Book Review : Anak Semua Bangsa (Roman kedua dari Tetralogi Buru)

16 komentar


“Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan.
 Dimanapun ada yang mulia dan jahat.
Kau sudah lupa kiranya nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada kolonial yang mengindahkan kepentingan bangsamu” (Pramoedya Ananta Toer)
Dalam buku kedua ini, Pramoedya mengajak kita bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam golak gerakan nasional awal abad. Kalau Roman pertama Bumi Manusia, merupakan periode penyemaian dan kegelisahan. Anak semua Bangsa adalah periode observasi mencari serangkaian spirit kehidupan arus bawah. Kita bisa belajar sejarah dengan cara yang berbeda dari yang pernah kita dapatkan di bangku-bangku sekolah.
Meski awal-awal cerita di novel ini berjalan sedikit lambat namun semakin mendekati akhir saya semakin penasaran dan tak ingin berhenti. Terlebih, banyak sekali kalimat-kalimat indah yang menggugah, menggambarkan secara detail namun tidak “mendayu-dayu” dipadu dengan karakter tokoh yang begitu kuat. Beginilah sedikit gambaran kisahnya :
Annelies dipaksa berlayar ke Nederland, menyerahkan diri pada perwalian sang abang Maurits Mellema yang tak dikenalnya, meninggalkan Nyai Ontosoroh dan sang suami Minke. Kepergiannya bagai cangkokan muda yang direnggut dari batang induk, hingga Annelies tak dapat bertahan. Segala kepayahan sepanjang perlayaran dan penelantaran di sebuah rumah tua di Huizen membuatnya kalah. Ia dikuburkan di tanah asing tanpa ada orang yang dikenalnya kecuali Panji Darma utusan sang ibu yang mengawalnya diam-diam tanpa bisa berbuat apa-apa.
Meski mendendam, kehidupan Nyai Ontososroh dan Minke terus berjalan. Pekerjaan Minke membuatnya bersentuhan dengan aktifis pergerakan Tionghoa Khow Ah Soe yang membawa misi besar menyadarkan bangsanya yang terpecah meski ia berakhir tragis terbunuh dan dibenci bangsanya sendiri. Keluarga De Croix tetap mengiriminya surat yang merangsang pikiran tentang kemajuan dan kemunduran Eropa, Jawa dan Hindia. Sementara Jepang diberitakan semakin menempatkan dirinya sebagai bangsa yang layak disejajarkan dengan bangsa-bangsa besar Eropa, turun ke gelanggang ikut membagi dunia untuk dirinya. Dan Hindia Belanda tergolek tak berdaya!.
Jeans Marais, Marten Nijman, Nyai Ontosoroh bahkan sang bundapun mendesaknya: “Mengapa kau tak menulis Melayu Minke, mengapa kau hanya menulis Belanda? Apa yang kau harapkan dari mereka hingga kau selalu bicara pada mereka”?. Tuduhan tak mengenal kaumnya membuat Minke tergerak  memperhatikan kaum pribumi pinggiran. Dan ketika Nyai Antosoroh mengajaknya ke Sidoarjo iapun semakin bersentuhan dengan nasib mereka.
 Adalah Surati, gadis yang dijebak menerima nasib sebagai gundik Plikemboh dengan cara yang licik. Namun ia mampu melawan dengan caranya sendiri : menularkan virus cacar yang mematikan. Dan Plikemboh tewas sedang Surati bertahan meski dengan bopeng-bopeng di wajah dan tubuhnya. Minke juga berkenalan dengan Trunodongso seorang petani kasar berwatak pemberontak yang tak rela tanahnya diserobot perusahaan pabrik gula dengan sewa yang tak masuk akal. Trunodongso membuka fikiran Minke bahwa banyak ketakadilan yang membelenggu bangsanya. Iapun menulis dan berjanji akan membela Trunodongso lewat tulisannya. Namun semuanya gagal, koran tempatnya bekerja menolak memuat tulisannya. Dan dari Marten Nijman ia mengetahui bahwa ada persengkokolan antara koran itu dan perusahaan pabrik gula. Minke dan Trunudongsopun terancam! Karena dianggap akan memancing pemberontakan.
Segala konflik dan intrik yang terjadi teramu begitu memukau dengan kata-kata yang mampu membangkitkan emosi pembaca. Dan saya berani katakan novel ini adalah referensi yang sangat berharga bagi para penulis jika ingin menulis secara apik. Meski ditulis dalam kurun tahun 1980 roman ini tetap menarik untuk dikaji dari generasi ke generasi, dan pantaslah Pramoedya Ananta Toer dianugerahi berbagai penghargaan international diantaranya The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000 dan pada tahun 2004 mendapat penghargaan the Norwegian Authours Union dan Pablo Nuruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar. Dan sampai kini namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Sebuah prestasi yang memotivasi bukan?
Oya, sekarang saya sedang menikmati Perempuan Sucinya Qaisra Shahraz yang menjadi Best Book of the Month 2001 versi Waterstones dan Winner of Jubilee Award 2002 terbitan Qanita Mizan. Buku ini saya dapat sebagai hadiah ketika mengikuti seminar bertema “Media dan Penerbitan yang diisi oleh para editor Mizan”. Jika kamu ingin tahu kisahnya sering-sering kemari ya karena saya berencana akan mereviewnya juga. Thanks for reading ^^

16 komentar :

  1. Kayaknya saya emang musti beli buku-buku Pramoedya deh. Saya kebanyakan baca buku Arswendo jadi gila nih Mbak. Wkwkwkwk.

    BalasHapus
  2. Wkwkwkwk segitunya yu? tapi Ayu bakal cocok deh berguru sama karya2nya Pramoedya... :D

    BalasHapus
  3. Mba'e sempet banget sih baca buku2 'berat' gitu.. envy nih huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau suka sih nggak berat mbak... biarpun bacanya nggak bisa cepat :D

      Hapus
  4. saya selalu berharap suatu saat tentralogi pulau buru difilmkan....senang bertemu teman sesam apenyuka Pram. buku param yang belum sempat saya tamantkan baca walaupun sudah berumur 8 tahun sejak saya beli adalah arusbalik. merasa tidak ada waktu ..isinya sejarah kerajaan jawa tuturan seperti tentralogi pulau buru...menghayutkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau difilm kan pasti butuh tenaga dan dana yg lebih besar kayaknya mbak... menampilkan setting tempat dan waktu yang sudah berlalu beberapa dekade ditambah pemeran yg mewakili beberapa etnis bangsa. Wow!

      Itu Arus BAlik kenapa nggak ditamatkan mbak? ayo baca lagi :D

      Hapus
  5. jadi ingin baca bukunya nih, ditunggu reviewnya ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya tebal mbak butuh waktu untuk menghabiskannya :D. Terima kasih :)

      Hapus
  6. dah lama cari tetralogi ini. tp dak nemu2. di tempatq nihil. kli ja punya link donlotnya, bagi sya yah... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. e-booknya aku nggak tahu ada atau tak, kalau mau beli bs secara online di http://www.anelinda-store.com/pramodya.php coba dicek jika masih ada :D

      Hapus
  7. Wah... aku sudah berkali kali dengar buku ini dari teman. Disuruh baca terus, tapi gak jadi jadi. Pengeeeenn...
    Carinya dimana yaa.. ?? masih ada kah di toko buku??

    BalasHapus
    Balasan
    1. DI Gramed kayaknya ada deh, atau di http://www.anelinda-store.com/pramudya.php

      Hapus
  8. jujur aku ga ngerti pas baca cuplikannya, gaya bahasa dulu terlalu tinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahasanya memang tidak serenyah beberapa novel sekarang, memang selera pembaca beda-beda ya? atau aku yang nggak pintar buat cuplikan yang ringkas dan mudah dimengerti kali ya...

      Hapus
  9. pernah sih mendengarnya tp ga pernah membacanya...

    BalasHapus
  10. kalau sempat baca deh mbak ^^

    BalasHapus