Book Review : Bumi Manusia (Roman Pertama dari Tetralogi Buru)

38 komentar



“Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam fikiran apalagi dalam perbuatan” Pramoedya Ananta Toer.
Membaca Roman ini membuat saya seolah hadir pada akhir Abad ke-19 melihat dengan jelas kehidupan Hindia Belanda dengan perbauran bermacam ras manusia: Pribumi, Eropa toktok, Peranakan, Tiongkok juga Jepang. Cerita yang memadukan kisah romantis, ketidakadilan kolonialis, pemikiran-pemikiran Liberal dan keterbelakangan yang berupa sembah pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan manusia. Semuanya tertulis begitu apik, detail dan mengalir. Jika biasanya saya selalu ingin cepat menghabiskan novel yang saya baca karena penasaran dengan ending, membaca roman ini membuat saya betah berlama-lama pada setiap lembarannya. Menikmati kata perkata yang membangun keutuhan karya sastra dari seorang sastrawan Indonesia kawakan yang banyak mendapat penghargaan sastra International ini.
Pramoedya Ananta Toer  telah melahirkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih 42 bahasa asing. Dan saya beruntung dapat menikmati salah-satu karya yang ia tulis ketika ia sedang mendekam di kamp kerja paksa tanpa proses peradilan di Pulau Buru ini (dan memang hampir separuh hidupnya dihabiskan di penjara: 3 tahun dalam penjara kolonial, setahun ketika Orde Lama dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru).
Adalah Minke (tokoh utama yang bercerita dalam kisah ini) seorang Priyayi Jawa yang beruntung dapat menyerap Ilmu Pengetahuan Eropa di sebuah sekolah H.B.S. di Surabaya ketika sebagian besar  kaumnya belum lagi mampu baca tulis. Ia mengagumi segala perkembangan Modern yang hanya ia dengar dari guru-guru Eropanya. Dan Magda Peters adalah guru yang sering memuji dan membelanya mengesampingkan label pribumi yang tersemat padanya yang dipandang rendah oleh teman-teman Eropa atau peranakan lainnya. Meski pribumi,
ia adalah murid yang gilang gemilang. Magda Peters jugalah yang banyak berkisah tentang persamaan hak dalam kehidupan sosial ia bahkan mengenalkan Max Havelaar atau De Koffieveillingen der Nederlandsche Handelsmaatschappij-nya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker pada minke. Hal itu menginspirasi Minke untuk juga menulis tak hanya iklan lelang namun juga kisah orang-orang di sekitarnya. Dan koran S.N. v/d D banyak memuat karyanya dalam Bahasa Belanda yang memakai nama pena Max Tollenar. Salah-satu karyanya dipuji di depan seluruh siswa dan para guru Eropa tanpa mereka tahu itu adalah karyanya.
 Kisah semakin menarik meski mendatangkan konflik ketika ia berkenalan dengan Annelies Mellema yang digambarkan memiliki kecantikan melebihi Sri Ratu Wilhelmia. Annelies berparas Eropa berkulit dan bermata pribumi. Ia putri nyai Ontosoroh yang bernama asli Sanikem dengan Herman Mellema pemilik Perusahaan Boerderij Buitenzorg di Wonokromo. Keluarga Annelies yang aneh mendatangkan sikap waspada bagi Minke namun ia tak menampik bahwa ia memiliki ketertarikan yang kuat tak hanya pada Annelies namun juga pada Nyai Ontosoroh yang berkepribadian  dan berpemikiran hebat (terlalu luar biasa untuk seorang gundik) yang seolah mampu menggenggam hati siapapun untuk bertekuk padanya. Dan Annelieslah yang menceritakan kisah kelam Nyai Ontosoroh kepada Minke. Bagaimana di usianya yang belia ia dijual sang ayah jurutulis Sastrotomo kepada administratur Tuan Besar Kuasa Herman Mellema karena ambisinya untuk menjadi juru bayar di Pabrik gula Tulangan Sidoarjo. Menjadi Gundik bukanlah yang ia maui. Semua lapisan kehidupan menghukum keluarga nyai-nyai sebagai tingkat susila rendah; juga semua bangsa: pribumi, Eropa, Tionghoa dan Arab. Hal itu membuatnya mendendam tak hanya pada ayahnya ia juga mendendam  pada ibunya sendiri yang seperti kebanyakan wanita pribumi lain tak memiliki kemampuan melindungi anaknya meski ingin. Ia menghukum keduanya dengan tak lagi menganggap mereka sebagai orang tua : tak mau menemui mereka, tak sudi membaca dan membalasi surat bahkan ketika ibunya menangis merajuk-rajuk ingin menemuinya ia hanya berpesan.
“Anggaplah aku hanya sebagai telornya yang telah jatuh dari peterangan. Pecah. Bukan telur yang salah”
Namun Tuan Besar kuasa tak memperlakukannya sebagai budak belian ia mengajarinya banyak hal tidak hanya baca tulis Belanda dan Melayu namun juga segala adat dan budaya Eropa. Memberinya bacaan rutin yang diperintahkan untuk ditamatkan dan diceritakan ulang segala isinya, mengajarinya cara berdandan dan menjaga kebersihan diri juga segala pengetahuan tentang administrasi dan urusan perusahaan. Sanikem tumbuh menjadi pribadi baru ia berubah menjadi wanita Belanda berkulit coklat.
 Rumah tangga mereka baik-baik saja meski Herman Mellema tak menikahi Sanikem namun kedua putra darinya Robert Melemma dan Annelies Mellema diakuinya di depan Pengadilan Hindia Belanda. Dan petaka itu terjadi dengan kemunculan seorang  Eropa muda yang bersikap angkuh di depan rumah mereka secara tiba-tiba di suatu hari. Ia adalah Ir. Maurits Melema anak tuan Mellema dari istrinya Mevrouw Amelia Hammers yang ia tinggalkan di Nederland. Ir  Maurits Melema menghujat kelakuan sang ayah yang dianggapnya bermoral rendah hidup tanpa pernikahan dengan seorang pribumi sedang ia belum menceraikan istri sahnya. Lalu tanpa menghiraukan pembelaan sang ayah ia pergi begitu saja meninggalkan Herman Mellema yang retak oleh perasaan bersalah  hingga tak perduli lagi pada keluarga Nyai Ontosoroh dan perusahaannya. Ia melarikan diri pada segala minuman keras dan pelacur. Nyai Ontosoroh kecewa dan membenci keringkihan tuan Mellema ialah yang lalu pontang panting mempertahankan perusahaan dan melibatkan Annelis dalam mengolah perusahaan sedang Robert Mellema berwatak Eropa sangat benci pada pribumi juga pada ibunya sendiri. Di matanya ibunya hanya pribumi yang rendah. Meski ia tak juga diperdulikan oleh ayah yang ia kagumi.
Berbeda dengan Nyai Ontosoroh, Annelies memiliki kepribadian yang rapuh dan manja meski ia dididik keras untuk mampu mengurusi perusahaan namun ia tak memiliki kontrol atas diri sendiri ibunya yang selalu menentukan geraknya, serupa boneka kesayangan. Pertemuannya dengan Minke membuatnya merasa memiliki teman tapi ia tak hanya menganggap Minke sebagai teman, ia jatuh cinta pada Minke dan ketika Minke kembali ke Surabaya ia jatuh sakit yang menurut dr Martinet dokter keluarga mereka hanya Minke yang bisa menyembuhkan dan nyai Ontosoroh yang tak ingin putrinya tersiksa  meminta Minke tinggal di rumah mereka.
Minke bergulat dengan pendapat masyarakat umum. Semua lapisan kehidupan menghukum keluarga nyai-nyai dengan tingkat susila rendah dan ia juga akan terkena hujat jika tinggal bersama mereka. Dan sahabatnyalah  Jeans Marais pelukis asal Perancis yang juga seorang mantan serdadu kompeni yang terlibat Perang Aceh menyadarkannya “Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan?. Kau terpelajar Minke, seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”
Jeans Marais sendiri mendapat kebijakannya dari pengalaman perangnya di Aceh. Ia mengakui: prasangkanya tentang kemampuan perang pribumi ternyata keliru. Kemampuan mereka tinggi hanya peralatan rendah; kemampuan berorganisasi juga tinggi. Orang Aceh punya cara berperang khusus. Dengan alamnya dengan kemampuannya dengan kepercayaannya telah banyak orang kompeni dihancurkan. Mereka membela apa yang mereka anggap sebagai haknya tanpa mengindahkan maut melawan terus dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan. Dan Jean Marais mengagumi dan mencintai bangsa pribumi yang gagah perwira. Juga jatuh cinta pada seorang wanita Aceh yang awalnya adalah tawanan kumpeni. Tragis, wanita Aceh itu terbunuh oleh adik lelakinya sendiri yang menikamnya dengan rencong beracun karena telah terjamah tangan kafir.  Tangan Jean Marais!. Dan di Surabaya inilah Jeans Marais mencoba menghadirkan pesona wanita Aceh yang ia cintai itu dalam sapuan kuasnya sambil membesarkan Maysaroh anak yang tak sempat puas menikmati kasih ibunya.
Minkepun lalu tinggal di Boerderij Buitenzorg merawat Annelies hingga ia mendapat keceriaannya kembali. Namun tak lama sampai seorang agen polisi kelas satu menjemputnya tanpa menjelaskan alasan penangkapan. Ia lalu dibawa ke kota B ke rumah kediaman Bupati Kota B yang ternyata tak lain adalah ayahandanya yang akan dilantik menjadi Bupati dan ayahnya membutuhkan seorang penterjemah karena pejabat Hindia Belanda juga akan datang melantik. Ayahnya ingin anaknya yang paling cerdas tampil membuatnya bangga di malam pelantikannya.  Dan meski Minke mengamati segala perkembangan Eropa dan negeri-negeri yang jauh ia tak mengetahui segala berita tentang ayahnya sendiri. Minke merasa tak ada urusan dengan segala berita mutasi pejabat. Kepriyayian bukan lagi duniaku fikirnya. Dunianya bukan bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Dunianya bumi manusia dengan persoalannya. Minke tak suka pada segala tradisi pengagungan dalam kaumnya. Ia menggambarkan dengan:
Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang anthusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi umat manusia. Dan entah berapa kali aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah-pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
Dan Bundanya meski bersikap lembut mengatakan “Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda. Maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu, bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan ayahandamupun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka padaku”
“Kau sudah temui jalanmu sendiri. Tempuhlah jalan yang kau anggap baik hanya jangan sakiti orang tuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu”
Saat acara pelantikan Minke menjalankan tugasnya sebagai penterjemah dengan baik hingga Asisten Residen kagum pada sikapnya yang terpelajar iapun diundang ke kediaman sang Asisten Residen Herbert de La  Croix berkenalan dengan Mriam dan Sarah de La Croix yang memiliki pemikiran sama dengan sang guru Magda Peters. Liberal!
Kembali ke Wonokromo Minke dihadapkan pada peristiwa matinya tuan Mellema di Rumah Pelesiran Babah Ah tjong; mati dalam muntahan minuman keras beracun!. Peristiwa itu menghantarkan Nyai Ontosoroh dan semua yang tinggal di Boerderij Buintenzorg  ke depan pengadilan termasuk Minke. Kehidupan pribadi merekapun diusut termasuk hubungannya dengan Annelies. Juruwarta berdatangan ke rumah Koran-koranpun ramai menuliskan berita-berita sensasional. Nyai Ontosoroh dan minke dituduh bersekongkol membunuh tuannya dengan motif kemesuman dan harta. Ayahanda Minkepun mengetahui perihal itu dan menjadi murka pada putra-putrinya ia berkata : siapa saja diantara anak-anaknya berurusan perkara dengan polisi dia adalah menghinanya, maka tak patut ada di dekatnya lagi. Dan Minke membalasnya dengan: “kalau itu yang dikehendaki ayah apa boleh buat maka sekarang aku akan berbakti hanya pada seorang ibu”. Setelah proses persidangan yang berbelit, akhirnya Ah Tjong mengaku meracuni tuan Mellema secara perlahan dan dijatuhkan hukuman penjara tiga sampai lima tahun.
Meski Minke sempat dikeluarkan dari sekolah akhirnya dengan bantuan Herbetr de la Croix ia bisa meluluskan sekolahnya lalu menikahi Annelies secara Islam. Namun masalah yang lebih besar datang lagi kali ini dari Ir. Maurits Mellema yang menggugat harta perusahaan peninggalan tuan Mellema dan kewalian Annelies yang jatuh padanya. Ia menuntut agar Annelies dipulangkan ke Nedherland dan tidak mengakui pernikahan mereka. Hukum Hindia Belanda terlalu kuat memihak padanya. Mampukah Minke dan nyai Ontosoroh mempertahankan Annelies dan  Boerderij Buitenzorg?. Temukan jawabannya dalam roman setebal 535 halaman ini.

38 komentar :

  1. wah jadi pgn baca ni tun..tebal juga ni buku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tebel Tia dan ada 3 buku lagi sambungan ceritanya :D

      Hapus
  2. Wah, saya baru sempat baca Gadis Pantai. Untuk Tetralogi Buru, belum sempat, karena belum sempat beli. Mahal harganya. Mbak Haya bacaannya berat juga yaa.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yg gadis pantai malah blm baca yu :( iya mahal aku nyicil dua buku pertama dulu smg bs beli dua yg berikutnya :)

      Hapus
  3. Aah pengeen.. udah lama banget nih ngga bener-bener membaca buku, terdegradasi sepertinya.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak Nurul beli .... bagus bukunya :)

      Hapus
  4. Mantap review-nya fus. Panjang lagi :)
    Btw, ini buku nufus beli di mana?
    Kalau nufus, saya rencana mau minta tolong beli juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. di gramedia kak... boleh ntar nufus belikan ya :) no hp msh yg dulu kak?

      Hapus
  5. yang paling terngiang setelah baca buku ini, "adil-lah engkau dalam dunia pikir, setelah itu adil-lah engkau dalam perbuatan"...

    btw, buku ini udah ada versi e-book nya ga yaa?? nyari-nyari di google ga ketemu sama sekali... Kalo ada bagi yaaa... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pesan yg bijak ya ... aku nggak punya e-booknya :D

      Hapus
  6. waaah, aku sempat punya buku ini. tapi lalu ditukar sama bukunya robert cormier, hihihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau aku nggak mau ah ditukar sm buku apapun he..he... sayang, pingin baca lagi kapan2 :D

      Hapus
  7. Alamak tebal amat mbak. Habis berapa hari itu?
    Btw, jempol deh, reviewnya keren ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya lumayan tebal :D nggak ingat berapa hari mbak bacanya mbak... makasih ya ^^

      Hapus
    2. Masukin di www.vivanews.com mbak, daftar di BLOG, mbak bisa masukin tulisan di sana. Nanti mereka link-kan ke blog kita. Ini bisa menaikkan traffic. Sy sdh bbrp kali masukkan. Terakhir sy masukkan, dalam 2 hari traffic saya naik 1000 page views ...

      Hapus
    3. OOO makasih infonya mbak... aku memang kurang paham tips dan trik naikin traffic. Ntar aku coba deh :)

      Hapus
  8. Fus, ntar kalo kakak dah balik ke banda, kakak kabari lagi ya. Mungkin sekitar awal April.
    Tetralogi, apa ada keempat-empatnya fus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok Kak,ntar deh dicariin keempat2nya :)

      Hapus
  9. sukses buat reviewnya mbak nufus...
    keren deh^^

    BalasHapus
  10. BUku2nya Pramoedya...I like it. keselurahan isinya sangat 'live', bisa jd buku sepanjang masa menurut saya. Semoga suatu saat saya bisa mengkoleksi semua karya tulis beliau..AMin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin... setuju mbak sastranya bagus ^^ meski ada beberapa pemikiran yg aku agak2 nggak setuju he..he..

      Hapus
  11. akhirnya bertemu teman yang juga sama-sama suka pramoedya....jaidn inget zaman kuliah dulu, punya komunitas yang khusus bahas buku PAT.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ooo aku malah baru ini baca mbak.. komunitasnya skrg masih eksis?

      Hapus
  12. misi misi. . . .

    kunjungan pagi ahhh. . . da orangnya ndak ya. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jadi penasaran ama bukunya . . . . berapaan ntu mbak harganya. . .???

      Hapus
    2. Bisa cek harganya 90.000 lengkapnya cek harga disini : http://www.anelinda-store.com/pramudya.php

      Hapus
    3. wah bisa bisa. .. . makasih ya mbak. . . .

      Hapus
  13. wow, satu lagi penikmat Pramoedya Ananta Toer.. jujur saja, saya belum pernah satu kali pun membaca karya beliau. semoga nanti sempat baca. hehehe

    review novel saya jg dunk ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca deh bagus loh :D boleh...boleh... :)

      Hapus
  14. lho ada ebooknya kasi donk linknya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak punya linknya mas...

      Hapus
    2. kurang puas sampai dua kali gue ngebaca postingan agan di atas.

      Hapus
    3. Berarti kamu harus beli buku ini :D

      Hapus
  15. kok di indonesia jarang ada novel action yah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak sih? ya udah kamu yg nulis ... :D

      Hapus