Moments To Remember : Based on a true story

13 komentar
Salah-satu sudut pesantrenku : Dayah Bustanul Ulum Langsa


Asrama Cut Meurah Tahun 1996, ketika semuanya masih tampak asing dan aneh.

Waktu itu aku masih sangat muda, jilbab kakuku yang baru dibelikan mamak terpasang miring di kepala. Ada semangat yang aneh menyusupi dada melihat kamar yang berderet-deret yang didalamnya terisi tempat tidur tingkat yang juga berderet. Lemari-lemari kayu juga di tempatkan berbaris menempel di dinding kamar. Lemari yang  jika pintu tengahnya dibuka dan dua batang besi siku dipasang di kanan-kirinya akan berubah fungsi menjadi meja belajar. Keren! Karena aku belum pernah punya lemari yang seperti itu. Aku lalu bertekad ingin menjadi salah-satu pemilik tempat tidur tingkat itu, juga ingin merasakan menulis di atas meja lipat itu. Karenanya dua hari ini menjadi hari yang penting : hari tes masuk pesantren!.
Aku tak sendiri, aku datang bersama dua teman SDku nun dari pelosok Pulau Tiga sana. Aku senang sekali ketika keduanya mengatakan akan ikut mendaftar ke pesantren bersamaku. Kesenangan yang ternyata mendatangkan bencana yang membuatku malu sekali bahkan berpikiran akan langsung gagal  memenuhi tekadku tepat di hari pertama tes!. Begini ceritanya :
Karena nomor kami yang berurutan kami mendapat kursi yang juga berurutan dari depan ke belakang, dan aku berada di tengah diapit oleh mereka berdua. Begitu kertas dibagikan aku membaca soal-soal itu dengan semangat karena sebagian besar pertanyaan-pertanyaannya adalah pelajaran yang telah diberikan di TPAku. Jadi kuisi pelan-pelan lembar jawabanku. Baru beberapa menit teman belakangku mulai ribut memanggil-manggil namaku berbisik.
‘Ton nomor satu apa?’ pertanyaan yang tentu membuyarkan konsentrasiku. Tapi memang aku ini tercipta dengan membawa sifat yang ‘nggak enakan’, aku membalas bisikannya dengan jawaban yang baru aku tulis di lembar jawabanku tanpa sadar sepasang mata ustadzah pengawas memperhatikan.
‘Apa? Nggak dengar!’
Aku tak tahu apa namanya; bodoh atau lugu karena kemudian aku meminta kertas padanya dan menuliskan jawaban di kertas itu. Aku masih ingat pertanyaannya : Apakah yang dimaksud dengan masbuk?. Kutulis jawabannya kira-kira begini : Masbuk adalah keadaan dimana seseorang terlambat ikut sholat berjamaah bersama imam namun ia masih bisa ikut berjamaah dengan menambah rakaat sejumlah rakaat yang tertinggal. Lalu kertas itu aku angsurkan ke belakang bertepatan dengan suara keras yang mengagetkan dari depan.
“Kamu! Yang jilbab putih maju kemari, bawa kertas yang tadi kamu kasih ke teman di belakangmu!”
Deg! Tentu mukaku langsung memerah malu, apalagi kurasakan semua mata di ruangan itu memandang ke arahku. Gemetar aku berdiri, membawa kertas itu bersamaku sedang temanku hanya menunduk di bangkunya. Aku merasa dihakimi sendirian!. Ustadzah pengawas membaca kertas itu dengan raut marah.
“Siapa namamu dan berapa nomor tesmu?”
Aku tak punya pilihan selain menjawab, sambil membayangkan betapa kecewanya Bapak dan mamak jika tahu aku gagal tes karena menyontek! Memang aku tak menyontek tapi memberikan contekan mungkin itu juga dikategorikan dalam melakukan kecurangan. Dalam hati aku menjerit  ‘Tolong jangan bilang orangtuaku! Tolong!’. Tapi tentu ustadzah itu tak mendegar permohonanku.
“Kamu adeknya E**i S****ma ya?”
Deg! Ustadzah ini tahu nama kakak pertamaku yang telah bertahun silam lulus dari pesantren ini? Ini lebih gawat!. Tapi aku lalu mengangguk. Aku tak berani menatap wajahnya juga tak berani menanyakan darimana ia tahu. Tapi tunggu dulu… aku mengangkat wajahku dan cepat-cepat menangkap wajah sang ustadzah dan sadar bahwa aku sekali waktu pernah berjumpa dengan ustadzah ini, tepatnya ketika mendaftar dulu. Mamak yang memang ramah dan selalu punya bahan untuk dibicarakan dengan siapa saja menegur seorang ustadzah ketika itu sambil memperkenalkan aku sebagai adik dari E*** kakakku. Dan ustadzah pengawas inilah ustadzah itu. Ustadzah N** A****h! Iya, itu namanya. Entah karena kakakku dulu salah-satu murid yang ia kenal atau karena mamak yang berbicara ‘sok akrab’ dengan beliau hingga beliau mengingat wajahku.
“Duduk!” lalu perintahnya setelah mencatat nama dan nomorku di buku kecilnya tanpa menanyakan nama temanku! Ini tidak adil!, tapi aku tak berani protes.
Aku kembali ke bangkuku pasrah tapi hatiku mengeras. Bukan aku yang menyontek! Dengan mata memanas bahkan ada air yang lalu merembes dari sudut-sudut mataku. Kuambil kertas di atas mejaku kubaca lalu kuisi dengan serius. Terserahlah apa yang akan terjadi nanti, aku mungkin akan didiskualifikasi tapi aku ingin menunjukkan pada ustadzah itu kalau jawabanku lebih baik dari jawaban teman di belakangku, kalau dia yang harusnya dipanggil kalau nama dan nomornya yang harusnya dicatat atau setidaknya kami berdua, bukan hanya aku.
Begitu pula tes-tes selanjutnya hari itu dan esok harinya. Aku menjadi pendiam bahkan temanku itu tak berani meminta maaf mungkin ia juga takut melihat kediaman dan kesuraman mukaku yang kubagi pada semua orang. Tapi dibalik itu aku serius belajar dan menjawab soal-soal. Semacam ada keinginan untuk memiliki nilai terbaik agar pesantren ini merasa rugi jika tak meluluskanku. Tes pengetahuan agama, tes pengetahuan umum, matematika dasar, tes baca Alquran hingga psychotes kuikuti dengan tegang. Bahkan di wawancara pada hari terakhir aku mempersiapkan diri dengan baik : aku ingin terlihat pintar dengan jawaban-jawabanku. Salah-satu pertanyaan di sesi wawancara itu adalah :
“Acara TV apa yang kamu sukai?” Tanya berpikir lama aku menjawab
“Cerdas-cermat”
“Apalagi?” Tanya penguji
“Cepat tepat” penguji itu diam menunggu jawaban selanjutnya dariku.
“Kuis Aksara Bermakna, Dunia dalam Berita” sebenarnya aku tidak berbohong atau berusaha melakukan pencitraan, itu adalah acara TV favorit Bapakku. Karena Bapak senang menonton acara itu aku tidak ada pilihan selain ikut menyaksikan tontonan yang sama, dan aku menikmatinya. Kulihat lalu wajah sang ustad penguji mengangguk-angguk. Lalu menuliskan nilai di bukunya. Dari gerakan tangannya kutebak ia menuliskan angka : 9!
Dan rasa tegang itu memuncak ketika malamnya setelah shalat Isya berjamaah di mushalla pengumuman kelulusan di tempel di salah-satu dinding kelas yang dekat dengan asrama Cut Meurah tempat dua malam ini kami diinapkan. Aku tak tahu apakah aku masih pantas berharap untuk lulus setelah kejadian hari pertama itu. Tapi aku ikut berdesakan dengan mereka yang tentu mencari nama dan nomor masing-masing. Dan tak butuh waktu lama untuk menemukan nomorku ikut terketik di kertas itu. Alhamdulillah aku tak mengecewakan orangtuaku. Mungkin ustadzah itu merasa kasihan? Atau menemukan kebenaran kalau aku tak pantas ditolak? Hingga tak mendiskualifikasikan aku. Apapun itu, aku bersyukur tak lama lagi aku akan menjadi salah-satu penghuni pesanren ini, tak lama lagi aku menjadi santriwati. Keren kan?. Dan setelah beberapa lama belajar di pesantren ini aku menyadari kalau Ustadz NA menjadi ustadzah idolaku hingga aku menamatkan sekolahku setelah enam tahun kemudian. Banyak alasan dan banyak kenangan yang tercipta antara kami, yang tentu memberiku banyak pelajaran berarti : tentang kejujuran, tentang kerja keras, tentang berperilaku baik dan banyak lainnya.
To be continue

13 komentar :

Posting Komentar

Awal Mei yang kelabu

9 komentar

Bulan Mei menjadi awal dari musim dingin di Antananarivo. Meski tak sampai membekukan dengan salju-salju seperti negara-negara empat musim  (karena disini tak ada salju) tapi dinginnya juga menggigilkan dan membuat kami yang belum terbiasa menjadi sakit. Awalnya aku demam, batuk-batuk yang berujung masuk angin. Lalu Anas dan Azzam juga ikut-ikutan demam, batuk-batuk, muntah dan diare padahal sungguh tak ada niatku untuk menularkan penyakit pada mereka... tapi tentulah ya karena aku terus dekat-dekat mereka atau mereka yang memang tak bisa jauh dari mamanya. Jadilah bertiga kami meringkuk dibawah selimut tebal saling tatap dengan mata yang redup.  Untungnya Anas lagi libur sekolah.
Udara dan suasana kelabu, suara batuk yang sahut-sahutan dari pagi sampai malam hingga tidurku hanya beberapa jam saja, aroma obat, rasa kasihan terhadap anak-anak tapi juga dengan tubuh yang masih lemah  membuat aku : ingin pulang!. Terbayanglah wajah-wajah saudara nun di Aceh sana. Kalau aku sedang sakit begini mamak dan kakak-kakakku pasti sigap membuatkan makanan atau membelikan makanan yang aku mau. Lontong sayur, nasi gurih, mie Aceh, kue putu, sate Padang aduhhh aku pingin sate padang! Mau cari dimana  disini?. Bikin sendiri? Lagi lemes begini (padahal kalau sehat juga belum tentu bisa ;p). Suamiku satu-satunya yang sehat tapi dia juga harus kerja bahkan hari Sabtu Minggu juga nggak di rumah… sebagai istri yang baik yah harus maklum ya? Tapi kalau lagi sakit memang pingin dimanjakan?. Makanya malam ketika dia pulang, aku ngambek dong.
Bisa juga tertidur meski terbangun2 karena batuk


“Papa kalau nggak bisa temanin mama dan anak-anak yang sakit, kami pulang aja ya?” hiks kalau diingat-ingat padahal aku ngerti kami belum mungkin pulang untuk sekarang ini. Tiketnya muahaaalll beud apalagi bertiga.
“Kan papa udah antar ke dokter ma.”
“Cuma ngantar…” aku tahu kalau lagi ngambek pasti aku jadi jelek, tapi biarin deh.
“Kan ada nany yang bantu di rumah, suruh nany aja masak”
“Nany nggak bisa bikin sate padang pa!” sekilas kulihat juga muka suamiku tersenyum geli.
“O lagi pingin sate Padang nih ya…. Mahal banget tuh untuk makan sate padang harus beli tiket pesawat pulang-pergi Antananarivo-Bangkok-Jakarta-Banda Aceh. Uangnya sayang dong ma.”
“Kalau uangnya nggak cukup buat tiket PP tiket sekali jalan aja juga boleh”
“Nggak enak di papa dong ditinggal sendiri”
“Makanya rawat dong anak istrinya yang lagi sakit”
Rawatnya gimana ya? Padahal nggak perlu dirawat beneran kok aku dan anak-anak Cuma perlu minum obat terus istirahat. Dan syukurlah setelah dua kali ke dokter, dua kali tebus resep di apotik kami sembuh. Tapi Sate Padangnya belum kesampaian…. Sebagai gantinya aku dan anak-anak makan sandwich aja di Syalimar Resto, Restoran milik pengusaha muslim India. Memang tak sama tapi tak apalah…. Semoga dua tahun setengah itu tak lama lagi.
 
Azzam yang baru sembuh dengan sadwichnya, minumnya jus sirsak.

PS : ini cerita dua minggu yang lalu.

9 komentar :

Posting Komentar

Sunday Visitor : Story Telling

4 komentar


Meski hari Minggu aku lebih repot dengan urusan rumah karena nany libur tetap saja hari Minggu itu menyenangkan. Salah-satunya karena ada alasan bagiku untuk mengizinkan anak-anak yang menjadi Sunday Visitorku masuk dan mengamati beragam polah mereka. Begitu juga Minggu pagi kemarin. Tepat jam sembilan mereka mulai memanggil-manggil (tentu mereka segan menekan bel rumah).
“Madam Haya…!” atau “Mama Anas…!”
Jika aku tak bisa segera menjawab, mereka akan memanggil nama-nama lain.
“Anas!”
“Azzam” atau “Dadabe!” panggilan gardien kami.
Dan ketika pintu pagar dibuka mereka akan ‘menyerbu’ ke dalam dengan gembira. Tak perlu lagi bertanya : ’Boleh main?’
Meski tanpa persiapan, sebelum bermain aku meminta mereka untuk duduk berkumpul di atas tikar yang aku gelar di halaman depan.
“Let’s make Story Telling today” saranku pada mereka.
Kupikir akan sulit menyuruh mereka duduk diam, ternyata tidak. Mereka suka dengan ideku, meski tentu mereka lebih memilih menjadi pendengar daripada menjadi penceritanya. Hingga aku meminta anak yang paling besar diantara mereka untuk bercerita. Oh ya kenalkan namanya Alex umur 14 tahun, dia baru tiga minggu ini bergabung dengan anak-anak yang lain.



Cerita sederhana dari buku yang berjudul Animaux Familiers itu menceritakan tentang binatang-binatang yang ada di sekitar kita : Kucing, anjing, burung, ikan, tikus dan kura-kura.
Selesai Story Telling yang sebenarnya dibawakan dengan cara yang lebih mirip ‘mendikte’ itu, mengabaikan instruksiku untuk memakai ekspresi dan gaya, Alex duduk.
“Gambarlah hewan-hewan yang ada dalam cerita!” perintahku lagi.
 Anas yang langsung memposisikan dirinya sebagai tuan rumah tampak sibuk dengan peralatan tulisnya. Dan bergerak membagi-bagikan kertas dan krayon. Kupikir kami butuh suplai buku, kertas, krayon dan alat tulis lainnya. Dan tentu aku telah punya orang yang bisa kutodong menjadi donatur. ^^ Tapi untuk seminggu ini orang itu (suami-red) sedang ke Nosybe sebuah pulau di pesisir Madagascar yang bisa ditempuh 2 jam dari Antananarivo dengan pesawat, jadi proposalku harus menunggu sampai ia kembali.



Setelah itu mereka boleh bermain. Dan permainan yang menjadi favorit mereka adalah : Sepak bola.


Lagi-lagi Anas memposisikan dirinya sebagai tuan rumah dengan menjadi orang yang berhak membagi-bagi mereka dalam dua kelompok. Dan sepertinya ia memilih anak yang besar-besar masuk dalam kelompoknya. Hahahaaha dan mereka tak protes!




Kelompok dengan pemain berbadan kecil itupun bermain dengan semangat tak gentar menghadapi anak-anak yang berbadan besar. Dan usaha itu tak sia-sia hingga pertandingan berakhir score 3-2 berhasil mereka kumpulkan. Anak-anak berbadan kecil itu melonjak-lonjak senang. Meski kecewa Anas juga tampak senang dan lalu ikut berteriak yahhhhh ketika aku bilang waktu habis dan anak-anak itu harus pulang karena kami juga akan pergi.

4 komentar :

Posting Komentar