Perawat nggak kepake?

18 komentar


Menurutmu dimanakah tempat yang tepat bagi seorang Ners (perawat) untuk bekerja?. Tentu Rumah Sakit atau Layanan Kesehatan lainnya bukan? Atau bisa juga di Institusi Pendidikan Keperawatan atau lembaga-lembaga kemanusiaan yang membutuhkan keahlian seorang perawat.. Begitu juga yang aku inginkan. Karena aku telah melakukan usaha terbaik untuk lulus dengan nilai tertinggi diantara angkatanku lalu mengikuti Kepaniteraan Klinik di Rumah Sakit untuk benar-benar mengerti dunianya perawat.
Tapi memang yang kita inginkan tak selalu bisa kita raih. Begitu juga aku. Takdir membawa kakiku jauh dari aroma Rumah Sakit (setidaknya sampai saat ini). Tanpa ada kesempatan (atau aku yang tak pintar menangkap kesempatan?) untuk sekedar mengikuti proses recruitment!.
Ketika teman-temanku sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi CPNS untuk tenaga perawat, aku sedang sibuk mempersiapkan kepindahanku dan anak-anak mengikuti suami tinggal di Jakarta. Saat teman-temanku bersemangat memasukkan lamaran sebagai tenaga pengajar di kampus almamaterku atau kampus-kampus lain aku sedang ‘galau’ melakukan penyesuaian diri (menata rasa percaya diri) di ibukota yang sebenarnya lebih banyak Rumah Sakit yang membutuhkan tenaga perawat namun tentu saingan juga lebih banyak.
Karena mengerti ‘saingan’ yang lebih kuat di ibukota aku bahkan  berencana mengikuti Pelatihan tingkat nasional yang biaya pendaftarannya saja berjuta-juta itu untuk sekedar selfupgrading. Juga mendaftarkan diri sebagai relawan di salah-satu lembaga kemanusiaan yang juga memiliki klinik gratis bagi masyarakat kurang mampu atau korban bencana alam.  Namun rencana itu juga tak berjalan lama karena (lagi-lagi) aku harus mempersiapkan kepindahanku  mengikuti penugasan suami ke Madagaskar, Afrika!.
Aku sebenarnya tak ingin mengeluh namun sempat terlintas juga di benakku ‘kalau aku juga berhak meraih inginku’. Tidak hanya menjadi pendamping bagi suamiku untuk menyokongnya meraih mimpinya. Dan bekerja di luar negeri adalam mimpinya, and he got it!. Mengunjungi banyak Negara-negara berbeda adalah ambisinya sejak Sekolah Menengah, dan aku pastikan jika Allah memberi umur panjang padanya he will reach it!.
 Aku sempat berfikir kalau aku  terseret arus mimpinya dan ini tidak fair. Tapi aku juga tak ingin jika harus tinggal berjauhan atau mengejar ingin masing-masing. Karena menurutku suami-istri itu harus bersama. Jadi aku pikir aku harus melakukan penyesuaian inginku dengan ingin suamiku. Hanya saja bagaimana caranya?.
Dan jawaban itu datang tepat di depan mataku kini! Jawaban yang muncul dari beberapa pertanyaan kenapa. Kenapa suami ditugaskan ke Afrika? Kenapa kami sekeluarga meski menyewa rumah di Ivandry yang notabene adalah daerah mewah yang banyak dihuni para diplomat dan ekspatriat namun sekeliling rumah kami berbeda. Karena bertetangga dengan rumah-rumah penduduk setempat yang kondisinya cukup memperihatinkan. Rumah-rumah kayu seadanya berlantai tanah, tak berjendela dan beratap serabut rumput. Dengan begitu banyak anak-anak bertelanjang kaki dan berpakaian kurang layak.
Mataku terbuka tentang inginku yang sebenarnya. Harusnya aku mengerti kalimat yang kutulis di sebuah karton di dinding rumahku dulu (My mapping life). Salah-satunya aku ingin bekerja di bidang kemanusiaan. Dan harusnya aku tahu kerja di bidang kemanusiaan itu bukan hanya di Rumah Sakit atau Lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Aku bisa melakukan dimanapun sesuai kemampuan dan kondisi habitatku. Karena dimanapun aku berada aku dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya memikirkan kepentingan dan egoku.
Penempatan suami ke Antananarivo sebuah kota di Madagascar yang masih begitu belia dengan kemiskinan yang begitu terlihat di setiap sudut kotanya, harusnya bukan suatu penghalang bagi keinginanku, melainkan sebuah ‘surprise’ Tuhan membantuku mewujudkan inginku. Melakukan sesuatu. Tentu bukan suatu hal yang besar. Tapi hal kecil jika dilakukan dengan hati tentu akan memebesarkan jiwa bukan?


Anak-anak di fhoto itu adalah anak-anak yang tinggal di sekitar rumah kami. Awalnya aku hanya melihat mereka ketika mengantar anakku sekolah yang tentu saja melewati rumah dan halaman tempat mereka bermain. Merekalah yang terlebih dahulu mengetuk pagar rumah kami dan minta diizinkan untuk masuk dan bermain.
Ideku adalah sederhana, membelikan mereka buku-buku, alat tulis, alat gambar dan mendirikan rumah baca buat mereka. Membuka pemikiran mereka bahwa mereka bisa hidup lebih baik dari keluarga mereka. Aku juga akan tunjukkan sudut-sudut dunia yang lain diluar Madagascar di luar Afrika. Dan membagi mimpiku dengan mereka. 


18 komentar :

  1. saluttt..nggak usah jauh2 mbk,di depan mata sudah ada pekerjaan yang menunggumu hehe...selamat berjuang di negeri orang,semoga ilmunya bermanfaat aminnn.... :D

    BalasHapus
  2. Manusia membutuhkan manusia. Keren.
    tuhan selalu memberi jalan untuk mempermudah kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Fiaz tergantung kita mengambil jalan yang maba ya? Mau terus mengeluh atau mengikuti jalanNya. Makasih ya.

      Hapus
  3. wow .. mulia sekali idennya mbak, semoga segera terwujud ya mbak, pasti akan senang anak anak di sekitar sana

    BalasHapus
  4. dan kini telah terbukti, ilmu yang dipelajari itu sangat bermanfaat, sebuah takdir yang semoga semakin indah ya Mbak...

    BalasHapus
  5. eh kak nufus temannya kak eki juga ya. Berarti kenal sama misua liza juga. hehehe. kenal kan kak sama bang Tunis? hehehe maksa.
    www.liza-fathia.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Liza, kakak kenal sama Bang Tunis tapi kayaknya Bang Tunis yg nggak kenal sama kakak :D

      Hapus
  6. Peu haba kakak? Rupanya Allah ksh jln kakak jauh di rantau spy bisa mengurus sekaligus blj byk hal dr anak2 itu ya mak.. Subhanallah..semangat Trs berjuang dsna kak.. Kpn2 kl plg kampung kt kopdar ya hehehe...
    Btw Makasih sdh berpartisipasi dalam GA ku :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haba get alhamdulillah, kak Muna orang Aceh juga ya? Semoga kita bisa kopdaran ya kak... Terimakasih juga sudah bikin GA.

      Hapus
  7. mengamalkan ilmu kadang memang tak perlu pekerjaan formal ya mak Nufus, bahkan dengan apa yang ada di sekitar kita, Allah telah memberikan kesempatan untuk 'menanam' di ladang amal milikNya

    BalasHapus
  8. Wah subhanalloh ilmu yang telah dipelajari ternyata memiliki nilai plus.. bukan Perawat Biasa.. :)

    Salam Kenal.. :)

    BalasHapus