Coretan Novel

18 komentar

Ingin mosting tulisan baru tapi sedang susah mencari2 kata yang bagus.... ya udah sedikit coretan novel ini aja deh :

“Tempat ini dikenal sebagai Taman Budaya” Amra memberitahu Robert yang langsung mengeluarkan kameranya dan memotret  view bangunan utama dan sebuah papan nama gedung yang terbuat dari beton bertuliskan Taman Budaya. Sekilas gedung ini terlihat sangat biasa, seperti bangunan perkantoran pemerintah.  Mereka berjalan masuk ke dalam taman yang ramai dikunjungi pengunjung. Kebanyakan mereka menuju aula utama yang berada di bagian belakang.
“Sedang ada pagelaran tari traditional Dar elsalam disini, kufikir kau akan tertarik untuk meliput”
“Oya aku tahu beberapa jenis tarian kalian, tari saman, Ranup lampuan, likok pulo dan seudati”
“Kau pernah melihatnya?”
“Tari Saman aku pernah melihatnya sekali saat pertunjukan seni  oleh  mahasiswa asal dar elsalam di kampus. Seudati dan yang lainnya aku belum pernah melihat”
“Kau akan melihat sekarang. Ayo, sepertinya sudah dimulai”
 Robert melihat di atas panggung utama  para penari laki-laki yang berjumlah delapan orang telah mengambil posisi masing-masing. Dua penari di sebelah kiri disebut apeet wie satu orang di bagian belakang apeet bak dan tiga orang lainnya yang menyertai peran. Mereka mengenakan celana panjang dengan baju panjang putih. Ada tangkulok semacam hiasan di kepala mereka dan sebuah rencong terselip pada sarung sebatas paha yang mereka pakai. Tarian ini dipimpin oleh seorang Syekh dan pembantu syekh sebagai lambang persaksian syahadat. Ketika tarian dimulai hentakan kaki, pukulan tapak tangan di dada dan pinggul serta petikan jari penari mampu membuat Robert berdecak begitu juga para penonton lain yang tentu saja sudah berkali-kali menyaksikan tarian ini karena kebanyakan penonton itu adalah warga setempat. Dan hebatnya gerakan-gerakan atraktif itu dilakukan tanpa musik hanya mengikuti syair dan pantun. Musiknya bersumber pada gerakan tubuh dan syair itu sendiri.              Komposisi gerakan lincah, harmonis, dan terkadang kaku melambangkan kebesaran dan keperkasaan seorang pejuang. Tarian ini dibawakan dengan mengisahkan berbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama.
 Kelenturan sekaligus keperkasaan memancar dari para penari beriring dengan nyanyian yang berderap, badan penari meliuk cepat, semakin cepat pada gerakan yang jika tak terbiasa akan sangat susah untuk diikuti lalu berhenti tiba-tiba dalam suasana sunyi.
            Para penonton terbawa emosi hingga meletupkan sorak dan teriak bersama tepuk tangan untuk seni yang sangat indah ini. Robert yang sangat berkonsentrasi dengan kameranya juga ikut bersorak panjang.
            “Uuuuh!!!” seru Robert panjang, Amra yang berdiri di sebelahnya tampak bangga melihat ekspresi Robert yang memancarkan ketakjuban. Tentu ia bangga akan budaya bangsanya.
“Apa kesanmu terhadap gerakan tari Seudati ini?” tanyanya ketika Robert mengambil bangku disamping Amra begitu tarian usai dan penari menuruni panggung.
“Semangat! Gerakan-gerakan cepat dilakukan dengan gairah seperti ada kekuatan magis yang menggerakan para penari itu”
“Begitukah? Seperti tarian-tarian puja-puji dalam beberapa suku yang menganut faham animisme dan dinamisme maksudmu?”
“Tak persis seperti itu. Aku pernah melihat sebuah tarian asmat di pedalaman Irian Kufikir ada kesamaan para nilainya”
“Jika yang kau maksud adalah nilai reliji, kau benar. Tahukah kau Seudati itu sebenarnya berarti syahadatain yang bermakna pengakuan, dua perkara penyaksian. Para penyiar agama Islam di bumi Serambi Mekkah ini menggunakan tarian bernuansa agama sebagai metode penyebaran pesan. Meski ada pula yang menyatakan kata seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak”
“Ya gerakannya sangat harmonis dan kompak”
            Usai para penari turun pembawa acara naik ke panggung membacakan acara selanjutnya yang ternyata acara seremonial. Tari seudati tadi adalah penampilan pembuka.
            “kau masih ingin disini? Atau melihat hal-hal lain?”
            “Ada hal menarik apa selain tarian tadi?”
            “Disebelah Taman Budaya ini ada Taman Putroe Phang dan Kerrkhoff”
            “Ayo kita kesana” Robert berkata sambil berdiri, amra mengiringi langkahnya. Beberapa orang yang melihat mereka berbisik-bisik sambil tertawa melihat padanya yang tentu saja berbeda dengan penonton yang lain. Robert melirik mereka lalu iseng menghidupkan kameranya dan menyorot wajah-wajah lugu itu yang kemudian berteriak malu-malu. Keriuhan mereka memancing para penonton yang lain untuk melihat ke arah mereka. Menjadi pusat perhatian, Robert tersenyum sambil melambai lalu mengikuti langkah Amra keluar dari aula.

18 komentar :

  1. Asyiiiik Kak Nufus nulis novel lagi! ^^ Kalo udah rilis info saya yaaa. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malesnya masih mendominasi yu... amin semoga bisa ya ^^

      Hapus
  2. Ini udah halaman yang ke berapa fus?
    Mantap dah, bentar lagi nufus mau punya novel, hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum tahu halamannya kak masih acak, bantuin ngedit dong ^^ he..he..

      Hapus
  3. Karena ceritanya mantap, Nufus dapat Award di sini..^^
    Link: http://jabanahsadah.blogspot.com/2012/03/versatile-blogger.html

    BalasHapus
  4. Wow... aku baru tahu kalau tarian itu berasal dari kata syahadatain, kalau di jawa kan jadi sekaten, budaya juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mirip2 ya... dulu memang nyebarin agama pakai kebudayaan ya biar lbh gampang diterima :) maksih kunjungannya :)

      Hapus
  5. wiih walaupun J50K udah lewat tp masih semangat nih bikin novel, kereen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini yg kemarin kagak selese2 mbak ... malu sama mbak Nurul ah :(

      Hapus
  6. kak atun punya blog juga rupanya... *ketinggalan berita*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Rin... sering2 maen kemari ya :D

      Hapus
  7. wuuiihhh, ternyata penulis novel ya....salam kenal ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum mbak Rosa.... masih penulis 'coretan novel' he..he..

      Hapus
  8. di tunggu undnagan peluncurannya...hehehhe

    BalasHapus
  9. wah... keren! ditunggu peluncurannya ya mba.... bisa belajar nih pada dirimu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yg hrsnya belajar dari mbak Al :)

      Hapus