“Tulisan yang mendayu-dayu” dan “Syndrom Matahari”

17 komentar

Pic from my.opera.com
Pada pertemuan Forum Lingkar Pena Jakarta tanggal 11 Maret di Gedung H.B. Jassin yang lalu mbak Prisca, salah seorang Editor Mizan membagikan beberapa tips menarik seputar kepenulisan salah-satunya adalah : “Hindarkan penggunaan Bahasa yang mendayu-dayu dan Syndrom Matahari jika ingin tulisan kita menarik dan tidak membosankan”.
Sampai di rumah aku membuka file-file tulisanku lagi dan menemukan beberapa potong paragraf yang aku ragu apakah termasuk dalam ‘tulisan mendayu-dayu’ yang mbak Priska maksud. Ini paragrafnya:
Tulisan ini telah lama terperangkap di kepalaku. Tak mampu mencari jalan keluar selama bertahun-tahun. Lelah terdiam membiarkan dirinya terbenam oleh ide-ide lain yang muncul tenggelam. Hingga suatu sore sekumpulan remaja melintas di depanku tertawa-tawa bercanda dalam seragam putih birunya, riuh sekali membuatku terlempar pada suatu masa dan melihat diriku diantara mereka. Wajah-wajah belia itupun berganti dengan wajah-wajah yang dulunya begitu akrab dalam keseharianku. Teman-teman tsanawiyahku. Impuls-impuls sarafkupun bekerja dengan kecepatan luar biasa. Neuron-neuron sensorikku mengkoordinasikan indra dan otakku secara simultan lalu otakku melalui neuron motorik memerintahkan tanganku sebagai efektor untuk menghidupkan computer dan mulai mengetik.
                Terdengar terlalu bertele-tele? Atau muter-muter? Aku fikir ‘Iya’.
Atau tulisan yang ini:
Mata itu penuh duka. Tentu berat baginya menghadapi ini. Perasaan takut kehilangan lebih berat dibanding merasai kehilangan itu sendiri. Ketika kamu kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupmu, perlahan kamu akan sadar bahwa ia memang takkan kembali. Kamu akan bisa menerima bahwa kenangan yang tercipta di antara kalian begitu manis untuk dikenang. Tetapi perasaan takut kehilangan ketika kamu masih sangat berharap ia tetap di dekatmu tetap ada untukmu membuatmu kadang terus berharap. Dan harapan pada ketidakpastian begitu menyiksa.
Membingungkan? harusnya bisa lebih ringkas! 
Dan Hore!!! Aku tak menemukan Syndrom Matahari dalam file tulisanku. Mau tahu contoh syndrom Matahari?
                Sinar matahari bersinar cerah, kicau burung-burung, hembusan angin yang meniup dedaunan menyemarakkan suasana pagi.
Atau :
Lihatlah sekelilingmu, matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di barat segalanya indah bukan?
Terlalu sering matahari digunakan untuk mendeskripsikan suasana dalam sebuah cerita, harusnya penulis lebih kreatif mencari pilihan kalimat lain. Begitu juga analogi yang telah sering digunakan penulis. Mbak Prisca mencontohkan : Salju yang turun begitu lembut serupa kapas atau Berita itu mengejutkannya serupa petir di siang hari dan banyak contoh lain. Selain dua hal di atas, ada banyak tips lain yang dibagikan para editor Mizan. Insya Allah saya tulis untuk postingan berikutnya. Keep Writing! ^^

17 komentar :

  1. Terlalu banyak penulis yang ikut mainstream dengan mengedepankan alam. Padahal, seperti kata mbak Pikanisa di kemudian dot com, seharusnya ada hal lain di bumi ini yang bisa merepresentasikan sesuatu yang kita tulis. Setidaknya, itu sih menurut saya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju yu... :D harus lebih kreatif tapi nggak gampang memang.

      Hapus
  2. sy blm pernah ikut kegiatan spt itu.. kyknya asik ya.. tambah ilmu.. baca postingan ini aja sy jd tau apa itu bahasa mendayu-dayu & sindrom matahari :)

    BalasHapus
  3. iya tun,,aku juga masih kayak gitu kalau nulis, syndrom mendayu2 deh..tambah ilmu lagi

    BalasHapus
  4. TFS ya...

    kegiatan serupa itu sengat bermanfaat dan menyenangkan ya, sayang di Palembang masih jarang ^^

    Sama aku juga 'rasa'nya terbebas dari syndrome matarahi tapi masih sering terjebak pada bahasa yang mendayu-dayu :(

    BalasHapus
  5. Mbak Ke2nai: iya manfaat banget mbak jadi tambah ilmu

    Tia: ayo kita perbaiki#gaya iklan Pepsoden

    Mbak Yunda Hamasah: Kegiatan FLP mbak di Palembang ada juga kan? tos mbak!

    BalasHapus
  6. wah mantap ya... aku g pernah ikutan kayak gituan sih jadi nulis blog aja masih asal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apalah yg penting nulis dulu ntar kalau ada kesempatan bs ikut :D

      Hapus
  7. Oooh gitu toh sindroma Matahari, 'memperalat' matahari ya qiqiqi.

    Menurutku indah bahasanya kalo yg mendayu2 itu tapi gak semua orang bisa menikmatinya ya. Mungkin itu yang dihindari. kan sayang sudah nulis capek2 yang ngerti/menikmati hanya sebagian orang.

    Ditunggu postingan berikutnya ya ... :)

    BalasHapus
  8. eeemmm.....gitu ya....aku gitu gak ya kalau nulis...kadang-kadang pakai sedikit sih :D, dikit banget kok hehehe... cuman 5 persen aja deh kayaknya...wkwkwk...asyikk nambah ilmu lg...

    BalasHapus
  9. Mbak Mugniar : iya mbak mungkin kalau yang terlalu berlebihan yang nggak bagus ya... Makasih mbak

    Mbak Rosa : he..he... aku juga dikiiittt banget makenya :D

    BalasHapus
  10. Ooo gitu, iya ya kalau terlalu bertele-tele malah bikin ngantuk. Mudah-mudahan bisa menulis dengan lebih baik. Makasih ilmunya Mba Hay :)

    BalasHapus
  11. huaaa aku masih sering pake bahasa mendayu-dayu nih, abis kalo to the point masih agak gimanaa gitu, takut terlalu frontal aja hehehe (apadah?)
    trus, aku juga suka banget pake kiasan, dan kiasan yang sering aku pake adalah benda2 langit (karena emang suka benda2 langit) termasuk si mentari :(
    ditunggu tulisan2 berikutnya ya mbak :D

    BalasHapus
  12. Wah trnyata ane jg kdg2 gt -__-

    BalasHapus
  13. Aku juga kayaknya masih mendayu-dayu, menurut mbak Haya gimana?? apakah tulisanku termasuk yang lebay, pliss sharing-nya ya ;)

    BalasHapus
  14. Terima Kasih Ilmunya ^_^
    Oya.Saya ingin memberitahukan kalau Bunda mendapatkan Award dari Saya.^_^
    Cube Award (Lihat No. 5), A Award (Lihat No.33) dan Friendship Award
    Award ini bertujuan untuk menyambung silaturahim dan tentu saja sebagai bentuk penghargaan saya kepada Bunda yang sudah menjadi
    Sahabat di Dunia Blog. Silahkan untuk diambil Awardnya disini
    ARR'S AWARD
    Mohon Maaf Pemberitahuannya telat.
    Terima Kasih

    BalasHapus
  15. Mbak Nurul : iya bosan kalau bertele2 :D

    Amel : iya, aku juga suka sih tapi yang baca belum tentu suka ya :D. Makasih ya.

    Hzndi: sama!

    Arr Rian : Wahhhh makasih ya :) awardnya keren!

    BalasHapus