Desperate’s question : Kenapa mereka harus punya kelamin?

12 komentar


                Hal penting yang mau tak mau harus diketahui ketika pertama kali Belajar Bahasa Perancis adalah  Gender of nouns & Articles. Karena ternyata, setiap kata benda dalam Bahasa Perancis memiliki jenis kelamin atau gender sebagai femina(perempuan) atau mascula(laki-laki) yang tentu mempengaruhi pemakaian artikelnya.
“a” dalam Bahasa Inggris bisa menjadi “un” atau “une”

                Un     à   dipakai untuk setiap kata benda bergender mascula (m)
                Une   à   dipakai untuk setiap kata benda bergender femina (f)

Begitu pula artikel “the” dalam Bahasa Inggris bisa menjadi “la” atau “le” dalam Bahasa Perancis tergantung gender dari kata tersebut.

Le       à   dipakai untuk setiap kata benda bergender mascula (M)
                La      à    dipakai untuk setiap kata benda bergender femina (F)
               
Contoh-contoh artikel une dan un :
a cup       ----   une tasse , karena tasse memiliki gender femina
                a fish       ----  un poisson, karena poisson bergender mascula
                a banana ----  une banana (f)
                a lemon   ----   un citron (m)
                a shoe      ----   une chaussure (f)
                a bag        ----  un sac (m)

Contoh artikel la dan le :
the banana  ----  la banana (f)
the lemon   ----  le citron (m)
the shoe       ----  la chaussure (f)
the sun       ----   le soleil (m)
the moon    ----   la lune (f)
Kalau dipikir, bulan dan matahari adalah dua benda alam yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kelamin atau gender, tapi yah begitulah cara orang-orang Perancis sejak dahulu kala memutuskan benda-benda apa yang bisa masuk dalam kategori femina dan benda-benda apa saja yang masuk dalam mascula.
Dan pertanyaannya tentu : “How do I know the gender of a French noun?” Guru Perancisku bilang “It’s easy, you learn the noun with its article”. Jadi dari awal ketika kita menghafal kosakata kita hafal bersama dengan artikelnya. Tapi biar katanya easy tetap aja bikin puyeng dan kebalik-balik juga pada awalnya dan hehehe sampai sekarang.





Karena aku sadar kalau belajar Perancis secara otodidak itu tidak mudah beberapa bulan yang lalu aku les di Alliance Francise namun sekarang ‘cuti’ dulu mdah2an setelah Ramadhan bisa nyambung lagi.

12 komentar :

Posting Komentar

Anak-anak Madagascar : Dimly.

37 komentar

Dimly dan adiknya

Namanya Dimly, umurnya aku tidak tahu pasti tapi sekitar tujuh atau delapan tahunan sepertinya. Sekilas tak ada istimewanya dia, malah jika dibandingkan anak-anak ‘beruntung’ lainnya yang terlahir dalam keluarga berkecukupan dengan orangtua yang sangat perduli pada tumbuh kembang dan pengembangan karakter anak, Dimly mungkin tidak beruntung. Karena besar secara alami dengan didikan alam yang ‘apa adanya’. Tak adalah les-les pengembagan bakat yang dia ikuti, bisa sekolahpun rasanya sesuatu yang luar biasa baginya. Meski tak tahu pasti hingga jenjang setinggi apa yang akan ia raih.
Dimly termasuk anak-anak yang sering main ke rumah. Dari bajunya yang kotor dan itu-itu saja aku bisa menebak latar belakang kehidupan ekonomi keluarganya. Seperti juga penduduk lain Madagascar yang menurut riset 70% berada di bawah garis kemiskinan.  Tapi ada sesuatu pada dirinya yang membuatku ingin mengajaknya dalam pusaran ambisiku ingin menularkan virus menjadi pemimpi padanya. Ia punya karakter yang kuat, itu yang aku lihat setelah beberapa kali ia bermain ke rumah. Ia termasuk yang paling ‘lancang’ dan ‘agresif’ untuk diizinkan masuk dan membongkar mainan yang aku sediakan juga buku-buku cerita yang memang belum seberapa itu. Sangking agresifnya dia pernah membuatku marah dan memarahinya dengan tegas. Begini ceritanya :
Suatu Minggu sekitar pukul sembilan pagi beberapa anak telah datang. Karena aku harus merapikan rumah aku tak bisa terus mengawasi mereka aku meminta dadabe, gardien kami untuk menutup pintu pagar dan membatasi jumlah anak yang masuk. Dimly termasuk anak yang sudah berada di pekaranganku. Beberapa menit kemudian ketika aku sibuk dengan urusan rumah tanpa sengaja mataku melongok ke luar dari jendela dan tampak Dimly memanjat pintu pagar!. Pintu yang diatasnya tegak besi-besi runcing, yang tingginya hampir tiga meter!.
Mungkin sedikit paranoid. Tapi beberapa teman telah memperingatkan tingkat keamanan yang rendah di Antananarivo ini. Perampokan kerap terjadi apalagi bagi orang-orang asing yang belum mengerti benar kondisi masyarakat local seperti kami. Nah jika anak sekecil Dimly bisa seenaknya keluar masuk rumahku, aku jadi khawatir dengan keamanan kami. Apalagi rumah kami terletak di kawasan rawan, berbaur dengan rumah-rumah penduduk lokal.
Aku memanggil dan memarahinya. Betapa tak sopan apa yang ia lakukan, betapa ia harusnya minta izin dulu kepadaku untuk keluar atau untuk masuk kedalam rumah. Ia terdiam menunduk dan takut-takut. Disebelahnya adiknya yang berusia di bawah tiga tahun tak tahu apa-apa bahkan tak sadar ialah sebenarnya yang menjadi penyebab Dimly nekad memanjat pagar, keluar pulang sebentar ke rumahnya, menggendong adiknya dari rumah lalu memanjat lagi masuk ke rumah dan membuka pintu untuk adik kecilnya itu. Tentu aku juga awalnya tak tahu alasan Dimly. Tapi setelah ia pulang setelah berlalu beberapa hari dan ia seperti ragu-ragu menegurku ketika kami bertemu di jalan aku jadi berpikir: apa yang ia lakukan itu bisa disebut inisiatif dan jika diarahkan ke hal yang positif tentu akan baik bagi masa depannya. Inisiatif, berani mengambil resiko dan bertindak cepat dan sigap. Jika ia besar tetap dengan sifat seperti itu bukan tidak mungkin ia akan membawa keluarganya keluar dari kemiskinan, siapa tahukan?. Apalagi rasa perduli dan kecintaannya terhadap adik-keluarganya tetap dijaga. Harusnya aku bisa melihat karakter posisitif dari Dimly.
Sejak saat itu aku jadi sering ‘memata-matai’nya secara sengaja ataupun tidak. Aku jadi tahu Dimlylah yang sering merapikan buku-buku dan perlatan tulis lainnya setelah dia dan anak-anak lain menggunakannya. Dimly yang selalu digelendoti adiknya ketika ia bermain dan Dimly yang terakhir keluar karena dia yang sering mengingatkan teman-temannya ketika waktu izin berkunjung habis. Dan beberapa kali juga aku melihatnya mengangkat air menggunakan jirigen yang tampak berat dari tempat penampungan air massal ke rumahnya. Juga mengangkat keranjang besar berisi sayur yang sepertinya jualan ibunya di pinggir jalan.
Menggulung tikar sebelum pulang tanpa ada yang menyuruh


Dan, yah dia tak beruntung seperti anak-anak yang lahir dalam keluarga mampu dengan orangtua yang selalu sigap mengasah potensi anaknya, tapi orangtuanya beruntung memiliki anak sepertinya. Wish the best for you Dimly.

37 komentar :

Posting Komentar

Puisi : tak pantas tersalahkan

4 komentar
Kaukah itu yang datang dengan selendang tersandang di pundak
Sementara matamu membalas tatap pada mereka yang mendengungkan benci
Harusnya tak ada benci
Karena kau ada bukan dari kehidupan yang harus tak ada
Seperti yang mereka pikirkan

Kaukah itu yang pergi terburu
Ketika kau pikir tak kan mampu mengusir gelap dari wajah tanah lahirmu
Sedangkan
Begitu kakimu menjauh ada yang akan merindui khotbahmu


Terkadang ada yang tak pantas tersalahkan

Antananarivo, 3 Juni 2013

4 komentar :

Posting Komentar