Secuplik Episode : J50K

7 komentar


Jejak-jejak debu berlari, tertatih dalam letih
Meninggalkan kenangan bagi jiwa yang rapuh
Ia pergi sebagai musuh
Musuh yang menghancurkan kasih kekasih

Dari balik jendela pesawat, Robert menatap jauh kebawah. Pada daratan petak-petak yang  tampak mengecil. Semakin tinggi burung besi ini terbang daratan itu akan tertutup gumpalan awan tipis yang perlahan berlapis menebal hingga tak tampak apapun selain biru berpadu putih. Semoga langit tak mengelam karena sebuah hati yang terluka. Ia sadar telah menciptakan luka tapi ini hanya pengorbanan. Dan mereka semua menjadi korban dari ambisinya. Mereka harusnya mengerti, ia tak sengaja. Mana ia mampu mempertahankan kamera dan semua catatannya ketika tangan-tangan bersenjata itu memaksanya. Mana mau ia mengorbankan sepotong nyawa yang ia miliki seperti yang mereka lakukan untuk mimpi mereka padahal mimpinya sendiri masih terlalu tinggi.
Perlahan ia meraba cincin di jari manisnya, memutar-mutar cincin itu gelisah,membuka lalu membuangnya sembarang arah. Tak perlu lagi menyimpan benda itu seperti segala kenangan yang harusnya pupus dari ingatannya. Ia tak membenci lakon yang telah ia perankan. Bahkan lakon ini terlalu manis. Kemanisan yang harus dibuang agar tak menggerogoti nuraninya. Ia lelaki dewasa yang mandiri, seharusnya wanita itu juga menjadi dewasa bahwa cinta tak boleh membelenggu langkah. Ia tak berbohong tentang cinta dan segala hal yang ia katakan, hanya langkahnya tak mungkin ia henti. Negeri kecil serupa  kebun syurga dengan berbagai anugrah alamnya itu harus ia tinggalkan. Mungkin wanita itu akan membencinya kini, tapi ini hidup, realistislah melihat masalah. Bukan hanya aku yang salah fikir lelaki itu membela diri, menutup gugup yang sebenarnya tersembunyi dibalik angkuhnya.
Setelah berminggu-minggu menghadapi interogasi dan tekanan pihak embassy Robert akhirnya dideportasi kembali ke negaranya. Dan ia tak tahu kalau pemerintah negri ini telah memasukkan namanya dalam black list pengunjung asing. Namun dilain pihak ia disambut bak pahlawan oleh teman-teman jurnalisnya. Mereka mengelu-elukannya yang berhasil menyingkap berita yang sengaja ditutup dan disembunyikan dari dunia. Dan itu ia lakukan dengan mewawancarai dan mengamati langsung dari tokoh-tokoh utama yang juga tak sembarang waktu mau bicara. Ia tak menyesal karena ia juga mendapatkan yang ia mau. Semua file-file penting telah ia amankan dalam emailnya dan published di website American News. Hanya tinggal melengkapi dengan analisa-analisa teoritis dan beragam rumus untuk mendapatkan kesimpulan. Dan gelar Doktor akan diraihnya bahkan ia masih berambisi menyandang gelar Profesor berbekal Grounded Researchnya. Hidup baru dengan semangat baru menantinya di negaranya sendiri. Harusnya senyumnya melebar.
Namun dady, lelaki tua itu menyambutnya murung di depan pintu. Menatapnya seolah ia bocah delapan tahun yang tertangkap mencuri apel tetangga.Meski lelaki itu tak berkata apa-apa ia tahu ada kecewa yang tersirat dari mata tuanya. Juga pelukan dingin penyambutan kepulangan anak semata wayangnya. Robert tahu apa yang ada dalam fikiran Daddy ‘Harusnya kau membawanya serta’. Tapi semuanya tak mudah harus ada prioritas dan ia telah memilih prioritasnya.

Sementara itu di sebuah klinik Azka semakin tampak pucat.Ia merasakan kontraksi yang menghebat. Keringat memenuhi tubuhnya.
Tuhan” ia mendesah dengan suara pasrah. Anak ini akan lahir tanpa mengenal ayahnya, ampuni kebodohanku yang begitu mudah terbelenggu cinta. Robert meninggalkannya tanpa berkata apa-apa hanya selembar surat cerai yang ia titipkan pada Sayed yang tampak tak tega menyampaikan padanya. Azka mengeluh, kenapa lelaki itu tak mau bertemu dengannya menyampaikan sendiri surat cerai itu hingga Azka tak perlu bersusah menahan beragam Tanya yang juga bernada sama: kenapa?.
Ia hanya butuh jawaban tidak apa terbuang setelah itu fikirnya. Semua firasat buruk yang coba ia tutupi terbukti sudah. Cinta bagi lelaki itu adalah sesuatu yang bisa berubah, berpindah lalu dilupakan. Dan Azka. Bagaimana mungkin ia melupakan apa yang telah terjadi sedangkan sesosok bayi akan hadir dalam hidupnya dan tentu itu adalah sebuah kenangan yang dititipkan laki-laki itu. Bagaimana mungkin ia tak menatap wajah merah bayi itu, tak mencium aroma manisnya dan hatinya meretak untuk kesekian kali saat menatap mata sang bayi. Mata itu berwarna hijau zamrud.







7 komentar :

  1. Cuma cuplikan episode kak ^^

    BalasHapus
  2. Go go go ..^^

    The new writer is born, hehe

    BalasHapus
  3. Sukses ya mbak ...
    Btw, itu bikin 'You might also like'-nya gimana caranya ya .. keren ... ^__^

    http://mugniarm.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Progresnya udah berapa kata mbak? :D

    BalasHapus
  5. Fahri : Amin ya rabbal alamin!!!! aku memang berharap terlahir kembali hi..hi..dalam wujud asli berbentuk putri #nggak nyambung!

    Mbak Mugniar : Nggak ngerti jg mbak...itu suamiku yg desain ntar tak tanyain ya skrg beliau lg tak disamping :)

    Una : Malam ini 18ribu na...kejar2an terus nih :D

    BalasHapus
  6. Mugniar Marakarma: Tinggal tambahkan widgetnya dari http://www.linkwithin.com/learn?ref=widget

    BalasHapus