Again! J50K ^^

9 komentar

Yeha!! Januari akan segera datang!. Dan seperti dua Januari sebelumnya, semangatku kembali tersulut. Bagi yang cukup mengenalku pasti tahu alasannya. Bagi yang belum kenal, mari dekatkan telingamu biar kuberitahu. Januari itu special karena ada ajang J50K!
Belum tahu apa itu J50K?. Ckckck kemana aja? :D.
Sudah, jauhkan telingamu!. Karena aku tak akan berbisik memberitahumu juga yang lain kalau J50K itu adalah singkatan dari Januari lima puluh ribu kata. Jadi di bulan Januari semua orang yang memutuskan untuk menjadi nekaders ditantang untuk menulis 50 ribu kata sampai akhir januari nanti. Tantangan yang tak bisa dibilang mudah juga tak bisa dibilang tidak mungkin. Karena semuanya tergantung semangat dan kesungguhan untuk menulis. Dan dua januari yang lalu memberiku pelajaran akan makna bersungguh-sungguh itu. Januari pertama aku berhasil menuntaskan 50.000 kata bahkan lebih beberapa ribu kata. Namun Januari kemarin aku malah melempem di tiga puluh ribuan saja. Padahal kalau dipikir-pikir beban dan waktu luang itu lebih banyak di januari kemarin.
Hasilnya?. Tentulah sebuah draft kasar dari kisah yang layak diceritakan. Hanya draft? . Jangan salah, semua karya itu berawal dari draft kasar dan tujuan menulis dengan target sejumlah kata itu tentu untuk merangkai sebuah cerita yang meski masih dengan kalimat-kalimat acak setidaknya sudah terbentuk alur yang tentu bisa dipermak dalam proses selanjutnya nantinya. Yang penting nulis dulu lah! Abaikan bagus atau tidak, layak terbit atau tidak. Dan aku termasuk orang yang percaya kalau tak ada usaha yang sia-sia. Terbukti beberapa teman telah menuntaskan ceritanya dan telah di terbitkan oleh penerbit mayor atau juga indie. Dan karya dua tahun milikku yang lalu kemana?. Keduanya sedang menanti nasib!. Dan aku cukup sabar untuk proses panjang itu.
Mau ikut bergabung menguji nyali menjadi nekaders? Cari informasinya disini Kampung Fiksi  Juga disini J50K. Oke, sudah dulu ya... mau langsung siap-siap nih.


9 komentar :

Posting Komentar

Aku dan supir Taxi

33 komentar
Taxi 

                Setelah berulang kali gonta-ganti pasangan eittss salah... gonta-ganti supir Taxi maksudnya, aku jadi tahu karakter-karakter atau kebiasaan-kebiasaan supir Taxi di seputaran Antananarivo.

Kebiasan Pertama :
Kalau aku jalannya pagi, seringkali Taxi akan mampir dulu di POM buat ngisi bahan bakar atau nyari cadangan bahan bakar yang dimasukkan ke dalam botol air mineral bekas.

Kebiasaan kedua :
Kalau Taxinya ngisi bahan bakar, supir akan minta aku buat bayarin dulu bensinnya. Padahal belum juga sampai di tujuan. Tapi tak apa sih karena harga sudah lebih dulu ditentukan. Dan biasanya ngisinya juga nggak lama.

Kebiasaan ketiga :
Kalau lagi hujan dan Taxi terasa susah, mereka akan menerima penumpang lebih dari satu!. Aku pernah dua kali mengalaminya. Tapi nggak masalah juga selama tujuan searah dan penumpang pertama diprioritaskan diantar duluan….dan penumpang kedua itu bukan konconya untuk melakukan kejahatan terhadap penumpang pertama  (tetap harus waspada kalau kejadian begini).

Kebiasaan keempat.
Kalau jalanan lagi padat dan macet, supir akan mematikan mesin Taxinya. Mungkin untuk menghemat. Dan pernah juga kejadian : mesin mati tiba-tiba karena kehabisan bensin, biasanya karena si supir terlupa untuk mengisi bensin dan bagi yang punya cadangan bensin di dalam botol air kemasan bekas tidak masalah, ia tinggal mengisinya di jalan. Efeknya tentu akan menimbulkan kemacetan di belakangnya.

                Awalnya sih agak-agak malas buat naik Taxi karena hal-hal diatas itu, tapi lama kelamaan dan karena kebutuhan juga, aku menjadi enjoy dan menjiwai (halah!). Malah terkadang menjadi aktif mengingatkan si supir untuk singgah di POM bensin, menawarkan membayar ongkos terlebih dahulu dan sok baik tanya-tanya nomor handphone buat dijadikan supir idaman. Maksudnya diberikan job buat antar-jemput kalau lagi malas jalan ke pangkalan Taxi. :D
                Dan mereka seperti manusia pada umumnya, juga memiliki gaya dan karakter masing-masing. Ketika menyetir ada yang cuma diam, pandangan lurus ke depan, serius menyetir. Ada yang suka setel musik berirama metal kuat-kuat, tengak-tengok kanan-kiri lalu selap selip cari jalan. Ada juga yang terlalu santai menikmati angin sepoi-sepoi dari jendela Taxinya.
                Dan sebulan ini aku bertemu juga dengan supir idola. Namanya Ruth (tulisannya kayaknya nggak begitu). Dia mangkal di ujung jalan dekat rumahku. Perkenalan pertama kami ketika aku akan ke Alliance Francaise yang jaraknya agak-agak jauh dari rumah dan ini adalah perjalanan terjauh pertamaku dengan Taxi. Ruth muncul dengan pesonanya diantara supir Taxi lain yang masih berdebat soal arah dan harga.
                “Venez avec moi madame! Je sais que la direction, Bien sure.”  -- “Ikut saya saja bu, saya tahu arahnya pasti!”
                Dan dengan gentle ia membukakan pintu membuatku segera menghalau supir-supir lain  karena Ruth memperlakukanku bak seorang princess. #prett!.
                Dan sepanjang perjalanan ia banyak berbicara memaksaku mengeluarkan kalimat-kalimat acak-kadut tidak jelas untuk merespon obrolannya. Aku tidak lagi bisa mengandalkan kalimat-kalimat yang sudah kuhafal menjadi template kalau naik Taxi seperti “Tourne a gauche” belok kiri, “Tourne a droite!” belok kanan, “Aller tout droit!” Lurus terus. Dia memaksaku berbicara lebih dari itu!.
                “Ou venez vous?” ----“ Kamu berasal dari mana?”
                “Ou est Indonesie? Est –il pres de Hogkong?” -----“ Indonesia itu dimana sih? Dekat nggak dengan Hongkong?”
                Juga banyak pertanyaan atau pernyataan lainnya yang terdengar seperti dengungan lebah di telingaku. Tapi ia terus bicara. Bahkan dia tidak perduli kalau aku hanya menjawab “Oui!” atau “Non” atau “Je ne sais pas” atau “Pardon!” atau “Oh!”. Di hadapan eh di belakang Ruth aku jadi mati kutu. Itu kesan pertama.
                Dan ternyata besok-besoknya lagi aku tetap memilih dia sebagai supirku. Obrolanpun semakin campur aduk beragam topik. Mulai dari jalanan yang macet, pasar-pasar murah di Tananarive, pertanyaan-pertanyaannya tentang Indonesia hingga menggosipkan beberapa bule yang menikahi wanita Madagascar.
                “Bule-bule tua biasanya menikahi gadis-gadis disini Madam. Uang mereka banyak sih.” Katanya suatu ketika ketika kami dalam perjalanan pulang selesai kursus.
                “Oh, dijadikan istri keberapa?” aku terpancing gosipnya Ruth.
                “Bukan yang pertama pastinya!”
                "Oooo"
                  "Nikah beneran? sah gitu?" tanyaku lagi
                  " Ada yang beneran, banyak juga yang bohongan. Nggak pake nikah.". Katanya tertawa.
Diam sebentar, Ruth ngomong lagi kali ini tentang suasana politik di negaranya yang memang baru saja selesai Pemilihan Presiden putaran pertama dan bakal ada putaran kedua namun belum tahu waktu pastinya kapan.
                 "Kalau Dr. Robintson yang jadi presiden, Madagascar nggak akan macet lagi"
                  "Kok bisa? caranya?" tanyaku bingung, secara jalan-jalan di Antananarivo ini kecil-kecil tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah. Jalan alternatif juga tidak banyak.
                  "Iya mobil-mobil tidak boleh parkir lagi di sepanjang jalan. Lalu akan ada pembangunan besar-besaran." Trus parkir dimana dong!pembangunan besar-besaran yang seperti apa? Ruth terus berbicara lebih bersemangat lagi tentang janji-janji kampaye calon presiden idolanya itu juga tapi aku tak terlalu mengerti juga tak terlalu tertarik. Je deteste politicien --- aku benci orang-orang politik yang suka tebar pesona itu. Karenanya aku juga akan menolak mati-matian kalau suatu hari nanti dicalonkan jadi presiden! Beneran! (Uwekkk!! ini kepedean ya?!). Lebih baik hidup tenang, sederhana dengan anak cucu.
         Eh, kembali lagi ke Ruth yang mulai sadar aku nggak nyambung dengan omongannya. kali ini ia menunjuk-nunjuk barang-barang atau benda-benda yang terlihat melalui jendela taxi ketika kami lewat. Mengucapkan namanya dan memintaku mengulang. Kayak guru TK gitu. :D. Dan aku berpikir bagus juga dia memaksaku untuk berbicara paling tidak aku bisa mempraktekkan Bahasa Perancis acak kadutku tanpa takut atau malu karena ia juga berlagak gentle memotivasiku untuk berbicara. Untuk sekarang aku berbicara memang untuk survive dan kupikir tak ada salahnya sambil secara pelan belajar untuk berbicara dengan lebih baik dan benar.
                “Cava madam, kamu bisa ngomong. Bahasa Perancismu lumayan bagi orang yang baru setahun disini.” Tuh kan, Ruth juga membuatku keGR-an :D. 
               "Merci beaucoup Ruth."

33 komentar :

Posting Komentar

Kucing sayang kucing malang

15 komentar

Foto dari http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kucing_peliharaan_(4).JPG

Kamar masih gelap karena lampu memang belum lagi dinyalakan. Tapi suara emak telah berkali-kali memanggil. Asma!Aton!Limah! Berulang-ulang Asma!Aton!Limah! Seperti  guru mengabsen murid-murid di kelas. Tentu ada tiga nama yang tak emak panggil : Erni putri tertua yang sedang kuliah di kota Banda, Nidar yang juga sekolah SMA di kota Banda  dan Ulfah anak keempatnya itu berada di kampong bersama nenek di Aceh Pidie sana. Semua anak emak perempuan. Tapi panggilan emak itu hanya terdengar sayup-sayup bagi ketiganya tak ampuh mengusir kantuk. Shubuh itu adalah waktu terbaik untuk meneruskan tidur, hangat dalam balutan selimut membuat badan enggan bergerak dan mata enggan terbuka.
Dalam kesadaran yang belum lagi pulih Limah merasa kakinya menyentuh sesuatu yang lembut dan berbulu. Itu pasti si Pus yang numpang tidur di kasurnya. Reflek kakinya menendang-nendang berusaha mengusir si pus tapi hewan itu tak bergerak malah suaranyanya yang biasanya berisik mengeongpun tak terdengar. Limah terus menggerak-gerakkan kakinya hingga satu pikiran seram terlintas. Ia terloncat bangun menarik selimutnya bersamaan dengan tubuh si pus yang terjatuh ke bawah. Tubuh itu kaku membentur lantai, tetap tak ada suara.
“Mak!” Limah histeris dan gemetar.
“Si pus mati mak!!” teriaknya ketakutan yang sontak membangunkan kakak-kakak yang tidur sekamar dengannya hanya berbeda tempat tidur.
“Mati? Kenapa?”
Bukannya menjawab Limah semakin keras menangis, tangisan takut juga merasa bersalah. Si Pus mati terjerat selimut. Mungkin ketika tidur Iimah yang sangat lasak itu tak sadar kalau si Pus masuk ke dalam selimutnya. Hingga si Pus terkurung di dalam balutan selimut dan kehabisan nafas. Kasihan sekali si Pus.
“Maafkan Limah Pus….”

Paginya emak membantu Limah mengubur si Pus dibawah pohon temuru di belakang rumah.

15 komentar :

Posting Komentar

Book Review : Selimut Debu

6 komentar



 Judul                            : Selimut Debu
Penulis                          : Agustinus Wibowo
Penerbit                        : PT Gramedia
Cetakan Pertama              : Januari 2010


         Kali ini aku ingin ngomongin tentang buku keren yang sedang aku baca yaitu Selimut Debunya Agustinus Wibowo. Kenapa keren?. Karena dari semua buku kisah perjalanan yang sudah aku baca rasanya buku ini memberi arti yang lebih dalam,  karena begitu hidup, begitu berbaur dan begitu nyata. Dengan malu juga aku akui kalau aku sudah membaca buku ini hampir dua bulan! Dan belum juga selesai. Bukan kerena tebal (sebenarnya tebal banget ;p), tapi karena aku ingin membaca segala cerita orang-orang yang Agustinus temui sepanjang Afganistan, Pakistan dan Tajikistan secara perlahan. Lalu membayangkan kalau aku ada di sana di dekat Agustinus sendiri, aku akan  ikut deg-degan ketika ditangkap oleh tentara perbatasan, ikut cemas ketika tak punya lagi perbekalan dan uang setelah dicopet juga ikut menikmati indahnya alam Afganistan yang tersaji meski begitu banya granat aktif tertanam di tanahnya yang bisa meledak kapan saja.
                Bukan perjalanan yang mudah, juga jelas bukan perjalanan yang dilakukan hanya untuk sekedar melihat keindahan atau keagungan suatu tempat namun ada pencarian nilai kehidupan, pelajaran dari pergantian sejarah masa ke masa,  ragam budaya dan pandangan agama juga karakter kemanusiaan.
                As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided. (The Jakarta Post)
                Setuju banget dengan testimony The Jakarta Post. Kebanyakan kita tentu akan memilih mengunjungi negara-negara ‘aman dan nyaman’ untuk melakukan perjalanan bukan mendatangi “negeri impian-tanah Bangsa Afghan” yang  hadir berupa reruntuhan setelah konflik yang menyisakan banyaknya korban termasuk korban ranjau atau banyaknya anak-anak pengemis di jalanan umum. Tanah yang menyimpan banyak misteri tak hanya tentang wanita-wanitanya yang tertutup burqa dan terkurung dalam ketidakeksisan demi menjaga harga diri, namun juga kebanggaan dari perbedaan sunni, syiah, ismaili, Hazara, Pasthun hingga opium yang tumbuh subur di tanah Afghan. Dan salah-satu kelebihan yang aku temukan dalam cara Agustinus bercerita adalah : ia mampu mendatangkan point of view dari setiap tokoh yang ia ceritakan.
                Seperti ketika ia menulis  tentang burqa (hal :150)
                Bagi sebagian orang, ia tampak sebagai kurungan. Bagi yang lain ia adalah perlindungan. Di negeri yang kental sekali kultur patriarkatnya, menjadi perempuan anonym di jalan yang dipadati kaum lelaki beringas sangat banyak faedahnya.
                Lalu Lam Li seorang backpacker perempuan asal Malaysia berpendapat :
                “Tidak ada salahnya juga, hanya gaya hidup yang berbeda.”
                “Pernah suatu saat saya menunjukkan foto-foto wanita Malaysia yang sibuk bekerja di sawah dan di pabrik. Wanita-wanita di keluarga Kandahari bukannya kagum malah kasihan. ‘Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia itu harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka?” (Hal : 154)
                Di bagian lain Agustinus memunculkan Bibi Sarfenas yang berapi-api mengatakan :
                “Orang Ismaili adalah pecinta kebebasan. Dan sudah seharusnya ada kebebasan terhadap perempuan, karena perempuan itu sejajar dengan laki-laki…..”
                “Tetapi kami juga terkadang harus memakai burqa, yaitu ketika kami pergi ke kota. Di kota banyak orang-orang sunni. Kalau tidak pakai burqa mereka bilang darah kami halal”  (hal : 250)
                Lalu Agustinus juga memunculkan Panveen seorang wanita muda yang merupakan salah seorang pengurus RAWA(Revolutionary Association of the Women of Afghanistan yang merupakan organisasi politik radikal.
                “Tujuan utama kami adalah pembebasan perempuan Afghan. Pembebasan perempuan yang sebenarnya.” (hal : 171)
                “Perjuangan wanita Afghan masih jauh dari tujuan. Jalan menuju demokrasi dan kemerdekaan bagi perempuan masih sangat panjang. Burqa dan hijab bukanlah prioritas utama. Perempuan masih miskin, dan kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi. Kekerasan ini biasanya datang dari para suami, penjahat perang, kaum fundamentalis dan Mullah” (hal :175)

                Akan sangat panjang dan kompleks jika ingin mengulas segala hal yang ditampilkan Agustinus dalam buku setebal 461 halaman ini. Sepanjang jengkal-jengkal Afghan yang telah dilaluinya. Karenanya seperti kata Maggie Tiojakin : Agustinus bukanlah sekedar traveler ia juga explorer dan adventurer!.

6 komentar :

Posting Komentar

Belajar Bahasa Perancis : Salutations

7 komentar
Bendera Perancis
             
 Bahasa Perancis termasuk salah-satu bahasa dengan penutur terbanyak di dunia karena digunakan di beberapa negara yang tersebar  di Eropa, Amerika, Afrika dan Oseania. Beberapa negara itu bisa dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Perancis. Selain itu bahasa Perancis juga digunakan sebagai bahasa resmi beberapa komunitas internasional seperti Uni Eropa, Komite Olimpiade Internasional, Federasi Internasional Sepak Bola juga PBB. Karenanya tidak rugi jika kita juga mempelajari bahasa ini siapa tahu suatu saat nanti dibutuhkan. Karena memang bukan bahasa ibu kita, jadi wajarlah jika butuh waktu dan ‘perjuangan’ untuk mempelajarinya. Kabar baiknya beberapa kosakata atau ungkapan dalam Bahasa Perancis banyak yang mirip atau lazim dipakai dalam Bahasa Inggris. Contohnya :
Announcer       : to announce
Amuser            : to amuse
Entrer              : to enter
Completer       : to complete
Considerer       : to consider
Suggerer         : to suggest
Survivre           : to survive
Terminer          : to terminate
Exagerer          : to exaggerate
Excuser            : to excuse
Conclurer        : to conclude
Informer          : to inform
Proposer          : to proposer
Explorer          : to explorer
Considerer      : to consider
Admirer           : to admire

Dan banyak lagi kata-kata yang lain. Jadi kalau ada yang bertanya : “Parlez-vous Francais?” “Apakah anda berbicara Bahasa Perancis?”. Kita boleh Percaya Diri menjawab ”Un petit peu.” Bisa sedikit-sedikit :D.
            Tapi tentu itu tak cukup! Karena meski terlihat sama namun pengucapannya ternyata berbeda dan penutur asli bisa berbicara dengan sangat cepat. Dan jangan lupa ada lebih banyak kosa kata yang memang tak sama dengan Bahasa Inggris. Jadi tetap harus ‘berjuang’: mari belajar!.
            Untuk mulai mempelajari Bahasa Perancis sebaiknya lupakan dulu tata bahasa atau grammar. Bagusnya kita mulai dengan salutations atau bagaimana mengucapkan salam. Karena tentu ini adalah cara awal untuk menyapa. Buka video ini dan coba ikuti dengan suara keras!.




Video dari Youtube oleh YouLearnFrench



Bonjour! Hai!
Salut! Hai!
Bonsoir! Selamat sore/malam
Bon après midi! Selamat sore!
Au revoir! Sampai jumpa!
A bientot!, a plus tard! Sampai bertemu lagi!
A demain! Sampai besok!
A Lundi! Sampai hari Senin!
A la semaine prochaine! Sampai bertemu minggu depan!
Bonne journee! Semoga harimu menyenangkan!
Bon après-midi! Selamat sore
Bonsoir!, Bonne soiree! Selamat sore
Bonne nuit! Selamat malam! (biasanya ketika akan tidur)
S’il te plait! S’il vous plait! Silahkan!
Merci! Terimakasih                 
Merci beaucoup! Terimakasih banyak
Je te remercie!, Je vous remercie! Saya berterimakasih kepada anda!
De rien! Sama-sama
Je t’ en prie!, je vous en prie! Sama-sama!
Le plaisir est pour moi! Kebahagiaan bagi saya!

 Greetings adalah permulaan yang baik untuk dipelajari, sebelum mempelajari kalimat-kalimat lain. Setuju?.

7 komentar :

Posting Komentar

The very hungry caterpillar

18 komentar
Kalau ini adalah buku cerita milik Annas. Annas lebih mudah mengerti bagaimana sebutir telur ulat bisa menjadi kupu-kupu melalui cerita ini. 
Begini terjemahan versi saya :


By Eric Carle

Di bawah sinar rembulan ada sebutir telur di atas daun.
Suatu pagi di hari Minggu, matahari yang hangat muncul dan “Pop!” telur itu menetas… keluarlah seekor ulat kecil yang sangat lapar.
Dia mulai mencari makanan.
Hari Senin dia makan sebutir apel. Tapi dia masih merasa lapar.
Hari Selasa dia makan dua buah pir, tapi dia masih lapar.
Hari Rabu dia makan tiga buah plum, tapi dia masih lapar.
Hari Kamis dia makan empat buah strawberry, tapi dia masih juga lapar.
Hari jumat dia makan lima buah jeruk, tapi dia masih juga lapar.
Hari Sabtu dia makan satu kue cokelat, satu es krim cone, satu buah acar, sepotong keju Swiss, sepotong salami, sebuah lollipop, sepotong cherry pie, sebuah sosis, sebuah cupcake, dan sepotong semangka.
Malam itu si ulat sakit perut.
Keesokan harinya adalah hari Minggu lagi.
Si ulat makan selembar daun hijau yang segar dan dia merasa lebih baik.
Sekarang dia tidak lapar lagi, dan dia bukan lagi seekor ulat kecil. Dia adalah ulat yang besar dan gendut.

Dia membangun sebuah rumah kecil untuk dirinya sendiri yang disebut kepompong. Dia tinggal di dalam rumah itu lebih dari dua minggu. Kemudian dia membuat lubang mencari jalan keluar dari kepompong dan…..sekarang dia menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.

18 komentar :

Posting Komentar

Bon appetit! Monsieur Lapin.

11 komentar


By : Claude Boujon

Ini adalah salah-satu buku cerita favorit Azzam, meski sudah empat malam berturut-turut dibacakan tetap saja Azzam akan minta diceritakan lagi besok malamnya lagi :D. Ceritanya begini :

Tuan kelinci tidak terlalu suka makan wortel. Jadi dia pergi keluar rumah untuk melihat apa yang dimakan oleh tetangga-tetangganya.
“Apa yang kamu makan?” tanyanya pada seekor kodok.
“Aku makan lalat” jawab kodok.
“Pouah!” Tuan Kelinci mencibir
“Kamu makan apa?” tanyanya pada seekor burung.
“Aku makan cacing” jawab burung.
“Beurk!”
Tuan kelinci mencibir lagi.
“Kamu makan apa?” tanyanya pada seekor ikan.
“Aku makan larva” jawab ikan.
“Wah itu terlalu kecil untukku” kata tuan kelinci.
“Kamu makan apa?” tanyanya pada seekor kwik kwik (pig)
“Aku makan apapun” jawab kwik-kwik.
“Eh, bagus. Tapi aku tidak bisa makan semua hal” kata Kelinci
“Kamu makan apa?” tanya Kelinci pada seekor ikan paus.
“Aku makan plankton” jawab paus
“Hah? Cuma itu?”  heran kelinci.
“Kamu makan apa?” tanyanya pada seekor kera.
“Aku makan pisang” jawab kera.
“Itu tidak ada di kebunku.”  Kata kelinci
“Kamu makan apa?” tanyanya pada serigala
“Aku makan kelinci” jawab serigala.

“Tolong!” teriak kelinci ketika serigala mengejar kelinci dan berhasil menggigit telinganya. Tuan kelinci berlari gemetaran segera kembali ke rumahnya. Ia lalu memasak wortel dalam sebuah panci besar dan dia tahu : wortel itu sangat enak. Bon appetite! Monsieur lapin.

11 komentar :

Posting Komentar

Adillah dalam pikiran dan perbuatan | #TributeToPram

14 komentar

#TributeToPram 

“Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam fikiran apalagi dalam perbuatan” Pramoedya Ananta Toer.

Saya pertama sekali mengenal Pram melalui Roman Bumi Manusia yang merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru. Perkenalan yang menciptakan ruang magis keterikatan jiwa yang membuat saya ingin menjadi muridnya. Murid dalam menulis karya sastra berkarakter kuat juga murid bagi kehidupan dengan segala lika-likunya.
Menikmati Bumi Manusia mampu menciptakan kesan seolah-olah saya melihat sendiri apa yang Pram ceritakan,  seolah saya hadir pada akhir Abad ke-19 melihat dengan jelas kehidupan Hindia Belanda dengan perbauran bermacam ras manusia: Pribumi, Eropa toktok, Peranakan, Tiongkok juga Jepang. Cerita yang memadukan kisah romantis, ketidakadilan kolonialis, pemikiran-pemikiran Liberal dan keterbelakangan yang berupa sembah pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan manusia. Semuanya tertulis begitu apik, detail dan mengalir. Jika biasanya saya selalu ingin cepat menghabiskan novel yang saya baca karena penasaran dengan ending, membaca roman ini membuat saya betah berlama-lama pada setiap lembarannya. Menikmati kata perkata yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Mengena ke jiwa saya.
Setelah menyelesaikan Bumi Manusia saya terus mencari karya-karyanya yang lain. Sayangnya dari lebih 50 karyanya saya hanya bisa membaca  : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca dan Midah si manis bergigi emas. Karenanya saya belum berhenti mencari meski tentu buku-bukunya yang lain sangat susah ditemukan saat ini. Selain membaca karyanya sayapun mulai membaca biografi Pram, membaca segala tulisan tentang Pram yang banyak tersebar di blog-blog penggemarnya atau juga di jurnal-jurnal sastra dan menemukan perjalanan hidupnya yang tak sederhana. Ia begitu kritis dan berani dalam menulis, mengacuhkan pihak-pihak lain yang berseberangan ide dengannya termasuk pemerintah. Kekritisan yang mengantarnya ke dalam bui : 3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa Orde Lama dan 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses peradilan di masa Orde Baru. Ia juga dilarang menulis, karya-karyanya juga di black list. Tapi ia tak bisa disuruh berhenti, dalam penjara ia terus berkarya.
Saya menjadi begitu iri dengan keberanian Pram, iri dengan segala masalah sosial politik yang begitu hidup yang ia tuangkan dalam karyanya dengan begitu lugas dan humanis. Saya ingin bersikap adil dalam pikiran dan perbuatan saya tentang Pram. Saya mengagumi karya-karya Pram meski lahir dalam masa yang begitu berjarak dari kehidupan saya sekarang.

 
Foto dari www.city.fukuoka.com

14 komentar :

Posting Komentar

Ayo sekolah!

21 komentar
Setelah tiga bulan libur terhitung sejak Juni s/d Agustus , awal semester baru akan dimulai September ini. Anas dan Azzampun sudah mulai menghitung hari,  ingin bertemu teman-teman baru juga teman-teman lama yang dulu satu kelas. Masuk kelas baru bagi Anas mungkin tak terlalu sulit karena ia telah melewati masa satu tahun di kelas CP tapi bagi Azzam berbeda. Tahun lalu Azzam juga kudaftarkan di Play Ground sekolah yang sama dengan Annas. Tapi karena setiap pagi ia menjadi badmood dan meronta-ronta tidak mau ditinggal di kelas akupun memutuskan untuk menunda sekolahnya kala itu, menunggu ia lebih siap. Banyak yang menyayangkan keputusannku, katanya rugi karena akan tertinggal pelajaran setahun. Tapi kupikir dari pada Azzam merasa terpaksa yang nantinya malah membuatnya tidak menyukai sekolah lebih baik terlambat. Lagipula hanya Playground kan?.
Awal tahun pelajaran baru di Claire Fontaine. Murid-murid lama tetap harus melakukan registrasi seperti murid baru. Membayar uang daftar ulang juga melengkapi furniture-furniture baru yang bukan hanya buku namun segala yang dibutuhkan untuk setahun ke depan. Setiap anak sebelum liburan kemarin dibekali selembar kertas yang bertulis perlengkapan yang harus dibeli. Mulai dari buku tulis beragam model dan jumlah halaman, perlengkapan lukis dan untuk membuat prakarya, perlengkapan renang hingga perlengkapan kebersihan di sekolah seperti tissue toilet dan sabun. 
Ada banyak waktu sebenarnya namun dua minggu sebelum masuk sekolah aku baru membelinya di Toko Buku yang memang telah menyesuaikan keperluan sekolah setiap tahun bagi sekolah-sekolah disini.





Itu penampakan Toko Buku yang dikunjungi oleh pengunjung yang tentu memiliki keperluan yang sama denganku, dan untunglah tak terlalu ramai hingga aku bisa lebih leluasa berlama-lama memilih yang aku butuhkan.
Perlengkapan Azzam, minus buku cerita, bantal dan celemek

Perlengkapan Annas minus kertas karon dan perlengkapan renang

Claire Fontaine adalah sekolah yang mengadopsi kurikulum Perancis. Karenanya buku-buku pelajaran juga bahasa pengantar menggunakan Bahasa Perancis, meski ada juga pelajaran Bahasa Malagasy dan Bahasa Inggris. Aku tak menargetkan nilai tinggi bagi Anas. Selama ia bisa bersosialisasi dengan guru dan teman-teman di sekolah, mengikuti pelajaran dengan senang ‘tidak tertekan’ kurasa cukup. Toh dia masih kelas dua SD dan lagipula nanti ketika kami harus kembali ke tanah air dan Annas pasti akan sekolah di Jakarta yang dengar-dengar mata pelajarannya ‘berat’ ia ‘terpaksa’ harus mengejar ketertinggalannya. Itu nanti, dan akan kami pikirkan nanti. Sekarang biarlah ia ‘santai’ sejenak :D.
Azzam (4 tahun). Sejak kecil telah terlihat ia hanya ingin melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan. Dulu sekali ketika ia baru lahir kami ingin memberi nama Teguh dengan maksud agar ia memiliki prinsip dan tidak ‘plin-plan’. Namun karena orang Aceh tidak biasa memberikan nama seperti itu kami menamainya Azzam terinspirasi dari novelnya Kang Abik sebenarnya. Dan, yah ia sangat punya prinsip! Tahu apa yang ia mau dan apa yang ia tak mau. Hanya satu cara untuk menaklukannya ‘rayuan’, tak mempan dengan paksaan. Dan tahun ini meskipun ia telah kami yakinkan untuk harus sekolah dan telah kami yakinkan kalau sekolah itu menyenangkan aku sebagai ibu tetap deg-degan dengan reaksi Azzam di sekolah nanti. Semoga ia senang di sekolah ya.



21 komentar :

Posting Komentar

Luka and the fire of life

4 komentar

Image from http://en.wikipedia.org/wiki/Luka_and_the_Fire_of_Life

Judul                : Luka and the fire of life
Pengarang       : Salman Rusdhi
Penerbit          : Random House New York
ISBN                 : 978-0-8129-8196-4

Ini adalah novel bergenre fantasi yang membawa pembacanya pada imajinasi yang walaupun kita tahu tidak terjadi di dunia nyata, namun kita bisa menerimanya secara logis. Sebagai hiburan tentu saja.
Akupun terhibur dan langsung terkesan dengan hal-hal unik bahkan sejak bab pertama.
There was once, in the city of Kahani, in the land of Alifbay, a boy named luka who had two pets, a bear named Dog and a dog named Bear, which meant that whenever he called out “Dog!” the bear waddled up amiably on his hind legs, and when he shouted “Bear!” the dog bounded toward him, wagging his tail.
Sampai halaman-halaman atau bab-bab selanjutnya aku masih terbalik-balik membayangkan antara Bear, the dog dan Dog, the Bear ketika keduanya dimunculkan dalam cerita.
Jadi, dikisahkan bahwa seorang anak bernama Luka suatu hari tanpa sengaja sepulang dari sekolah  melihat kelompok parade sirkus “Great Ring of Fire” yang memang diberitakan akan melakukan pertunjukan di kotanya. Luka merasa sedih dan kasihan pada binatang-binatang itu yang seharusnya tak dipaksa untuk melakukan atraksi yang ‘unkind to animals’, apalagi Kapten Aag (a man who was quick to anger and slow to laugh) sang pemilik sirkus memiliki temperamen yang buruk yang membuat binatang-binatang itu takut. Luka menjadi marah (he was a boy who was slow to anger and quick to laugh) dan berujar.
“May your animals stop obeying your commands and your rings of fire eat up your stupid tent” . (halaman 6)
Dan kutukan Luka terjadi. Malam itu juga binatang-binatang sirkus menolak perintah untuk melakukan pertunjukan dan tenda sirkus terbakar. Para penonton menjadi marah hingga menimbulkan kekacauan dan berita-berita segera menyebar. Keesokan paginya terjadi keanehan selanjutnya : seekor beruang dan seekor anjing datang ke rumah Luka minta diadopsi sementara binatang-binatang lain melarikan diri dan tak terlihat lagi.
Namun Kapten Aag tak berdiam diri ia membalas cursenya Luka dengan hal yang mengerikan  yang terjadi pada Rashid Khalifa ayah Luka yang seorang Story Teller. Rashid Khalifa tertidur tanpa bisa dibangunkan oleh siapapun.
He slept all morning, and then all afternoon, and then all night again, and so it went on, morning after morning, afternoon after afternoon, night after night (Halaman 19).

Jika tidak ingin ayahnya tidak kembali untuk selamanya Luka harus melakukan perjalanan ke Dunia Magic (yang sebenarnya adalah dunia ciptaan Rashid Khalifa dalam berbagai ceritanya) untuk mencuri fire of life. Dalam Dunia Magic luka bertemu dengan berbagai makhluk magic dan menghadapi berbagai tantangan untuk dipecahkan. Dan pertanyaannya adalah : Berhasilkah Luka menghadapi semoga tantangan itu? Dan menyelamatkan ayahnya?. Cari tahu saja dalam novel ini.
Menarik!

4 komentar :

Posting Komentar

For you a thousand times over

4 komentar

Sudah lama aku tidak ngomongin tentang buku, karena memang terasa sekali bacaan novel tahun ini sangat terbatas. Kalau dulu hanya butuh waktu sepuluh sampai lima belas menit untuk sampai ke Gramedia dan memilih-milih novel untuk dibaca. Atau bisa juga order-order buku online, paling telat seminggu  bukunya sampai ke rumah. Tapi, sekarang?. Ada sih Toko Buku atau supermarket yang juga menjual novel-novel, tapi dalam Bahasa Perancis! (Meski ini Negara Madagascar tapi pengaruh Perancis sangat dominan sekali. Semacam terjadi Dual Identitas disini. Bahasa pengantar di tempat-tempat umum : Perancis. Pemberitahuan2 atau iklan di jalan-jalan juga Perancis, nama-nama barang yang dijual juga Perancis!, buku-buku, koran atau majalah juga Perancis Bahkan pemilik toko-toko atau restaurant juga kebanyakan bukan orang Malagasy!. Tiba-tiba jadi lebih bangga jadi orang Indonesia ^^ meski juga belum maju tapi yahhhh berkembanglah. Ya kan? ). Mana aku bisa menikmati ceritanya, lah  begitu membuka halaman pertama saja langsung pusing.
Tapi aku haus akan bacaan (novel) jadi kalau dulu tidak akan pernah menyentuh bacaan Inggris, sekarang dapat novel Inggris itu kayak dapat rejeki. Yah, lebih pahamlah sediki-sedikit :D (meski kening juga akan berkerut-kerut terus bolak-balik pingin cara arti kosakata baru yang bertebaran di setiap halaman.)
Dan novel yang aku temukan di antara novel-novel ‘aneh’ di rak buku Supermarket itu adalah : The Kite Runner. Untung belum beli yang versi Indonesianya tapi sudah beberapa kali baca reviewnya di Goodread. Jadi yah secara garis besar alur ceritanya sudah tahu duluan hanya memang sih tetap deg..degan dan penasaran karena ‘Wow!” aku akan jadikan Khaled Hosseini sebagai author idola, beliau pintar sekali memakai kata-kata atau mendeskripsikan segala sesuatu, tidak hanya pendeskripsian tempat dan situasi yang detail namun juga penggambaran emosi (sedih, senang, perasaan bersalah) yang terasa hidup. Dan aku nggak akan malu untuk bilang kalau aku bekali-kali harus ngelap ingus dan airmata karena alur cerita yang sedih cenderung tragis. Dan ikut-ikutan geram pada beberapa tokoh antagonis yang diciptakan di dalamnya. Cerita berlatar Perang atau konflik memang mampu menggerakkan nurani kita untuk turut berempati terhadap orang-orang yang terlibat di dalam konflik itu.
Fhoto minjam dari www.bookpage.com


Mengapa The Kite Runner?
Di Afganistan, turnamen adu layang-layang menjadi tradisi dan ajang perlombaan yang bergengsi. Di pagi hari ketika perlombaan dimulai, langit akan penuh dengan berbagai aneka layang-layang. Anak-anak hingga orang-orang dewasa ramai berkumpul menunggu hingga hanya tersisa satu layang-layang juara. Pada Turnamen tahun  1972 Amir terobsesi untuk menjadi juara pertama, tidak hanya karena ia pernah menjadi juara kedua namun juga keinginannya untuk membuat Baba sang ayah merasa bangga terhadapnya. Selama ini ia merasa Baba abai terhadapnya dan menyalahkan Amir atas kematian ibunya sesaat setelah melahirkan Amir. Jika ia juara, hubungannya dengan Baba akan baik dan akrab. Sedangkan Hassan adalah asisten yang sangat setia ia juga Kite Runner yang tangguh. Begitu layang-layang lawan putus dan melayang-layang di udara Hassan beserta para pengejar yang lain akan memperebutkan layang-layang tersebut. Begitu pula ketika Amir berhasil memutuskan layang-layang lawan terakhirnya, Hassan berjuang menangkap layang-layang putus itu sebagai tropi kebanggaan bukan untuknya tapi untuk Amir.
“For you a thousand times over,”
Itu adalah kalimat yang diucapkan Hassan kepada Amir. Kalimat yang begitu menggigit, yang rasanya merupakan pembelaan yang  terlalu berlebihan untuk seseorang. Tapi itulah yang dilakukan oleh Hassan terhadap Amir. Selalu menjadi teman dan pelindung bagi Amir dalam kondisi apapun. Hassan selalu membela Amir dan menjadi tameng dari kesalahan yang dilakukan Amir.
Dan ketika pengejaran layang-layang itulah, Hassan di’bully’ oleh sekelompok anak nakal yang dipimpin oleh Assef (kemudian waktu Assef menjadi anggota Taliban) yang memang sering merendahkannya sebagi anak Hazzara minoritas. Amir yang setelah menggulung layang-layangnya ikut mengejar Hassan, melihat kejadian itu namun terlalu pengecut untuk membela Hassan. Ia hanya diam lalu diam-diam pulang dan bersikap tak tahu menahu tentang hal itu. Namun ada rasa bersalah yang membuat ia tak lagi bisa bergaul dengan Hassan seperti sebelumnya. Ia malah lalu menuduh Hassan mencuri jam tangannya perbuatan yang membuat Ali ayah Hassan memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka meski Baba memohon-mohon dan tak mempermasalahkan kejadian tersebut. Amir memang menyesal namun ia membatu.( Sedih sangat di bagian ini! Kalian beneran harus baca, pasti nangis.)
Dan mereka tak pernah bertemu lagi. Hingga Rusia melakukan invasi ke Afganistan, merubah Kabul menjadi reruntuhan. Perang selalu melakukan banyak perusakan tak hanya material namun juga beban mental dan rasa tak aman hingga Babapun membawa Amir pindah ke Amerika (penuh perjuangan tentunya untuk bisa meninggalkan Afganistan). Memulai hidup baru disana.
Hingga bertahun-tahun kemudian setelah proses adapatasi di Negara yang sangat berbeda dengan Afganistan. Baba tetap menyekolahkan Amir  hingga ke Universitas. Amir lalu menikah ketika Baba juga divonis menderita kanker paru akibat kebanyakan menghisap tembakau. Hingga novelnya dipublikasikan oleh penerbit Amerika dan Baba meninggal.
Rahim Khan teman Baba menelfonnya dari Kabul, memintanya untuk kembali. Dan memberitahu berita mengejutkan tentang Hassan juga memintanya  menyelamatkan Sohreb anak Hasan yang ditahan Taliban.
“There is a way to be good again”
Cerita lalu menjadi begitu menegangkan ketika Amir kembali ke Kabul yang telah dikuasai oleh Pasukan Taliban. Kabul bukanlah kota yang dulu ia tinggali, pun rumahnya serta setiap sudut jalan tak lagi sama. Adegannya akan mirip beberapa film Amerika yang bertema ‘terorisme’ atau ‘Perang di Dunia Islam’.  Taliban diceritakan sebagai ‘bad guys’ disini. Bahkan Assef begitu kejam dan bengis dan yang mengganggu adalah tentang Syariat Islam yang dibuat begitu ‘kejam’. Meski yah, Amir juga muslim, dan mungkin memang begitulah kenyataannya?. Aku juga tidak tahu. Dan perjuangan menyelamatkan Sohreb begitu menguras tenaga dan mengancam nyawa Amir. Tapi ia harus melakukannya, karena ingin menghilangkan rasa bersalah terhadap Hassan juga karena Sohrep adalah keponakannya.
Menarik!.

Oya, dengar-dengar setelah enam tahun vakum, Khaled Hosseini kembali menerbitkan novel berjudul And The Mountains Echoed, tak sabar ingin baca.

Fhoto minjam dari www.bookpage.com

4 komentar :

Posting Komentar

Berdoalah untuk jodohmu.

14 komentar

Dulu sekali, ketika gerahnya siang membuat konsentrasi belajar kami terpecah. Ketika rasa kantuk dan lapar merupakan perpaduan yang pas untuk berharap bel pulang segera berbunyi. Suddenly  something happened Jreng…jreng!!. Sesuatu yang membuat kebanyakan mata kami serentak memandang keluar kelas. Kepada sesosok abang kelas dua tahun di atas kami yang mungkin punya urusan ke kantor guru sehinggga harus melintasi kelas kami. Pandangan yang bukan hanya sekilas dari kami (yang kesemuanya adalah murid perempuan) namun hingga beberapa menit itu tentu saja membuat guru yang sedang mengajar di depan menyadari yang kami lakukan.
“Apa yang kalian pikirkan?” tanyanya.
Kamipun tersipu mendengar pertanyaan itu, merasa tidak pantas. Namun kelanjutan kalimatnya membuat kami menghilangkan kantuk sekejap.
“Kalian boleh berdoa pada Allah agar menjadikan  fulan (dengan menyebut nama abang letting tadi) menjadi suami kalian.” Ujarnya serius.
Kami yang masih usia Tsanawiyah tentu saja merasa aneh dengan doa itu. Suami? Masih jauh! Memang sih abang letting itu seperti punya banyak kelebihan yang tentu saja berhak untuk doa semacam itu. Dia hafidz (hafal Al-quran), juara kelas hingga juara umum (dari seluruh angkatan), baik, santun, sering jadi imam dan keluarganya juga baik dan berada. Dan jika kami yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang ini berdoa dengan doa yang sama, doa sipa yang akan dikabulkan Allah?. Ah aku memilih tak berdoa seperti itu ketika itu. Namun usul guruku itu aku masukkan dalam hati dan memoriku untuk aku keluarkan suatu ketika nanti. Aku tersenyum sendiri.
Dan saat itu datang dua tahun kemudian. Ketika secara tak sengaja aku menyalami dan mencium tangan seorang ibu aku berdoa.
“ Ya Allah, please jadikan aku menantu dari ibu ini! Jadikan ia mertua serupa ibuku sendiri”
Sampai sekarang aku ingat, doa yang kuucapkan dalam hati itu benar-benar keinginan kuatku. Dan ketika selang tiga tahun kemudian Allah benar-benar mengabulkan doaku, ketika aku mulai melupakan kejadian itu. Begitu ajaib cara Allah mengabulkannya. Setelah tiga tahun tak ada kontak dengan anaknya yang juga abang kelasku di Aliyah dan hanya melalui telephon anak sang ibu itu melamarku.
 Kupikir itu salah-satu keinginan terbesarku yang dikabulkan Allah. Dan aku sangat bersyukur karenanya aku rela menjadi wanita kedua bagi suamiku, tentu ibunya harus menjadi wanita utama dan pertama baginya.


14 komentar :

Posting Komentar

Eid Mubarak : ada kuda!

23 komentar



Para tamu yang terhormat : kelompok ibu-ibu


Ini adalah Idul Fitri kedua di Madagascar bagi keluarga kecil kami. Dua minggu sebelum Syawal 1433 H kami sampai dan sekarang sudah Syawal 1434 H. Cepat juga waktu berlalu dan  meski tak bisa mudik dan mengunjungi saudara-saudara di Aceh kami tetap bisa berbahagia dengan kebersamaan yang tercipta antara anggota Keluarga Besar Masyarakat Indonesia di Antananarivo.
Ritual pertama di Hari Fitri tentu sholat Ied berjamaah di Aula KBRI Antananarivo meski jemaahnya tak seramai jamaah di lapangan-lapangan atau masjid-mesjid Indonesia aura Ied yang dimanfaatkan sebagai moment untuk bermaaf-maafan tetap terjadi. Setelah itu menyempatkan diri untul telfon-telfonan dan skype ke keluarga di tanah air. Alhamdulillah mereka semua sehat dan dapat kabar kalau ibuku telah menyiapkan lontong sayur khasnya yang seuudappp dilengkapi rendang dan tauco cabe ijo huahhahahah ngiler!.  Ada juga timphan srikaya dan kue-kue khas lebaran . Kakak dan adik juga pada pulang kecuali aku dan kakak ketiga katanya. Yah tak apalah, menjadi anak terjauh semoga membuatku menjadi anak  yang paling dikangenin dan disayangi :D.
Selanjutnya adalah acara kunjungan rumah ke rumah. Kunjungan pertama tentu ke Wisma Indonesia dan rumahku dikunjungi pada hari ke-3 Idul Fitri. Antusias dan senang tentu namun juga sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saat begini aku ingin minta maaf pada ibuku kalau dulu sering kabur ketika diajak masak, juga cuek ketika ibuku bikin aneka kue kering lebaran. But live must go on, tamu-tamu mau datang dan nggak mungkin aku nggak ngasih mereka makan hehehehe.. Untunglah ada internet ya temans mulailah aku googling resep-resep. Resep kue nastar, kue putri salju, resep spageti, resep cake, resep olahan ayam, olahan tahu dll. Lalu milih-milih yang mana paling simple dan cocok. Dan meski tak sempurna cukuplah untung menuh-menuhin meja makan :D. Semuanya alakadar.
Alakadar

Lalu suamiku kepikiran : Ingin menyenangkan anak-anak dan ingin memberikan surprise!. Jadi sehari sebelum Ied dia mikir terus : apa ya? Apa ya?. Dia mondar-mandir, bolak-balik, Niat banget kayaknya. Sampai H-1 mau open house dia bilang : “Kita nanggep kuda yang biasa mangkal di La Gare yuk.”
Aku ingat kalau di Pusat kota dekat La Gare ada abang-abang yang mangkalin kudanya disitu buat orang-orang yang ingin naik. Biasanya ada dua kuda dan sekali naik muterin taman bayar dua ribu ariary. Kayaknya ide bagus juga kalau kuda itu bisa disuruh ke rumah buat mainan anak-anak nanti. “Ide bagus pa. Tapi tanya dulu berapa bayarannya.”
Dan siangnya suamiku ke La Gare nyari abang-abang kuda, sayangnya si abang lagi nggak di tempat tapi ada temannya yang memberikan nomor telfon. Melalui telfon dia bilang kalau sewa harus seharian dari pagi sampe sore bayarnya 200.000 ariary. Kita nawar dong minta harganya 80.000 ariary saja (jauh banget ya nawarnya?).Dia bilang nggak bisa!. Terus kita ngebujuk lagi bilang kalau nggak usah seharian tapi cukup tiga jam saja dari pukul 11.00 sampai 14.00. Dia bilang nggak boleh!. Harus seharian. Padahal kan ya kalau dihitung-hitung dengan bayaran 80.000 yang kami tawarkan setara dengan 40 orang yang biasanya nanggep kuda. Belum tentu juga sehari mereka dapat 40 orang pelanggan kan?. Tapi ya tidak apa, kalau si abang nggak mau kita bilang nggak jadi deh. Mending uangnya buat nambahin ampau anak-anak.
Eh besok paginya dia nelpon lagi nanya kepurusan kita gimana. Yah kita bilang kita tetap pada penawaran sebelumnya. Sampai tiga kali nelfon baru pagi open house itu si abang bilang OK. Yang paling senang ketika si kuda datang tentu Anas dan Azzam. Juga anak-anak lain yang datang bertamu.
Kudanya datang juga, itu masih pake celemek soalnya di dapur belum beres.

Ibu-ibu juga boleh naek ;p
Naiknya antri ya...

Oh ya, Selamat Idul Fitri temans Blogger Mohon Maaf Lahir Bathin ya, jika ada tulisan atau komentar-komentar yang tak berkenan.


23 komentar :

Posting Komentar

Desperate’s question : Kenapa mereka harus punya kelamin?

12 komentar


                Hal penting yang mau tak mau harus diketahui ketika pertama kali Belajar Bahasa Perancis adalah  Gender of nouns & Articles. Karena ternyata, setiap kata benda dalam Bahasa Perancis memiliki jenis kelamin atau gender sebagai femina(perempuan) atau mascula(laki-laki) yang tentu mempengaruhi pemakaian artikelnya.
“a” dalam Bahasa Inggris bisa menjadi “un” atau “une”

                Un     à   dipakai untuk setiap kata benda bergender mascula (m)
                Une   à   dipakai untuk setiap kata benda bergender femina (f)

Begitu pula artikel “the” dalam Bahasa Inggris bisa menjadi “la” atau “le” dalam Bahasa Perancis tergantung gender dari kata tersebut.

Le       à   dipakai untuk setiap kata benda bergender mascula (M)
                La      à    dipakai untuk setiap kata benda bergender femina (F)
               
Contoh-contoh artikel une dan un :
a cup       ----   une tasse , karena tasse memiliki gender femina
                a fish       ----  un poisson, karena poisson bergender mascula
                a banana ----  une banana (f)
                a lemon   ----   un citron (m)
                a shoe      ----   une chaussure (f)
                a bag        ----  un sac (m)

Contoh artikel la dan le :
the banana  ----  la banana (f)
the lemon   ----  le citron (m)
the shoe       ----  la chaussure (f)
the sun       ----   le soleil (m)
the moon    ----   la lune (f)
Kalau dipikir, bulan dan matahari adalah dua benda alam yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kelamin atau gender, tapi yah begitulah cara orang-orang Perancis sejak dahulu kala memutuskan benda-benda apa yang bisa masuk dalam kategori femina dan benda-benda apa saja yang masuk dalam mascula.
Dan pertanyaannya tentu : “How do I know the gender of a French noun?” Guru Perancisku bilang “It’s easy, you learn the noun with its article”. Jadi dari awal ketika kita menghafal kosakata kita hafal bersama dengan artikelnya. Tapi biar katanya easy tetap aja bikin puyeng dan kebalik-balik juga pada awalnya dan hehehe sampai sekarang.





Karena aku sadar kalau belajar Perancis secara otodidak itu tidak mudah beberapa bulan yang lalu aku les di Alliance Francise namun sekarang ‘cuti’ dulu mdah2an setelah Ramadhan bisa nyambung lagi.

12 komentar :

Posting Komentar