Kenangan

7 komentar

Salah-satu arti kenangan bagiku adalah  sesuatu yang bisa membuatku senyum-senyum meski sedang sendiri. Senyum yang lalu akan berubah-rubah tergantung bagian-bagian episode yang terlintas. Dan ada banyak senyum ketika episode 16 sampai 10 tahun lalu terputar  dengan beberapa sensor yang diakibatkan sinaps-sinaps neuronku kolaps karena aging proses (bahasa sederhananya : lupa). Begini :
Seorang gadis berpipi chaby mencoba membulatkan mata sipitnya besar-besar di depanku sambil menghapus garis lurus yang telah aku tarik dengan sepotong kapur tulis untuk menandai daerah teritorial kekuasaanku.
“Nggak adil! Kenapa meja Rita lebih kecil?”
“Pokoknya kalau melewati garis ini akan kupukul!”  Itu suaraku ,heran kenapa aku dulu begitu galak ya?
“Nggak…nggak, garis ini yang benar” ia menarik garis lain yang baginya lebih adil. Matematikaku tidak jelek.  Meski aku benci setengah mati terhadap rumus-rumus phitagoras aku cukup tahu kalau garis yang ditarik Rita memang lebih mendekati proporsional untuk membagi meja kayu  yang akan kami tempati berdua untuk setahun ke depan. Tapi tentu aku ingin bagianku lebih luas!. Dan ‘Plak!’  penggaris di tanganku telah dengan keras mengenai tangannya.
“Sakit Ton!” mata sipit itu telah membulat maksimal.
“Dibilang jangan lewat!” suaraku juga maksimal.
Namun suara maksimalku membaur sempurna dengan berbagai dengungan teman-teman sekelas lain. Ada yang berkelompok sambil bernyanyi potongan-potongan lagu secara acak. Ada juga yang menghafal hafalan-hafalan wajib semisal Asmaul Husna, Surat Yassin, atau sekedar kosa-kata Arab. Juga ada yang hanya berbicara bosan sambil menunggu guru masuk. Hampir semua berbicara kecuali satu : ketua keamanan kelas!. Diam-diam dia mencatat nama-nama kami di selembar kertas yang lalu diumumkan di akhir kelas. Tapi aku lupa jenis hukuman yang dia siapkan untuk kami. Tentu hukuman yang kemudian membuat kami tak lagi berisik kecuali si ketua keamanan itu diamankan (baca : disingkirkan) terlebih dahulu.
Itu enam belas tahun lewat ketika aku baru duduk di kelas satu tsanawiyah. Dan setelah lewat sepuluh tahun si pipi chabby itu akhirnya berhasil juga kutemui tiga bulan yang lalu di warung ayam bakar Pak Sulis kuala simpang. Tak lagi ada dendam antara kami, meski gelas ‘Best Enemy Ever’ masih melekat padanya. ^^

7 komentar :

  1. membayangkan bgmn suasan saat itu ya bertemu lagi dgn si pipi chabby ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak seseru dulu mbak, mungkin karena kami sudah lebih dewasa ya.

      Hapus
  2. Saleum,
    Seperti kisah ku dengan si fardelyn Hacky tuh, cuma kami sudah 20 tahun tak bertemu muka, akhirenya ketemu via social media.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha..ha... tapi kami tak ada adegan saling tak sadar kalau itu teman kecil dulu kayak kalian bang ;p

      Hapus
  3. Jiaaaah..ada bang david nyebut2 nama saya :D
    Thanks to blog and social media. Mereka menghubungkan orang-orang yang petnah kita kenal di masa lalu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah memang itu fungsi positifnya ya kak

      Hapus
  4. kawan lama namun tetap dengan senyum yang sama ketika menyapa.. :)

    BalasHapus