Cerbung : Part One

14 komentar


Tak tertepis bayang itu menghantam telak rasa suka.

Aku tak bisa berpaling,tak ingin menghindar

Cerita bertahun-tahun yang lalu kembali mengetuk ruang memoriku. Memunculkan seraut pesona penebar debar aneh. Itu dulu.

                “Butuh payung?”
Sesosok lelaki telah berdiri disampingku dengan payungnya yang terkembang. Aku tersenyum, dia juga tersenyum. Berjalan di bawah rinai hujan bersama orang yang kau cintai membuatmu tak perduli yang lainnya. Tak perduli pada banyak mata yang memandang iri penuh selidik juga tak perduli pada bisik-bisik mereka. Saat itu di bawah hujan hanya ada kau dan dia.
                “Bagaimana lamaranku? Sudah kau pertimbangkan?”
                “Bapak mau menikah?” pertanyaan konyol
                “Kalau mempelai wanitanya bersedia”
Aku merona malu. Menunduk menatap sepatuku yang basah.
Tentu saja aku tahu jawabannya tapi mulutku terkunci, harusnya ia dapat membaca isyaratku.
                “Jangan panggil aku Bapak, aku terdengar tua dengan panggilan itu”
Aku juga tak suka memanggilnya bapak. Tapi laki-laki ini adalah dosenku. Teman-teman yang lain juga memanggil begitu. Kami berjalan pelan, hati-hati melangkahi genangan air. Namun sekecil apapun langkah kaki kami, sampai juga  di depan gerbang kampus. Aku tak suka jalanan yang hari ini tiba-tiba terasa pendek.  Masih ingin berada di bawah payung ini berdua meski tempias membasahi wajahku. Tapi sebuah angkutan kota telah berdiri persis di depan kami. Akupun melangkahkan kaki ke dalam, duduk di bangku penumpang. Lelaki itu memberikan payungnya.
                “Aku masih ada kerjaan” katanya singkat. Lalu berlari panjang menembus hujan kembali ke gedung perkuliahan. Aku tak sempat mencegah untuk mengembalikan payung. Seringkali begitu seolah membiarkan saja segala hal yang dilakukan laki-laki itu untukku. Tiba-tiba aku merasakan getar di saku rokku kuraih handphone yang aku vibratekan sejak kuliah tadi.
                “Cieeeee yang lagi kasmaran” itu suara Dita temanku tentu tadi ia melihat adegan romantis kami.
                “Loe dimana?”
                “Nggak penting! yang penting sang bidadari telah selamat dari terpaan badai tak apa daku berbasah-basah” Dita mulai menggoda. Merekah juga senyum malu-maluku untunglah temanku itu tak melihatnya.

14 komentar :

  1. "Saat itu di bawah hujan hanya ada kau dan dia." Lah kirain 'aku dan dia'. :D

    Wah jadi ceritanya dilamar dosennya gitu yah hihi x)
    Ditunggu sambungannya...

    BalasHapus
  2. Maksudnya mau menceritakan siapapun kalau sedang berdua nggak perduli yg lain 'hanya ada kau dan dia' # ribet ya na...

    Iya rencananya begitu ngak tahu ntar jadi atau nggak....Semoga sambungannya ada ya na hi..hi..

    BalasHapus
  3. jadi ingat waktu muda heuheue...secara setelah menikah sama-sama gak romantis...

    BalasHapus
  4. Ha..he..ayo nostalgia masa muda ;p lagian kita nggak tua2 amat ya mbak...

    BalasHapus
  5. ga sabar nunggu lanjutannya nih mba.... jgn sampai ga ada sambungannya lho mba.... :-)

    BalasHapus
  6. nulisnya mood2an ni mbak Alaika...

    BalasHapus
  7. orang klu lagi kasmaran emang gitu tuh :(

    belajar photoshop

    BalasHapus
  8. lady under the rain..berlari-2 kecil di bawah tempias hujan...so sweet..so romantic...

    BalasHapus
  9. PS Holic : Benarkah? :)

    Mbak Ririe: :) :) :)

    BalasHapus
  10. wah kapan ni part two nya beredar bunda nufus.di tunggu yah ...mantap deh..dari dulu dirimu memng pinter nulis.....(diam-diam aku megangumi mu hehe)

    BalasHapus
  11. Ah bo'ong...pinteran tia lagi! Part II blm ada ide ntar deh kalau ada moment romantis lain he..he..

    BalasHapus
  12. keren kisahnya, mengalir dan renyah untuk dibaca
    ditunggu sambungannya

    BalasHapus