Dear Anas... Dear Azzam.

36 komentar


Dear Anas dan Azzam….
Mama suka sekali aroma manis kalian ketika baru bangun tidur atau setelah sepanjang hari bermain dengan aktivitas fisik yang “nggak ada capeknya”. Manis yang khas, menggelitik olfaktori  namun seperti candu membuat mama ingin terus, terus dan terus membaui kalian.
            Asyiek (nenek) dulu pernah bilang :“Anak-anak jangan terlalu sering dicium nanti cengeng!” mungkin benar mungkin tidak. Tapi mama tak perduli tetep suka sekali menciumi kalian meski kalian melawan-lawan ^^ karena gerah, tapi mama tahu kalian juga suka,buktinya ketika suatu kali mama sibuk di dapur atau mengurusi setumpuk setrikaan kalian datang cari-cari perhatian, bergelantungan di kaki dan kembali bermain ketika telah mendapat jatah peci (peluk cium). Iya kan? ^^

36 komentar :

Posting Komentar

Cinta yang tak bisa menunggu

18 komentar

 
Cerpen ini pernah aku posting setengah ceritanya beberapa bulan yang lalu, dan ini versi sapai endingnya....  

Tak tertepis bayang itu menghantam telak rasa suka.
Aku tak bisa berpaling, tak ingin menghindar

Cerita bertahun-tahun yang lalu kembali mengetuk ruang memoriku. Memunculkan seraut pesona penebar debar aneh.
                “Butuh payung?”
Sesosok lelaki telah berdiri disampingku dengan payungnya yang terkembang. Aku tersenyum, dia juga tersenyum. Berjalan di bawah rinai hujan bersama orang yang  kucintai membuatku tak perduli yang lainnya. Tak perduli pada banyak mata yang memandang iri penuh selidik juga tak perduli pada bisik-bisik mereka. Saat itu di bawah hujan hanya ada aku dan dia.
                “Bagaimana lamaranku? Sudah kau pertimbangkan?”
                “Bapak mau menikah?” pertanyaan konyol
                “Kalau mempelai wanitanya bersedia”
Aku merona malu. Menunduk menatap sepatuku yang basah. Tentu saja aku tahu jawabannya tapi mulutku terkunci, harusnya ia dapat membaca isyaratku.

18 komentar :

Posting Komentar

Kau Percaya?

16 komentar

Suatu pagi di sebuah warung, tempat segala balada diperdebatkan : ada yang jatuh
Kursi lamanya tergerogoti rayap serupa serakah
Dan palu mengetuk meja menghantar  jeruji rapat tak memberi celah seekor tikus
 Terdengar teriak baris pucuk  menantang langit meraih harap
Dan kaki menjejak tanah serupa norma
Tak lekang beragam iklim

Kau percaya?
Serupa aku yang menyulam doa pada tadahan tangan
Negeri ini mengikuti putaran hidup, terus berdetak

Wanita serupa ibu terkadang tak tersorot kamera sejarah
Sebuah rumah dengan polah kanak-kanak
 tentu tak segaduh segala pelik gedung kokoh itu
tapi ia ada pada beragam pilihan warna
benih yang harus tersemai

Kau percaya?
Serupa aku yang menyulam doa pada tadahan tangan
Negeri ini mengikuti putaran hidup, terus berdetak

16 komentar :

Posting Komentar

Review Pertemuan III Pramuda FLP Jakarta

5 komentar


Lima hal penting yang harus kita  garap ketika menulis novel adalah Plot, karakter, tema, setting dan bahasa atau style. Berikut beberapa tips yang yang dibagikan oleh mbak mbak Esti mbak Priska dan mas Petter para editor Mizan yang juga telah menerbitkan beberapa novelnya dalam acara pelatihan FLP di gedung H.B. Jassin tanggal 11 Maret yang lalu.
Plot: Lebih disukai cepat dan tidak terlalu banyak menggunakan narasi ‘yang mendayu-dayu’. Buatlah First line semenarik mungkin, yang membuat editor tertarik dan penasaran untuk membaca kelanjutan cerita. Buat kerangka karangan yang meliputi Perkenalan, konflik, penutupan lalu pertahankan cerita agar tidak melenceng dari plot.

5 komentar :

Posting Komentar

“Tulisan yang mendayu-dayu” dan “Syndrom Matahari”

17 komentar

Pic from my.opera.com
Pada pertemuan Forum Lingkar Pena Jakarta tanggal 11 Maret di Gedung H.B. Jassin yang lalu mbak Prisca, salah seorang Editor Mizan membagikan beberapa tips menarik seputar kepenulisan salah-satunya adalah : “Hindarkan penggunaan Bahasa yang mendayu-dayu dan Syndrom Matahari jika ingin tulisan kita menarik dan tidak membosankan”.
Sampai di rumah aku membuka file-file tulisanku lagi dan menemukan beberapa potong paragraf yang aku ragu apakah termasuk dalam ‘tulisan mendayu-dayu’ yang mbak Priska maksud. Ini paragrafnya:

17 komentar :

Posting Komentar

Book Review : Anak Semua Bangsa (Roman kedua dari Tetralogi Buru)

16 komentar


“Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan.
 Dimanapun ada yang mulia dan jahat.
Kau sudah lupa kiranya nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada kolonial yang mengindahkan kepentingan bangsamu” (Pramoedya Ananta Toer)
Dalam buku kedua ini, Pramoedya mengajak kita bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam golak gerakan nasional awal abad. Kalau Roman pertama Bumi Manusia, merupakan periode penyemaian dan kegelisahan. Anak semua Bangsa adalah periode observasi mencari serangkaian spirit kehidupan arus bawah. Kita bisa belajar sejarah dengan cara yang berbeda dari yang pernah kita dapatkan di bangku-bangku sekolah.

16 komentar :

Posting Komentar

Korrie Layun Rampan

25 komentar


Bagi pecinta sastra Indonesia pasti sangat familiar dengan nama Korrie Layun Rampan. Pernah dengar kan? Nah di majalah Horison edisi Desember 2011, di kaki langitnya Sunu Wasono membahas tentang sastrawan asal Dayak Benuaq ini. Belum baca Horison? Baiklah saya ringkas sedikit disini ya…
Korrie LR adalah putra dari pasangan Paulus Rampan dengan Martha Renihay Edau Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan 17 Agustus 1953. Ia menamatkan Sekolah Dasar  hingga pendidikan atas di Samarinda,  lalu tahun 1970 ke Yogyakarta menuntut ilmu keuangan dan perbankan serta ilmu jurnalistik. Ia juga aktif di Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi. Tujuh tahun di Kota Gudeg ia mendapat tempaan mental yang berharga dan tumbuh menjadi penulis berbakat, potensial dan produktif. Tahun 1978 Korrie pindah ke Jakarta kegiatan menulisnya terus meningkat. Ia bekerja  sebagai wartawan majalah Sarinah lalu menjadi  pengajar, editor, penulis, pengisi acara di RRI dan TVRI.  Akhir tahun 2001 ia memimpin Koran Sentawar Pos yang terbit di kabupaten kutai barat, Kalimantan Timur, juga mengajar di Universitas sendawar, Kutai Barat. Tahun 2004 ia terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009 sebagai ketua komisi I. Meski aktivitasnya banyak dan beragam ia tak pernah meninggalkan dunia tulis-menulis.
Buku yang ia tulis sudah mencapai 200 buku dengan bentuk beragam; puisi, cerpen, novel, esai/kritik, cerita anak dan sejumlah karya terjemahan yang  sampai sekarang bisa ditemukan di toko-toko buku dan ia juga masih akan menerbitkan karya-karya barunya. Weis apa ya rahasianya bisa seproduktif itu kayaknya gampang banget  nulis sampai ratusan buku! 
Proses penulisan/penjadian karya-karya Korrie tidak sama ada karya yang diendapkan sampai tiga tahun tapi ditulis dalam waktu satu minggu saja yaitu Novel Upacara yang mengangkat nama Korrie dalam panggung sastra Indonesia. Awalnya novel in ditulis untuk mengikuti Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 dan menjadi juara kedua. Tahun 1978 diterbitkan sebagai buku oleh Pustaka Jaya. Tulisan-tulisannya banyak berlatar suku dayak tentu saja ia lebih mengenal tempat kelahiran dengan segaala gejolak masalah sosialnyanya tersebut hingga sering terdeskripsikandalam karya-karyanya.

25 komentar :

Posting Komentar

Puisi : Amerta

15 komentar

Ini hanya puisi dari perasaan fiktif... Akhir bulan dua kemarin kutulis untuk kepentingan lomba... tapi nggak masuk nominasi. Ya jelas! fellingnya nggak ada karena memang bukan kisahku atau orang2 dekat. :D :D

Dan memang sih nulis itu enaknya tentang hal-hal yang kita suka, tentang hal-hal yang benar2 ingin kita ungkapkan. Aku lebih suka menulis yang sedikit serius karena kayaknya lebih gampang membuat orang merenung daripada membuat orang tertawa. Tapi setiap orang memang beda-beda ya.... 



Amerta

Keabadianku ada pada kata serupa cinta
Pada sebuah  lukisan berwarna pelangi yang kuberi padamu kala itu
Tapi sudahlah, kutitipkan saja Amerta  yang kuingin mampu membuatmu merasakan hadirku
meski raga tertelan pekat angkuh sebuah titah

Kau tahu, masih kubaui segala hari kita
padahal angin tak lagi diizinkan menyapa pucuk dalam senyapku
Indahmu terkirim dalam setiap helaan desah tak sadar
dalam keterbaringan tak mampu meraih asa

kau bilang aku lemah dalam isakmu
mungkin kau benar
dan itu menghukumku dalam sebuah ruang yang tak lagi berwarna
Disini hanya ada suram, karena segala warna telah kutitipkan pada lukisan pelangi itu

                                                                                                                               

15 komentar :

Posting Komentar

Spesialnya Maret

6 komentar


Maret  17 (tambah sebelas) tahun yang lalu, aku lahir. Dari Maret tahun itu sampai Maret 2012 ini tak pernah sekalipun ada acara tiup lilin atau kemeriahan lagu “potong kuenya sekarang juga” yang dinyanyikan khusus untukku. Apalagi dapat tumpukan kado! tak pernah! Dan aku juga tak  mengharapkan itu, meski ada juga perasaan sedikit “spesial” terhadap Maret.  Spesial karena setiap Maret tiba aku akan melihat lagi hari-hari di belakangku. Apa yang sudah aku lakukan… sesuatu yang baik atau hanya kesia-siaan? Dan aku melihat diriku bertambah tua dan berharap juga bertambah bijak.
Tapi sebentar…
Meski tetap tak ada acara tiup lilin dan tumpukan kado, sejak enam tahun lalu (2006-2011) ada yang membuat “Spesialnya Maret” lebih terasa bagiku.
·         Maret pertama di enam tahun itu: Sebuah Black Forest manis tanpa lilin dan angka untuk pertama kali hadir di Maretku. Disiapkannya sebagai kejutan karena (entah kenapa) aku lupa kalau hari itu spesial.
·         Maret kedua di enam tahun itu : dia menyiapkan kejutan dengan balon2 yang memenuhi kamar dan lengking terompet….. pretttt!!!!! Tapi kejutan itu gagal. Aku tak terkejut :d lalu sebuah pertanyaan membuat senyumku merekah : “Mau hadiah apa?”
·         Maret ketiga di enam tahun itu: sebuah kotak berbungkus kertas warna-warni dan hiasan pita terletak begitu saja di atas tempat tidur. Isinya sebuah jam tangan! Dan itu memang aku butuhkan saat itu.
·         Maret keempat di enam tahun itu: aku yang merengek-rengek memilih sendiri kadoku. Sebuah gamis manis yang harganya ‘lumayan’ dan dengan senyum ia mengeluarkan isi dompetnya. Hiahhh!!!
·         Maret kelima di enam tahun itu: lagi aku merengek minta kado kali ini aku ingin novel-novel yang berderet di Toko Buku.
·         Maret keenam di enam tahun itu : “mentahnya saja ya ma?” tanyanya melalui telefon karena aku lagi di Aceh dan dia di Jakarta.
Dan Maret di tahun ketujuh ini……… apa ya?. Tapi sepertinya aku tak ingin apapun. Keromantisan dan keinginannya menyenangkan aku sudah teruji. Dan itu juga sebuah hadiah yang sangat spesial dari dia, suamiku.

6 komentar :

Posting Komentar