Aku emak tega? Bisa jadi!

18 komentar


Terkadang aku sadar dan rela saja jika dikategorikan dalam kelompok ‘emak-emak tega’. Tega yang sebenarnya tergantung persepsi masing-masing orang. Contohnya begini :
“Ma, beli helicopter remote dong yang bisa terbang beneran kayak punya si A”
Anas si sulungku merayu di suatu hari. Dengan raut serius aku mengeluarkan kesepuluh jari tanganku menghitungnya satu-satu. Lalu meminta Anas juga mengeluarkan jari-jarinya dan melakukan hal yang sama, hitung!. Setelah ia menyelesaikan hitungannya aku menggeleng-geleng tetap serius seperti profesor yang rela rambutnya jatuh satu-satu (itu aku banget sebenarnya : salah milih shampo!).
“Panggil Azzam deh Nas, kita butuh bantuan” kali ini lagakku seperti Detektif Conan yang berambisi menyelesaikan kasus rumit tanpa memiliki petunjuk sedikitpun (halah! Mulai lebai ya). Dan kucluk-kucluk si kecil Azzampun datang dengan gayanya yang menggemaskan. Azzampun membantu dengan jari-jari yang ia punya.
“Wah, jari-jari kita nggak cukup Nas. Helicopter itu harganya sekitar tujuh ratus ribu rupiah! Banyak itu lembarannya. Mending beli layangan aja yuk, kan bisa terbang benaran juga?”
Dan memang ya, Allah itu maha baik padaku yang telah menganugerahkan anak sepatuh dan sebijak Anas dan Azzam.
“Mahal ya ma?” Aku mengangguk-angguk seperti woody si burung pelatuk.
“Kalau pinjam jari-jari papa?” tanyanya lagi.
Aku mulai goyah dan nggak tega. Otakku otomatis mengeluarkan angka-angka yang berputar-putar seperti bintang-bintang yang muncul setelah digebukin : uang belanja harian, uang les ini itu, uang listrik, tabungan buat biaya sekolah Anas Azzam yang terus tinggi pertahunnya, tabungan untuk beli rumah, beli usaha dan beli mimpi-mimpi masa depan. Angka-angka itu bergerak cepat bertambah, berkurang, bertambah lagi berkurang lagi… Waduh angka-angkanya kok makin mengecil ya? Dan sebelum angka itu makin menciut aku ‘stop’ otakku dan kembali menghadapi kenyatakan : Wajah Anas yang menanti jawaban.
“Kalau ditambah jari papa terus jari-jari kaki kita semua, cukup sih Nas. Tapi tetap saja kemahalan dan tidak bisa langsung beli. ”
“Harus nabung dulu ya ma? Pake uang jajan aku?”
Dua jempol untuk Anas. Diapun lalu berlalu mengajak Azzam bermain mainan murah miliknya yang kubelikan di abang-abang penjual mainan dekat sekolah. Sebenarnya bukan masalah uangnya sih tapi aku hanya ingin menanamkan gaya hidup yang tak boleh ‘hedonis’ padanya. Buktinya aku juga sesekali mau kok membelikan mainan-mainan keren (tapi harganya lebih bisa kuterima dengan lapang dada dan lapang kantong). Atau mengajak jalan-jalan ke Water Park, Dunia Fantasi atau tempat-tempat wisata yang bisa memanjakannya sebagai anak yang hidup pada era canggih sekarang beda dengan era emak dan bapaknya. Tapi kupikir ada hal patut dan tak patut dalam memenuhi keinginan anak. Anak-anakku tak harus punya segala model barang mahal seperti punya temannya karena ada juga anak-anak lain yang tak punya barang sederhana seperti kepunyaannya. Apa aku salah? Ingatkan jika salah ya temans, karena aku adalah emak yang sedang belajar memahami pendidikan karakter anak.
Contoh lainnya:
Sejak TK Besar, Anas mulai aku biasakan mandi sendiri, makan sendiri, pilih dan pakai baju sendiri juga mengurus barang-barangnya sendiri. Kata-kata mutiara yang sering aku keluarkan adalah ‘Barang sendiri urus sendiri!’. Tapi yang namanya anak-anak pastilah ada proses yang terkadang sangat lebih penting dari hasil. Tidak bisa instan. Dan kata-kata mutiara yang aku sangka ampuh itu tak kusangka menjadi bumerang di suatu pagi lainnya.
“Mama cantik, mandiin dong”
“Mandi sendiri!”
“Tolong ambilin handuk ma”
“Ambil sendiri!”
“Siapin airnya ma, please…please…”
Instingku bilang ada yang menggugah sukma (halah!) dari kalimat-kalimatnya, tapi kenapa pula aku tak terusik. Padahal kalimat : mama cantik, tolong, please…please… itu begitu indah terdengar ya?
“Siapin sendiri!”
Tanpa jeda hening, suara protesnya menggedor rasa bersalahku.
“Kata mama barang sendiri urus sendiri, akukan anak mama mama harus urusin dong”.
Percayalah teman, seketika itu seperti ada pingset besar yang menjepit kepalaku memutarnya seratus delapan puluh derajat, mengalihkan perhatianku dari novel Luka and the Fire of Lifenya Salman Rushdie yang sedang kubaca kepada si buah hati yang sedang memprotes ‘ketegaan’ mamanya dengan cara ‘filosofis’nya. What can I say? Nothing!. Refleks aku nyengir lebar padanya.
“Hehehehehehe gitu ya Nas?”
“Iya!” serunya tak ingin dibantah. Maka kupenuhi segala pintanya pagi itu. Sambil menenangkan diri mangalah itu bukan berarti kalah.
Dan aku mengaku : Proses memandirikan anak itu bertahap, tidak instan. Butuh proses dan kesabaran. Juga butuh keteladanan dari orangtua.
Jadi, bagaimana? Apakah aku emak yang tega? Atau tidak komitmen?. Percayalah terkadang segala teori parenting itu tak harus kita adop seratus persen tetap butuh krasi dan manipulasi dalam aksi nyatanya. Apalagi setiap anak itu unik begitupula setiap emaknya.
Sekali lagi : ingatkan jika aku salah. ^^

18 komentar :

Posting Komentar