Dear Anas : Debat Tauhid

26 komentar

Image from pemikiranislam.net


Aku sedang menyiram kembang di halaman depan, suamiku sedang di depan laptop di kamar depan yang menghadap langsung ke halaman dengan jendela besar yang terbuka ketika suara Anas dan dua orang cucu lelaki tetangga sebelah terdengar. Bukan obrolan biasa sehingga membuat aku mencari wajah suamiku dan kami tersenyum.

Ikal    : "Pohon mangganya besar ya?"

Anas : "Allah lebih besar dari pohon mangga sih!"

Epan : "Allah lebih besar dari bumi!".  Serunya.

Anas : "Allah lebih besar dari langit, lebih besarrrr dari apapun!"

Ikal    : "Bukan lebih besar dari langit Anas, tapi tuhan itu adanya dilangit."

Anas : "Tuhan itu di mesjid".

Ikal    : "Di langit!"

Anas : "Di Mesjid! Kan Mesjid itu rumah Tuhan."

Ikal    : "Tapi langitkan lebih tinggi. Tuhan itu di langit!" Debatnya tak ingin kalah.

Epan : "Tuhan itu nggak ada!" ujarnya tiba-tiba setelah hanya diam mendengar Anas dan Ikal yang ngotot-ngototan.

Deg! Aku menghentikan aktivitasku dan menjenguk keluar. Kaget dengan kalimat terakhir itu. Masa sih menurut Epan Tuhan itu tidak ada. Untunglah lalu terdengar kalimat

Epan : "Adanya Allah!"

Ooo akupun lega. Lalu Anas datang sepertinya ia penasaran dengan tempatnya Allah.

Anas : "Ma, Allah itu dimana? Di langit apa di mesjid?" Tanyanya padaku.

Aku berfikir sejenak mencari jawaban yang bagus dan diterima akal bocahnya.

Mama : "Tuhan itu dekat, dan harus selalu ada di hati kita".

Mungkin itu bukan jawaban yang bisa dicerna begitu saja dengan pemikirannya yang biasanya ingin bukti. Namun ia tidak bertanya lagi. Ia lalu menghampiri Ikal dan Epan.

Anas :" Allah itu di hati kita!" Ucapnya yakin dan tak ingin dibantah lagi. Karena kemudian ia mengajak Ikal dan Epan kembali bermain mobil-mobilan barunya.



26 komentar :

  1. Amin... semoga ya mbak :)

    BalasHapus
  2. wah anas mg tmbh shaleh ya nak.

    BalasHapus
  3. hehe,, walau masih kecil dabatnya debat pinter,, tuhan tdk ada yg ada Allah,, keren deh tuh Epan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he...Epan memang keren, Anas dan Ikal juga kan mas?

      Hapus
  4. Daya tanggap Anas luar biasa ya Mbak? Saya waktu kecil mikirnya Allah itu ada di langit lho...hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak secara umum memang mikirnya gitu ya mbak.

      Hapus
  5. Subhanallah iihh pinter banget, sapa dulu dong ya ortunya *mba bagi 100ribu hehe*

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah nggak punya rupiah nih mbak adanya dollar, mau? # gaya!

      Hapus
  6. obrolan polos anak-anak, kadang bikin deg-degan orang tua yang nguping..yah?! ''':0)

    BalasHapus
  7. jawaban yang bijaksana mba... untungnya Epan ga minta penjelasan lebih lanjut ya? Kalo ga dirimu terpaksa meninggalkan acara siram menyiram bunga terlebih dahulu, dan fokus bagaimana menjelaskannya pada Epan agar dia dapat mengerti dan mampu menjelaskannya pada teman2 lainnya. :)

    btw, Epan anak yang soleh.... semoga akan terus demikian ya mba... tetap dalam jalan dan keyakinan yang lurus... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya untunglah begitu mbak he..he.... amin ya rabbal alamin semoga akan banyak anak2 shaleh ya mbak

      Hapus
  8. jawaban yang bagus; sebab Qalbul mu'min arsyur Rahman...

    BalasHapus
  9. wew... anak2 pada perbincangan tingkat tinggi XD XD

    BalasHapus
  10. weh anas keren yaa, allah ada di hati kita terus di selimurin mainan mobil baru.......


    anak kecil ituh emang bisa2 ajah deh tanya nya yaa :D

    BalasHapus
  11. wahhh, ternyata adu mulut nih tentang dimana tempat-Nya. Allah itu punya kuasa, jadi dimanapun, dibawah, didalam, diatas, Ia itu ada

    BalasHapus
  12. hahahay, seru ya, kl melihat anak2 berdebat seperti itu, ya tapinya yg besar jadi ged gedan, hahahay :D

    BalasHapus
  13. Haduh .... pertanyaan Anas :D

    Athifah juga suka bertanya tentang Allah, mbak. Betul2 bikin saya berpikir super keras :)

    BalasHapus
  14. wah manteb bhakyu, seneng bacanya, hehe salam kenal ya

    BalasHapus
  15. semoga akan benar2 melekat dihati mereka ya...selamanya.
    ^_^

    BalasHapus
  16. TEKS HADITS
    عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: …وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ, فَإِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا, وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ, آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ, لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً, فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عليه و سلم فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَفَلاَ أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِيْ بِهَا, فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِيْ السَّمَاءِ, قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ: فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

    Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.

    BalasHapus
  17. Demikian juga semakna dengan hadits:
    الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتعَالَى, ارْحَمُوْا مَنْ فِيْ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ

    Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah (makhluk) yang di atas bumi, niscaya Yang di atas langit akan mengasihi kalian[21].

    Demikianlah penafsiran Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang beriman dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits mutawatir yang menetapkan Allah di atas langit. Tidak ada penafsiran yang benar selain ini.[22]

    BalasHapus