Cinta yang tak bisa menunggu

18 komentar

 
Cerpen ini pernah aku posting setengah ceritanya beberapa bulan yang lalu, dan ini versi sapai endingnya....  

Tak tertepis bayang itu menghantam telak rasa suka.
Aku tak bisa berpaling, tak ingin menghindar

Cerita bertahun-tahun yang lalu kembali mengetuk ruang memoriku. Memunculkan seraut pesona penebar debar aneh.
                “Butuh payung?”
Sesosok lelaki telah berdiri disampingku dengan payungnya yang terkembang. Aku tersenyum, dia juga tersenyum. Berjalan di bawah rinai hujan bersama orang yang  kucintai membuatku tak perduli yang lainnya. Tak perduli pada banyak mata yang memandang iri penuh selidik juga tak perduli pada bisik-bisik mereka. Saat itu di bawah hujan hanya ada aku dan dia.
                “Bagaimana lamaranku? Sudah kau pertimbangkan?”
                “Bapak mau menikah?” pertanyaan konyol
                “Kalau mempelai wanitanya bersedia”
Aku merona malu. Menunduk menatap sepatuku yang basah. Tentu saja aku tahu jawabannya tapi mulutku terkunci, harusnya ia dapat membaca isyaratku.
                “Jangan panggil Bapak, aku terdengar tua dengan panggilan itu”
Aku juga tak suka memanggilnya bapak. Tapi laki-laki ini adalah dosenku. Teman-teman yang lain juga memanggil begitu. Kami berjalan pelan, hati-hati melangkahi genangan air. Namun sekecil apapun langkah kaki kami, sampai juga  di depan gerbang kampus. Aku tak suka jalanan yang hari ini tiba-tiba terasa pendek.  Masih ingin berada di bawah payung ini berdua meski tempias membasahi wajahku. Sebuah angkutan kota telah berdiri persis di depan kami. Akupun melangkahkan kaki ke dalam, duduk di bangku penumpang. Lelaki itu memberikan payungnya.
                “Aku masih ada pekerjaan” katanya singkat. Lalu berlari panjang menembus hujan kembali ke gedung perkuliahan. Aku tak sempat mencegah untuk mengembalikan payung. Seringkali begitu seolah membiarkan saja segala hal yang dilakukan laki-laki itu untukku. Tiba-tiba aku merasakan getar di saku rokku kuraih handphone yang aku vibratekan sejak kuliah tadi.
                “Cieeeee yang lagi kasmaran” itu suara Dita temanku, tentu ia melihat adegan romantis kami.
                “Loe dimana?”
                “Nggak penting! yang penting sang bidadari telah selamat dari terpaan badai tak apa daku berbasah-basah” Dita mulai menggoda. Merekah juga senyum malu-maluku untunglah Dita tak melihatnya.
            “Selamat ya, kalian serasi banget” Dan sepanjang perjalananku di dalam angkot itu hanya ada sensasi aneh yang membuatku terus tersenyum. Lamaran. Satu kata itu terasa indah. Namun tidak bagi orang tuaku.
            “Kamu mau menikah? Bagaimana kuliahmu?” ayah tampak tak senang.
            “Aku bisa tetap kuliah setelah menikah ayah”
            “Omong kosong, kamu fikir menikah itu gampang. Akan ada banyak hal yang kamu fikirkan.Dan itu akan mengganngu konsentrasimu.” Sikap otoriter yang ia terapkan dalam keluarga kecil ini membuat aku menciut tak berani membantah meski aku sangat ingin.
            “Tapi ayah”
            “Tak ada tapi, ayah tidak setuju! Jika dia memang mencintaimu dia bisa menunggu hingga kuliahmu selesai” Tanpa mendengar pembelaanku ayah lalu bangkit meninggalkanku menuju kamarnya. Aku gundah, menduga-duga apa yang akan laki-laki itu katakan jika mendengar penolakan ayah. Maukah ia menunggu?
Dan tatapan mata itu berubah menjadi dingin ketika mendengar permintaanku untuk menunggu. Tak lama hanya dua tahun, hingga aku meraih gelar sarjanaku. Tak lama bagiku tapi bagi dia itu akan memundurkan prioritas hidup yang telah ia targetkan. Dan menikah adalah targetnya tahun ini setelah ia menyelesaikan masternya dan mendapat pekerjaan yang cocok sebagai dosen.
“Aku mencari pendamping hidup Mawar, bukan pacar. Semua bisa berubah dalam waktu dua tahun”
Aku tersudut pada keputusan otoriter ayah dan sikap lelaki ini yang menuntut jawabanku. Tak memberi celah untukku berfikir lebih lama.
“Mereka egois!” ujar Dita mendengar ceritaku kesal. Aku tak butuh pendapatnya tentang kedua lelaki itu tapi aku butuh keberanian untuk menyikapi dua keputusan yang telah ayah dan lelaki itu buat. Dan ayah menang, ia memiliki kendali yang lebih besar terhadap hidupku. Lelaki itu tak lagi mendekatiku ia semakin menjauh meninggalkan sebuah luka di hatiku. Bagaimana aku bisa menghilangkan sakit jika aku tetap melihatnya di kampus, yang beberapa jam dalam seminggu ia juga mengajar di kelasku.
Hanya butuh waktu tiga bulan baginya untuk mengirimiku sebuah undangan pink berbentuk hati itu. Mataku perih membaca namanya yang disandingkan dengan sederet nama asing seorang wanita, beruntung aku tak mengenal calon istrinya. Menangis berhari-hari di kamar membuat wajahku membengkak. Dan ayah tak menampakkan rasa bersalahnya.
“Ini yang terbaik untukmu, kau akan melupakannya seiring waktu” tapi ayah salah. Mungkin aku tipikal orang yang susah jatuh cinta namun sekalinya merasakan cinta akan susah untuk melupakannya. 
Dan hingga dua tahun kemudian aku menyelesaikan kuliahku aku tak bisa membuka hati untuk lelaki lain tidak juga pada beberapa calon yang ayah pilihkan untukku. Meski aku juga tak tahu apakah cintaku pada lelaki itu masih memiliki porsi yang sama. Setelah tamat kuliah aku tak pernah lagi melihatnya dan tak mendengar apapun tentangnya. Hingga siang tadi ia muncul tiba-tiba di depan pintu rumah. Berdiri tergagap menatapku dengan pesona yang tetap membuat debar aneh seperti dulu.
 “Apa kabar?” tanyanya gugup.
“Baik” aku sama gugupnya sambil menerka-nerka maksud kedatangannya.
“Harusnya aku menunggumu. Kau tahu, aku tak berhenti menganggap bahwa kaulah yang seharusnya aku nikahi” ucapnya setelah sekian lama terdiam. Aku tahu cinta itu ada untuknya tapi ada hati lain yang harusnya kami jaga, hati istrinya. Anggukan atau gelengankah yang pantas untuknya?. Aku tak tahu.


18 komentar :

  1. g nyangka endingnya bakal begitu, tak kira endingnya si aku bakal stres gara-gara g bisa nerima laki-laki...

    tapi baca ini rasanya jadi ceet banget waktu dua tahun itu

    BalasHapus
  2. Tipe org yg susah jatuh cinta mmg biasanya akan susah utk berpaling ke lain hati manakala hati sdh terpilih oleh sebuah cinta

    BalasHapus
  3. yup, betul harus ada hati yang dijaga.. manusia hanya bisa menerka-nerka apa yang terbaik padahal sebenarnya Tuhan lebih tahu.. touching banget mba ceritanya.. based on true story kah? :D

    BalasHapus
  4. Kasian si Aya! Haya Nufus? Pengalaman pribadi, ya? ;-)

    BalasHapus
  5. Pilu hiks ...
    Cerpen yang keren.
    Sudah bisa buat buku kumpulan cerpen lho mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum mbak...cerpennya belum banyak :) kecuali nulis keroyokan baru bisa :D

      Hapus
  6. Mas Huda: hayooo ada apa dua tahun yang lalu? :D

    Mbak Ririe : cieeee ngerti banget kayaknya ya mbak? ;p

    Mbak Nurul :bukan mbak cuma fiksi berasal dari ide acak ^^

    Mas eksak : ya udah nama tokohnya aku ganti, bukan pengalaman pribadi kok cuma fiksi :D

    BalasHapus
  7. weis akhir nya begini rupanya :),keren2 tun ..haha tia aja ngak bisa bikin begini, yok bikin cerpen keroyokan ajak fahrie

    BalasHapus
  8. Ayo keroyok Fahri ehhhh ayo keroyokan Tia :D tia bikinnya mah lebih bagus dari ini ya... :)

    BalasHapus
  9. Afwan kalo nyinggung, mbak! Tapi bagus kok fiksinya. Two thumb up... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyinggung? nggak kok mas :-) makasih ya...

      Hapus
  10. bagus nufus. Coba kirim ke media.
    Mau coba ke Serambi Indonesia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang udah memenuhi sarat utk media kak? kayaknya kurang banyak ya? cara kirim ke serambi gimana?# banyak tanya! :D

      MAkasih kak Eqi^^

      Hapus
    2. 4-5 halaman kalau tak salah.
      Ini alamat emailnya:
      serambinews@yahoo.com
      CC kan ke:
      redaksi@serambinews.com
      Jangan lupa, pada subjek ditulis Cerpen
      Selamat mencoba :)

      Hapus
  11. nice, bahasanya sederhana tapi ceritanya ngena :)

    BalasHapus
  12. Ada pepatah, cinta tidak harus memiliki..
    apa benar seperti yg terjadi di kisah ini..??

    bisa bikin buku nih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya milik kita yang jadi cinta kita ya mas... tapi kok nulis cerpen ini? karena memang ada yang berprinsip seperti itu.

      Amin, semoga bisa... makasih mas Insan :)

      Hapus