Fiksi Fantasi : Harrath

17 komentar


Teman, apakah fiksi ini aneh?

Tubuhnya tergugu, mengeras bak kayu. Tak mati karena tak mengeluarkan busuk selayaknya mayat. Juga tak hidup karena segala telah tercerabut paksa hanya menyisakan memori pahit yang mengaliri ingatannya. Untunglah tangan keriput wanita renta berambut sekelabu mendung itu tak bosan menyuapinya, agar perut tetap mengolah makanan yang menggerakkan segenap organ dalam tubuhnya untuk terus bekerja tak boleh ikut melumpuh, serupa tangan dan kaki yang memang telah dipensiunkan terlalu dini dalam umurnya yang masih sangat muda. Ia pernah begitu mempesona dengan kilau perak di kedua bola matanya yang jarang terpejam. Tapi itu dulu, mata perak itu kini berubah seputih pualam. Putih, kaku dan dingin. Tubuh kekarnya dulu adalah kebanggaan karena ia bekerja dengannya, menebang pohon hingga membelah batu gunung untuk mendapat keping-keping uang. Sekarang semua setuju ia hanya sekerat daging yang untungnya tak mengundang lalat mendekat, karena tangan keriput itu juga rajin menyeka tubuhnya dengan air bersih dan membolak-balik posisi tidurnya agar tak memberi kesempatan borok berkubang di punggung kakunya.
Namanya Harrath, dulu ia adalah segumpal kapas yang terlepas dari pelepahnya. Begitu ringan dan bebas, Ia bahkan tak bisa mengendalikan tubuhnya yang kerap terbang ke mana angin membawanya. Dan angin terlalu sering mengkhianatinya. Suatu senja angin membawanya menjejak kebun si tua Hermeth tanpa ada keperluan. Seorang gadis bergaun putih dengan renda yang menjuntai di kaki sedang duduk di sebuah bangku. Gadis itu kaget dengan hadirnya namun hanya sebentar sampai ia terpaut pada binar perak kedua mata Harrath yang juga kagum menatap sang gadis.
“Mata perak yang begitu indah” desis si gadis yang tak rela berpaling dari tatapnya. Harrath tersenyum mendengar pujian itu. Senyum yang memancing dan magis. Mengajak si Gadis mendekatkan wajahnya pada Harrath. Jemari lentik gadis itu akan menyentuh kulit wajah Harrath ketika Harrath berbalik dan mengayun kakinya menjauh. Gadis itu mengikuti langkah ringan kaki Harrath. Harrath terus berjalan dan si gadis terus mengikutinya meski semak menghalangi langkah dan merobek bagian bawah gaun indahnya. Harrath mempercepatlangkahnya semakin cepat dan lalu berlari menciptakan jarak dengan si gadis. Gadis berusaha mengejar mengacuhkan keanehan yang terjadi. Hingga Harrath semakin menjauh dan tak lagi tertangkap matanya. Gadis melihat sekitarnya yang kini begitu berbeda. Bukanlah perkebunan tempat tadi ia berada. Sekelilingnya kini berwarna perak serupa mata si lelaki. Gadis berteriak ketakutan namun tak ada yang mendengar. Ia terperangkap!
Harrath sendiri telah kembali di perkebunan dan si tua Hermeth melihatnya yang tersengal-sengal.
“Kau seperti baru berlari, darimana kau? Apa ada yang mengejarmu?” Harrath menggeleng lalu mengambil napas dalam mencoba menenangkan dirinya.
“Anda punya tangga kayu? nenek memintaku untuk memperaiki kincir di ladang utara” ujarnya kemudian.
Si tua Hermeth lalu mengambilkannya tangga itu. Ketika Harrath keluar dari pagar yang dijalari rumpun mawar ia mendengar si tua Hermeth memanggil-manggil sebuah nama.
“Hanan! dimana kau” Hanan tentu nama gadis yang tadi ia temui, tapi Harrath lalu tak perduli lagi. Meski tetangganya itu lalu gaduh mencari ke seluruh sudut desa.
“Kau melihatnya bukan? Katakan dimana ia?” Si Tua Hermeth tak tahu harus mencari kemana lagi ketika pikiran warasnya mulai mencurigai Harrath. Namun pemuda itu menggeleng simpati. Menampilkan wajah yang mengasihani betapa cepat pikun mendatangi lelaki itu.
“Kau muncul sore itu, ketika ia di kebun!” ia semakin gusar dan tampak emosi.
“Siapa Hanan pak tua? aku tak pernah melihat seorang gadispun di rumahmu. Kau hanya mengingau” komentarnya. Orang-orang desa bergumam membenarkan. Selama ini si tua Hermeth hanya tinggal seorang diri di rumahnya yang terletak di tengah-tengah kebunnya yang luas.
“Dia cucuku. Hanan hilang!” ceracaunya resah.
Orang-orang pun menggeleng prihatin namun berseloroh menggunjing di belakang si tua Hermeth.
“Darimana ia punya cucu perempuan bukankah anakpun ia tak punya?” sebuah suara bertanya.

 “Ia pernah menikah tapi hanya beberapa bulan istrinya pergi meninggalkannya. Kupikir tak ada yang mau berlama-lama mendengar beragam keluhnya” suara yang lain lebih keras sampai juga di telinga Hermeth. Menusuk hatinya. Ia tahu ia tidak bermimpi ketika Hanan datang dan mengatakan bahwa ia adalah cucu perempuannya dari anaknya yang dulu dibawa kabur oleh sang istri setelah segala pertengkaran mereka tak menemui titik temu. Hermeth terlalu cemburu pada istrinya yang memang berparas jelita. Kecemburuan yang membuatnya ringan tangan dan ringan lidah dan wanita itupun memilih lari dengan membawa anaknya serta, anak yang lalu memberinya seorang cucu, Hanan.
Dan suara sumbang orang-orang desa mendadak lenyap ketika berselang hari beberapa orang tua lain latah meriuh mencari anak gadis mereka yang tiba-tiba hilang. Siera gadis bermata biru yang gemar bersenandung, Rier gadis pemetik harfa, Lein yang senang bersiul menirukan suara kicau burung peliharaannya juga gadis-gadis seusia mereka lainnya. Mengapa para gadis menghilang.
Orang-orang desa menjadi geger. Mencari-cari dalam celah desa bahkan hingga ke kota. Mungkin anak-anak gadis itu tak tahu jalan pulang. Namun tak ada hasil. Hingga hari berganti, bulan berganti tahun. Mereka lenyap!
Nenek yang tinggal bersamanya semakin sering menatap Harrath, menghakimi seolah mampu membaca segala gerak dan pikirnya bagai melihat ikan-ikan yang berenang dalam toples kaca bening. Sesekali wanita tua itu berujar.
“ Kau harus membebaskan iblis di otakmu Har” Tapi Harrath hanya diam seolah tak mengerti lalu menjauhi wanita tua itu. Dan memang ia tak sepenuhnya mengerti.
“Dimana para gadis?” kejar wanita tuaitu ketika ia tak lagi tahan dengan kelakuan Harrath.
Harrath bimbang tak mengerti. Kemana mereka? Ia tak tahu. Meski dalam sekeping memorinya ia mengakui melihat para gadis itu. Awalnya ia menyangka mereka hanya ia lihat dalam mimpi. Namun mereka hilang? Kejaran pertanyaan wanita tua membuatnya gundah juga. Adakah sesuatu yang tak ia sadari?
Dalam kebimbangannya ia berdiri di depan sebuah cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya juga mata perak itu. Ketika berdiri itulah ia tahu beberapa kali jiwanya hilang ada sesuatu yang mengambil alih tubuhnya. Seperti kilatan cahaya berubah warna sekejap seperti setiap slide yang lalu bertubi menghajar memorinya. Ia terengah dalam kebimbangan menerjemahkan kilatan episode itu. Sampai melihat tubuh dalam cerminnya meretak terpecah dalam kepingan-kepingan kecil. Pada setiap keping terlihat wajahnya yang aneh. Semua wajah itu adalah wajahnya namun tampak berbeda-beda, dengan berbagai ekspresi.
“Aku siapa?” tanyanya pada cermin resah.
“Yang mana wajahku?” tak ada jawaban.
Ia berteriak gaduh memukul cermin yang lalu pecah menghamburkan ke wajah dan tubuhnya. Darah dari tangannya mengalir mengamisi pembauannya. Tapi wajah-wajah itu tak juga menghilang terus mengikuti arah pikirnya. Berjejalan di otaknya ingin menguasai isi kepala dan juga jasadnya.
Ia menajamkan telinga, beragam suara berdengung. Itu suara para gadis. Apakah mereka berada dekat dengannya? Ia mencari ke segala arah namun suara-suara itu dengan frekuensi yang tetap ketika ia diam, berjalan atau berlari. Tak ada suara yang mendekat atau menjauh. Suara-suara itu terjebak pada suatu tempat yang tak terjangkau.
“Kau harus mencari mereka Harrath”
“Kemana?”
“Mereka dekat denganmu, tidakkah kau sadar?”
Dan mata perak itu kembali berbinar menyebarkan silau yang menggulungkan wanita tua lapis demi lapis hingga menenggelamkannya dalam sebuah ruang putih kelabu.
Untuk pertama kali Harrath menyadari yang terjadi lebih jelas. Wanita tua itu lenyap seperti gadis-gadis lainnya. Lenyap secara tiba-tiba. Hanya ia yang bisa mengembalikan mereka.
Ia lalu mengambil tombak bermata runcing. Menancapkan pada bola matanya kanan lalu kiri. Darah muncrat beserta perih tak terkira namun lalu ia merasakan sosok-sosok yang keluar dari kedua bola matanya. Wanita tua dan para gadis!
Hingga, tak ada lagi mata perak indah itu berubah menjadi putih,pucat dan dingin. Tubuhnyapun melemah tak bergerak hanya napasnya yang teratur menunjukkan ia masih hidup.

17 komentar :

  1. Balasan
    1. Makasih kak Eqi:D tapi kayaknya nggak mancaaaap deh kak ;p

      Hapus
  2. Ohh kerennya, sangat sarat fantasi.
    Aku sendiri kurang bisa nulis fantasi, ajari ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku aja baru ini nulis yang beginian mbak he..he.. Ayo belajar bareng :)

      Hapus
  3. aku suka gaya bahasanya :)

    BalasHapus
  4. mirror mirror on d wall.. bikin emosi harrath aja deh

    lanjutkan :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa kirain ada sambungan tentang para gadis :)

      Hapus
  5. Keren imajinasinya...... aku ga akan punya antene imagi setinggi ini.. hehe. ditunggu lanjutannya? Masih berlanjut kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak ada lanjutannya lagi mbak, biarlah si Harrath tetap begitu hidupnya ha..ha..

      Hapus
  6. wow, di tancap matanya, hihihihiy, ngeri ya fantasinya :D

    BalasHapus
  7. Ck ck ck, tak pernah terbayangkan oleh diriku, ada cerita yang dari bola matanya keluar para gadis dan bola mata! Hebat betul fantasi penulisnya ya ... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. *Keluar para gadis dan wanita tua, maksudnya*

      Hapus
  8. lebih maknyus kalo disertai gambar lho kisah fantasinya! pasti makin asyik banget!

    BalasHapus
  9. Nggak bisa bikin gambar aku bung, maϋϋ minjan punya orang kok sungkan.

    BalasHapus