Anak-anak Madagascar : Jaga adik

10 komentar



Add caption





10 komentar :

Posting Komentar

Pare

21 komentar

Sudah lima bulan aku di Antananarivo, selama itu pula lidahku tetap tak bisa menikmati makanan yang agak berbeda ‘cita-rasa’nya. Beberapa Resto dan cafĂ© yang pernah aku datang, yang tentu menawarkan menu bermacam-macam dari khas India, Eropa, Timur tengah dan tentu Madagaskar tetap saja rasa-rasanya masakan Indonesia itu yang paling the best. Dan sayangnya tak ada restoran Indonesia disini. Tapi syukurlah di KBRI banyak ibu-ibu yang pintar masak, tentu aku senang jika sudah diundang makan siang di rumah-rumah mereka. Atau secara tak sengaja aku curhat ‘ih pingin banget makan mie ayam’…. Dan beberapa hari kemudian ada hantaran mie ayam special dari salah-satu ibu. Jadi nggak enak juga tapi mie ayam hantaran itu tentu aku habiskan dengan lahap. :D
Dan seminggu yang lalu aku bagai mendapat durian runtuh, ketika tahu di salah-satu rak di supermarket ada pare!. Iya, pare yang biar rasanya pahit tapi begitu menggoyang lidah. Soalnya jarang-jarang ada yang jual pare disini. Bahkan sayuran sejenis kacang panjang, bayam atau kangkungpun belum terlihat wujudnya di pasar-pasar.

Pare tentu enaknya ditumis dengan bawang merah, bawang putih dan tomat. Karena aku suka yang pedas-pedas aku tambahkan cabe rawit yang dipotong-potong. Dan kebetulan di kulkas ada sosis, ikut aku potong-potong dan srengg srengg srenggg.
 Satu mangkuk pare aku habiskan separuhnya sekali makan. Yang separuhnya lagi disisakan untuk makan malam bersama suami. Anak-anak? tentu mereka tak suka (syukurlah).
Padahal awal perkenalan lidahku dengan pare tak lah 'romantis' (kesulitan mencari kata yang tepat). Di keluargaku yang orang Aceh 'tok-tok' rasa-rasanya tak ada yang pernah memasak pare, tidak juga ibuku. Tapi melihat suamiku makan nasi berlauk pare begitu lahapnya di sebuah warteg di Jakarta, aku juga tergoda untuk mencoba. Dan lidahku menolak, rasanya pahit. Aku pikir aku tak akan mencobanya lagi. 
Tapi di lain kesempatan ketika lagi-lagi aku harus melihat keromantisan suamiku melahap si pare (lagi-lagi) di sebuah warteg yang lain. Aku penasaran juga. Apa enaknya? padahal jelas-jelas pahit kan?.
"Biasanya yang pahit-pahit itu bikin kita sehat ma." itu kata suamiku. Dan entah kenapa aku percaya padahal tak ada penelitian seperti itu (atau aku yang tidak tahu?).
Karena tahu suamiku suka, ketika tak sengaja melihat pare di pasar atau di penjual sayur keliling dekat rumah ketika di Jakarta, akupun membeli untuk kemudian ditumis. Tapi lama-lama aku juga suka dan tak lagi menganggap pahit itu sebagai rasa yang tak enak. Lidahku beradaptasi dan malah semakin mesra dengan sensasi pahit yang menggoda (halah!).
Untunglah disini ada pare. Besok aku akan kembali lagi ke supermarket itu. Semoga masih ada parenya.

21 komentar :

Posting Komentar

Kenangan manis : Bapak

31 komentar



Fhoto ini aku temukan di dalam album keluarga ketika pulang ke kampung halaman beberapa bulan yang lalu. Yang rasanya ingin aku ambil dan bawaserta kemanapun aku pergi. Tapi aku sadar kalau salah-satu kelemahanku adalah menjaga barang-barang dengan rapi. Takutnya aku malah akan menghilangkan fhoto ini nantinya, seperti beberapa barang berharga lainnya yang pernah aku hilangkan. Tapi aku tetap bisa membawanya dengan mengabadikannya dalam bentuk digitalkan?
Gadis kecil di fhoto itu aku, dan lelaki yang menggendongku tentu saja almarhum Bapak. Lelaki yang menjadi cinta pertamaku yang segala geraknya terasa indah. Aku bersyukur menjadi anaknya dan aku bersyukur diberi cukup waktu oleh Allah untuk benar-benar merasa dekat dan mengakrabi segala rutinitas Bapak.
 Iya rutinitas, yang bagi orang lain mungkin akan membosankan tapi bagi Bapak begitulah hidupnya. Aku dan anak-anaknya yang lain hafal segala kebiasaan Bapak. Pukul berapa beliau bangun, sholat berjamaah ke masjid, lalu membuka toko. Kami juga tahu jam-jam beliau ke warung kopi atau berkumpul dengan beberapa orang temannya. Apa saja yang Bapak tonton malam hari, makanan apa yang bapak suka bahkan jam tidur beliau akan sama setiap harinya. Begitu juga kami, anak-anak Bapak. Kami juga punya jam-jam yang harus kami patuhi. Kebiasaan yang harusnya berperan dalam mendisiplinkan kami hingga kami dewasa.
Bapak tidak banyak bicara (ingat tokoh ayahnya Ikal di Film Laskar Pelangi? Begitulah lebih kurang karakter Bapakku) tapi ia mencontohkan langsung dengan sikapnya. Kalau sedang berjalan aku sering tertinggal dan harus melangkah besar-besar bahkan berlari untuk menjajari langkah cepatnya. Ia juga sangat sederhana, sangat tahu mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan.  
Pernah aku menulis surat untuk Bapak, meminta dibawakan jilbab hitam karena aku membutuhkan jilbab itu untuk mengikuti salah-satu ekskul di sekolah asramaku. Dan beberapa hari kemudian Bapak datang mengantarkan jilbab itu. Hanya jilbab,  tak ada tambahan yang lain karena jatah bulananku telah dikirim beberapa minggu yang lalu. Pernah juga secara kebetulan Bapak mengikuti manasik haji di sekolahku, dia sama sekali tak memberitahu atau sengaja menemuiku akulah yang lalu berteriak-teriak dari arah jendela kelas begitu menyadari kalau Bapak ada diantara salah-satu calon jamaah haji yang sedang melakukan simulasi tawaf dekat kelasku. Dan begitu Bapak tahu aku yang berteriak dia melihat ke arahku lalu hanya tersenyum. Tak ada lambaian tak ada sapaan!. Padahal jarak rumah dan sekolah asramaku itu harus ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam.
Awalnya aku tak mengerti, mengapa Bapak tak seperti ayah teman-temanku yang lain. Yang jika berkunjung selalu mengajak anak-anaknya keluar. Makan di warung, berbelanja ke kota atau sekedar membawa banyak makanan untuk  persediaan di asrama. Meski aku tahu aku tak akan kelaparan selama di asrama karena dapur asramaku selalu menyediakan makanan meski dengan lauk sederhana. Dan aku akhirnya tahu alasan Bapak, hanya dengan kalimat pendek yang ia bilang ke ibuku. 
Ketika itu, liburan setelah penerimaan Raport kenaikan kelas akan segera dimulai. Teman-temankupun segera dijemput oleh orang tua masing-masing untuk berlibur di rumah. Akupun telah mengabarkan pada Bapak untuk menjemputku. Namun saat hari telah siang Bapak tak juga datang sementara kamarku telah mulai sepi. Aku mulai cemas, jangan-jangan Bapak lupa. Akupun menemui guruku namun peraturannya aku tak boleh pulang jika tak dijemput. Hingga sorepun datang aku tahu tak mungkin aku bermalam sendirian di kamar. Akupun kembali menemui guruku dan meyakinkannya kalau aku bisa pulang sendiri kalau aku bisa bertanggungjawab tak akan kemanapun selain langsung pulang ke rumah. Gurukupun tahu aku tak akan berbohong, ia lalu menemui seorang wali murid dari adik kelasku dan menitipkanku untuk pulang karena arah yang kami tuju searah. Hanya aku memang harus melanjutkan perjalanan seorang diri dan berpisah dengan mereka di terminal yang menuju, desaku.
Sampailah aku di rumah. Dan aku hampir menangis ketika melihat Bapak santai saja menonton berita setelah sholat maghrib sementara ibuku kaget melihatku pulang. Ia bahkan tak tahu aku akan pulang!.
“Ia harus mandiri, harus bisa menyelesaikan apapun masalah yang akan dia hadapi”
Hanya itu!. Akupun menahan tangisku dan lalu merasa ‘hebat’ karena merasa berhasil melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ketika itu aku duduk di kelas Tiga Tsanawiyah dan aku tahu banyak anak-anak lain yang bahkan lebih muda dariku yang bisa bepergian tanpa dikawal orangtua.
                Setahun kemudian, Bapak meninggal. Tapi banyak pelajaran berharga yang telah ia tanamkan. Segala kenangan tentang Bapak membuatku merasa mampu menyelesaikan masalah apapun yang akan aku hadapi. Termasuk seminggu ini, ketika ditinggal bersama dua anakku di salah-satu sudut Afrika sedang suami sedang dinas keluar ^^.
Ini foto Bapak dan kakak keduaku ^^

31 komentar :

Posting Komentar

Kata dalam gerbong puisi

4 komentar



Aku menjajakan kata dalam gerbong-gerbong puisi
tentang segala yang  acak
terlintas mungkin bisa kuhadiahkan untukmu

Sayangnya, perut laparmu tak  butuh puisi

4 komentar :

Posting Komentar

Genre : Kamu suka yang mana?

32 komentar



Tahu dong ya kalau yang namanya karya sastra itu punya banyak genre? Kalau yang namanya novel, roman atau selera penulisan fiksi sejenisnya dari masa ke masa mengalami perubahan?. Pernah baca Roman Siti Nurbaya yang melegenda itu? Menurutmu apa bedanya dengan novel metropop yang popular belakangan ini? Pernah baca Majalah Sastra Horison? Menurutmu apa bedanya dengan Majalah Remaja sejenis Story? Maaf ya kebanyakan nanya ;p. Yang jelas menurutku sih, segala genre atau gaya penulisan yang beda-beda itu punya peminatnya masing-masing. Jadi rasanya nggak perlu ribut mana karya yang lebih bagus. Meski terkadang wajar juga sih ada perdebatan tentang tata bahasa atau rambu-rambu EYD yang kadang-kadang dilanggar abis oleh beberapa penulis.
Dan sekarang aku sedang menikmati dua buku yang gaya penulisannya ‘kebanting abis!’ beda banget!. Yaitu Rumah Kacanya Pramoedya Ananta Toer yang merupakan buku pamungkas dari Tetralogi Buru dan My Stupid Boss 4nya Chaos@Work yang merupakan curhatan si penulis tentang si boss di tempat ia bekerja. Coba tebak buku mana yang bakal lebih cepat tamatnya? Kalau dilihat dari jumlah halaman mungkin memang tidak adil ya karena Rumah kaca terdiri dari 646 halamam sedang My Stupid Boss 319 halaman. Tapi dari gaya bahasa dan tema tentu kamu setuju kalau My Stupid Boss jauh lebih ringan dari Rumah Kaca. Karena memang latar belakang kedua penulis yang sangat berbeda terpisah oleh beberapa generasi juga tema yang diangkat juga berbeda.

Sekilas tentang keduanya :
Rumah Kaca adalah roman pamungkas dari Tetralogi Buru yang ditulis tahun 1988 yang pernah diterbitkan oleh 16 penerbit tidak hanya dalam edisi Indonesia namun juga edisi Beijing, Spanyol, Belanda, Amerika, Australia, Serbian, Sweden, Malayalam dan Jepang. Kalau aku sebagai pembaca saja butuh energy dan konsentrasi untuk mengerti alur ceritanya yang rumit tentu penulisnya juga banyak menguras tenaga dalam proses penulisannya. Berbeda dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa (Buku pertama dan kedua yang sudah aku baca, sayang buku ketiga belum ketemu) yang berpusat pada Minke (tokoh utama), buku keempat ini terjadi peralihan pusat penceritaan pada seorang juru arsip bernama Pangemanan yang ditugaskan untuk mencari cara dan siasat guna membungkam Minke.
Kalau kamu suka roman berlatar Sejarah dan bergaya sastra tinggi silahkan cari Tetralogi Buru, kamu akan tahu kalau Pramoedya memang layak mendapat berbagai penghargaan Internasional itu.
Nah, My tupid Boss cocok sekali dibaca bagi kamu-kamu yang ingin ‘penyegaran otak’. Karna gaya penulisannya memang mengalir dan kocak dengan campuran bahasa yang gaul dan menggelitik. Sebenarnya aku kurang suka sih karena isinya menceritakan kejelekan si Boss tapi yah itu tadi memang benar-benar segar. Dan Chaos@Work pasti punya alasan tersendiri untuk menuliskannya dan itu hak dia  dan tentu saja segala resiko seperti bakal ketahuan si Boss akan menjadi tanggungannya sendiri.
My Stupid Boss tentu saja punya penggemarnya sendiri yang tidak sedikit, terlihat dari banyaknya komentar-komentar penggemarnya di jejaring social dan blognya. Dan sudah tercetak empat buku!.
Jadi, kamu suka yang bergenre apa?


32 komentar :

Posting Komentar

Puisi

1 komentar


Rasa selalu ada pada kata yang berganti
Pun pahit hanya bahasa cecapmu yang berbeda
Bermain dengan jiwa meredup melayang
Wariskan wajah baru pada hidup pada mati
Menjejak aroma kenanga di luar  tak ada yang sama
Hanya kumpulan peristiwa yang kan terbuang
Atau tersimpan pada laci-laci berdebu
Aku mati malam ini menghempas kekosongan pada rindu benci

1 komentar :

Posting Komentar

Kenangan

7 komentar

Salah-satu arti kenangan bagiku adalah  sesuatu yang bisa membuatku senyum-senyum meski sedang sendiri. Senyum yang lalu akan berubah-rubah tergantung bagian-bagian episode yang terlintas. Dan ada banyak senyum ketika episode 16 sampai 10 tahun lalu terputar  dengan beberapa sensor yang diakibatkan sinaps-sinaps neuronku kolaps karena aging proses (bahasa sederhananya : lupa). Begini :
Seorang gadis berpipi chaby mencoba membulatkan mata sipitnya besar-besar di depanku sambil menghapus garis lurus yang telah aku tarik dengan sepotong kapur tulis untuk menandai daerah teritorial kekuasaanku.
“Nggak adil! Kenapa meja Rita lebih kecil?”
“Pokoknya kalau melewati garis ini akan kupukul!”  Itu suaraku ,heran kenapa aku dulu begitu galak ya?
“Nggak…nggak, garis ini yang benar” ia menarik garis lain yang baginya lebih adil. Matematikaku tidak jelek.  Meski aku benci setengah mati terhadap rumus-rumus phitagoras aku cukup tahu kalau garis yang ditarik Rita memang lebih mendekati proporsional untuk membagi meja kayu  yang akan kami tempati berdua untuk setahun ke depan. Tapi tentu aku ingin bagianku lebih luas!. Dan ‘Plak!’  penggaris di tanganku telah dengan keras mengenai tangannya.
“Sakit Ton!” mata sipit itu telah membulat maksimal.
“Dibilang jangan lewat!” suaraku juga maksimal.
Namun suara maksimalku membaur sempurna dengan berbagai dengungan teman-teman sekelas lain. Ada yang berkelompok sambil bernyanyi potongan-potongan lagu secara acak. Ada juga yang menghafal hafalan-hafalan wajib semisal Asmaul Husna, Surat Yassin, atau sekedar kosa-kata Arab. Juga ada yang hanya berbicara bosan sambil menunggu guru masuk. Hampir semua berbicara kecuali satu : ketua keamanan kelas!. Diam-diam dia mencatat nama-nama kami di selembar kertas yang lalu diumumkan di akhir kelas. Tapi aku lupa jenis hukuman yang dia siapkan untuk kami. Tentu hukuman yang kemudian membuat kami tak lagi berisik kecuali si ketua keamanan itu diamankan (baca : disingkirkan) terlebih dahulu.
Itu enam belas tahun lewat ketika aku baru duduk di kelas satu tsanawiyah. Dan setelah lewat sepuluh tahun si pipi chabby itu akhirnya berhasil juga kutemui tiga bulan yang lalu di warung ayam bakar Pak Sulis kuala simpang. Tak lagi ada dendam antara kami, meski gelas ‘Best Enemy Ever’ masih melekat padanya. ^^

7 komentar :

Posting Komentar

Make it happy ending!

25 komentar

                Seringkali ketika membaca sebuah novel yang tidak sederhana, cenderung dramatis bahkan tragis, aku latah menggumamkan doa “Make it happy ending please!”. Rasanya begitu menyakitkan jika segala tragedy berlapis yang dihadapi tokoh-tokoh tak real itu berakhir dengan kekalahan misalnya kematian, keterhinaan, keterusiran dan hal-hal tak menyenangkan lainnya. Dan gawatnya, cerita-cerita tragis inilah yang begitu terkesan dan membekas di memoriku. Bahkan aku akan memikirkannya sampai beberapa waktu kemudian.
                Mas Sakti Wibowo, seorang novelis dan tentor senior di Forum Lingkar Pena Jakarta pernah mengilustrasikan pembuatan konflik dengan : Masukkan si tokoh ke dalam sebuah kamar, lalu ikat tangan dan kakinya di sebuah kursi kayu, plester mulutnya, tutup matanya lalu bakar kamar itu!. Buat konflik berlapis yang terasa begitu berat. Lalu dengan cara yang unik buat jalan keluar dari konflik tersebut dengan sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang tak biasa. Maka pembaca akan terkesan dengan cerita itu.  Keren banget ya idenya?.  Meski tak gampang menciptakan cerita yang seperti itu, tetap harus ada alur logisnya. Dan ending itu tak selalu happy ada sad ending atau open ending yang bikin penasaran.
Begitu juga dengan film. Bahkan film tervisualisasi lebih nyata oleh para actor dengan acting dan berbagai ekspresi mereka. Segala konflik tersaji langsung di mata kita tanpa kita harus menghayati kata-kata yang tertulis sebagaimana di novel. Tidak nyata memang (ada juga beberapa yang memang berdasarkan True Story), tapi ya itu tadi, menurutku setiap tokoh atau siapapun harusnya bisa merasakan kemenangan dari segala perjuangan mereka. Mungkin ada yang berpendapat : begitulah hidup, tak seperti dongeng yang berakhir “Live happily ever after”.
Gambar minkam dari Google. images


Dan salah-satu film yang kebagian ‘jatah’ doaku adalah : The Shawshank Redemption. Bukan film baru memang karena diproduksi tahun 1994 yang juga diadopsi dari novelnya Stephen King. Film ini bercerita tentang Andy Dufresne (Tim Robbins) seorang Bankir dengan posisi bagus yang harus masuk penjara dengan penjagaan maksimum karena didakwa membunuh istri dan selingkuhannya. Meski ia tak pernah mengakui perbuatan itu. Pun kepada teman-teman sepenjara ia mengatakan “ Pengadilan yang membuatku masuk ke sini” tentu tak ada yang percaya, mereka menjawab “ Tak ada yang bersalah disini, tak tahukah kamu?”sambil mencibir.
 Hidup  di penjara dengan maximum security bukanlah hal yang mudah apalagi di malam-malam awal hingga dua tahun pertama. Siksaan fisik oleh para sipir, kewajiban kerja kuli, makanan yang berulat hingga sex harassment oleh beberapa terpidana lainnya membuatnya ‘babak belur’. Namun ia menemukan inner peace and self reliance dalam ketidakmanusiawian system penjara. Dan ia juga memiliki teman-teman yang memiliki hati dan kebaikan. Tapi Andy juga memiliki ‘hope’, sesuatu yang telah dilupakan oleh terpidana lainnya.
Hingga seorang terpidana baru masuk ke dalam penjara tersebut dan menemui kenyataan bahwa Andy memang tak bersalah. Ia rela menjadi saksi untuk itu, namun sang kepala penjara tak ingin Andy bebas karena terlanjur tergantung pada Andy karena Money Laudry yang dilakukannya dengan memanfaatkan Andy sebagai banker. Dengan licik iapun menembak si saksi lalu mengumumkan kalau ia mencoba melarikan diri dari penjara. Dan Andy mendapat siksaan berat agar ia tak berfikir bahwa ia tak bersalah dan menginginkan kebebasan.
Hufftt, rasanya tak ada harapan untuk Happy Ending!. Apalagi cerita-cerita yang berlatar penjara cenderung mirip dengan cerita-cerita perang yang berakhit tragis.
Tapi tunggu, film ini ternyata memberikan ending tak terduga (menurutku). Meski pada scene-scene mendekati akhir Andy terlihat putus asa dan menyerah. Tapi Andy begitu jenius untuk kalah. Ternyata ia telah merancang kebebasannya sejak hari-hari pertama masuk ke dalam penjara!. Ia mempunyai mimpi akan hidup selanjutnya. Dan aku puas!.

25 komentar :

Posting Komentar

Jacaranda

11 komentar

Jacaranda 
                Jacaranda, terasa familiar juga enak diucapkan. Aku jadi teringat Jaka tingkir juga Jaka tarup. Tokoh-tokoh legenda Indonesia zaman kerajaan dulu. Padahal nggak ada hubungannya sama sekalinya kecuali sama-sama Jaka. Atau juga Gusti Randa, ibunda,ananda,kakanda.  Tetap tak ada hubungan juga sih. Tapi yah itu tadi dari namanya kok kayak akrab gitu di lidah padahal Jacaranda itu berasal dari kata Portuguese yang artinya “hard core” atau “hard branch”.

Pohon cantik berbunga ungu ini  adalah satu dari 49 genus yang dimiliki dalam family Bignoniaceae yang biasanya tumbuh di daerah tropis dan subtropics . Asal awalnya dari South America yaitu Brazil, Argentina, Uruguay juga mexico dan central America. Lalu dikenalkan ke Australia, New Zealand, India, Fiji, Portugal dan beberapa daerah di Afrika, kalau Asia adanya di Nepal. Di Afrika malahan ada yang dikenal dengan Jacaranda City yaitu daerah Pretonia di South Afika dikarenakan begitu banyaknya jacaranda yang ditanam di sepanjang jalan, kebun-kebun dan taman-taman. Sehingga kota itu terlihat begitu ungu jika dilihat dari atas bukit.



Jacaranda yang mengelilingi Lac Anosy

Di Madagascar pohon ini juga banyak ditanam di sepanjang jalan, di halaman-halaman rumah  bahkan Lac Anosy yang menjadi landmarknya kota ini dikelilingi oleh jacaranda. Yang ketika sedang bermekaran tentu akan memperindah danau. Tampak semarak sekali, ungu dimana-dimana.


Anakku, ganteng-ganteng kan?

Seorang teman pernah bilang kalau dahulu kala ada seorang janda dan jejaka yang saling jatuh cinta. Namun cinta mereka tak mungkin disatukan karena adat setempat tak merestui hubungan seperti itu. Singkat kata mereka rela mati daripada tersiksa oleh perpisahan lalu merekapun bunuh diri. Keduanya lalu bersatu menjelma sebatang pohon. Itulah sebabnya mengapa tanah disekeliling jacaranda terlihat basah, katanya itu airmata mereka. Nggak enak kalau nggak percaya tapi aku penasaran juga, apa memang ada legenda seperti itu? Setelah mendengar cerita itu aku langsung googling dengan key word Jacaranda legend ; forbidden love ; mith dan kata-kata lain yang kira-kira cocok tapi tak ada cerita seperti itu yang terekan di google atau aku yang belum dapat ya?.

Adanya malah tentang mitos yang mengatakan  kalau bunga jacaranda terjatuh di atas kepala maka jika ia adalah seorang pelajar maka ia akan lulus ujian karena memang sih mekarnya itu di masa-masa ujian universitas.  Atau akan mendatangkan good luck lainnya. Kamu percaya?



11 komentar :

Posting Komentar

Tak ada Traffic Light

28 komentar
Jalanan kota

Pertama kali sampai di ibu kota Madagascar, Antananarivo aku dan keluarga dijemput dengan sebuah mobil. Ketika di perjalanan menuju hotel aku celingak celinguk menatap ke luar jendela. Meski gelap karena sudah pukul dua belas malam ketika itu, aku tetap bisa melihat jalanan yang lenggang. Mobilpun melaju santai melewati jalanan yang kiri kanannya  terasa sangat asing.
“Kok jalanan kecil terus ya? Kapan masuk ke jalan utamanya?”  batinku.
Dan ternyata jalan yang aku bilang kecil itu adalah jalan utama. Tak ada beruas-ruas jalan yang dipenuhi berbagai kendaraan seperti di kota besar layaknya Jakarta. Tak ada juga jalan tol, jalan layang, lintasan kereta api apalagi monorel! Dan tak ada Traffic Light!. Kalau di Jakarta tak ada lampu merah-kuning-hijau yang mengatur para pengemudi bisa dipastikan akan berdampak macet berkilo-kilo meter ya?.
Jalanannya juga tak melulu aspal mulus (beneran aspal itu mulus?), pada jalan-jalan yang menanjak biasa nya dipasang kotak-kota seperti ubin sejenis paving block. Mungkin itu dimaksudkan agar roda-roda mobil tidak mengalami slip, jika hujan air tidak akan tergenang karena akan cepat meresap pada celah-celah antar kotak-kotak itu? (ini hanya teoriku ya bisa jadi salah).

Aku menyimpulkan kalau kota ini begitu sederhana. Dan daya tariknya itu ada pada kesederhanaannya itu sendiri.

Aku suka lihat bukit-bukit tinggi itu :)

Taxi, terlihat tua? 


Meski jalanan kecil bukan berarti kendaraan disini sedikit. Meski tak sepadat Jakarta (kenapa terus membanding-bandingkan sih?) disini juga ada yang namanya mecet. Biasanya pada jam-jam sibuk seperti : jam masuk kerja, jam istirahat kerja dan jam pulang kerja. Tapi tak lah sampai berjam-jam!. Macetnya itu karena ruas jalan yang sempit, sedang perilaku individunya menurut aku sudah tertib. Terbukti meski tak ada lampu merah,pengemudi sudah tahu kendaraan dari arah mana yang lebih diprioritaskan. Kalau hari Sabtu dan minggu jalanan akan sepi kecuali di depan-depan pasar tradisional yang memang tak pernah sepi kecuali tengah malam.

Ok, bloogies ini sedikit gambaran tentang kota Antananarivo ^^ semoga banyak sisi lain yang bisa diceritakan kapan-kapan. Oh ya aku lagi baca sebuah novel karangan Saniep Kuncoro yang berjudul Garis Perempuan, semoga juga bisa mereviewnya disini kapan-kapan ;D.



Salam ^^

28 komentar :

Posting Komentar

Kunjungan di hari Minggu

6 komentar

                Sebenarnya bukan hari Minggu saja, sudah sejak beberapa hari yang lalu makhluk-makhluk manis yang disebut anak-anak itu mengintip-intip ke dalam rumah kami. Aku sering melihat mereka ketika akan mengantar Anas ke sekolah di pagi hari atau ketika menjemputnya di sore hari. Mereka sering bermain di sepanjang jalan yang kami lalui karena di dekat situ jugalah rumah mereka. Ketika melintasi mereka itu aku sering berbisik kepada Anas.
                ‘Senyum Nas, mereka itu teman-temanmu disini’
                ‘Tapi aku nggak bisa ngomong Bahasa mereka ma’ protesnya.
               ‘Justru mereka nanti yang akan mengajarkan kamu, yang penting kamu senyum saja dulu’ dan ragu-ragu iapun tersenyum pada mereka. Dan seperti orang-orang dewasa di sekitar sini yang selalu membalas senyuman atau sapaan, anak-anak itupun tak sekedar membalas senyum itu namun memberi bonus dengan tertawa lebar memperlihatkan gigi geligi mereka yang kontras dengan warna kulit mereka lalu ‘menceracau’ dengan bahasa mereka yang aku juga tidak paham.

                Hari Minggu kemarin, sepertinya mereka bosan dengan rutinitas ‘sekedar senyum’, merekapun menggedor-gedor pintu pagar rumah kami. Dadabe yang membukakan pintu ragu-ragu menyuruh mereka masuk sebelum mendapat izin dari aku. Tuhan, siapa sih yang tega menyuruh mereka pergi padahal senyum polos mereka begitu menyentuh (lebai : mode on).
                “Suruh masuk saja Dadabe” kataku yakin.
Awalnya hanya dua orang, semakin siang semakin banyak yang datang. Mereka bersemangat sekali bermain ayunan, bersepeda, memanjat pohon dan berlari-lari di halaman.



Sebenarnya aku khawatir juga sih dengan kedatangan mereka. Sebagai orang baru aku tidak mengenal anak-anak ini juga keluarga mereka. Apakah aman membiarkan mereka bebas di halaman rumah kami? Apakah orang tua mereka mengizinkan mereka bermain disini?. Bagaimana kalau ada yang terluka atau menangis saat bermain di rumah kami? Dan banyak kekhawatiran lain hingga seharian itu ketika mereka bermain aku tak berani mengerjakan pekerjaan lain terus mengawasi dan memperhatikan mereka.



Anak-anak itu seperti lumrahnya anak-anak lain. Polos meski terkadang ‘nakal’. Oh tidak, mereka tidak nakal mereka hanya ingin tahu dan mengeksplorasi segala hal. Bukankah itu hal yang bagus?. Dan aku melihat kepada dua orang putraku Anas dan Azzam, meski mereka belum bisa berbahasa France atau Malagasy merka tetap ‘nyambung’ bermain. Meski mereka tampak berbeda mereka tak menghiraukan perbedaan yang ada, yang penting main. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sering mempermasalahkan perbedaan?. Mari belajar dari anak-anak.

6 komentar :

Posting Komentar

9 Matahari : Tekad atau Nekat sih?

11 komentar


Keinginan kuat itu tekad, bukan nekat (Adenita)

 Gimana temans, setuju dengan quotes di atas?. Dan menurutmu, ketika orang tua sama sekali tak menyuplai biaya buat bayar pendaftaran masuk universitas, bayaran spp, bayar kos dan biaya hidup lainnya, sedang fee dari kerja sebagai penyiar radio juga tak mampu menutupi semua kebutuhan yang tak sedikit itu. Maukah kamu tetap keukeh kuliah?
Lalu, jika kamu juga tetap ingin kuliah dan meraih gelar sarjana, maukah kamu terlilit hutang hingga puluhan juta rupiah? Ingat, hutang itu atas namamu (usiamu masih dua puluhan) yang nominalnya bisa mencapai tujuh puluh juta rupiah. Sedang setelah selesai kuliah, orang-orang:  bahkan keluargamu sendiri tak yakin ijazahmu akan berguna!. Haduhh berat ya? Tapi itulah yang dialami oleh Matari. Dan ia yakin perbuatannya itu bukan sebuah kenekatan, meski nyatanya ia kewalahan juga karena tak memiliki planning yang baik.
Membaca novel 9 matahari karangan Adenita yang (sepertinya) terinspirasi dari kisah nyata ini membuat saya terpukul (halah; lebai!). Sebagai novel motivasi, kisah ini dibuka dengan hal-hal yang sedikit berbeda (menurut saya loh ya). Tidak lulus UMPTN setelah dua tahun lulus dari SMA, kuliah Diploma 1 pada jurusan yang tak diingini, lalu dibiayai kuliah (juga pada jurusan yang tak disukai) oleh seorang tantenya yang kemudian hari ia ketahui dari dompet selingkuhannya (kuliah ini juga tak ia selesaikan karena beban moral) tak membuat Matari melupakan mimpinya untuk jadi sarjana. Hingga ia membaca pengumuman penerimaan mahasiswa baru di salah-satu Universitas favorit di Bandung dan jurusannya adalah jurusan yang sangat ia minati : Ilmu Komunikasi! Itu adalah kesempatan yang datang pada tahun ketiga.
 Iapun membujuk kakak satu-satunya untuk mendukungnya. Di tengah krisis keuangan keluarga karena ayah yang tak juga kembali bekerja setelah di phk dari pabrik dan ibu yang hanya ibu rumah tangga biasa tanpa punya pemasukan apalagi tabungan tentu tak bisa diandalkan. Padahal kuliahnya adalah Program ekstensi yang tentu biayanya jauh lebih mahal dari program regular. Maka satu-satunya cara yang Matari fikirkan adalah berhutang!. Tidak pada satu orang namun pada beberapa orang sekaligus!. Begitu terobsesinya ia dengan impiannya hingga ia mempunyai definisi sendiri tentang impian dalam kamus hati dan fikirannya
……kepercayaan begitu kuat mendorong seseorang untuk maju. Bahkan ketika raganya dirasa sudah tidak mampu lagi untuk bekerja. Ada akal disana, ada semangat, ada sebuah alam sadar yang kemudian mampu menggerakan sebuah roda yang bahkan sudah kempis atau bocor sekalipun. Roda itu memang sudah tidak bisa berputar, tapi ia mampu bergerak dan berpindah tempat- bukan dengan cara berputar, tapi dengan cara didorong dan diseret. Apapun… tapi roda itu berpindah tempat!.... (halaman : 36)
Temans, aku suka sekali analogi roda ini! Dan memang begitulah perjuangan Matari setelah berhasil masuk dalam lingkungan kampus. Ada semangat belajar tinggi yang diwarnai rasa waswas dengan keharusan mencari uang. Ada impian yang tak ingin ia lepas meski orang-orang mengatakan ia tidak realistis.

Penampakan novel pinjaman dari pustaka kantor suamiku.

Berbagai konflik menghadangnya dan yang terparah adalah : Gangguan Factitious juga Sindrom Munchausen yaitu salah-satu bentuk gangguan psikologis yang dilandasi oleh dorongan ketidaksadaran individu untuk berperan sebagai penderita sakit yang dilatar belakangi oleh disfungsi keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Kekerasan yang kerap ia alami, baik secara verbal maupun fisik menimbulkan trauma pada pertumbuhan hidupnya. Hingga ia mengalami periode ekstrim dimana ia terbaring berminggu-minggu terhimpit segala masalah pelik hingga melukai dirinya sendiri dengan menyayat-nyayat pergelangan tangannya dengan pecahan gelas.
Untunglah kemudian datang orang-orang yang memberikan kasih padanya, memberikan semangat baru untuk tak berhenti karena ia telah memulai “Pantang Pulang Sebelum Berhasil”. Dan iapun mulai berguru pada sekolah kehidupan. Everything happens for reason. Dan iapun kemudian berkenalan orang-orang yang juga mempunyai mimpi.
Lalu bagaimana kuliahnya? Berhasilkah ia jadi sarjana? Bisakah ia melunasi hutang-hutangnya yang semakin membesar?. Sepertinya lebih seru kalau temans baca sendiri kisahnya Matari di novel 9 Matahari. Karena endingnya wow banget! Membuat aku tersadar bahwa aku juga punya mimpi yang masih menggantung pada langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba (halah maksudnya apa ini?).
Oke ini reviewku, Happy Bloging! ^^

11 komentar :

Posting Komentar

Bonjour!

8 komentar


Masalah yang paling terasa sejak hampir dua bulan sampai di Antananarivo adalah : bahasa!. Nggak enak bangetkan ketika ada orang yang sudah tersenyum ramah ke kita lalu ngajak ngobrol macam-macam, tapi kitanya malah bengong nggak ngerti apa yang diomongin dan nggak bisa balas kecuali bilang “sorry, I don’t speak france!” sambil senyum-senyum malu. Artinya gagal dapat saudara baru di belantara tanah asing. Dan hidup tanpa saudara bagai rendang tanpa cabe L.
Begitu juga ketika harus ke pasar. Transaksinya jadi susah. Aku tahunya Cuma bilang “C’est combien? Berapa harganya?” giliran penjualnya jawab, bingung lagi. ‘Berapa ya?’. Lalu terpaksa ngeluarin handphone, buka aplikasi kalkulator dan ngomong lagi,  “berapa mbak? Ketikin angkanya dong!” sambil nunjuk tombol-tombol angka. Dan mengertilah ia kalau aku bukan orang Malagasy karena memang sih wajah-wajah dan postur tubuh kita dan mereka agak mirip-mirip. Kalau penjualnya nakal pasti harganya akan dinaikkan dari harga sebenarnya, tapi aku tetap bisa nawar dengan mengetik lagi deretan angka di bawah angka-angka yang ia ketik. Kebanyakan mereka akan menggeleng. Dan mereka menang aku malas nawar-nawar lagi dan terpaksa ambil biar kalau dikonversikan ke rupiah rasanya ‘sayang uang’. Oya 1 ariary (mata uang Madagaskar) setara dengan 5 rupiah. Kalau harga sepotong baju misalnya 30.000 ariary itu artinya Rp.150.000 padahal baju yang seperti itu mungkin di tanah abang bisa dapat Rp. 50.000 loh.
Jadi, aku harus belajar bahasa Perancis nih. Banyak cara untuk belajar tapi melawan malas itu yang susah.
Kalau hanya mengandalkan kedisiplinan dari diri sendiri (otodidak) rasanya akan lambat, apalagi kalau punya penyakit ‘malas ngomong’. Padahal belajar bahasa apapun paling efektif yah dengan praktek langsungkan? Berani ngomong biar salah. Tapi sifat pendiamku membuatku malu-malu untuk ngomong. he..he….
Cara lain adalah belajar private atau take course. Dan adalah madam Faqih yang sudah malang melintang memberikan private bagi orang-orang Indonesia disini, jadi aku juga memilih private dua kali seminggu dengan beliau.



Ini sudah pertemuan ketiga dengan Madam Faquih, setidaknya aku sudah bisa memperkenalkan diri dan menyapa orang-orang yang baru kutemui dengan kalimat sederhana semisal :
“Bonjour”
“Comment vous appelez vous?”
dan lain-lain.

 Oh ya Jumat depan aku akan diajarkan angka-angka (uang) biar bisa shoping! :D

Bisa juga belajar secara online di :

 Tapi ya itu tadi kalau berani ngomong langsung dengan native speaker pasti bisanya leboh cepat.


8 komentar :

Posting Komentar

Real Madagascar!

12 komentar

Setelah tiga bulan ‘mengabaikan’ blog  ini rasa-rasanya ada yang berbisik ‘ayo nulis lagi! Ayo posting lagi! Banyak cerita yang harus ditulis kan?’ Dan memang harusnya banyak hal yang bisa diceritakan dari akhir Mei sampai penghujung Agustus!
Kejadian-kejadiannya cepat saja berlalu : Anas yang sudah menyelesaikan Tk-nya, Tes masuk SDSN yang ‘gagal’, kabar gembira penempatan suami ke Madagaskar, Dua Minggu menyususri Medan-Banda Aceh, cerita-cerita Ramadhan, persiapan keberangkatan yang ‘gedubag-gedebug’, pengumpulan tugas-tugas Flp yang melewati deadline untungnya para pejabat Flp baik hati tetap memberi toleransi dan banyak cerita yang terlewatkan tak sempat terdokumentasi di blog ini.
Tapi tak apa, yang penting sekarang aku mau nulis lagi ^^. Oya kami sekeluarga tak lagi di Jakarta sekarang kami sudah di Madagaskar. 
Apa yang kamu tahu tentang Madagaskar?
Yang ini?
 atau yang ini?


Awalnya aku juga tahunya Madagascar ya kartun-kartun lucu itu, sampai suamiku memberi kabar sepulang dari kantor bahwa kami sekeluarga akan ke Antananarivo. Dari pelafalannya aku mulai menebak-nebak. Mungkin Antananarivo itu sekitar Amerika Latin? Atau dekat-dekat Eropa (ngarep!!!)
“Googling aja” usul suamiku melihat raut mukaku yang bengong dan padahal dia juga had no idea about it ;p
Karena memang internet di rumah nyala terus, nggak butuh waktu lama untuk tahu kalau Antananarivo itu adalah capital dari Madagascar. Nah Madagaskar itu ternyata tidak hanya kisah Alex si singa, Marty si Zebra, Glona si kuda nil dan melman si Jerapah yang terjebak di Afrika atau Eropa yang menghadapi banyak rintangan untuk kembali pulang ke New york City. Atau cerita empat ekor pinguin : Skipper, Kowalski, Private dan Rico yang berlagak 'paramilitary' untuk melindungi rumah mereka di Central Park Zoo.  Ada banyak ‘petualangan’ menarik lainnya yang benar-benar real.
Ini dia hasil tanya-tanya sama mbah Google :


 Yang berwarna hijau itu dia, kalau Globenya diputar ke kiri sedikit akan tampak wilayah Indonesia. Nggak terlalu jauh ya? hanya melintasi Samudra Hindia! Tapi jangan pernah deh ngebayangin luasnya samudra Hindia itu kayak kali Ciliwung :D

Dan menurut om Wikipedia:
 Madagascar itu adalah pulau terbesar keempat di dunia terletak di lepas pantai tenggara afrika. Selain pulau utama, pulau-pulau kecil Juan de Nova, Pulau Europa, kepulauan Glorioso, Pulau Tromelin dan Bassas da India juga menjadi wilayah Republik Madagaskar. Walaupun secara geografis berdekatan dengan Afrika namun Sejarah geologi, biologi dan demografi Madagaskar berbeda dengan Afrika.
            Secara geologi, Madagaskar berada pada lempeng yang terpisah dari benua utama Afrika. Kebanyakan tanahnya berwarna merah, menunjukkan keadaan tanah yang telah melapuk. Akibat isolasi ratusan juta tahun tersebut flora dan fauna Madagaskar sangat khas dan banyak spesies endemik ditemukan disana. Keadaan ini mirip dengan yang terjadi di Pulau Sulawesi.
Dan informasi menariknya manusia pertama yang menghuni Madagaskar berasal dari Nusantara yang diperkirakan karena hubungan perdagangan pada awal-awal abad Masehi. Dan ternyata wajah-wajah penduduk Madagaskar juga mirip-mirip loh dengan kita jadi yah gampang aja berbaur di sini (harusnya!). Untuk menyebut bahasa dan bangsanya dipakai nama “Malagasy” Namun karena Madagaskar termasuk koloni Perancis dulunya,banyak pengaruh Perancis terlihat kuat disini bahkan Bahasa yang dipakai disini selain Bahasa Malagasy juga Bahasa Perancis.

Dibawah ini sedikit penampakan kota Antananarivo : 


Dan ada banyak penampakan lain yang tak hanya bercerita tentang gedung-gedung indah ini, akan ada cerita-cerita real lain yang juga menarik. Semoga masih ada tulisan sambungannya :)

Happy Blogging ^^

12 komentar :

Posting Komentar