Pacarnya Anas

23 komentar


Aku bukan tipe ibu modern yang asik-asik aja kalau anaknya punya pacar, ibu-ibu modern yang sesekali akan mengundang pacar anaknya ke rumah untuk berkenalan,  diner atau shoping bareng seperti yang di sinetron-sinetron itu. Aku masih kuno karena aku maunya Anas nggak usahlah punya pacar,  tapi kalau dia mau nikah dini di usia awal duapuluhan aku akan mendukung. Weiissss ini pembicaraan yang jauh banget ya? Secara Anas itu usianya baru tujuh tahun Februari nanti. Masih ingusan banget!. Tapi kenapa aku ingin membahas ini? Begini ceritanya :
Temanku bercerita tentang putrinya yang masih sekolah TK tapi sudah curhat kalau dia suka sama anak laki-laki, juga suka pada beberapa teman laki-laki ayahnya. Dan dia sudah tahu tipe lelaki seperti apa yang ia suka. Terlalu cepat ya. Aku jadi mikir, apa anakku juga begitu, sudah tahu masalah cecintaan dan tarik-menarik lawan jenis?. Karena meski anti dengan warna pink (apa hubungannya?) Anas nggak pernah cerita hal-hal seperti itu.
Jadi pada suatu kesempatan aku melakukan investigasi, mengorek-ngorek tentang hal itu pada Anas.
Mama      : “Nas, pacarmu siapa?”
Anas      : “Hah?” mukanya jelas bengong dan masih kagak nyambung. Mungkin dia tidak tahu apa itu ‘pacar’. Aku merasa melakukan kesalahan karena memang sih ini bukan obrolan yang cocok untuk dia, tapi….
Mama    :”teman cewek yang kamu suka siapa?”
Anas      : “Ummmm siapa ya?”
Mama     : “Ada ya?”
Anas     : “Adalah!” Plak! Ternyata????? Tuh kan benar anak sekarang lebih cepat dewasa. Tapi aku nggak rela dia punya wanita lain selain aku.
Mama   : “Siapa? Fatiyah?” Fatiyah itu teman TKnya yang juga dulu tetanggaan di Jakarta. Anaknya manis, aku akan siap kalau ia bilang iya, meski cemburu.
Anas      : “Bukan”
Mama   : “Ayla?” Ayla ini teman se TKnya juga dan tetanggaan di belakang rumah, juga manis dan akan aku restui kalau ia bilang iya.
Anas      : “Bukan”
Mama   : “Terus siapa dong?”
Anas      : “Rahasia” olala rahasia? Apa dia tipe pemendam cinta? Tapi mungkin memang hanya ada aku di hatinya.
Mama    : “Oooo kamu sukanya sama mama aja ya?”
Anas       : “Bukan.” Jujur aku patah hati.
Mama     : “Trus siapa dong?”
Anas      : “Kak Aufa!” sekian detik aku bengong lalu kemudian tertawa, tapi mukanya dia malu karena aku tertawa.
Anas      : “Kak Aufa kan cewek ma…. Aku suka main sama kak Aufa”
Kak Aufa, Anas dan Azzam

Kak Aufa itu kakak sepupunya Anas yang memang sejak kecil dulu mereka sering bermain berdua dan mereka memang akrab. Huhhh syukurlah kalau begitu. Aku tahu obrolan seperti ini akan terulang lagi nanti ketika dia dewasa. Semoga aku bisa melihatnya dewasa. Amin

23 komentar :

Posting Komentar

Perawat nggak kepake?

18 komentar


Menurutmu dimanakah tempat yang tepat bagi seorang Ners (perawat) untuk bekerja?. Tentu Rumah Sakit atau Layanan Kesehatan lainnya bukan? Atau bisa juga di Institusi Pendidikan Keperawatan atau lembaga-lembaga kemanusiaan yang membutuhkan keahlian seorang perawat.. Begitu juga yang aku inginkan. Karena aku telah melakukan usaha terbaik untuk lulus dengan nilai tertinggi diantara angkatanku lalu mengikuti Kepaniteraan Klinik di Rumah Sakit untuk benar-benar mengerti dunianya perawat.
Tapi memang yang kita inginkan tak selalu bisa kita raih. Begitu juga aku. Takdir membawa kakiku jauh dari aroma Rumah Sakit (setidaknya sampai saat ini). Tanpa ada kesempatan (atau aku yang tak pintar menangkap kesempatan?) untuk sekedar mengikuti proses recruitment!.
Ketika teman-temanku sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi CPNS untuk tenaga perawat, aku sedang sibuk mempersiapkan kepindahanku dan anak-anak mengikuti suami tinggal di Jakarta. Saat teman-temanku bersemangat memasukkan lamaran sebagai tenaga pengajar di kampus almamaterku atau kampus-kampus lain aku sedang ‘galau’ melakukan penyesuaian diri (menata rasa percaya diri) di ibukota yang sebenarnya lebih banyak Rumah Sakit yang membutuhkan tenaga perawat namun tentu saingan juga lebih banyak.
Karena mengerti ‘saingan’ yang lebih kuat di ibukota aku bahkan  berencana mengikuti Pelatihan tingkat nasional yang biaya pendaftarannya saja berjuta-juta itu untuk sekedar selfupgrading. Juga mendaftarkan diri sebagai relawan di salah-satu lembaga kemanusiaan yang juga memiliki klinik gratis bagi masyarakat kurang mampu atau korban bencana alam.  Namun rencana itu juga tak berjalan lama karena (lagi-lagi) aku harus mempersiapkan kepindahanku  mengikuti penugasan suami ke Madagaskar, Afrika!.
Aku sebenarnya tak ingin mengeluh namun sempat terlintas juga di benakku ‘kalau aku juga berhak meraih inginku’. Tidak hanya menjadi pendamping bagi suamiku untuk menyokongnya meraih mimpinya. Dan bekerja di luar negeri adalam mimpinya, and he got it!. Mengunjungi banyak Negara-negara berbeda adalah ambisinya sejak Sekolah Menengah, dan aku pastikan jika Allah memberi umur panjang padanya he will reach it!.
 Aku sempat berfikir kalau aku  terseret arus mimpinya dan ini tidak fair. Tapi aku juga tak ingin jika harus tinggal berjauhan atau mengejar ingin masing-masing. Karena menurutku suami-istri itu harus bersama. Jadi aku pikir aku harus melakukan penyesuaian inginku dengan ingin suamiku. Hanya saja bagaimana caranya?.
Dan jawaban itu datang tepat di depan mataku kini! Jawaban yang muncul dari beberapa pertanyaan kenapa. Kenapa suami ditugaskan ke Afrika? Kenapa kami sekeluarga meski menyewa rumah di Ivandry yang notabene adalah daerah mewah yang banyak dihuni para diplomat dan ekspatriat namun sekeliling rumah kami berbeda. Karena bertetangga dengan rumah-rumah penduduk setempat yang kondisinya cukup memperihatinkan. Rumah-rumah kayu seadanya berlantai tanah, tak berjendela dan beratap serabut rumput. Dengan begitu banyak anak-anak bertelanjang kaki dan berpakaian kurang layak.
Mataku terbuka tentang inginku yang sebenarnya. Harusnya aku mengerti kalimat yang kutulis di sebuah karton di dinding rumahku dulu (My mapping life). Salah-satunya aku ingin bekerja di bidang kemanusiaan. Dan harusnya aku tahu kerja di bidang kemanusiaan itu bukan hanya di Rumah Sakit atau Lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Aku bisa melakukan dimanapun sesuai kemampuan dan kondisi habitatku. Karena dimanapun aku berada aku dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya memikirkan kepentingan dan egoku.
Penempatan suami ke Antananarivo sebuah kota di Madagascar yang masih begitu belia dengan kemiskinan yang begitu terlihat di setiap sudut kotanya, harusnya bukan suatu penghalang bagi keinginanku, melainkan sebuah ‘surprise’ Tuhan membantuku mewujudkan inginku. Melakukan sesuatu. Tentu bukan suatu hal yang besar. Tapi hal kecil jika dilakukan dengan hati tentu akan memebesarkan jiwa bukan?


Anak-anak di fhoto itu adalah anak-anak yang tinggal di sekitar rumah kami. Awalnya aku hanya melihat mereka ketika mengantar anakku sekolah yang tentu saja melewati rumah dan halaman tempat mereka bermain. Merekalah yang terlebih dahulu mengetuk pagar rumah kami dan minta diizinkan untuk masuk dan bermain.
Ideku adalah sederhana, membelikan mereka buku-buku, alat tulis, alat gambar dan mendirikan rumah baca buat mereka. Membuka pemikiran mereka bahwa mereka bisa hidup lebih baik dari keluarga mereka. Aku juga akan tunjukkan sudut-sudut dunia yang lain diluar Madagascar di luar Afrika. Dan membagi mimpiku dengan mereka. 


18 komentar :

Posting Komentar

J50K 2013

21 komentar

Sejak setahun yang lalu, aku mulai menyukai Januari. Bukan karena hysteria atau gempitanya orang-orang menyambut kedatangan Tahun yang baru. Bukan juga karena kembang api segala model yang akan menghias langit-langit malam di beberapa tempat atau terompet dan petasan yang ramai dibunyikan.  Tapi karena….. yang ini nih!
J50K adalah kegiatan tahunan bagi siapa saja yang berniat untuk menulis fiksi. Targetnya adalah 50.000 kata selama 31 hari di bulan Januari. Boleh berbentuk novel, kumpulan cerpen atau kumpulan puisi. Dan Tahun lalu, aku berhasil mencapai target! Yihaaa! Meskipun naskah itu masih tersimpan di document komputer dan belum dipublish :D. 
Karena berhasil di tahun lalu, aku ingin mencoba lagi tahun ini. Dengan tema yang berbeda dengan cerita yang tentu juga berbeda tapi masih berbentuk novel. Bakal berhasilkah aku mencapai target?. Semoga ya …. Yang penting percaya ajalah dulu. Biarpun persiapan Januari ini tak seoptimal Januari tahun lalu.  Iya, ini sudah masuk hari pertama dan aku belum mulai menulis, padahal tahun lalu aku udah merancang synopsis, karakter tokoh juga beberapa konflik yang akan terjadi sejak di Desember. Tapi tak apa, masih bisa kalau diseriusin mulai hari ini.
                Dan karena ingin menseriusin dan focus pada proyek J50K ini, untuk bulan  ini mungkin aku tidak menulis untuk blog ini. Kecuali ada yang sangat ingin aku tulis tentunya.


21 komentar :

Posting Komentar