Anak-anak Madagascar : Jaga adik

10 komentar



Add caption





10 komentar :

Posting Komentar

Pare

21 komentar

Sudah lima bulan aku di Antananarivo, selama itu pula lidahku tetap tak bisa menikmati makanan yang agak berbeda ‘cita-rasa’nya. Beberapa Resto dan cafĂ© yang pernah aku datang, yang tentu menawarkan menu bermacam-macam dari khas India, Eropa, Timur tengah dan tentu Madagaskar tetap saja rasa-rasanya masakan Indonesia itu yang paling the best. Dan sayangnya tak ada restoran Indonesia disini. Tapi syukurlah di KBRI banyak ibu-ibu yang pintar masak, tentu aku senang jika sudah diundang makan siang di rumah-rumah mereka. Atau secara tak sengaja aku curhat ‘ih pingin banget makan mie ayam’…. Dan beberapa hari kemudian ada hantaran mie ayam special dari salah-satu ibu. Jadi nggak enak juga tapi mie ayam hantaran itu tentu aku habiskan dengan lahap. :D
Dan seminggu yang lalu aku bagai mendapat durian runtuh, ketika tahu di salah-satu rak di supermarket ada pare!. Iya, pare yang biar rasanya pahit tapi begitu menggoyang lidah. Soalnya jarang-jarang ada yang jual pare disini. Bahkan sayuran sejenis kacang panjang, bayam atau kangkungpun belum terlihat wujudnya di pasar-pasar.

Pare tentu enaknya ditumis dengan bawang merah, bawang putih dan tomat. Karena aku suka yang pedas-pedas aku tambahkan cabe rawit yang dipotong-potong. Dan kebetulan di kulkas ada sosis, ikut aku potong-potong dan srengg srengg srenggg.
 Satu mangkuk pare aku habiskan separuhnya sekali makan. Yang separuhnya lagi disisakan untuk makan malam bersama suami. Anak-anak? tentu mereka tak suka (syukurlah).
Padahal awal perkenalan lidahku dengan pare tak lah 'romantis' (kesulitan mencari kata yang tepat). Di keluargaku yang orang Aceh 'tok-tok' rasa-rasanya tak ada yang pernah memasak pare, tidak juga ibuku. Tapi melihat suamiku makan nasi berlauk pare begitu lahapnya di sebuah warteg di Jakarta, aku juga tergoda untuk mencoba. Dan lidahku menolak, rasanya pahit. Aku pikir aku tak akan mencobanya lagi. 
Tapi di lain kesempatan ketika lagi-lagi aku harus melihat keromantisan suamiku melahap si pare (lagi-lagi) di sebuah warteg yang lain. Aku penasaran juga. Apa enaknya? padahal jelas-jelas pahit kan?.
"Biasanya yang pahit-pahit itu bikin kita sehat ma." itu kata suamiku. Dan entah kenapa aku percaya padahal tak ada penelitian seperti itu (atau aku yang tidak tahu?).
Karena tahu suamiku suka, ketika tak sengaja melihat pare di pasar atau di penjual sayur keliling dekat rumah ketika di Jakarta, akupun membeli untuk kemudian ditumis. Tapi lama-lama aku juga suka dan tak lagi menganggap pahit itu sebagai rasa yang tak enak. Lidahku beradaptasi dan malah semakin mesra dengan sensasi pahit yang menggoda (halah!).
Untunglah disini ada pare. Besok aku akan kembali lagi ke supermarket itu. Semoga masih ada parenya.

21 komentar :

Posting Komentar

Kenangan manis : Bapak

31 komentar



Fhoto ini aku temukan di dalam album keluarga ketika pulang ke kampung halaman beberapa bulan yang lalu. Yang rasanya ingin aku ambil dan bawaserta kemanapun aku pergi. Tapi aku sadar kalau salah-satu kelemahanku adalah menjaga barang-barang dengan rapi. Takutnya aku malah akan menghilangkan fhoto ini nantinya, seperti beberapa barang berharga lainnya yang pernah aku hilangkan. Tapi aku tetap bisa membawanya dengan mengabadikannya dalam bentuk digitalkan?
Gadis kecil di fhoto itu aku, dan lelaki yang menggendongku tentu saja almarhum Bapak. Lelaki yang menjadi cinta pertamaku yang segala geraknya terasa indah. Aku bersyukur menjadi anaknya dan aku bersyukur diberi cukup waktu oleh Allah untuk benar-benar merasa dekat dan mengakrabi segala rutinitas Bapak.
 Iya rutinitas, yang bagi orang lain mungkin akan membosankan tapi bagi Bapak begitulah hidupnya. Aku dan anak-anaknya yang lain hafal segala kebiasaan Bapak. Pukul berapa beliau bangun, sholat berjamaah ke masjid, lalu membuka toko. Kami juga tahu jam-jam beliau ke warung kopi atau berkumpul dengan beberapa orang temannya. Apa saja yang Bapak tonton malam hari, makanan apa yang bapak suka bahkan jam tidur beliau akan sama setiap harinya. Begitu juga kami, anak-anak Bapak. Kami juga punya jam-jam yang harus kami patuhi. Kebiasaan yang harusnya berperan dalam mendisiplinkan kami hingga kami dewasa.
Bapak tidak banyak bicara (ingat tokoh ayahnya Ikal di Film Laskar Pelangi? Begitulah lebih kurang karakter Bapakku) tapi ia mencontohkan langsung dengan sikapnya. Kalau sedang berjalan aku sering tertinggal dan harus melangkah besar-besar bahkan berlari untuk menjajari langkah cepatnya. Ia juga sangat sederhana, sangat tahu mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan.  
Pernah aku menulis surat untuk Bapak, meminta dibawakan jilbab hitam karena aku membutuhkan jilbab itu untuk mengikuti salah-satu ekskul di sekolah asramaku. Dan beberapa hari kemudian Bapak datang mengantarkan jilbab itu. Hanya jilbab,  tak ada tambahan yang lain karena jatah bulananku telah dikirim beberapa minggu yang lalu. Pernah juga secara kebetulan Bapak mengikuti manasik haji di sekolahku, dia sama sekali tak memberitahu atau sengaja menemuiku akulah yang lalu berteriak-teriak dari arah jendela kelas begitu menyadari kalau Bapak ada diantara salah-satu calon jamaah haji yang sedang melakukan simulasi tawaf dekat kelasku. Dan begitu Bapak tahu aku yang berteriak dia melihat ke arahku lalu hanya tersenyum. Tak ada lambaian tak ada sapaan!. Padahal jarak rumah dan sekolah asramaku itu harus ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam.
Awalnya aku tak mengerti, mengapa Bapak tak seperti ayah teman-temanku yang lain. Yang jika berkunjung selalu mengajak anak-anaknya keluar. Makan di warung, berbelanja ke kota atau sekedar membawa banyak makanan untuk  persediaan di asrama. Meski aku tahu aku tak akan kelaparan selama di asrama karena dapur asramaku selalu menyediakan makanan meski dengan lauk sederhana. Dan aku akhirnya tahu alasan Bapak, hanya dengan kalimat pendek yang ia bilang ke ibuku. 
Ketika itu, liburan setelah penerimaan Raport kenaikan kelas akan segera dimulai. Teman-temankupun segera dijemput oleh orang tua masing-masing untuk berlibur di rumah. Akupun telah mengabarkan pada Bapak untuk menjemputku. Namun saat hari telah siang Bapak tak juga datang sementara kamarku telah mulai sepi. Aku mulai cemas, jangan-jangan Bapak lupa. Akupun menemui guruku namun peraturannya aku tak boleh pulang jika tak dijemput. Hingga sorepun datang aku tahu tak mungkin aku bermalam sendirian di kamar. Akupun kembali menemui guruku dan meyakinkannya kalau aku bisa pulang sendiri kalau aku bisa bertanggungjawab tak akan kemanapun selain langsung pulang ke rumah. Gurukupun tahu aku tak akan berbohong, ia lalu menemui seorang wali murid dari adik kelasku dan menitipkanku untuk pulang karena arah yang kami tuju searah. Hanya aku memang harus melanjutkan perjalanan seorang diri dan berpisah dengan mereka di terminal yang menuju, desaku.
Sampailah aku di rumah. Dan aku hampir menangis ketika melihat Bapak santai saja menonton berita setelah sholat maghrib sementara ibuku kaget melihatku pulang. Ia bahkan tak tahu aku akan pulang!.
“Ia harus mandiri, harus bisa menyelesaikan apapun masalah yang akan dia hadapi”
Hanya itu!. Akupun menahan tangisku dan lalu merasa ‘hebat’ karena merasa berhasil melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ketika itu aku duduk di kelas Tiga Tsanawiyah dan aku tahu banyak anak-anak lain yang bahkan lebih muda dariku yang bisa bepergian tanpa dikawal orangtua.
                Setahun kemudian, Bapak meninggal. Tapi banyak pelajaran berharga yang telah ia tanamkan. Segala kenangan tentang Bapak membuatku merasa mampu menyelesaikan masalah apapun yang akan aku hadapi. Termasuk seminggu ini, ketika ditinggal bersama dua anakku di salah-satu sudut Afrika sedang suami sedang dinas keluar ^^.
Ini foto Bapak dan kakak keduaku ^^

31 komentar :

Posting Komentar

Kata dalam gerbong puisi

4 komentar



Aku menjajakan kata dalam gerbong-gerbong puisi
tentang segala yang  acak
terlintas mungkin bisa kuhadiahkan untukmu

Sayangnya, perut laparmu tak  butuh puisi

4 komentar :

Posting Komentar