasih artikelnya... ^_^

    BalasHapus
  6. Duh, ngeri banget ya...pelajaran yang benar-benar membuat semakin dekat dengan Nya..

    BalasHapus
  7. Subhanallah.....
    jika Allah berkendak untuk menyelamatkan hambanya tidak ada yg bisa mencegahnya begitu juga sebaliknya....

    bersyukur Mbak..masih diberi kesempatan utk hidup lbh lama, serta msh diberi kesempatan memaknai hidup dgn baik agar memberi manfaat kepada sesama

    BalasHapus
  8. Anna : Amin smg kt termasuk dlm org2 yg khusnul khatimah ... nice to know you :)

    Mbak Rina : Harusnya begitu ya mbak smkn dekat denganNya..

    BalasHapus
  9. Mas Insan : Benar mas semua atas kehendakNya... terima kasih sdh mengingatkan saya utk terus bersyukur atas nikmat hidup hg detik ini.

    Memang luar biasa peringatanNya dg musibah/bencana tsunami tsb.Saya jg msh sdkt trauma jika teringat kembali, akan tenang jika pasrah dan berserah. Kita semua milikNya ya..

    BalasHapus
  10. Sering aku bilag masih ada hari esok. Padahal, kita ga tau apa yg akan terjadi besok. Kisahnya bisa buat renungan agar tidak menyepelekan waktu ya :)

    BalasHapus
  11. Iya mbak pembelajaran buat kita semua, selama msh diberikan kehidupan lakukan kebajikan. Terima kasih byk kunjungannya mbak Tarry ^_^

    BalasHapus
  12. tarikan nafasku begitu berat dan larut membayangkannya, semoga trauma itu jadi pelajaran berharga menuju menjadi lebih baik..amin

    BalasHapus
  13. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

    bergetar saya baca postingannya ini.
    Tsunami aceh memang memberi banyak hikmah bukan saja buat warga Aceh tapi seluruh warga dunia.
    banyak sekali teman2 saya semasa kuliah dulu yg kehilangan anggota keluarganya.
    saya tak bisa membayangkan dalam kondisi seperti yg di alami bunda ini. GEMPA dan Tsunami.

    tahun 2006 saya mengalami hal yang sama sewaktu GEMPA JOGJA, kondisinya juga parah dan saya masih trauma sampe sekarang kalau ada gempa.

    ada kesadaran memang setelah peristiwa ini, benar2 merasa kematian itu terasa dekat sekali.
    insyaAllah dengan kejadian seperti ini jadi ingat bahwa kematian bisa terjadi kapan saja dan kita harus siap menyambutnya.

    keep post bunda.

    BalasHapus
  14. Mas Cilembu tea : amin smg jd pelajaran buat kt semua. Trm ksh kunjungannya smg suatu saat bs ke Cilembu menikmati alam dan keramahannya :)

    Mas ROe :Setuju bahwa kematian dpt dtg kpn saja dengan cara apa saja... tsunami, gempa, kecelakaan ato mgkn tanpa sebab yg jelas..Trm Ksh

    BalasHapus
  15. duka yang melanda saudara sebangsa di Aceh tahun 2005 masih berbekas hingga kini,
    semoga Allah melapangkan jalan arwah para korban Tsunami menuju surga-NYA...allahumma amiin
    BlogS of Hariyanto

    BalasHapus
  16. gempa dan tsunami di aceh, ya?
    sampai sekarang saya masih sedih saja mendengarnya. soalnya di sana tanah kelahiran saya
    semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan :'(

    BalasHapus
  17. Mas Hariyanto : amin ya rabbalalamin
    Mas sulung : iya mas...smg semua tabah dan mdpt hikmah.

    BalasHapus
  18. Fhiuuh...baca postingan ini serasa membuka luka lama... tante sekeluarga sampai skrg hilang tak tentu rimbanya...blm lagi teman, saudara begitu banyak yang mjd korban...Alhamdulilah ibu dan kel kandung saya semua selamat.Subhanallah ya mbak sungguh Allah Maha berkuasa atas segalanya yah... Alhamdulilah mbak jg termasuk orang-orang terpilih yg selamat dari tragedi mengerikan itu dan berkesempatan berbagi cerita sebagai peringatan bagi kita-kita yang masih hidup...

    BalasHapus
  19. Iya bunda...sbnrnya males dan nggak mau nulis ttg ini (ingin melupakan) tp yah mgkn tetap ada hikmah dr kejadian ini ya.. Trm ksh kunjungannya bunda. Blognya bunda bagus...saya suka... smg suatu hari kita sm2 plg ke Aceh dan ketemuan ya bunda sm Harsya dan Syifa jg ^_^ silaturrahmi.

    BalasHapus
  20. Masya Allah ...
    Kalau Allah berkehendak ya mbak.
    Merinding sekujur tubuh saya baca kisahnya.
    Maaf baru bertandang ke blognya mbak Nufus. Saya sudah follow balik yah ^^

    http://mugniarm.blogspot.com

    BalasHapus
  21. Iya mbak....
    Terima kasih mbak Mugniar ^_^

    BalasHapus