Kunjungan di hari Minggu

6 komentar

                Sebenarnya bukan hari Minggu saja, sudah sejak beberapa hari yang lalu makhluk-makhluk manis yang disebut anak-anak itu mengintip-intip ke dalam rumah kami. Aku sering melihat mereka ketika akan mengantar Anas ke sekolah di pagi hari atau ketika menjemputnya di sore hari. Mereka sering bermain di sepanjang jalan yang kami lalui karena di dekat situ jugalah rumah mereka. Ketika melintasi mereka itu aku sering berbisik kepada Anas.
                ‘Senyum Nas, mereka itu teman-temanmu disini’
                ‘Tapi aku nggak bisa ngomong Bahasa mereka ma’ protesnya.
               ‘Justru mereka nanti yang akan mengajarkan kamu, yang penting kamu senyum saja dulu’ dan ragu-ragu iapun tersenyum pada mereka. Dan seperti orang-orang dewasa di sekitar sini yang selalu membalas senyuman atau sapaan, anak-anak itupun tak sekedar membalas senyum itu namun memberi bonus dengan tertawa lebar memperlihatkan gigi geligi mereka yang kontras dengan warna kulit mereka lalu ‘menceracau’ dengan bahasa mereka yang aku juga tidak paham.

                Hari Minggu kemarin, sepertinya mereka bosan dengan rutinitas ‘sekedar senyum’, merekapun menggedor-gedor pintu pagar rumah kami. Dadabe yang membukakan pintu ragu-ragu menyuruh mereka masuk sebelum mendapat izin dari aku. Tuhan, siapa sih yang tega menyuruh mereka pergi padahal senyum polos mereka begitu menyentuh (lebai : mode on).
                “Suruh masuk saja Dadabe” kataku yakin.
Awalnya hanya dua orang, semakin siang semakin banyak yang datang. Mereka bersemangat sekali bermain ayunan, bersepeda, memanjat pohon dan berlari-lari di halaman.



Sebenarnya aku khawatir juga sih dengan kedatangan mereka. Sebagai orang baru aku tidak mengenal anak-anak ini juga keluarga mereka. Apakah aman membiarkan mereka bebas di halaman rumah kami? Apakah orang tua mereka mengizinkan mereka bermain disini?. Bagaimana kalau ada yang terluka atau menangis saat bermain di rumah kami? Dan banyak kekhawatiran lain hingga seharian itu ketika mereka bermain aku tak berani mengerjakan pekerjaan lain terus mengawasi dan memperhatikan mereka.



Anak-anak itu seperti lumrahnya anak-anak lain. Polos meski terkadang ‘nakal’. Oh tidak, mereka tidak nakal mereka hanya ingin tahu dan mengeksplorasi segala hal. Bukankah itu hal yang bagus?. Dan aku melihat kepada dua orang putraku Anas dan Azzam, meski mereka belum bisa berbahasa France atau Malagasy merka tetap ‘nyambung’ bermain. Meski mereka tampak berbeda mereka tak menghiraukan perbedaan yang ada, yang penting main. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sering mempermasalahkan perbedaan?. Mari belajar dari anak-anak.

6 komentar :

  1. setuju banget dengan tulisan ini. cukup aneh memang, tetapi logikanya pas banget. belajar dari anak-anak yg tak pernah menghiraukan semua bentuk perbedaan ini.
    nice share kawan. saatnya Indonesia bangkit!

    BalasHapus
  2. Bung Penho : saya juga aneh dg tulisan ini :D tapi harsnya begitu ya... nggak perlu berantem jika beda.

    BalasHapus
  3. Saleum,
    Perbedaan yang ada sepatutnya menjadi persatuan ya mbak. Baik buruknya perangai anak anak tidak terpancar dari warna kulit.

    BalasHapus
  4. Setuju sama komentar pertama di atas. Kita memang harus belajar pada anak2 mengenai bagaimana bersikap dalam perbedaan :)

    Nice posting mbak :)

    BalasHapus