Korrie Layun Rampan

25 komentar


Bagi pecinta sastra Indonesia pasti sangat familiar dengan nama Korrie Layun Rampan. Pernah dengar kan? Nah di majalah Horison edisi Desember 2011, di kaki langitnya Sunu Wasono membahas tentang sastrawan asal Dayak Benuaq ini. Belum baca Horison? Baiklah saya ringkas sedikit disini ya…
Korrie LR adalah putra dari pasangan Paulus Rampan dengan Martha Renihay Edau Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan 17 Agustus 1953. Ia menamatkan Sekolah Dasar  hingga pendidikan atas di Samarinda,  lalu tahun 1970 ke Yogyakarta menuntut ilmu keuangan dan perbankan serta ilmu jurnalistik. Ia juga aktif di Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi. Tujuh tahun di Kota Gudeg ia mendapat tempaan mental yang berharga dan tumbuh menjadi penulis berbakat, potensial dan produktif. Tahun 1978 Korrie pindah ke Jakarta kegiatan menulisnya terus meningkat. Ia bekerja  sebagai wartawan majalah Sarinah lalu menjadi  pengajar, editor, penulis, pengisi acara di RRI dan TVRI.  Akhir tahun 2001 ia memimpin Koran Sentawar Pos yang terbit di kabupaten kutai barat, Kalimantan Timur, juga mengajar di Universitas sendawar, Kutai Barat. Tahun 2004 ia terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009 sebagai ketua komisi I. Meski aktivitasnya banyak dan beragam ia tak pernah meninggalkan dunia tulis-menulis.
Buku yang ia tulis sudah mencapai 200 buku dengan bentuk beragam; puisi, cerpen, novel, esai/kritik, cerita anak dan sejumlah karya terjemahan yang  sampai sekarang bisa ditemukan di toko-toko buku dan ia juga masih akan menerbitkan karya-karya barunya. Weis apa ya rahasianya bisa seproduktif itu kayaknya gampang banget  nulis sampai ratusan buku! 
Proses penulisan/penjadian karya-karya Korrie tidak sama ada karya yang diendapkan sampai tiga tahun tapi ditulis dalam waktu satu minggu saja yaitu Novel Upacara yang mengangkat nama Korrie dalam panggung sastra Indonesia. Awalnya novel in ditulis untuk mengikuti Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 dan menjadi juara kedua. Tahun 1978 diterbitkan sebagai buku oleh Pustaka Jaya. Tulisan-tulisannya banyak berlatar suku dayak tentu saja ia lebih mengenal tempat kelahiran dengan segaala gejolak masalah sosialnyanya tersebut hingga sering terdeskripsikandalam karya-karyanya.

25 komentar :

  1. dulu pertama kali mendengar nama ini, mengira perempuan...btw, saya hanya suka baca cerpennya saja secara puisi kurang mengerti (kadang)...

    BalasHapus
    Balasan
    1. cerpennya memang bagus2 ya mbak... banyak mengangkat budaya dan masalah sosial masyarakat. Selain sbg ibu ternyata kita punya bbrp kesukaan yg sama juga ya :D

      Hapus
  2. Cuma pernah baca satu cerpen beliau. Lupa di mana dan lupa juga apa judulnya.
    Kalau bukunya belum pernah

    BalasHapus
    Balasan
    1. nufus jg nggak punya bukunya kak... cm bc cerpen dan ulasannya :D

      Hapus
  3. ya cerpennya segar dibacanya..http://insanicita.blogspot.com/2012/02/apalah-arti-sebuah-ciuman-dibanding.html

    BalasHapus
  4. wah mpe sekarang ane belom sempet kenalan ma bang korrie. . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo baca karya2nya... bagus loh

      Hapus
  5. Sastrawan sejati ...
    Beliau masih aktif lho.
    Terakhir, beberapa bulan yl saya diceritakan teman yg tinggal di Samarinda, ia punya aktivitas menulis dengan pak Korrie ...

    Seorang 'aset' bangsa ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf, apakah anda punya informasi pak Korrie terkait nomer yang bisa dihubungi? karena saya kan melakukan awancara untuk penelitian tesis..mohon bantuannya :)

      Hapus
  6. hmm....bangga dan suka iri deh kalo liat prestas2nya yg menggunung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... bikin iri ya.. ayo nulis :)

      Hapus
  7. Nah ini saya juga belum pernah baca karya beliau :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dcari dan dibaca mbak Ri.... :)

      Hapus
  8. Pertama dengar nama beliau waktu kuliah, kirain pemilik namanya adalah seorang cewek nan ayu gitu, taunya.. hihihihi..
    Coba baca novelnya Api Awan Asap kalau nggak nangis dangdut, tentang kesetiaan istri yang suaminya dikhianati sahabatnya sendiri. Gaya penceritaannya mantep banget ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mbak Della pasti lebih banyak tahu nih kalau tentang sastra dan tokohnya... aku nggak punya novel Api Awan Asapnya mbak...pasti pasti mantep ^^d

      Hapus
  9. Subhanallah, ini salah satu penulis favorit saya.
    Eh puisi saya berjudul melebur pernah masuk kaki langit horizon #pamer :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah selamat ya, bagus dong :D

      Hapus
    2. wah, salut! aku harap suatu hari bisa seproduktif dan semenginspirasi beliau :D

      Hapus
  10. pernah dengar,tp karya2 beliau belum pernah terbaca mbak oleh saya;)

    BalasHapus
  11. Salah ding mbak, bukan di samarinda, teman saya itu di Banjarmasin .... :)

    Oya, tolong diterima award di link:

    http://mugniarm.blogspot.com/2012/03/inspiring-award-for-inspiring-bloggers.html?showComment=1331686589175#c6282614677647831636

    Terimakasih ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. WAh makasih banyak ya mbak.... maaf internetku lagi lelet banget nih dari tadi susah bukanya :(

      Tengkiyu mbak.

      Hapus