Anak-anak Madagascar : Dimly.

37 komentar

Dimly dan adiknya

Namanya Dimly, umurnya aku tidak tahu pasti tapi sekitar tujuh atau delapan tahunan sepertinya. Sekilas tak ada istimewanya dia, malah jika dibandingkan anak-anak ‘beruntung’ lainnya yang terlahir dalam keluarga berkecukupan dengan orangtua yang sangat perduli pada tumbuh kembang dan pengembangan karakter anak, Dimly mungkin tidak beruntung. Karena besar secara alami dengan didikan alam yang ‘apa adanya’. Tak adalah les-les pengembagan bakat yang dia ikuti, bisa sekolahpun rasanya sesuatu yang luar biasa baginya. Meski tak tahu pasti hingga jenjang setinggi apa yang akan ia raih.
Dimly termasuk anak-anak yang sering main ke rumah. Dari bajunya yang kotor dan itu-itu saja aku bisa menebak latar belakang kehidupan ekonomi keluarganya. Seperti juga penduduk lain Madagascar yang menurut riset 70% berada di bawah garis kemiskinan.  Tapi ada sesuatu pada dirinya yang membuatku ingin mengajaknya dalam pusaran ambisiku ingin menularkan virus menjadi pemimpi padanya. Ia punya karakter yang kuat, itu yang aku lihat setelah beberapa kali ia bermain ke rumah. Ia termasuk yang paling ‘lancang’ dan ‘agresif’ untuk diizinkan masuk dan membongkar mainan yang aku sediakan juga buku-buku cerita yang memang belum seberapa itu. Sangking agresifnya dia pernah membuatku marah dan memarahinya dengan tegas. Begini ceritanya :
Suatu Minggu sekitar pukul sembilan pagi beberapa anak telah datang. Karena aku harus merapikan rumah aku tak bisa terus mengawasi mereka aku meminta dadabe, gardien kami untuk menutup pintu pagar dan membatasi jumlah anak yang masuk. Dimly termasuk anak yang sudah berada di pekaranganku. Beberapa menit kemudian ketika aku sibuk dengan urusan rumah tanpa sengaja mataku melongok ke luar dari jendela dan tampak Dimly memanjat pintu pagar!. Pintu yang diatasnya tegak besi-besi runcing, yang tingginya hampir tiga meter!.
Mungkin sedikit paranoid. Tapi beberapa teman telah memperingatkan tingkat keamanan yang rendah di Antananarivo ini. Perampokan kerap terjadi apalagi bagi orang-orang asing yang belum mengerti benar kondisi masyarakat local seperti kami. Nah jika anak sekecil Dimly bisa seenaknya keluar masuk rumahku, aku jadi khawatir dengan keamanan kami. Apalagi rumah kami terletak di kawasan rawan, berbaur dengan rumah-rumah penduduk lokal.
Aku memanggil dan memarahinya. Betapa tak sopan apa yang ia lakukan, betapa ia harusnya minta izin dulu kepadaku untuk keluar atau untuk masuk kedalam rumah. Ia terdiam menunduk dan takut-takut. Disebelahnya adiknya yang berusia di bawah tiga tahun tak tahu apa-apa bahkan tak sadar ialah sebenarnya yang menjadi penyebab Dimly nekad memanjat pagar, keluar pulang sebentar ke rumahnya, menggendong adiknya dari rumah lalu memanjat lagi masuk ke rumah dan membuka pintu untuk adik kecilnya itu. Tentu aku juga awalnya tak tahu alasan Dimly. Tapi setelah ia pulang setelah berlalu beberapa hari dan ia seperti ragu-ragu menegurku ketika kami bertemu di jalan aku jadi berpikir: apa yang ia lakukan itu bisa disebut inisiatif dan jika diarahkan ke hal yang positif tentu akan baik bagi masa depannya. Inisiatif, berani mengambil resiko dan bertindak cepat dan sigap. Jika ia besar tetap dengan sifat seperti itu bukan tidak mungkin ia akan membawa keluarganya keluar dari kemiskinan, siapa tahukan?. Apalagi rasa perduli dan kecintaannya terhadap adik-keluarganya tetap dijaga. Harusnya aku bisa melihat karakter posisitif dari Dimly.
Sejak saat itu aku jadi sering ‘memata-matai’nya secara sengaja ataupun tidak. Aku jadi tahu Dimlylah yang sering merapikan buku-buku dan perlatan tulis lainnya setelah dia dan anak-anak lain menggunakannya. Dimly yang selalu digelendoti adiknya ketika ia bermain dan Dimly yang terakhir keluar karena dia yang sering mengingatkan teman-temannya ketika waktu izin berkunjung habis. Dan beberapa kali juga aku melihatnya mengangkat air menggunakan jirigen yang tampak berat dari tempat penampungan air massal ke rumahnya. Juga mengangkat keranjang besar berisi sayur yang sepertinya jualan ibunya di pinggir jalan.
Menggulung tikar sebelum pulang tanpa ada yang menyuruh


Dan, yah dia tak beruntung seperti anak-anak yang lahir dalam keluarga mampu dengan orangtua yang selalu sigap mengasah potensi anaknya, tapi orangtuanya beruntung memiliki anak sepertinya. Wish the best for you Dimly.

37 komentar :

  1. Kisah Dimly ini sangat menggugah anak-anak lainnya bila diceritakan secara verbal. bisa memotivasi dan dan tetap mensyukuri hidup ini. Tulisan yang inspiratif kak.

    BalasHapus
  2. Makasih Doni, anaknya yang memang menginspirasi tulisan ini :). Secara verbal kakak baru ceritain ke anak2 di rumah.

    BalasHapus
  3. Dimly hebat ya kak. semoga apa yang kakak harapkan juga liza sebagai pembaca tulisan ini terkabul. dimly memberikan energi positif bagi keluarganya. btw, ada juga tikar pandan di madagaskar ya kak? hehehhe salam ya untuk dimly dari Liza...
    kak haya, di settingan komentarnya, tambahi name/url dong biar liza bisa langsung komen pake url blog
    saleum
    www.liza-fathia.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnn, tikar pandan disini juga banyak Za:D. Iya ntar disampein iar dia penasaran sama Liza..

      Done ya..tadi sempat muter2 di dashboard baru bisa hehe

      Hapus
  4. mudah-mudah an segera lahir dimly-dimly yang lainnya. salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, salam kenal juga Ivanna.

      Hapus
  5. Mudah2an Dimly jadi orang sukses jika ia besar kelak..Salut untuk inisiatif2 positifnya Dimly..

    BalasHapus
  6. Moga Dimly gak salah jalan deh.. sayang dengan jiwa tanggungjawab yang dia miliki pada adik-adiknya

    BalasHapus
  7. Dimly mempunyai hati yang tulus, semoga bisa menjadi orang sukses nantinya,,,


    Mbak ikutan Giveaway saya yuk, :D siapa tahu kali ini menang.
    http://arrrian.blogspot.com/2013/06/arr-rians-giveaway.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...oke aku liat2 dulu ya... :)

      Hapus
  8. semoga jiwa bertanggung jawabnya bisa menular ke anak-anak lainnya ya

    BalasHapus
  9. Ah, betapa Dimly anak yang bertanggung jawab. Smoga kelak dewasa menjadi orang yang berhasil & Sukses, Aamiin..
    Mbak Haya jauh sekali di Madagascar.. Sehat selalu mbak.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...iya nih mbak Deva, semoga mbak Deva dan keluarga juga sehat selalu.

      Hapus
  10. Salam kenal, mbak Haya.. Kunjungan perdana sy ke blog sampeyan :-)
    Dirimu tinggal di Madagascar kah..? Luar biasa, pastinya mendapat pengalaman yg tak ternilai ya mbak.. :-)

    Terlebih lagi jika bisa berinteraksi dengan anak2 seperti Dimly.. :-)

    Roda dunia terus berputar ya, semoga kelak Dimly dan teman2 bisa menjadi orang sukses :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Tia, makasih kunjungannya :) Iya sementara ini di Madagascar semoga dapat pengalaman berharga.

      Amin

      Hapus
  11. Hai Haya, salam kenal.
    Terima kasih sudah berkunjung ke TE. Aku senang sekali membaca pengalaman seperti ini. Dimly yang punya sifat-sifat yang pempimpin pasti akan lebih bisa diandalkan negaranya jika bisa menikmati pendidikan yang tepat.

    Masih ingin sate padang? Aku juga! Kalau tidak tahan, coba buat saja mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Imelda. Terimakasih banyak mau singgah disini mbak.

      Banget! hehehe memang pilihannya seperti itu mbak, harus coba bikin sendiri nih.

      Hapus
  12. anak yang sangat hebat menurut saya

    BalasHapus
  13. MasyaAllah... semoga Dimly memiliki nasib yang beruntung ya.. kasihan anak sekecil itu, sepertinya kurang perhatian dari ortu nya ya mba?

    BalasHapus
  14. Kakak, ini kunjungan pertamaku. Madagascar? Waaah... Ada pula anak seperti Dimly yang sepertinya akan menjadi generasi muda yg berjiwa pemimpin.

    Salam blogging!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kunjungannya Ein...amin semoga dia bisa ya.

      Hapus
  15. that's just too awesome to handle it

    BalasHapus
  16. hebat sekali Dimly
    berdesiran hati saya membacanya

    BalasHapus
  17. embaak
    salam kenal..
    wah di madagaskar.. aku kira di kalimantan liat fotonya :/

    ternyata masih banyak orang-orang yang terus berjuang untuk kehiduapnnya ya..
    kita juga nggak boleh kalah dari mereka ^^

    BalasHapus
  18. Halo mak... kunjungan perdana nih,,, ternyata inong Aceh ya, pantesan cantik banget kaya aku hehehe......
    btw Dimly hebat ya, smeoga kehebatannya menular ke anak2 lainnya. gimana rasanya tingga di Madagaskar mak? seru pasti ya ;)

    BalasHapus
  19. ijin nyimak artikel nya gan
    terimakasih atas informasinya

    BalasHapus