Peluru di matamu

17 komentar

-->


Judul : Peluru di Matamu,
bagian ketiga dari Trilogi Bulan Mati di Javancshe Orange
Pengarang : Afifah Afra Amatullah
Penerbit : Era Novfis
Jumlah Halaman : 193 halaman
Tahun terbit : 2003












Peluru di matamu adalah buku pamungkas dari Trilogi Bulan mati di Javansche Orange, sebuah Trilogi berlatar Tiga Dekade Sejarah Bangsa Indonesia: Masa Kolonialis Belanda, pendudukan Jepang dan era awal kemerdekaan. Kita akan dapat mempelajari sejarah melalui buku ini dengan cara yang tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah manapun karena diceritakan dengan begitu ringan dan mengalir namun mampu mengaduk perasaan.

Adalah Omar yang lebih senang dipanggil Jack, pemuda yang memiliki ketampanan klasik ala Tom Curtis sebagai hasil dari perpaduan Italia, Turki dan Anglo Saxon. Besar di negara Super power dengan didikan liberal dari seorang kerabat ayah yang ia panggil Dad Robert seorang pengusaha sukses membuatnya tumbuh tanpa menghiraukan segala ideologi. Bagi Jack ia adalah epigon dari para petualang romantik abad pertengahan yang kesana kemari mencari cinta. Banyak gadis yang takluk pada senyumnya namun seorang Ivana Martin penganut Marxisme sejati berhasil menjerat dan memonopoli segenap romantisme yang Jack punya. Menjejalinya dengan pemikiran atheis hingga rela meninggalkan kuliah kedokterannya di Universite de Geneva untuk bertualang di Indonesia. Petualangan yang menghantar Jack menjadi seorang penghianat!

Indonesia ketika itu adalah sebuah Republik belia yang masih 'gonjang-ganjing' dihantam berbagai ideologi yang coba mewarnai sistem pemerintahan. Nasionalis yang sebagian pengikutnya ditunggangi kaum komunis berhadapan dengan Partai Islam yang terbelah menjadi kelompok Masyumi dan pengikut Imam Kartosuwiryo yang mendirikan Negara Islam Indonesia. Dan dalam kekacauan itulah Mahmud Alisyah ayah kandung Jack bersama sang bunda Johana Alexandra Rijkaard atau Khadijah memperjuangkan rakyat kecil yang seringkali menjadi korban dari pertikaian itu. Sang ayah yang tak pernah melihat Jack karena Jack lahir ketika ia telah menceraikan sang bunda (yang kemudian dinikahinya kembali) adalah seorang tokoh Islam yang meski tak berdarah Indonesia namun sangat mencintai negri ini. Mahmud mendidik santri-santrinya para pribumi di Pesantren Al-Ikhwah, pesantren warisan keluarga istri keduanya Hanifah. Tentu mereka sangat senang dengan kehadiran Jack yang secara tiba-tiba di pesantren tersebut. Khadijah sangat mengharapkan Jack menjadi seorang pejuang namun ia gelisah mengetahui ada dusta dikedua bola mata putra terkasihnya itu.

Rangkaian kisah yang disajikan membuat saya harap-harap cemas. Pertarungan batin yang dirasakan Jack membuat saya berharap akan sebuah akhir cerita yang mengharukan. Terlebih dengan hadirnya Said senior Jack di Fakultas Kedokteran Universitas Swiss yang lalu bergabung dengan pasukan Tentara Islam Indonesia yang mencoba menjauhkan Jack dari pesona Ivana.

Dan Afifah Afra berhasil membuat saya menahan nafas akan ending yang tak terduga. Yang begitu membekas seolah saya ikut terluka namun luka saya juga berhasil dipulihkan karena Afifah Afra juga menggiring saya untuk percaya bahwa para pahlawan akan mendapat kebahagiaan abadi mereka dengan cara yang telah Allah janjikan.

So kalau kamu suka novel sejarah namun tidak dengan bahasa yang membuat kening berkerut, kamu harus baca novel ini. Memang sih di toko buku tampaknya sudah jarang ada tapi kalau mau pesan online bisa ke Toko Buku Afra atau Toko Buku Online Afra. Bila stoknya habis kamu bisa juga pilih-pilih buku keren lainnya.


17 komentar :

Posting Komentar

Fiksi Fantasi : Harrath

17 komentar


Teman, apakah fiksi ini aneh?

Tubuhnya tergugu, mengeras bak kayu. Tak mati karena tak mengeluarkan busuk selayaknya mayat. Juga tak hidup karena segala telah tercerabut paksa hanya menyisakan memori pahit yang mengaliri ingatannya. Untunglah tangan keriput wanita renta berambut sekelabu mendung itu tak bosan menyuapinya, agar perut tetap mengolah makanan yang menggerakkan segenap organ dalam tubuhnya untuk terus bekerja tak boleh ikut melumpuh, serupa tangan dan kaki yang memang telah dipensiunkan terlalu dini dalam umurnya yang masih sangat muda. Ia pernah begitu mempesona dengan kilau perak di kedua bola matanya yang jarang terpejam. Tapi itu dulu, mata perak itu kini berubah seputih pualam. Putih, kaku dan dingin. Tubuh kekarnya dulu adalah kebanggaan karena ia bekerja dengannya, menebang pohon hingga membelah batu gunung untuk mendapat keping-keping uang. Sekarang semua setuju ia hanya sekerat daging yang untungnya tak mengundang lalat mendekat, karena tangan keriput itu juga rajin menyeka tubuhnya dengan air bersih dan membolak-balik posisi tidurnya agar tak memberi kesempatan borok berkubang di punggung kakunya.
Namanya Harrath, dulu ia adalah segumpal kapas yang terlepas dari pelepahnya. Begitu ringan dan bebas, Ia bahkan tak bisa mengendalikan tubuhnya yang kerap terbang ke mana angin membawanya. Dan angin terlalu sering mengkhianatinya. Suatu senja angin membawanya menjejak kebun si tua Hermeth tanpa ada keperluan. Seorang gadis bergaun putih dengan renda yang menjuntai di kaki sedang duduk di sebuah bangku. Gadis itu kaget dengan hadirnya namun hanya sebentar sampai ia terpaut pada binar perak kedua mata Harrath yang juga kagum menatap sang gadis.
“Mata perak yang begitu indah” desis si gadis yang tak rela berpaling dari tatapnya. Harrath tersenyum mendengar pujian itu. Senyum yang memancing dan magis. Mengajak si Gadis mendekatkan wajahnya pada Harrath. Jemari lentik gadis itu akan menyentuh kulit wajah Harrath ketika Harrath berbalik dan mengayun kakinya menjauh. Gadis itu mengikuti langkah ringan kaki Harrath. Harrath terus berjalan dan si gadis terus mengikutinya meski semak menghalangi langkah dan merobek bagian bawah gaun indahnya. Harrath mempercepatlangkahnya semakin cepat dan lalu berlari menciptakan jarak dengan si gadis. Gadis berusaha mengejar mengacuhkan keanehan yang terjadi. Hingga Harrath semakin menjauh dan tak lagi tertangkap matanya. Gadis melihat sekitarnya yang kini begitu berbeda. Bukanlah perkebunan tempat tadi ia berada. Sekelilingnya kini berwarna perak serupa mata si lelaki. Gadis berteriak ketakutan namun tak ada yang mendengar. Ia terperangkap!
Harrath sendiri telah kembali di perkebunan dan si tua Hermeth melihatnya yang tersengal-sengal.
“Kau seperti baru berlari, darimana kau? Apa ada yang mengejarmu?” Harrath menggeleng lalu mengambil napas dalam mencoba menenangkan dirinya.
“Anda punya tangga kayu? nenek memintaku untuk memperaiki kincir di ladang utara” ujarnya kemudian.
Si tua Hermeth lalu mengambilkannya tangga itu. Ketika Harrath keluar dari pagar yang dijalari rumpun mawar ia mendengar si tua Hermeth memanggil-manggil sebuah nama.
“Hanan! dimana kau” Hanan tentu nama gadis yang tadi ia temui, tapi Harrath lalu tak perduli lagi. Meski tetangganya itu lalu gaduh mencari ke seluruh sudut desa.
“Kau melihatnya bukan? Katakan dimana ia?” Si Tua Hermeth tak tahu harus mencari kemana lagi ketika pikiran warasnya mulai mencurigai Harrath. Namun pemuda itu menggeleng simpati. Menampilkan wajah yang mengasihani betapa cepat pikun mendatangi lelaki itu.
“Kau muncul sore itu, ketika ia di kebun!” ia semakin gusar dan tampak emosi.
“Siapa Hanan pak tua? aku tak pernah melihat seorang gadispun di rumahmu. Kau hanya mengingau” komentarnya. Orang-orang desa bergumam membenarkan. Selama ini si tua Hermeth hanya tinggal seorang diri di rumahnya yang terletak di tengah-tengah kebunnya yang luas.
“Dia cucuku. Hanan hilang!” ceracaunya resah.
Orang-orang pun menggeleng prihatin namun berseloroh menggunjing di belakang si tua Hermeth.
“Darimana ia punya cucu perempuan bukankah anakpun ia tak punya?” sebuah suara bertanya.

 “Ia pernah menikah tapi hanya beberapa bulan istrinya pergi meninggalkannya. Kupikir tak ada yang mau berlama-lama mendengar beragam keluhnya” suara yang lain lebih keras sampai juga di telinga Hermeth. Menusuk hatinya. Ia tahu ia tidak bermimpi ketika Hanan datang dan mengatakan bahwa ia adalah cucu perempuannya dari anaknya yang dulu dibawa kabur oleh sang istri setelah segala pertengkaran mereka tak menemui titik temu. Hermeth terlalu cemburu pada istrinya yang memang berparas jelita. Kecemburuan yang membuatnya ringan tangan dan ringan lidah dan wanita itupun memilih lari dengan membawa anaknya serta, anak yang lalu memberinya seorang cucu, Hanan.
Dan suara sumbang orang-orang desa mendadak lenyap ketika berselang hari beberapa orang tua lain latah meriuh mencari anak gadis mereka yang tiba-tiba hilang. Siera gadis bermata biru yang gemar bersenandung, Rier gadis pemetik harfa, Lein yang senang bersiul menirukan suara kicau burung peliharaannya juga gadis-gadis seusia mereka lainnya. Mengapa para gadis menghilang.
Orang-orang desa menjadi geger. Mencari-cari dalam celah desa bahkan hingga ke kota. Mungkin anak-anak gadis itu tak tahu jalan pulang. Namun tak ada hasil. Hingga hari berganti, bulan berganti tahun. Mereka lenyap!
Nenek yang tinggal bersamanya semakin sering menatap Harrath, menghakimi seolah mampu membaca segala gerak dan pikirnya bagai melihat ikan-ikan yang berenang dalam toples kaca bening. Sesekali wanita tua itu berujar.
“ Kau harus membebaskan iblis di otakmu Har” Tapi Harrath hanya diam seolah tak mengerti lalu menjauhi wanita tua itu. Dan memang ia tak sepenuhnya mengerti.
“Dimana para gadis?” kejar wanita tuaitu ketika ia tak lagi tahan dengan kelakuan Harrath.
Harrath bimbang tak mengerti. Kemana mereka? Ia tak tahu. Meski dalam sekeping memorinya ia mengakui melihat para gadis itu. Awalnya ia menyangka mereka hanya ia lihat dalam mimpi. Namun mereka hilang? Kejaran pertanyaan wanita tua membuatnya gundah juga. Adakah sesuatu yang tak ia sadari?
Dalam kebimbangannya ia berdiri di depan sebuah cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya juga mata perak itu. Ketika berdiri itulah ia tahu beberapa kali jiwanya hilang ada sesuatu yang mengambil alih tubuhnya. Seperti kilatan cahaya berubah warna sekejap seperti setiap slide yang lalu bertubi menghajar memorinya. Ia terengah dalam kebimbangan menerjemahkan kilatan episode itu. Sampai melihat tubuh dalam cerminnya meretak terpecah dalam kepingan-kepingan kecil. Pada setiap keping terlihat wajahnya yang aneh. Semua wajah itu adalah wajahnya namun tampak berbeda-beda, dengan berbagai ekspresi.
“Aku siapa?” tanyanya pada cermin resah.
“Yang mana wajahku?” tak ada jawaban.
Ia berteriak gaduh memukul cermin yang lalu pecah menghamburkan ke wajah dan tubuhnya. Darah dari tangannya mengalir mengamisi pembauannya. Tapi wajah-wajah itu tak juga menghilang terus mengikuti arah pikirnya. Berjejalan di otaknya ingin menguasai isi kepala dan juga jasadnya.
Ia menajamkan telinga, beragam suara berdengung. Itu suara para gadis. Apakah mereka berada dekat dengannya? Ia mencari ke segala arah namun suara-suara itu dengan frekuensi yang tetap ketika ia diam, berjalan atau berlari. Tak ada suara yang mendekat atau menjauh. Suara-suara itu terjebak pada suatu tempat yang tak terjangkau.
“Kau harus mencari mereka Harrath”
“Kemana?”
“Mereka dekat denganmu, tidakkah kau sadar?”

17 komentar :

Posting Komentar

Fiksi Fantasi : Harrath

7 komentar

-->
Dear Friends, apakah fiksi ini aneh?

Tubuhnya tergugu mengeras bak kayu. Tak mati karena tak mengeluarkan busuk selayaknya mayat. Juga tak hidup karena segala telah tercerabut paksa dari laci memorinya. Untunglah tangan keriput wanita renta berambut sekelabu mendung itu tak bosan menyuapinya, agar perut tetap mengolah makanan yang menggerakkan segenap organ dalam tubuhnya untuk terus bekerja tak boleh ikut mengeras, serupa tangan dan kaki yang memang telah dipensiunkan terlalu dini dalam umurnya yang masih sangat muda. Ia pernah begitu mempesona dengan kilau perak di kedua bola matanya yang jarang terpejam. Tapi itu dulu, mata perak itu kini berubah seputih pualam. Putih, kaku dan dingin. Tubuh kekarnya dulu sangat serasi di atas kuda satria yang menebarkan gagah dan beraninya. Sekarang semua setuju ia hanya sekerat daging yang untungnya tak mengundang lalat mendekat, karena tangan keriput itu juga rajin menyeka tubuhnya dengan air bersih dan membolak-balik posisi tidurnya agar tak memberi kesempatan borok berkubang di punggung kakunya.
Namanya Harrath, dulu ia adalah segumpal kapas yang terlepas dari pelepahnya. Begitu ringan dan bebas, Ia bahkan tak bisa mengendalikan tubuhnya yang kerap terbang ke mana angin membawanya. Dan angin terlalu sering mengkhianatinya. Suatu senja angin membawanya menjejak kebun si tua Hermeth tanpa ada keperluan. Seorang gadis bergaun putih dengan renda yang menjuntai di kaki sedang duduk di sebuah bangku. Gadis itu kaget dengan hadirnya namun hanya sebentar sampai ia terpaut pada binar perak kedua mata Harrath yang juga kagum menatap sang gadis.
Mata perak yang begitu indah” desis si gadis yang tak rela berpaling dari tatapnya. Harrath tersenyum mendengar pujian itu. Senyum yang memancing dan magis. Mengajak si Gadis mendekatkan wajahnya pada Harrath. Jemari lentik gadis itu akan menyentuh kulit wajah Harrath ketika Harrath berbalik dan mengayun kakinya menjauh. Gadis itu mengikuti langkah ringan kaki Harrath. Harrath terus berjalan dan si gadis terus mengikutinya meski semak menghalangi langkah dan merobek bagian bawah gaun indahnya. Harrath mempercepatlangkahnya semakin cepat dan lalu berlari menciptakan jarak dengan si gadis. Gadis berusaha mengejar mengacuhkan keanehan yang terjadi. Hingga Harrath semakin menjauh dan tak lagi tertangkap matanya. Gadis melihat sekitarnya yang kini begitu berbeda. Bukanlah perkebunan tempat tadi ia berada. Sekelilingnya kini berwarna perak serupa mata si lelaki. Gadis berteriak ketakutan namun tak ada yang mendengar. Ia terperangkap!
Harrath sendiri telah kembali di perkebunan dan si tua Hermeth melihatnya yang tersengal-sengal.
Kau seperti baru berlari, darimana kau? Apa ada yang mengejarmu?” Harrath menggeleng lalu mengambil napas dalam mencoba menenangkan dirinya.
Anda punya bibit arbei, nenek memintaku untuk membelinya darimu” ujarnya kemudian.
Si tua Hermeth lalu mengambilkannya bibit itu. Ketika Harrath keluar dari pagar yang dijalari rumpun mawar ia mendengar si tua Hermeth memanggil-manggil sebuah nama.
Hanan! dimana kau” Hanan tentu nama gadis yang tadi ia temui, tapi Harrath lalu tak perduli lagi. Meski tetangganya itu lalu gaduh mencari ke seluruh sudut desa.
Kau melihatnya bukan? Katakan dimana ia?” Si Tua Hermeth tak tahu harus mencari kemana lagi ketika pikiran warasnya mulai mencurigai Harrath. Namun pemuda itu menggeleng simpati. Menampilkan wajah yang mengasihani betapa cepat pikun mendatangi lelaki itu.
Kau muncul sore itu, ketika ia di kebun!” ia semakin gusar dan tampak emosi.
Siapa Hanan pak tua? aku tak pernah melihat seorang gadispun di rumahmu. Kau hanya mengingau” komentarnya. Orang-orang desa bergumam membenarkan. Selama ini si tua Hermeth hanya tinggal seorang diri di rumahnya yang terletak di tengah-tengah kebunnya yang luas.
Dia cucuku. Hanan hilang!” ceracaunya resah.
Orang-orang pun menggeleng prihatin namun berseloroh menggunjing di belakang si tua Hermeth.
Darimana ia punya cucu perempuan bukankah anakpun ia tak punya?” sebuah suara bertanya.
To Be Continue aja ahhhh ;p

7 komentar :

Posting Komentar

Dear Anas : Debat Tauhid

26 komentar

Image from pemikiranislam.net


Aku sedang menyiram kembang di halaman depan, suamiku sedang di depan laptop di kamar depan yang menghadap langsung ke halaman dengan jendela besar yang terbuka ketika suara Anas dan dua orang cucu lelaki tetangga sebelah terdengar. Bukan obrolan biasa sehingga membuat aku mencari wajah suamiku dan kami tersenyum.

Ikal    : "Pohon mangganya besar ya?"

Anas : "Allah lebih besar dari pohon mangga sih!"

Epan : "Allah lebih besar dari bumi!".  Serunya.

Anas : "Allah lebih besar dari langit, lebih besarrrr dari apapun!"

Ikal    : "Bukan lebih besar dari langit Anas, tapi tuhan itu adanya dilangit."

Anas : "Tuhan itu di mesjid".

Ikal    : "Di langit!"

Anas : "Di Mesjid! Kan Mesjid itu rumah Tuhan."

Ikal    : "Tapi langitkan lebih tinggi. Tuhan itu di langit!" Debatnya tak ingin kalah.

Epan : "Tuhan itu nggak ada!" ujarnya tiba-tiba setelah hanya diam mendengar Anas dan Ikal yang ngotot-ngototan.

Deg! Aku menghentikan aktivitasku dan menjenguk keluar. Kaget dengan kalimat terakhir itu. Masa sih menurut Epan Tuhan itu tidak ada. Untunglah lalu terdengar kalimat

Epan : "Adanya Allah!"

Ooo akupun lega. Lalu Anas datang sepertinya ia penasaran dengan tempatnya Allah.

Anas : "Ma, Allah itu dimana? Di langit apa di mesjid?" Tanyanya padaku.

Aku berfikir sejenak mencari jawaban yang bagus dan diterima akal bocahnya.

Mama : "Tuhan itu dekat, dan harus selalu ada di hati kita".

Mungkin itu bukan jawaban yang bisa dicerna begitu saja dengan pemikirannya yang biasanya ingin bukti. Namun ia tidak bertanya lagi. Ia lalu menghampiri Ikal dan Epan.

Anas :" Allah itu di hati kita!" Ucapnya yakin dan tak ingin dibantah lagi. Karena kemudian ia mengajak Ikal dan Epan kembali bermain mobil-mobilan barunya.



26 komentar :

Posting Komentar

Ayo Taklukan Jakarta! (1)

27 komentar

Pic from 3kguild.blogspot.com


Kalau salah-satu cagub DKI Jakarta mengusung tema 'Ayo Beresin Jakarta' dalam kampanyenya, maka aku juga punya keinginan berbuat sesuatu di kota metropolitan ini. Tapi tentu kapasitas aku sebagai pemegang KTP DKI yang baru berumur dua tahun belum punya power untuk ngeberesin segala semrawut di jakarta . Aku hanya ingin menaklukan jalanan dengan segala ragam pilihan transportasi itu. Bagi teman-teman yang lahir dan besar di kota besar mungkin bukan masalah pergi kemana-mana sendiri. Aku juga nggak masalah kalau di kampungku he..he.. tapi di Jakarta aku masih 'gagap'. Kegagapan yang ingin sekali aku hilangkan.

For Your Information... aku punya masalah dalam menentukan arah. Istilah kerennya sih Direction Disorientation. Bukan hanya bingung terus 'muter-muter' kalau disuruh cari alamat yang belum pernah kudatangi, disuruh balik ke tempat yang sudah beberapa kali pergi dengan teman saja bisa salah.

Contohnya begini: pertama kali ke Banda Aceh aku pernah salah naik labi-labi (angkot) harusnya aku naik yang arah kota karena aku mau bimbel di Jambotape tapi aku malah naik yang berlawanan arah ke Darussalam!padahal angkot itu PP lewat jalan yang sama loh....Terus aku pernah pergi ke Cot Irie bersama kakakku ketika melihat, membayar dan membersihkan (3x datang pulang-pergi) rumah yang baru dibeli ibuku di Cot Irie tapi ketika harus kembali lagi sendirian aku malah turun dari labi2 sebelum pasar Ule Kareng dan bertanya2 kesana kemari 'Cot Irienya sudah lewat ya?' padahal masih jauh banget sekitar dua kiloan lagi melewati Pasar Ule kareng. Banyak contoh lain lagi tapi tak usah aku ungkapkan satu2 ya hanya membuka 'aib' dan 'kebodohan' sendiri saja...huhuhu. Terlalu ya? Suamiku bilang begitu, sampai2 aku diles privatekan oleh dia 'ala pramuka'. Berdiri tegak lalu tangan nunjuk2 sambil teriak-teriak Utara-selatan-timur-barat-barat daya-barat laut-tenggara-timur laut berulang-ulang sampai hafal. Tapi kayaknya aku nggak hafal juga deh tuing!

Enam tahun tinggal di Banda Aceh aku hafal juga rute2 jalan utama yang sering aku lewati. Jalan2 yang penting2 saja sih.. yang penting bisa ke kampus, bisa ke rumah saudara, bisa ke Mesjid Raya, ke Pasar Aceh, ke Rumah Sakit atau beberapa rumah sahabat. Yang lainnya anggap saja tak penting he..he..

Dan lalu aku terdampar (ceile) di Jakarta. Yang jalannya berliku2, berbelok2, yang jalan pergi dan pulang bisa berbeda-beda, yang macet sana macet sini dan yang kendaraannya tidak hanya 'labi-labi'. Awal2nya sih aku nggak berani pergi sendiri kemana-mana meski cuma ke tempat yang dekat dengan rumah selalu minta diantar suami. Parno: takut tersesat, takut diculik, takut dirampok dll. Tapi nggak mungkin juga kan harus bergantung terus sama suami padahal dia juga harus kerja yang kantornya saja jauh banget dari rumah. Dan aku juga nggak bakalan betah kalau cuma harus ngeliatin tembok rumah atau pemandangan depan, belakang rumah terus. Padahal di Jakarta ini banyak sekali tempat menarik. Tapi rasa takut lebih besar dari rasa bosan sampai 'emosi dan harga diriku tersulut' yang membuat aku bertekad 'ayo taklukan Jakarta!'.

Cerita tentang emosi yang tersulut itu di bagian 2 aja ya? Udah kepanjangan ini... :D

27 komentar :

Posting Komentar

Book Review : Keliling Eropa 6 Bulan hanya 1.000 Dolar!

19 komentar
Bagi kamu-kamu yang mengaku suka traveling dan terobsesi menjelajahi negri-negri cantik di Eropa namun masih ragu-ragu dan bingung untuk memulai petualanganmu setiap melihat saldo tabungan yang 'pas2an', ada baiknya kamu baca buku ini :



Dan kamu akan berdecak 'wow' atas ide dan keberanian Marina Silvia yang seorang wanita berjilbab itu mewujudkan mimpinya menjelajahi 13 negara di Eropa. Tak sekedar membuat kagum buku ini juga menginspirasi kita bahwa betapa menyenangkannya ( jika tidak ingin dikatakan 'adiktif' ) melakukan perjalanan melewati sekat geografis, culture juga prinsip hidup dan agama.

Buku ini ditulis secara detail mulai dari mengapa harus traveling, langkah-langkah teknis yang harus dipersiapkan sebelum dan sepanjang perjalanan, beberapa tips menghadapi culture shock, penghematan-penghematan yang bisa dilakukan dan lain-lain. Dan tentu semua itu bukanlah proses yang cepat.  Marina membutuhkan banyak survei dan perhitungan-perhitungan. Tidak hanya masalah tiket pesawat, pengurusan pasport dan visa namun juga 'host' yang bersedia menampung di setiap negara. Yang berarti memberikan penginapan secara gratis dan menjadi guide bagi jalan-jalanmu di kota mereka.

Dan untungnya kita bisa meniru langkah-langkah yang dilakukan Marina meski tetap butuh daya tahan dan penyesuaian-penyesuaian juga. Karena tentu akan ada beberapa perbedaan pada beberapa kondisi.

Tapi kalau kamu benar-benar ngiler lihat tempat-tempat ini :










ayo beli dulu bukunya dan pelajari dengan lebih detail..... Dan jika sudah sampai disana...jangan lupa bawa pulang oleh-oleh ya :)

19 komentar :

Posting Komentar