Make it happy ending!

25 komentar

                Seringkali ketika membaca sebuah novel yang tidak sederhana, cenderung dramatis bahkan tragis, aku latah menggumamkan doa “Make it happy ending please!”. Rasanya begitu menyakitkan jika segala tragedy berlapis yang dihadapi tokoh-tokoh tak real itu berakhir dengan kekalahan misalnya kematian, keterhinaan, keterusiran dan hal-hal tak menyenangkan lainnya. Dan gawatnya, cerita-cerita tragis inilah yang begitu terkesan dan membekas di memoriku. Bahkan aku akan memikirkannya sampai beberapa waktu kemudian.
                Mas Sakti Wibowo, seorang novelis dan tentor senior di Forum Lingkar Pena Jakarta pernah mengilustrasikan pembuatan konflik dengan : Masukkan si tokoh ke dalam sebuah kamar, lalu ikat tangan dan kakinya di sebuah kursi kayu, plester mulutnya, tutup matanya lalu bakar kamar itu!. Buat konflik berlapis yang terasa begitu berat. Lalu dengan cara yang unik buat jalan keluar dari konflik tersebut dengan sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang tak biasa. Maka pembaca akan terkesan dengan cerita itu.  Keren banget ya idenya?.  Meski tak gampang menciptakan cerita yang seperti itu, tetap harus ada alur logisnya. Dan ending itu tak selalu happy ada sad ending atau open ending yang bikin penasaran.
Begitu juga dengan film. Bahkan film tervisualisasi lebih nyata oleh para actor dengan acting dan berbagai ekspresi mereka. Segala konflik tersaji langsung di mata kita tanpa kita harus menghayati kata-kata yang tertulis sebagaimana di novel. Tidak nyata memang (ada juga beberapa yang memang berdasarkan True Story), tapi ya itu tadi, menurutku setiap tokoh atau siapapun harusnya bisa merasakan kemenangan dari segala perjuangan mereka. Mungkin ada yang berpendapat : begitulah hidup, tak seperti dongeng yang berakhir “Live happily ever after”.
Gambar minkam dari Google. images


Dan salah-satu film yang kebagian ‘jatah’ doaku adalah : The Shawshank Redemption. Bukan film baru memang karena diproduksi tahun 1994 yang juga diadopsi dari novelnya Stephen King. Film ini bercerita tentang Andy Dufresne (Tim Robbins) seorang Bankir dengan posisi bagus yang harus masuk penjara dengan penjagaan maksimum karena didakwa membunuh istri dan selingkuhannya. Meski ia tak pernah mengakui perbuatan itu. Pun kepada teman-teman sepenjara ia mengatakan “ Pengadilan yang membuatku masuk ke sini” tentu tak ada yang percaya, mereka menjawab “ Tak ada yang bersalah disini, tak tahukah kamu?”sambil mencibir.
 Hidup  di penjara dengan maximum security bukanlah hal yang mudah apalagi di malam-malam awal hingga dua tahun pertama. Siksaan fisik oleh para sipir, kewajiban kerja kuli, makanan yang berulat hingga sex harassment oleh beberapa terpidana lainnya membuatnya ‘babak belur’. Namun ia menemukan inner peace and self reliance dalam ketidakmanusiawian system penjara. Dan ia juga memiliki teman-teman yang memiliki hati dan kebaikan. Tapi Andy juga memiliki ‘hope’, sesuatu yang telah dilupakan oleh terpidana lainnya.
Hingga seorang terpidana baru masuk ke dalam penjara tersebut dan menemui kenyataan bahwa Andy memang tak bersalah. Ia rela menjadi saksi untuk itu, namun sang kepala penjara tak ingin Andy bebas karena terlanjur tergantung pada Andy karena Money Laudry yang dilakukannya dengan memanfaatkan Andy sebagai banker. Dengan licik iapun menembak si saksi lalu mengumumkan kalau ia mencoba melarikan diri dari penjara. Dan Andy mendapat siksaan berat agar ia tak berfikir bahwa ia tak bersalah dan menginginkan kebebasan.
Hufftt, rasanya tak ada harapan untuk Happy Ending!. Apalagi cerita-cerita yang berlatar penjara cenderung mirip dengan cerita-cerita perang yang berakhit tragis.
Tapi tunggu, film ini ternyata memberikan ending tak terduga (menurutku). Meski pada scene-scene mendekati akhir Andy terlihat putus asa dan menyerah. Tapi Andy begitu jenius untuk kalah. Ternyata ia telah merancang kebebasannya sejak hari-hari pertama masuk ke dalam penjara!. Ia mempunyai mimpi akan hidup selanjutnya. Dan aku puas!.

25 komentar :

Posting Komentar

Jacaranda

11 komentar

Jacaranda 
                Jacaranda, terasa familiar juga enak diucapkan. Aku jadi teringat Jaka tingkir juga Jaka tarup. Tokoh-tokoh legenda Indonesia zaman kerajaan dulu. Padahal nggak ada hubungannya sama sekalinya kecuali sama-sama Jaka. Atau juga Gusti Randa, ibunda,ananda,kakanda.  Tetap tak ada hubungan juga sih. Tapi yah itu tadi dari namanya kok kayak akrab gitu di lidah padahal Jacaranda itu berasal dari kata Portuguese yang artinya “hard core” atau “hard branch”.

Pohon cantik berbunga ungu ini  adalah satu dari 49 genus yang dimiliki dalam family Bignoniaceae yang biasanya tumbuh di daerah tropis dan subtropics . Asal awalnya dari South America yaitu Brazil, Argentina, Uruguay juga mexico dan central America. Lalu dikenalkan ke Australia, New Zealand, India, Fiji, Portugal dan beberapa daerah di Afrika, kalau Asia adanya di Nepal. Di Afrika malahan ada yang dikenal dengan Jacaranda City yaitu daerah Pretonia di South Afika dikarenakan begitu banyaknya jacaranda yang ditanam di sepanjang jalan, kebun-kebun dan taman-taman. Sehingga kota itu terlihat begitu ungu jika dilihat dari atas bukit.



Jacaranda yang mengelilingi Lac Anosy

Di Madagascar pohon ini juga banyak ditanam di sepanjang jalan, di halaman-halaman rumah  bahkan Lac Anosy yang menjadi landmarknya kota ini dikelilingi oleh jacaranda. Yang ketika sedang bermekaran tentu akan memperindah danau. Tampak semarak sekali, ungu dimana-dimana.


Anakku, ganteng-ganteng kan?

Seorang teman pernah bilang kalau dahulu kala ada seorang janda dan jejaka yang saling jatuh cinta. Namun cinta mereka tak mungkin disatukan karena adat setempat tak merestui hubungan seperti itu. Singkat kata mereka rela mati daripada tersiksa oleh perpisahan lalu merekapun bunuh diri. Keduanya lalu bersatu menjelma sebatang pohon. Itulah sebabnya mengapa tanah disekeliling jacaranda terlihat basah, katanya itu airmata mereka. Nggak enak kalau nggak percaya tapi aku penasaran juga, apa memang ada legenda seperti itu? Setelah mendengar cerita itu aku langsung googling dengan key word Jacaranda legend ; forbidden love ; mith dan kata-kata lain yang kira-kira cocok tapi tak ada cerita seperti itu yang terekan di google atau aku yang belum dapat ya?.

Adanya malah tentang mitos yang mengatakan  kalau bunga jacaranda terjatuh di atas kepala maka jika ia adalah seorang pelajar maka ia akan lulus ujian karena memang sih mekarnya itu di masa-masa ujian universitas.  Atau akan mendatangkan good luck lainnya. Kamu percaya?



11 komentar :

Posting Komentar

Tak ada Traffic Light

28 komentar
Jalanan kota

Pertama kali sampai di ibu kota Madagascar, Antananarivo aku dan keluarga dijemput dengan sebuah mobil. Ketika di perjalanan menuju hotel aku celingak celinguk menatap ke luar jendela. Meski gelap karena sudah pukul dua belas malam ketika itu, aku tetap bisa melihat jalanan yang lenggang. Mobilpun melaju santai melewati jalanan yang kiri kanannya  terasa sangat asing.
“Kok jalanan kecil terus ya? Kapan masuk ke jalan utamanya?”  batinku.
Dan ternyata jalan yang aku bilang kecil itu adalah jalan utama. Tak ada beruas-ruas jalan yang dipenuhi berbagai kendaraan seperti di kota besar layaknya Jakarta. Tak ada juga jalan tol, jalan layang, lintasan kereta api apalagi monorel! Dan tak ada Traffic Light!. Kalau di Jakarta tak ada lampu merah-kuning-hijau yang mengatur para pengemudi bisa dipastikan akan berdampak macet berkilo-kilo meter ya?.
Jalanannya juga tak melulu aspal mulus (beneran aspal itu mulus?), pada jalan-jalan yang menanjak biasa nya dipasang kotak-kota seperti ubin sejenis paving block. Mungkin itu dimaksudkan agar roda-roda mobil tidak mengalami slip, jika hujan air tidak akan tergenang karena akan cepat meresap pada celah-celah antar kotak-kotak itu? (ini hanya teoriku ya bisa jadi salah).

Aku menyimpulkan kalau kota ini begitu sederhana. Dan daya tariknya itu ada pada kesederhanaannya itu sendiri.

Aku suka lihat bukit-bukit tinggi itu :)

Taxi, terlihat tua? 


Meski jalanan kecil bukan berarti kendaraan disini sedikit. Meski tak sepadat Jakarta (kenapa terus membanding-bandingkan sih?) disini juga ada yang namanya mecet. Biasanya pada jam-jam sibuk seperti : jam masuk kerja, jam istirahat kerja dan jam pulang kerja. Tapi tak lah sampai berjam-jam!. Macetnya itu karena ruas jalan yang sempit, sedang perilaku individunya menurut aku sudah tertib. Terbukti meski tak ada lampu merah,pengemudi sudah tahu kendaraan dari arah mana yang lebih diprioritaskan. Kalau hari Sabtu dan minggu jalanan akan sepi kecuali di depan-depan pasar tradisional yang memang tak pernah sepi kecuali tengah malam.

Ok, bloogies ini sedikit gambaran tentang kota Antananarivo ^^ semoga banyak sisi lain yang bisa diceritakan kapan-kapan. Oh ya aku lagi baca sebuah novel karangan Saniep Kuncoro yang berjudul Garis Perempuan, semoga juga bisa mereviewnya disini kapan-kapan ;D.



Salam ^^

28 komentar :

Posting Komentar

Kunjungan di hari Minggu

6 komentar

                Sebenarnya bukan hari Minggu saja, sudah sejak beberapa hari yang lalu makhluk-makhluk manis yang disebut anak-anak itu mengintip-intip ke dalam rumah kami. Aku sering melihat mereka ketika akan mengantar Anas ke sekolah di pagi hari atau ketika menjemputnya di sore hari. Mereka sering bermain di sepanjang jalan yang kami lalui karena di dekat situ jugalah rumah mereka. Ketika melintasi mereka itu aku sering berbisik kepada Anas.
                ‘Senyum Nas, mereka itu teman-temanmu disini’
                ‘Tapi aku nggak bisa ngomong Bahasa mereka ma’ protesnya.
               ‘Justru mereka nanti yang akan mengajarkan kamu, yang penting kamu senyum saja dulu’ dan ragu-ragu iapun tersenyum pada mereka. Dan seperti orang-orang dewasa di sekitar sini yang selalu membalas senyuman atau sapaan, anak-anak itupun tak sekedar membalas senyum itu namun memberi bonus dengan tertawa lebar memperlihatkan gigi geligi mereka yang kontras dengan warna kulit mereka lalu ‘menceracau’ dengan bahasa mereka yang aku juga tidak paham.

                Hari Minggu kemarin, sepertinya mereka bosan dengan rutinitas ‘sekedar senyum’, merekapun menggedor-gedor pintu pagar rumah kami. Dadabe yang membukakan pintu ragu-ragu menyuruh mereka masuk sebelum mendapat izin dari aku. Tuhan, siapa sih yang tega menyuruh mereka pergi padahal senyum polos mereka begitu menyentuh (lebai : mode on).
                “Suruh masuk saja Dadabe” kataku yakin.
Awalnya hanya dua orang, semakin siang semakin banyak yang datang. Mereka bersemangat sekali bermain ayunan, bersepeda, memanjat pohon dan berlari-lari di halaman.



Sebenarnya aku khawatir juga sih dengan kedatangan mereka. Sebagai orang baru aku tidak mengenal anak-anak ini juga keluarga mereka. Apakah aman membiarkan mereka bebas di halaman rumah kami? Apakah orang tua mereka mengizinkan mereka bermain disini?. Bagaimana kalau ada yang terluka atau menangis saat bermain di rumah kami? Dan banyak kekhawatiran lain hingga seharian itu ketika mereka bermain aku tak berani mengerjakan pekerjaan lain terus mengawasi dan memperhatikan mereka.



Anak-anak itu seperti lumrahnya anak-anak lain. Polos meski terkadang ‘nakal’. Oh tidak, mereka tidak nakal mereka hanya ingin tahu dan mengeksplorasi segala hal. Bukankah itu hal yang bagus?. Dan aku melihat kepada dua orang putraku Anas dan Azzam, meski mereka belum bisa berbahasa France atau Malagasy merka tetap ‘nyambung’ bermain. Meski mereka tampak berbeda mereka tak menghiraukan perbedaan yang ada, yang penting main. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sering mempermasalahkan perbedaan?. Mari belajar dari anak-anak.

6 komentar :

Posting Komentar

9 Matahari : Tekad atau Nekat sih?

11 komentar


Keinginan kuat itu tekad, bukan nekat (Adenita)

 Gimana temans, setuju dengan quotes di atas?. Dan menurutmu, ketika orang tua sama sekali tak menyuplai biaya buat bayar pendaftaran masuk universitas, bayaran spp, bayar kos dan biaya hidup lainnya, sedang fee dari kerja sebagai penyiar radio juga tak mampu menutupi semua kebutuhan yang tak sedikit itu. Maukah kamu tetap keukeh kuliah?
Lalu, jika kamu juga tetap ingin kuliah dan meraih gelar sarjana, maukah kamu terlilit hutang hingga puluhan juta rupiah? Ingat, hutang itu atas namamu (usiamu masih dua puluhan) yang nominalnya bisa mencapai tujuh puluh juta rupiah. Sedang setelah selesai kuliah, orang-orang:  bahkan keluargamu sendiri tak yakin ijazahmu akan berguna!. Haduhh berat ya? Tapi itulah yang dialami oleh Matari. Dan ia yakin perbuatannya itu bukan sebuah kenekatan, meski nyatanya ia kewalahan juga karena tak memiliki planning yang baik.
Membaca novel 9 matahari karangan Adenita yang (sepertinya) terinspirasi dari kisah nyata ini membuat saya terpukul (halah; lebai!). Sebagai novel motivasi, kisah ini dibuka dengan hal-hal yang sedikit berbeda (menurut saya loh ya). Tidak lulus UMPTN setelah dua tahun lulus dari SMA, kuliah Diploma 1 pada jurusan yang tak diingini, lalu dibiayai kuliah (juga pada jurusan yang tak disukai) oleh seorang tantenya yang kemudian hari ia ketahui dari dompet selingkuhannya (kuliah ini juga tak ia selesaikan karena beban moral) tak membuat Matari melupakan mimpinya untuk jadi sarjana. Hingga ia membaca pengumuman penerimaan mahasiswa baru di salah-satu Universitas favorit di Bandung dan jurusannya adalah jurusan yang sangat ia minati : Ilmu Komunikasi! Itu adalah kesempatan yang datang pada tahun ketiga.
 Iapun membujuk kakak satu-satunya untuk mendukungnya. Di tengah krisis keuangan keluarga karena ayah yang tak juga kembali bekerja setelah di phk dari pabrik dan ibu yang hanya ibu rumah tangga biasa tanpa punya pemasukan apalagi tabungan tentu tak bisa diandalkan. Padahal kuliahnya adalah Program ekstensi yang tentu biayanya jauh lebih mahal dari program regular. Maka satu-satunya cara yang Matari fikirkan adalah berhutang!. Tidak pada satu orang namun pada beberapa orang sekaligus!. Begitu terobsesinya ia dengan impiannya hingga ia mempunyai definisi sendiri tentang impian dalam kamus hati dan fikirannya
……kepercayaan begitu kuat mendorong seseorang untuk maju. Bahkan ketika raganya dirasa sudah tidak mampu lagi untuk bekerja. Ada akal disana, ada semangat, ada sebuah alam sadar yang kemudian mampu menggerakan sebuah roda yang bahkan sudah kempis atau bocor sekalipun. Roda itu memang sudah tidak bisa berputar, tapi ia mampu bergerak dan berpindah tempat- bukan dengan cara berputar, tapi dengan cara didorong dan diseret. Apapun… tapi roda itu berpindah tempat!.... (halaman : 36)
Temans, aku suka sekali analogi roda ini! Dan memang begitulah perjuangan Matari setelah berhasil masuk dalam lingkungan kampus. Ada semangat belajar tinggi yang diwarnai rasa waswas dengan keharusan mencari uang. Ada impian yang tak ingin ia lepas meski orang-orang mengatakan ia tidak realistis.

Penampakan novel pinjaman dari pustaka kantor suamiku.

Berbagai konflik menghadangnya dan yang terparah adalah : Gangguan Factitious juga Sindrom Munchausen yaitu salah-satu bentuk gangguan psikologis yang dilandasi oleh dorongan ketidaksadaran individu untuk berperan sebagai penderita sakit yang dilatar belakangi oleh disfungsi keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Kekerasan yang kerap ia alami, baik secara verbal maupun fisik menimbulkan trauma pada pertumbuhan hidupnya. Hingga ia mengalami periode ekstrim dimana ia terbaring berminggu-minggu terhimpit segala masalah pelik hingga melukai dirinya sendiri dengan menyayat-nyayat pergelangan tangannya dengan pecahan gelas.
Untunglah kemudian datang orang-orang yang memberikan kasih padanya, memberikan semangat baru untuk tak berhenti karena ia telah memulai “Pantang Pulang Sebelum Berhasil”. Dan iapun mulai berguru pada sekolah kehidupan. Everything happens for reason. Dan iapun kemudian berkenalan orang-orang yang juga mempunyai mimpi.
Lalu bagaimana kuliahnya? Berhasilkah ia jadi sarjana? Bisakah ia melunasi hutang-hutangnya yang semakin membesar?. Sepertinya lebih seru kalau temans baca sendiri kisahnya Matari di novel 9 Matahari. Karena endingnya wow banget! Membuat aku tersadar bahwa aku juga punya mimpi yang masih menggantung pada langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba (halah maksudnya apa ini?).
Oke ini reviewku, Happy Bloging! ^^

11 komentar :

Posting Komentar

Bonjour!

8 komentar


Masalah yang paling terasa sejak hampir dua bulan sampai di Antananarivo adalah : bahasa!. Nggak enak bangetkan ketika ada orang yang sudah tersenyum ramah ke kita lalu ngajak ngobrol macam-macam, tapi kitanya malah bengong nggak ngerti apa yang diomongin dan nggak bisa balas kecuali bilang “sorry, I don’t speak france!” sambil senyum-senyum malu. Artinya gagal dapat saudara baru di belantara tanah asing. Dan hidup tanpa saudara bagai rendang tanpa cabe L.
Begitu juga ketika harus ke pasar. Transaksinya jadi susah. Aku tahunya Cuma bilang “C’est combien? Berapa harganya?” giliran penjualnya jawab, bingung lagi. ‘Berapa ya?’. Lalu terpaksa ngeluarin handphone, buka aplikasi kalkulator dan ngomong lagi,  “berapa mbak? Ketikin angkanya dong!” sambil nunjuk tombol-tombol angka. Dan mengertilah ia kalau aku bukan orang Malagasy karena memang sih wajah-wajah dan postur tubuh kita dan mereka agak mirip-mirip. Kalau penjualnya nakal pasti harganya akan dinaikkan dari harga sebenarnya, tapi aku tetap bisa nawar dengan mengetik lagi deretan angka di bawah angka-angka yang ia ketik. Kebanyakan mereka akan menggeleng. Dan mereka menang aku malas nawar-nawar lagi dan terpaksa ambil biar kalau dikonversikan ke rupiah rasanya ‘sayang uang’. Oya 1 ariary (mata uang Madagaskar) setara dengan 5 rupiah. Kalau harga sepotong baju misalnya 30.000 ariary itu artinya Rp.150.000 padahal baju yang seperti itu mungkin di tanah abang bisa dapat Rp. 50.000 loh.
Jadi, aku harus belajar bahasa Perancis nih. Banyak cara untuk belajar tapi melawan malas itu yang susah.
Kalau hanya mengandalkan kedisiplinan dari diri sendiri (otodidak) rasanya akan lambat, apalagi kalau punya penyakit ‘malas ngomong’. Padahal belajar bahasa apapun paling efektif yah dengan praktek langsungkan? Berani ngomong biar salah. Tapi sifat pendiamku membuatku malu-malu untuk ngomong. he..he….
Cara lain adalah belajar private atau take course. Dan adalah madam Faqih yang sudah malang melintang memberikan private bagi orang-orang Indonesia disini, jadi aku juga memilih private dua kali seminggu dengan beliau.



Ini sudah pertemuan ketiga dengan Madam Faquih, setidaknya aku sudah bisa memperkenalkan diri dan menyapa orang-orang yang baru kutemui dengan kalimat sederhana semisal :
“Bonjour”
“Comment vous appelez vous?”
dan lain-lain.

 Oh ya Jumat depan aku akan diajarkan angka-angka (uang) biar bisa shoping! :D

Bisa juga belajar secara online di :

 Tapi ya itu tadi kalau berani ngomong langsung dengan native speaker pasti bisanya leboh cepat.


8 komentar :

Posting Komentar