Genre : Kamu suka yang mana?

32 komentar



Tahu dong ya kalau yang namanya karya sastra itu punya banyak genre? Kalau yang namanya novel, roman atau selera penulisan fiksi sejenisnya dari masa ke masa mengalami perubahan?. Pernah baca Roman Siti Nurbaya yang melegenda itu? Menurutmu apa bedanya dengan novel metropop yang popular belakangan ini? Pernah baca Majalah Sastra Horison? Menurutmu apa bedanya dengan Majalah Remaja sejenis Story? Maaf ya kebanyakan nanya ;p. Yang jelas menurutku sih, segala genre atau gaya penulisan yang beda-beda itu punya peminatnya masing-masing. Jadi rasanya nggak perlu ribut mana karya yang lebih bagus. Meski terkadang wajar juga sih ada perdebatan tentang tata bahasa atau rambu-rambu EYD yang kadang-kadang dilanggar abis oleh beberapa penulis.
Dan sekarang aku sedang menikmati dua buku yang gaya penulisannya ‘kebanting abis!’ beda banget!. Yaitu Rumah Kacanya Pramoedya Ananta Toer yang merupakan buku pamungkas dari Tetralogi Buru dan My Stupid Boss 4nya Chaos@Work yang merupakan curhatan si penulis tentang si boss di tempat ia bekerja. Coba tebak buku mana yang bakal lebih cepat tamatnya? Kalau dilihat dari jumlah halaman mungkin memang tidak adil ya karena Rumah kaca terdiri dari 646 halamam sedang My Stupid Boss 319 halaman. Tapi dari gaya bahasa dan tema tentu kamu setuju kalau My Stupid Boss jauh lebih ringan dari Rumah Kaca. Karena memang latar belakang kedua penulis yang sangat berbeda terpisah oleh beberapa generasi juga tema yang diangkat juga berbeda.

Sekilas tentang keduanya :
Rumah Kaca adalah roman pamungkas dari Tetralogi Buru yang ditulis tahun 1988 yang pernah diterbitkan oleh 16 penerbit tidak hanya dalam edisi Indonesia namun juga edisi Beijing, Spanyol, Belanda, Amerika, Australia, Serbian, Sweden, Malayalam dan Jepang. Kalau aku sebagai pembaca saja butuh energy dan konsentrasi untuk mengerti alur ceritanya yang rumit tentu penulisnya juga banyak menguras tenaga dalam proses penulisannya. Berbeda dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa (Buku pertama dan kedua yang sudah aku baca, sayang buku ketiga belum ketemu) yang berpusat pada Minke (tokoh utama), buku keempat ini terjadi peralihan pusat penceritaan pada seorang juru arsip bernama Pangemanan yang ditugaskan untuk mencari cara dan siasat guna membungkam Minke.
Kalau kamu suka roman berlatar Sejarah dan bergaya sastra tinggi silahkan cari Tetralogi Buru, kamu akan tahu kalau Pramoedya memang layak mendapat berbagai penghargaan Internasional itu.
Nah, My tupid Boss cocok sekali dibaca bagi kamu-kamu yang ingin ‘penyegaran otak’. Karna gaya penulisannya memang mengalir dan kocak dengan campuran bahasa yang gaul dan menggelitik. Sebenarnya aku kurang suka sih karena isinya menceritakan kejelekan si Boss tapi yah itu tadi memang benar-benar segar. Dan Chaos@Work pasti punya alasan tersendiri untuk menuliskannya dan itu hak dia  dan tentu saja segala resiko seperti bakal ketahuan si Boss akan menjadi tanggungannya sendiri.
My Stupid Boss tentu saja punya penggemarnya sendiri yang tidak sedikit, terlihat dari banyaknya komentar-komentar penggemarnya di jejaring social dan blognya. Dan sudah tercetak empat buku!.
Jadi, kamu suka yang bergenre apa?


32 komentar :

Posting Komentar

Puisi

1 komentar


Rasa selalu ada pada kata yang berganti
Pun pahit hanya bahasa cecapmu yang berbeda
Bermain dengan jiwa meredup melayang
Wariskan wajah baru pada hidup pada mati
Menjejak aroma kenanga di luar  tak ada yang sama
Hanya kumpulan peristiwa yang kan terbuang
Atau tersimpan pada laci-laci berdebu
Aku mati malam ini menghempas kekosongan pada rindu benci

1 komentar :

Posting Komentar

Kenangan

7 komentar

Salah-satu arti kenangan bagiku adalah  sesuatu yang bisa membuatku senyum-senyum meski sedang sendiri. Senyum yang lalu akan berubah-rubah tergantung bagian-bagian episode yang terlintas. Dan ada banyak senyum ketika episode 16 sampai 10 tahun lalu terputar  dengan beberapa sensor yang diakibatkan sinaps-sinaps neuronku kolaps karena aging proses (bahasa sederhananya : lupa). Begini :
Seorang gadis berpipi chaby mencoba membulatkan mata sipitnya besar-besar di depanku sambil menghapus garis lurus yang telah aku tarik dengan sepotong kapur tulis untuk menandai daerah teritorial kekuasaanku.
“Nggak adil! Kenapa meja Rita lebih kecil?”
“Pokoknya kalau melewati garis ini akan kupukul!”  Itu suaraku ,heran kenapa aku dulu begitu galak ya?
“Nggak…nggak, garis ini yang benar” ia menarik garis lain yang baginya lebih adil. Matematikaku tidak jelek.  Meski aku benci setengah mati terhadap rumus-rumus phitagoras aku cukup tahu kalau garis yang ditarik Rita memang lebih mendekati proporsional untuk membagi meja kayu  yang akan kami tempati berdua untuk setahun ke depan. Tapi tentu aku ingin bagianku lebih luas!. Dan ‘Plak!’  penggaris di tanganku telah dengan keras mengenai tangannya.
“Sakit Ton!” mata sipit itu telah membulat maksimal.
“Dibilang jangan lewat!” suaraku juga maksimal.
Namun suara maksimalku membaur sempurna dengan berbagai dengungan teman-teman sekelas lain. Ada yang berkelompok sambil bernyanyi potongan-potongan lagu secara acak. Ada juga yang menghafal hafalan-hafalan wajib semisal Asmaul Husna, Surat Yassin, atau sekedar kosa-kata Arab. Juga ada yang hanya berbicara bosan sambil menunggu guru masuk. Hampir semua berbicara kecuali satu : ketua keamanan kelas!. Diam-diam dia mencatat nama-nama kami di selembar kertas yang lalu diumumkan di akhir kelas. Tapi aku lupa jenis hukuman yang dia siapkan untuk kami. Tentu hukuman yang kemudian membuat kami tak lagi berisik kecuali si ketua keamanan itu diamankan (baca : disingkirkan) terlebih dahulu.
Itu enam belas tahun lewat ketika aku baru duduk di kelas satu tsanawiyah. Dan setelah lewat sepuluh tahun si pipi chabby itu akhirnya berhasil juga kutemui tiga bulan yang lalu di warung ayam bakar Pak Sulis kuala simpang. Tak lagi ada dendam antara kami, meski gelas ‘Best Enemy Ever’ masih melekat padanya. ^^

7 komentar :

Posting Komentar