Bonjour!

8 komentar


Masalah yang paling terasa sejak hampir dua bulan sampai di Antananarivo adalah : bahasa!. Nggak enak bangetkan ketika ada orang yang sudah tersenyum ramah ke kita lalu ngajak ngobrol macam-macam, tapi kitanya malah bengong nggak ngerti apa yang diomongin dan nggak bisa balas kecuali bilang “sorry, I don’t speak france!” sambil senyum-senyum malu. Artinya gagal dapat saudara baru di belantara tanah asing. Dan hidup tanpa saudara bagai rendang tanpa cabe L.
Begitu juga ketika harus ke pasar. Transaksinya jadi susah. Aku tahunya Cuma bilang “C’est combien? Berapa harganya?” giliran penjualnya jawab, bingung lagi. ‘Berapa ya?’. Lalu terpaksa ngeluarin handphone, buka aplikasi kalkulator dan ngomong lagi,  “berapa mbak? Ketikin angkanya dong!” sambil nunjuk tombol-tombol angka. Dan mengertilah ia kalau aku bukan orang Malagasy karena memang sih wajah-wajah dan postur tubuh kita dan mereka agak mirip-mirip. Kalau penjualnya nakal pasti harganya akan dinaikkan dari harga sebenarnya, tapi aku tetap bisa nawar dengan mengetik lagi deretan angka di bawah angka-angka yang ia ketik. Kebanyakan mereka akan menggeleng. Dan mereka menang aku malas nawar-nawar lagi dan terpaksa ambil biar kalau dikonversikan ke rupiah rasanya ‘sayang uang’. Oya 1 ariary (mata uang Madagaskar) setara dengan 5 rupiah. Kalau harga sepotong baju misalnya 30.000 ariary itu artinya Rp.150.000 padahal baju yang seperti itu mungkin di tanah abang bisa dapat Rp. 50.000 loh.
Jadi, aku harus belajar bahasa Perancis nih. Banyak cara untuk belajar tapi melawan malas itu yang susah.
Kalau hanya mengandalkan kedisiplinan dari diri sendiri (otodidak) rasanya akan lambat, apalagi kalau punya penyakit ‘malas ngomong’. Padahal belajar bahasa apapun paling efektif yah dengan praktek langsungkan? Berani ngomong biar salah. Tapi sifat pendiamku membuatku malu-malu untuk ngomong. he..he….
Cara lain adalah belajar private atau take course. Dan adalah madam Faqih yang sudah malang melintang memberikan private bagi orang-orang Indonesia disini, jadi aku juga memilih private dua kali seminggu dengan beliau.



Ini sudah pertemuan ketiga dengan Madam Faquih, setidaknya aku sudah bisa memperkenalkan diri dan menyapa orang-orang yang baru kutemui dengan kalimat sederhana semisal :
“Bonjour”
“Comment vous appelez vous?”
dan lain-lain.

 Oh ya Jumat depan aku akan diajarkan angka-angka (uang) biar bisa shoping! :D

Bisa juga belajar secara online di :

 Tapi ya itu tadi kalau berani ngomong langsung dengan native speaker pasti bisanya leboh cepat.


8 komentar :

  1. saya selama ini belajar bahasa asing cuma setengah-setengah. cepet bosennya :D mungkin karena belum pernah 'terpaksa' make bahasa itu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak cuma kali ini aku 'dipaksa belajar' :)

      Hapus
  2. Hihihi asik dong belajar Bahasa Perancis...
    Je m'appelle Una... hahaha aku cuma bisa gitu doang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik-asik nggak na, stress ngikutin prononciationnya...

      Hapus
  3. wah, nanti pulang ke Indonesia, nufus udah mahir bahasa Perancis dan bisa buka les di Aceh, hihihi...
    Eniwe, coba kirim tulisan ini ke Serambi. Mana tau lhooo..dimuat maksudnya. jadinya kan, gak hanya eksis di blog aje :D

    Ohya, fus, Captcha blog dihapus dong, aku pernah salah kode sampai lima kali, dan akhirnya pergi gitu aja tanpa ninggalin jejak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya kak... Nulis untuk koran itu bikin nggak santai kak kalau di blog kan nggak terbebani dan bisa langsung dibaca orang he..he..#males usaha :D

      Ooo Nufus aja baru tahu kalau ada captcha di blog Nufus kak, makasih ya... oke sudah dihapus ^^d

      Hapus
  4. bhs perancis sepertinnya sulit ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih sulit dari Bahasa InggRis deh mbak :(

      Hapus