9 Matahari : Tekad atau Nekat sih?

11 komentar


Keinginan kuat itu tekad, bukan nekat (Adenita)

 Gimana temans, setuju dengan quotes di atas?. Dan menurutmu, ketika orang tua sama sekali tak menyuplai biaya buat bayar pendaftaran masuk universitas, bayaran spp, bayar kos dan biaya hidup lainnya, sedang fee dari kerja sebagai penyiar radio juga tak mampu menutupi semua kebutuhan yang tak sedikit itu. Maukah kamu tetap keukeh kuliah?
Lalu, jika kamu juga tetap ingin kuliah dan meraih gelar sarjana, maukah kamu terlilit hutang hingga puluhan juta rupiah? Ingat, hutang itu atas namamu (usiamu masih dua puluhan) yang nominalnya bisa mencapai tujuh puluh juta rupiah. Sedang setelah selesai kuliah, orang-orang:  bahkan keluargamu sendiri tak yakin ijazahmu akan berguna!. Haduhh berat ya? Tapi itulah yang dialami oleh Matari. Dan ia yakin perbuatannya itu bukan sebuah kenekatan, meski nyatanya ia kewalahan juga karena tak memiliki planning yang baik.
Membaca novel 9 matahari karangan Adenita yang (sepertinya) terinspirasi dari kisah nyata ini membuat saya terpukul (halah; lebai!). Sebagai novel motivasi, kisah ini dibuka dengan hal-hal yang sedikit berbeda (menurut saya loh ya). Tidak lulus UMPTN setelah dua tahun lulus dari SMA, kuliah Diploma 1 pada jurusan yang tak diingini, lalu dibiayai kuliah (juga pada jurusan yang tak disukai) oleh seorang tantenya yang kemudian hari ia ketahui dari dompet selingkuhannya (kuliah ini juga tak ia selesaikan karena beban moral) tak membuat Matari melupakan mimpinya untuk jadi sarjana. Hingga ia membaca pengumuman penerimaan mahasiswa baru di salah-satu Universitas favorit di Bandung dan jurusannya adalah jurusan yang sangat ia minati : Ilmu Komunikasi! Itu adalah kesempatan yang datang pada tahun ketiga.
 Iapun membujuk kakak satu-satunya untuk mendukungnya. Di tengah krisis keuangan keluarga karena ayah yang tak juga kembali bekerja setelah di phk dari pabrik dan ibu yang hanya ibu rumah tangga biasa tanpa punya pemasukan apalagi tabungan tentu tak bisa diandalkan. Padahal kuliahnya adalah Program ekstensi yang tentu biayanya jauh lebih mahal dari program regular. Maka satu-satunya cara yang Matari fikirkan adalah berhutang!. Tidak pada satu orang namun pada beberapa orang sekaligus!. Begitu terobsesinya ia dengan impiannya hingga ia mempunyai definisi sendiri tentang impian dalam kamus hati dan fikirannya
……kepercayaan begitu kuat mendorong seseorang untuk maju. Bahkan ketika raganya dirasa sudah tidak mampu lagi untuk bekerja. Ada akal disana, ada semangat, ada sebuah alam sadar yang kemudian mampu menggerakan sebuah roda yang bahkan sudah kempis atau bocor sekalipun. Roda itu memang sudah tidak bisa berputar, tapi ia mampu bergerak dan berpindah tempat- bukan dengan cara berputar, tapi dengan cara didorong dan diseret. Apapun… tapi roda itu berpindah tempat!.... (halaman : 36)
Temans, aku suka sekali analogi roda ini! Dan memang begitulah perjuangan Matari setelah berhasil masuk dalam lingkungan kampus. Ada semangat belajar tinggi yang diwarnai rasa waswas dengan keharusan mencari uang. Ada impian yang tak ingin ia lepas meski orang-orang mengatakan ia tidak realistis.

Penampakan novel pinjaman dari pustaka kantor suamiku.

Berbagai konflik menghadangnya dan yang terparah adalah : Gangguan Factitious juga Sindrom Munchausen yaitu salah-satu bentuk gangguan psikologis yang dilandasi oleh dorongan ketidaksadaran individu untuk berperan sebagai penderita sakit yang dilatar belakangi oleh disfungsi keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Kekerasan yang kerap ia alami, baik secara verbal maupun fisik menimbulkan trauma pada pertumbuhan hidupnya. Hingga ia mengalami periode ekstrim dimana ia terbaring berminggu-minggu terhimpit segala masalah pelik hingga melukai dirinya sendiri dengan menyayat-nyayat pergelangan tangannya dengan pecahan gelas.
Untunglah kemudian datang orang-orang yang memberikan kasih padanya, memberikan semangat baru untuk tak berhenti karena ia telah memulai “Pantang Pulang Sebelum Berhasil”. Dan iapun mulai berguru pada sekolah kehidupan. Everything happens for reason. Dan iapun kemudian berkenalan orang-orang yang juga mempunyai mimpi.
Lalu bagaimana kuliahnya? Berhasilkah ia jadi sarjana? Bisakah ia melunasi hutang-hutangnya yang semakin membesar?. Sepertinya lebih seru kalau temans baca sendiri kisahnya Matari di novel 9 Matahari. Karena endingnya wow banget! Membuat aku tersadar bahwa aku juga punya mimpi yang masih menggantung pada langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba (halah maksudnya apa ini?).
Oke ini reviewku, Happy Bloging! ^^

11 komentar :

  1. Menarik sekali reviewnya... jadi ingin memiliki dan baca buku ini deh....
    trims untuk reviewnya yaaa... :)

    BalasHapus
  2. Saya 'nganggurin' buku ini lama banget karena bosen. Nggak tau kenapa males aja sama gaya bahasanya. Tapi, akhirnya dipaksa namatin dan berhasil tamat. Saya sih suka quote di bab yang agak2 akhir, yang pepatah Cina.

    Btw, teman yang di Abdya siapa namanya?

    BalasHapus
  3. ulasanya menarik gan... jadi penasaran endingnya...

    BalasHapus
  4. saluut ah selesai baca 9 matahri, saya juga dikasih pinjaman oleh sepupu tapi belum selesai neh mbacanya...santai soale karena yg empunya kasih durasi pinjamnya setaon...hehehe

    BalasHapus
  5. Saleum,
    Aku sih setuju aja dengan quote diatas itu, sepertinya sangat masuk akal

    BalasHapus
  6. wah, awalnya distatus update blog saya, dikirain tentang komik Tiger Wong dengan jurus 9 matahari. hehehe..! mantap bro, nunggu hasil akhir dari ulasannya!

    BalasHapus
  7. Mbak Alaika : Makasih mbak udah baca review-an ini :D

    Mbak Millati :Wah mbak aku ngabisinnya nggak sampe 24 jam lohhh beneran! berarti kita beda selera baca ya mbak? Oh ya temanku namanya Yanti lulusan keperawatan unsyiah tapi aku juga udah lama nggak kontak2 sama dia mbak.

    Kang kanyan : ayo baca kang

    Mbak Riri : pinjan kok durasinya lama amat mbak? ayo dibaca

    Bang Dmilano : Setuju bang : masuk akal.

    Bung Penho : Aku jarang baca komik bung, blm pernah juga dengar Tiger Wong :D

    BalasHapus
  8. wah, novelnya sepertinya bagus, penuh dengan konflik ya :)

    BalasHapus
  9. Kalau menurutku sih bagus Indie :)

    BalasHapus
  10. Wah, mbak Haya sayang yah jauh.. kalau deket N bisa ketemu udah pingin saya pinjam, heheh *masih tradisi, ckckc :D

    BalasHapus
  11. kunjungan blog balik,,,,
    nice blog om,,,,,

    BalasHapus