Cerpen : Banta Cut

17 komentar


Hari masih gelap ketika sebuah jeritan terdengar dari balik ruangan berterali besi.
”Argh! Buka pintu!” suara itu lantang berulang-ulang diiringi suara gembok besar yang tergantung di palang kunci menggedor-gedor pintu.
”Jangan ribut!, kami masih mau tidur.”
” Buka pintu!”
Banta Cut pemuda berusia 17 tahun itu seperti kesetanan. Ia mengamuk, menerjang segala yang ada didekatnya. Ia baru dimasukkan kemari seminggu yang lalu setelah sebelumnya dihajar orang-orang kampung karena membakar sebuah rumah. Pardi pasien Skizophrenia Paranoid yang meringkuk di tempat tidur besi tak berkasurpun menjadi sasarannya. Banta memukul Pardi bertubi-tubi. Hingga memancing keributan pasien-pasien yang lain. Hingga tiga sosok perawat yang bertugas malam itu muncul dari kamarnya yang ber-AC yang terletak di sebelah ruangan itu. Harusnya mereka dapat mendengar keributan itu dari tadi. Satu orang membukakan pintu sementara dua perawat lain bergegas meringkus tangan Banta dan memisahkannya dari pasien-pasien lain yang mulai bingung. Mereka lalu menariknya keluar. Meski Banta meronta-ronta ketiga perawat itu lebih kuat. Ia digelandang ke sebuah kamar yang jauh lebih kecil berukuran satu kali satu meter. Mereka segera menyuntikkan diazepam hingga tubuhnya melemah, ia merintih pelan dan semakin pelan.
            ”Tuhan, tolong aku” ia tersesat dalam labirin tak bernama.
            ”Kau memiliki takdirmu sendiri”
kegelapan membuatnya takut, tak ada pelita.
            ”Takdirmu telah tertulis, kau tidak bisa merubahnya” ia meraba-raba mencari tempat berpegang.
            ”Aku lelah Tuhan, tolong aku.” suaranya bergema dalam kegelapan yang pekat. Tak ada lagi jawaban.
            Lalu dalam gelap ia bisa melihat seorang anak kecil yang sangat mirip dengannya. Anak itu menangis. Dihadapan anak itu seorang wanita muda terbaring bersimbah darah. Dibunuh. Wanita itu mati dibunuh. Anak kecil itu menjerit. Ia meraung ingin memeluk tubuh ibunya. Satu sosok mendekapnya membenamkan wajah anak kecil itu dalam dada dan membawanya pergi.
            Sinar matahari menerpa wajahnya, ia menyipit silau. Ngilu di seluruh tubuh membuat ia susah untuk bangkit. Iapun bersandar pada dinding yang beku. Dari kurungannya ia dapat mendengar suara musik dan tampak beberapa orang berseragam sepertinya berbaris dan bergoyang. Mereka serentak menghitung mengikuti seseorang yang memimpin di depan. Mungkin mereka sedang senam meski dengan gerakan yang kacau.
            ”Sudah bangun?”
Seorang lelaki tua berseragam biru seperti yang ia pakai berdiri di depan terali. Ia menyodorkan sepiring nasi.
            ”Ambil nasimu, makanlah”
Banta merasa perutnya perih, ia sangat lapar. Dengan cepat diraihnya piring itu dan makan dengan lahap. Lelaki tua itu tidak jua beranjak, ia lalu duduk.
            ”Siapa namamu?”
Banta tak menjawab ia terus saja makan.
            ”Kau ingat asalmu dari mana?”
Lelaki tua itu tak memperdulikan keacuhan pemuda di depannya.
            ”Aku Pak Said, sudah bertahun-tahun aku berada di sini, tempat ini sudah seperti rumah bagiku. Kau tahu kenapa? Karena di luar sana tak ada yang mau menerima aku.” Lelaki tua itu terus bercerita namun ia seperti berbicara sendiri. Saat nasi di piring Banta habis, ia melempar piring itu hingga membentur dinding. Lelaki tua itu terkekeh. Ia memungut piring itu lalu menatap Banta, wajahnya berubah serius.
            ”Jangan kau ulangi kejadian semalam, berhenti berteriak dan kau harus tetap minum pilmu jika ingin mereka membebaskanmu.” Pak tua lalu pergi.
Banta berdiri menatap ke luar. Dengan gelisah ia menggedor-gedor pintu.
            ”Buka pintu!” teriaknya. Tak ada yang perduli.
            ”Buka pintu Razak keparat, kau tak bisa lagi menyiksaku. Akulah yang akan membunuhmu!”
Banta semakin beringas. Ia melempar barang-barang disekitarnya. Tak puas ia membanting tubuhnya dan membenturkan kepalanya ke dinding berulang kali. Bagai tak merasakan sakit ia terus mengamuk meski kepalanya berdarah. Kali ini dua orang petugas pagi yang piket datang dengan suntikan diazepam. Bantapun tersungkur.  
            Saat tersadar yang pertama kali dilihatnya adalah wajah lelaki tua itu.
            ”Sudah kukatakan padamu untuk berhenti berteriak. Kamu lihat akibatnya mereka kembali menyuntikmu. Kau tahu suntikan itu akan membunuhmu secara perlahan.”
Laki-laki itu pergi. Banta melihat bagaimana lelaki tua itu pergi meninggalkan selnya dengan bebas. Ia berjalan kemanapun ia mau.
            Setelah laki-laki tua itu hilang dari pandangannya. Seorang pria berjas putih mendatanginya bersama dua orang perawat. Mereka membawanya ke sebuah ruangan beraroma melati. Ia duduk di hadapan lelaki berjas putih itu sementara dua perawat tadi berdiri di kiri kanannya waspada.
            ”Bagaimana keadaanmu?”, tanya pria itu. Banta Cut tak menjawab.
            ”Kami akan menolongmu jika kamu mau bekerja sama”.
            Menolong? Razak dulu juga menolongnya, menjauhkannya dari mayat ibunya yang bersimbah darah. Razak mengajaknya pergi jauh. Mengajaknya hidup dalam keluarganya di  sebuah desa. Tapi Razak memperlakukannya seperti budak belian. Ialah yang harus bekerja menyiapi semua kebutuhan. Mengangkut air dari sebuah sungai yang berkilo-kilo meter jaraknya dari rumah mereka, menarik-narik sapi ke padang rumput dan semua itu tak boleh ada kesalahan. Kesalahan kecil akan diganjar hajaran dan tak diberi makan. Orang-orang berseragam putih ini tahu apa? Tak ada yang bisa menolongku, bisik hatinya. Ia telah tersesat. Seperti tak ada yang menolongnya saat tangan kecilnya yang begitu lemah menggedor-gedor pintu gudang tempat ia dikurung Razak, tak ada yang mendengar tangis ketakutannya dalam kamar gelap yang penuh tikus dan kecoa itu.
            Dan dalam kamar pengap itulah pertama kali ia mendengar suara-suara aneh yang terus berbisik. Berdengung memenuhi telinganya berhari-hari hingga berbulan-bulan kemudian. Awalnya ia merasa takut tapi lama-lama ia menyukai suara itu. Suara itu menenangkannya seperti suara ibu yang menidurkannya. Suara itu bercerita. Tapi terkadang suara itu menjadi marah ketika melihat luka-luka tubuhnya. tak ada yang boleh memukulnya.
Suara itu semakin keras ketika Razak memukulnya. Suara itu menyuruhnya untuk bertahan dan terus bertahan, hingga tak sadar bibirnya lirih bersenandung lagu yang dulu dinyanyikan ibu untuknya.
Allah hai do do dai di
Boh kaye blang boh kaye uteun
Rayeuk sin yak hana pe mabri
Aib ngob keji ureung donya khen

Ia terus bersenandung hingga ia hanya merasakan angin dari pukulan-pukulan itu. Tapi Razak semakin kalap, ia ingin anak tak tahu diri itu kesakitan hingga sadar bahwa ia telah banyak menolongnya. Ialah yang telah memberinya makan dan memberinya tempat tinggal bahkan menyekolahkannya. Harusnya anak ini membalas semua kebaikan-kebaikan Razak dengan bekerja keras membantunya di sawah, mengurusi ternak yang semakin banyak. Razak terus memukulinya hingga tangannya merasa pegal. Dan saat itu Bantapun tersungkur dalam dinding yang gelap. Sosok ibu datang mengusap-usap tubuhnya yang hancur.
            “Banta Ceritakan tentang suara-suara yang sering kau dengar”
Pria berseragam putih itu kembali bicara, Dengan irama dan senyum yang membuatnya kembali terlempar pada suatu masa yang sangat jauh. Saat samar-samar sepasang lengan kokoh mengangkat tubuh kecilnya, menggendongnya berputar-putar. Pemilik lengan kokoh itu ayahnya,  mengajaknya menyusuri sungai sambil bercerita banyak hal. Tentang Teuku Umur pahlawan gagah yang sangat ia kagumi, tentang Mesjid Raya yang begitu megah di kota yang suatu saat ia berjanji akan mengajaknya kesana (janji yang tak pernah ditepati). Setelah itu pada suatu senja ayahnya dijemput orang-orang berseragam dan tak pernah kembali.
 Hanya satu pesan yang ia ingat “Banta jangan pernah melukai orang lain”. Lelaki itu tiba-tiba saja menghilang dari hidupnya. Orang-orang berbisik-bisik dibelakangnya. Teman-temannya sering menyebutnya anak cuak. Padahal ia tak mengerti. Ia bertanya pada ibu tentang cuak itu. Awalnya ibu diam. Tapi ia kemudian memegang pundak Banta erat dan menatap matanya dalam.
            “Ayah orang baik Banta, ia hanya tahu kebenaran yang Tuhannya suruh. Kau harus bangga padanya”
            Banta tahu ayah memang orang baik. Ia sering berkhutbah di mesjid. Melarang pemuda-pemuda desa berkelahi tapi sepertinya banyak orang tak menyukainya.
            “Banta, kamu bisa menceritakan apapun pada saya”
Ia mulai goyah dengan kebisuannya. Ia terisak di hadapan lelaki bersuara ayah itu. Lelaki itu mengusap tangannya menyalurkan energy simpati yang tentu dapat dirasakan oleh Banta. Seorang anak yang begitu cepat kasih terenggut dari hidupnya. Ketika harusnya hidupnya penuh warna ia hanya punya kelam.
“Saya ingin ke Mesjid Raya”
“Kau akan kesana jika kau sembuh”
Lelaki berjas putih itu mengerti Banta mengalami gangguan psikologis akibat kekerasan yang bertahun-tahun dialaminya. Ia mendengar suara-suara yang sebenarnya hanya halusinasinya. Begitu pula ketika ia membakar rumah Razak hingga laki-laki itu terpanggang di dalamnya. Ada suara yang membisikinya dan suara itu begitu kuat. Polisi tentu saja mengusut kasus itu tapi lelaki berjas putih sang psikiater itu akan melindungi Banta. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan lagi setelah ibunya dibunuh oleh orang tak dikenal dan ayahnya menghilang tanpa ada kabar.

***************************************************************

Skizofreania Paranoid : Salah-satu gangguan jiwa dimana pasien memiliki kecurigaan berlebihan

Diazepam :Salah satu obat penenang

Allah hai do do dai di Boh kaye blang boh kaye uteun Rayeuk sin yak hana pe mabri Aib ngob keji ureung donya khen : (syair Aceh) Allah wahai do da idi, Buah-buahan sawah dan hutan, anak besar tak ada yang bisa diberi, aib dan keji orang katakana.
Cuak : Mata-mata

17 komentar :

  1. Trauma masa lalu, biasanya akan selalu terbawa sampai kita dewasa...
    Cerita yang menarik, saya jadi semakin memahami bahwa perlakuan apapun itu, akan membawa dampak bagi masa depan.

    BalasHapus
  2. salam kenal ;)
    jadi contoh bagi kita bhw perlakuan hari ini berdampak utk masa depan ... :P

    BalasHapus
  3. cerpennya seru., btw lam kenal ajah...

    BalasHapus
  4. Asep : salam kenal :)

    Bintang : Jiwa anak2 memang menyerap semua yang ia dapat. Harusnya anak2 hanya tahu kasih sayang ya agar dewasa juga menyebarkan cinta

    Omman : Salam kenal :) setuju om...

    Kang To Pu : Terima kasih..salam kenal juga.

    BalasHapus
  5. ada kita jumpai orang2 yg mempunyai halusinasi dan bertindak brdasarkan itu,baik sekali saling curhat sekedar berbagi untuk menjernihkan hati dan pikiran

    BalasHapus
  6. Memang tidak baik ya memendam masalah dan perasaan...itulah gunanya keluarga dan sahabat: untuk berbagi. Thanks bang Al kahfi

    BalasHapus
  7. aku masih ga ngerti nih mbak jalan ceritanya? :(

    BalasHapus
  8. Nggak ngerti ya mbak...susah emang buat cerpen yg ngalir #ini memang maju mundur sih ceritanya... :(

    BalasHapus
  9. Meski ini cuma cerita fiksi, aku kok marah pada si Razak yah...Bangsat benar itu orang...Mudah2an gak pernah hidup di dunia..

    BalasHapus
  10. Iya mbak Evi, mungkin ada sih hidup dalam sosok2 lain. Mudah2an kita dan anak2 kita jauh dari segala kejahatan ya..amin. Trm ksh sdh singgah ^_^

    BalasHapus
  11. hm, semoga kita ga ky si Razak.
    jadi ikut sebel bacanya.
    tapi cerpennya bagus sobat..
    salam :)

    BalasHapus
  12. Kisah unik, seru, menarik.. thanks

    BalasHapus
  13. Terima kasih mbak Shafira .

    BalasHapus
  14. ... dan aku menangis ...

    Ketika harusnya hidupnya penuh warna ia hanya punya kelam.

    Mengingatkan kita untuk selalu perhatian pada anak-anak ya, walaupun mungkin bukan anak kandung kita :)
    Cerpennya bagus ^_^

    BalasHapus
  15. Makasih mbak Della... iya mbak anak akan belajar dari perlakuan orang dewasa terhadapnya.

    BalasHapus