Kenangan manis : Bapak

31 komentar



Fhoto ini aku temukan di dalam album keluarga ketika pulang ke kampung halaman beberapa bulan yang lalu. Yang rasanya ingin aku ambil dan bawaserta kemanapun aku pergi. Tapi aku sadar kalau salah-satu kelemahanku adalah menjaga barang-barang dengan rapi. Takutnya aku malah akan menghilangkan fhoto ini nantinya, seperti beberapa barang berharga lainnya yang pernah aku hilangkan. Tapi aku tetap bisa membawanya dengan mengabadikannya dalam bentuk digitalkan?
Gadis kecil di fhoto itu aku, dan lelaki yang menggendongku tentu saja almarhum Bapak. Lelaki yang menjadi cinta pertamaku yang segala geraknya terasa indah. Aku bersyukur menjadi anaknya dan aku bersyukur diberi cukup waktu oleh Allah untuk benar-benar merasa dekat dan mengakrabi segala rutinitas Bapak.
 Iya rutinitas, yang bagi orang lain mungkin akan membosankan tapi bagi Bapak begitulah hidupnya. Aku dan anak-anaknya yang lain hafal segala kebiasaan Bapak. Pukul berapa beliau bangun, sholat berjamaah ke masjid, lalu membuka toko. Kami juga tahu jam-jam beliau ke warung kopi atau berkumpul dengan beberapa orang temannya. Apa saja yang Bapak tonton malam hari, makanan apa yang bapak suka bahkan jam tidur beliau akan sama setiap harinya. Begitu juga kami, anak-anak Bapak. Kami juga punya jam-jam yang harus kami patuhi. Kebiasaan yang harusnya berperan dalam mendisiplinkan kami hingga kami dewasa.
Bapak tidak banyak bicara (ingat tokoh ayahnya Ikal di Film Laskar Pelangi? Begitulah lebih kurang karakter Bapakku) tapi ia mencontohkan langsung dengan sikapnya. Kalau sedang berjalan aku sering tertinggal dan harus melangkah besar-besar bahkan berlari untuk menjajari langkah cepatnya. Ia juga sangat sederhana, sangat tahu mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan.  
Pernah aku menulis surat untuk Bapak, meminta dibawakan jilbab hitam karena aku membutuhkan jilbab itu untuk mengikuti salah-satu ekskul di sekolah asramaku. Dan beberapa hari kemudian Bapak datang mengantarkan jilbab itu. Hanya jilbab,  tak ada tambahan yang lain karena jatah bulananku telah dikirim beberapa minggu yang lalu. Pernah juga secara kebetulan Bapak mengikuti manasik haji di sekolahku, dia sama sekali tak memberitahu atau sengaja menemuiku akulah yang lalu berteriak-teriak dari arah jendela kelas begitu menyadari kalau Bapak ada diantara salah-satu calon jamaah haji yang sedang melakukan simulasi tawaf dekat kelasku. Dan begitu Bapak tahu aku yang berteriak dia melihat ke arahku lalu hanya tersenyum. Tak ada lambaian tak ada sapaan!. Padahal jarak rumah dan sekolah asramaku itu harus ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam.
Awalnya aku tak mengerti, mengapa Bapak tak seperti ayah teman-temanku yang lain. Yang jika berkunjung selalu mengajak anak-anaknya keluar. Makan di warung, berbelanja ke kota atau sekedar membawa banyak makanan untuk  persediaan di asrama. Meski aku tahu aku tak akan kelaparan selama di asrama karena dapur asramaku selalu menyediakan makanan meski dengan lauk sederhana. Dan aku akhirnya tahu alasan Bapak, hanya dengan kalimat pendek yang ia bilang ke ibuku. 
Ketika itu, liburan setelah penerimaan Raport kenaikan kelas akan segera dimulai. Teman-temankupun segera dijemput oleh orang tua masing-masing untuk berlibur di rumah. Akupun telah mengabarkan pada Bapak untuk menjemputku. Namun saat hari telah siang Bapak tak juga datang sementara kamarku telah mulai sepi. Aku mulai cemas, jangan-jangan Bapak lupa. Akupun menemui guruku namun peraturannya aku tak boleh pulang jika tak dijemput. Hingga sorepun datang aku tahu tak mungkin aku bermalam sendirian di kamar. Akupun kembali menemui guruku dan meyakinkannya kalau aku bisa pulang sendiri kalau aku bisa bertanggungjawab tak akan kemanapun selain langsung pulang ke rumah. Gurukupun tahu aku tak akan berbohong, ia lalu menemui seorang wali murid dari adik kelasku dan menitipkanku untuk pulang karena arah yang kami tuju searah. Hanya aku memang harus melanjutkan perjalanan seorang diri dan berpisah dengan mereka di terminal yang menuju, desaku.
Sampailah aku di rumah. Dan aku hampir menangis ketika melihat Bapak santai saja menonton berita setelah sholat maghrib sementara ibuku kaget melihatku pulang. Ia bahkan tak tahu aku akan pulang!.
“Ia harus mandiri, harus bisa menyelesaikan apapun masalah yang akan dia hadapi”
Hanya itu!. Akupun menahan tangisku dan lalu merasa ‘hebat’ karena merasa berhasil melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ketika itu aku duduk di kelas Tiga Tsanawiyah dan aku tahu banyak anak-anak lain yang bahkan lebih muda dariku yang bisa bepergian tanpa dikawal orangtua.
                Setahun kemudian, Bapak meninggal. Tapi banyak pelajaran berharga yang telah ia tanamkan. Segala kenangan tentang Bapak membuatku merasa mampu menyelesaikan masalah apapun yang akan aku hadapi. Termasuk seminggu ini, ketika ditinggal bersama dua anakku di salah-satu sudut Afrika sedang suami sedang dinas keluar ^^.
Ini foto Bapak dan kakak keduaku ^^

31 komentar :

  1. kenangan yang tak terlupakan

    BalasHapus
  2. Kalau harus memilih kenangan manis yang teramat manis, jawabannya pastilah kenangan bersama orang tua kita.
    Untuk saya sendiri, kenangan bersama almarhum Bapak amat sangat banyak, baik kenangan dalam ingatan maupun kenangan berupa foto dan buku2...
    Almarhum Bapak rajin mendokumenkan semua foto dan catatan, termasuk menyusun silsilah keluarga besar menggunakan mesin ketik manual.
    ==================================
    Semoga Almarhum Ayahandanya damai disisiNya.
    Makasih sudah ikut GA Manis-Manis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, terimakasih doanya mas. Juga semoga Almarhum Ayahanda mas Marsudiyanto damai disisiNya.

      Foto-foto dan catatan itu tentu jadi kenangan berharga bagi anak-anak dan keturunan berikutnya ya mas? Kita jadi punya cerita untuk anak-anak kita.

      Hapus
  3. komenku gagal! :(

    See? Almarhum bapak telah menempa dirimu menjadi seorang wanita yang mandiri.
    Keindahan itu memang tak langsung terlihat nyata, butuh waktu dan akhirnya, buah yang dipetik begitu manis ya cutkak? :)

    Semoga almarhum Bapak ditempatkan di tempat yang layak disisiNya ya.. Amin.

    sukses untuk GAnya yaaa, semoga berbuah manis! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak meski terkadang 'ngerasa nggak bisa' tapi kalau ingat Bapak aku jadi 'ngerasa harus coba'.

      Amin makasaih doanya Cut kak Alaika ^^ semoga orang tua kak Al juga diberikan rahmat oleh Allah.

      Hapus
  4. wah mbak, aku jadi terenyuh baca tulisan di atas, juga foto bapaknya, ingat alm. bapakku mbak .... hiks

    semoga menang ya mbak GA nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Eli, alm Bapaknya mbak Eli pasti punya ruang khusus juga di hati anak-anaknya kan.... :)

      Hapus
  5. aku paling inget kalau masa kecil dulu sama nenek mba,soalnya lebih dekat sama nenek dulu kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti banyak kenangan indah bersama sang nenek dong mas.

      Hapus
  6. bapak ... is the best :P

    sukses ya GA nya :D

    BalasHapus
  7. Kenangan bersama seorang bpk, pasti akan terpatri sepanjang hayat...mgg depan akupun akan mudik utk memeperingati haul ke3 alm.bpkku
    Sukses utk GA nya ya, ini blogwalkingku yg pertama setelah off 6 bln ngeblog hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak, semoga alm Bapaknya mbak dicintaiNya ya. Makassih mbak, ayooo on lagi mbak :D

      Hapus
  8. Kenangan bersama seorang bpk, pasti akan terpatri sepanjang hayat...mgg depan akupun akan mudik utk memeperingati haul ke3 alm.bpkku
    Sukses utk GA nya ya, ini blogwalkingku yg pertama setelah off 6 bln ngeblog hehe...

    BalasHapus
  9. bagus banget ini mbaa.. ;,)
    aku yakin, mba pasti menang..wong bagus gini.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang lain juga banyak yang lebih bagus tuh kayaknya mbak Desi :) aku cuma ikut ngeramein aja.
      Makasih ya.

      Hapus
  10. Saleum,
    Aku masih mencari dan mengumpulkan arsip poto lama, ada yg dah buram. hehehe... dengan foto kita bisa membayangkan kembali masa lalu bersama orang2 yang kita cinta....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat mengarsipkan bang, betol itu bang : agar kenangan tak terlupa begitu saja ya.

      Hapus
  11. Masya Allah. Bapak saya juga amat berkesan mbak. Alhamdulillah beliau masih hidup, sekarang sudah 72 tahun. Berkali2 saya membuat tulisan ttgnya di blog. Baru2 ini tulisan saya ttgnya di IIDN lolos antologi ttg Thankful Heart.

    Semoga almarhum bapaknya mbak Nufus bahagia di sana dan sedang tersenyum melihat putri dan cucu2nya mandiri di negeri orang ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah semoga Bapaknya mbak Niar berbahagia besama anak dan cucunya ya mbak. Amin... terimakasih mbak ^^

      Hapus
  12. alam "diam"nya alm bapak, justru beliau banyak memberikan kesan mendalam dan manis ya mbak.. Semoga almarum Bapak mendapat tempat terbaik di sisi Nya

    BalasHapus
  13. Wah mantep bapaknya... semoga menang ya Mbak...

    BalasHapus
  14. aku jd mewek nih mbak, mengharukan sekali, bapak pasti bahagia melihat putrinya sekarang

    smg menang GA nya mbak

    BalasHapus
  15. jadi ingat almarhum bapak juga. bapak kita sama ya kak. tidak banyak bicara tapi memberikan contoh nyata

    kak, ngga bisa tulis nama n url blog aja ya di komentar?

    www.liza-fathia.com

    BalasHapus
  16. semoga semua memberi ketenangan..
    sukses buat kontesnya ;)

    Indonesian Strong from Home

    BalasHapus
  17. Mbak Mira :Amin, terima kasih mbak.

    Una : Makasih Un

    Mbak Lulu : Makasih mbak

    Liza : kayaknya bisa Liza,di kotak beri komentar sebagai : scrol ke bawah pilih saja mau pakai apa nama dan url juga adakan?

    PS Holic : Terima kasih ya.

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Sifat Bapak kita hampir sama, pendiam. Jadi kangen sama Alm. Bapak juga. Smoga Bapak kita mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Suka bgt tulisan ini :)

    BalasHapus
  20. Mbak Haya terpilih menjadi salah satu pemenangnya.
    Mohon dilihat pada pengumuman
    Trims

    BalasHapus
  21. So Sweet :') Jadi kangen bapak nih.. heheh.. artikelnya bagus mbak :D

    BalasHapus