Gigi

33 komentar



Gigi Anas memang sedikit unik agak maju ke depan. Ibuku bilang itu karena ia terbiasa ngedot dan ngompeng sejak bayi. Nenekku bilang karena sewaktu ia belum bisa bicara suka dikasih mainan sendok (hubungannya apa?).



Anas Bayi lagi mainin sendok dan ngalungin kompeng






Jangan coba-coba narik kompengnya!! bakal meledak!



 Tapi aku bilang gigi itu yang membuatnya manis (manis di mata mamanya!). Kakak-kakakku sering ngisengin Anas: 

“ Nanti giginya dipasang kawat (behel) ya Nas!” Antara bingung dan ngeri ia bertanya.
“kawat jemuran ya mi?”

Dan setiap ada yang mengomentari giginya aku bilang.
“Nggak ada yang salah dengan gigimu asal kamu percaya diri” dan diapun tetap tersenyum lebar.

Manis kan?



Dan akhirnya beberapa bulan yang lalu aku harus rela membuang gigi manis itu, karena aku menyadari di bawah gigi yang agak maju itu tumbuh gigi baru. Memang masih kecil tapi kalau dibiarkan giginya bisa berlapis. Ketika itu kebetulan aku dan Anas sedang liburan di kampung dan ketika suami kutelfon ia malah senang. Dengan semangat menyuruhku bertanya pada dokter giginya: bisakah ‘gigi maju’ itu direparasi atau dimodifikasi dikoreksi agar ketika tumbuh gigi dewasa letaknya akan lebih rapi (tidak menonjol). Ide bagus sih tapi  sebagai mamanya yang langsung terjun di lapangan aku jadi banyak mikir.

Takut membawanya ke dokter gigi. Bagaimana kalau dia menangis teriak-teriak saat giginya dicabut paksa oleh dokter yang  dianggapnya seseram gunting, bor, pingset dan segala peralatan dokter gigi itu. Apalagi jika sampai berdarah-darah. Kasihan sekali padahal umurnya belum lagi lima tahun (ketika itu) ho..ho.. Kenapa tidak gigiku saja yang harus dicabut?? .
Dan parahnya tak ada dokter gigi yang aku percaya di kampung ini. Bagaimana kalau nantinya malah dokter gigi yang belum berpengalaman atau  tak biasa menangani anak-anak. Dan benar sampai di RSD kabupatenku dokter giginya menyarankan untuk menunda karena giginya masih terlalu keras. Lega juga sih jadi aku bisa memikirkan alternatif lain.
Beberapa hari kemudian kakakku mengajak ke Banda Aceh katanya mau periksa gigi pada seorang dokter gigi yang menurutnya adalah dokter gigi terbaik di Aceh. Ia membuka klinik gigi di seputaran Peunayoung. Dan aku memutuskan ikut membawa Anas ke klinik itu.
 Dokter gigi ini memang sudah sangat senior ubannya sudah banyak. Aku juga yakin dengan alat-alat yang ia gunakan pasti bersih dan steril karena aku perhatikan sendiri ada mesin pensteril di ruangan itu.Untuk berkumur ia juga menyediakan aqua gelas.
Anas tampak pucat dan takut ketika namanya dipanggil meski aku yakinkan tak apa ia tetap saja tak mau duduk di bangku periksa. Dan untunglah sang dokter gigi menghadapinya seperti menghadapi cucunya sendiri. Merayunya dengan mengenalkan alat-alat yang tidak tajam.
“Hanya kapas” katanya.
Dan benar ia hanya memegang kapas. Aku fikir ia hanya ingin membersihkan gigi Anas tapi ketika Anas membuka mulut tangan satunya lagi dengan cepat menyambut sebuah tang dari perawatnya dan hap!. Gigi itu tercabut. Ia mengembalikan tang itu juga secara sembunyi2. Dan menambalkan kapas di di atas gusi bekas gigi yang telah dicabut itu. Yuhuuu!!! Keren! tanpa teriakan tanpa darah dan Anas tidak melihat tang itu.
“Sudah!” kata sang dokter

Dan Anas tersenyum lebih lebar tanpa rasa takut. Keluar dari ruang praktek ia menelfon papanya dan bercerita riang bahwa giginya telah dicabut. Dengan tertawa-tawa ia pamerkan keberaniannya. Dan memang ia anak pemberani seperti mamanya.

Setelah giginya dicabut



Dan setelah kufikir-fikir: Gigi papanya juga berlapis! Jadi papanya yang bertanggungjawab atas insiden ini. Jadi pingin nyeret papanya ke dokter gigi. :D :D

33 komentar :

  1. hahaha...kok malah papanya yang disuruh bertanggung jawab, hehe....

    dokter gigi yang di Peunayong? Am***ll*h ya mba? hehe...
    tinggal di Banda juga kah dirimu mba?

    BalasHapus
  2. Ha..ha.. gigi berlapis itu turunan bukan ya mbak? keluargaku nggak ada yg berlapis he..he..

    Iya benar beliau...senior banget kan mbak? Aku kuliah di Banda.. Mbak Alaika aslinya dari mana?

    BalasHapus
  3. Kok aku gak ngeh gigi papa ibal berlapis ya..?
    #kabuuur -->

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus...tandanya tak ada saling ketertarikan di antara kalian :D :D #lempar gigi--->

      Hapus
  4. Hihihi anatomi yang mirip jadi nurun dari papanya ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini hanya tuduhanku saja Un.. :D :D

      Hapus
  5. baru tahu ada kasus gigi seperti itu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata dokternya akibat pernah jatuh dan giginya kebentur mbak... memang sblmnya Anas jatuh dan gigi depan itu sompel sedikit.

      Hapus
  6. Hahaha #ngakak baca bagian akhir#
    Memang pengaruh genetika koq gigi anak. Anak2 saya juga kalo saya perhatikan, giginya mirip papanya koq #nuduh#

    Tapi gak papa, biar bagaimana pun mereka tetap manis #lha papanya manis kan?#

    Anas sekarang dan dulu, tetap manis koq ...
    ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... nggak apa giginya niru papanya yg lain ada juga niru dari kita ya mbak... tetep manissss... :D :D la papanya manis apalagi kalau dibedakin gula :D :D

      Hapus
    2. Hihihi emang donat mbak ... :)

      Hapus
  7. berani juga ya anak kecil cabut gigi. Di bius apa nggak sob. Ane aja takut kalau cabut gigi. Sudah sering sakit gigi sih, jadi kalau ke dokter gigi, bawaannya ngeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak pake bius kalau bius malah harus disuntik gusinya ya? lebih serem dong... iya aku juga ngeri ngilu ya..

      Hapus
  8. Setelah dicabut tambah manis banget

    BalasHapus
  9. Ayo ta dukung kalau mau nyeret papanya ke dokter gigi neh...hahaha

    BalasHapus
  10. Bentuk rahang memang faktor keturunan, Mbak. Jadi kemungkinan memang kalau rahang Bapak/Ibunya kecil sehingga giginya numpuk, ya bisa nurun juga ke anaknya.
    Dokternya hebat ya, jadi anak-anak nggak trauma ke dokter gigi. Jangan sampai kayak saya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya mbak...ya sudahlah numpuk juga tak apa :) :)

      Iya dokternya hebat...punya triks bagus ngadapin anak2.. mbak Della takut ya ke drg?hrs rajin2 rawat gigi berarti. :)

      Hapus
  11. wah gigi si anas ikut papa nya :), anas pasti berani dan pinter don kayak mama papa nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. makasih ammah tia :) :) :)

      Hapus
  12. wah kalo gigi papanya memang masih bisa sekedar ditarik pake tang ya mbak?? LOL ada2 aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gigi papnya dicabut ompong dong mbak :D :D lol

      Hapus
  13. Hahaha.. Kalo yang minus mirip papanya ya, kalo yang plus mirip mamanya..haha.. *tos*

    Salut sama dokter giginya. Etapi yakin nggak dibius, Jeng? Kok bisa ya? Hebat dokternya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. *tosss!!!* :D :D nggak pake bius mbak.... padahal giginya masih keras loh yah goyang dikit lakau dipegang... iya dokternya senior banget :)

      Hapus
  14. Whahaha,,, Dulu saya pernah ngalamin hal yang sama. Ga mau cabut gigi waktu kecil, tapi dokternya waktu itu ngasih saya kacamata yang di dalemnya ada filmnya. Waktu saya lagi nonton, tau2 gigi dicabut. hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha...ha... ide dokternya oke juga ya... ngalihkan perhatian.. :)

      Hapus
  15. hahaaa...papanya koq malah jadi korban sih mbak??....jangan donk

    BalasHapus
  16. Slm kenal mba. Aq jg d Banda aceh ne. Lg bingung mau bwa anak k drg yg mana. Ank q 5 thn, giginya bermasalah bgt. Boleh tau almt lengkap dr nya dan nana beliau? Kira2 masih praktek ga ya? Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mardhani, Drg Amanullah prakteknya di Peunanyong kak. Coba aja bawa kesana dan tanya orang-orang di seputaran Peunayong pasti pada tahu. Semoga anaknya cepat sembuh ya.

      Hapus