For you a thousand times over

4 komentar

Sudah lama aku tidak ngomongin tentang buku, karena memang terasa sekali bacaan novel tahun ini sangat terbatas. Kalau dulu hanya butuh waktu sepuluh sampai lima belas menit untuk sampai ke Gramedia dan memilih-milih novel untuk dibaca. Atau bisa juga order-order buku online, paling telat seminggu  bukunya sampai ke rumah. Tapi, sekarang?. Ada sih Toko Buku atau supermarket yang juga menjual novel-novel, tapi dalam Bahasa Perancis! (Meski ini Negara Madagascar tapi pengaruh Perancis sangat dominan sekali. Semacam terjadi Dual Identitas disini. Bahasa pengantar di tempat-tempat umum : Perancis. Pemberitahuan2 atau iklan di jalan-jalan juga Perancis, nama-nama barang yang dijual juga Perancis!, buku-buku, koran atau majalah juga Perancis Bahkan pemilik toko-toko atau restaurant juga kebanyakan bukan orang Malagasy!. Tiba-tiba jadi lebih bangga jadi orang Indonesia ^^ meski juga belum maju tapi yahhhh berkembanglah. Ya kan? ). Mana aku bisa menikmati ceritanya, lah  begitu membuka halaman pertama saja langsung pusing.
Tapi aku haus akan bacaan (novel) jadi kalau dulu tidak akan pernah menyentuh bacaan Inggris, sekarang dapat novel Inggris itu kayak dapat rejeki. Yah, lebih pahamlah sediki-sedikit :D (meski kening juga akan berkerut-kerut terus bolak-balik pingin cara arti kosakata baru yang bertebaran di setiap halaman.)
Dan novel yang aku temukan di antara novel-novel ‘aneh’ di rak buku Supermarket itu adalah : The Kite Runner. Untung belum beli yang versi Indonesianya tapi sudah beberapa kali baca reviewnya di Goodread. Jadi yah secara garis besar alur ceritanya sudah tahu duluan hanya memang sih tetap deg..degan dan penasaran karena ‘Wow!” aku akan jadikan Khaled Hosseini sebagai author idola, beliau pintar sekali memakai kata-kata atau mendeskripsikan segala sesuatu, tidak hanya pendeskripsian tempat dan situasi yang detail namun juga penggambaran emosi (sedih, senang, perasaan bersalah) yang terasa hidup. Dan aku nggak akan malu untuk bilang kalau aku bekali-kali harus ngelap ingus dan airmata karena alur cerita yang sedih cenderung tragis. Dan ikut-ikutan geram pada beberapa tokoh antagonis yang diciptakan di dalamnya. Cerita berlatar Perang atau konflik memang mampu menggerakkan nurani kita untuk turut berempati terhadap orang-orang yang terlibat di dalam konflik itu.
Fhoto minjam dari www.bookpage.com


Mengapa The Kite Runner?
Di Afganistan, turnamen adu layang-layang menjadi tradisi dan ajang perlombaan yang bergengsi. Di pagi hari ketika perlombaan dimulai, langit akan penuh dengan berbagai aneka layang-layang. Anak-anak hingga orang-orang dewasa ramai berkumpul menunggu hingga hanya tersisa satu layang-layang juara. Pada Turnamen tahun  1972 Amir terobsesi untuk menjadi juara pertama, tidak hanya karena ia pernah menjadi juara kedua namun juga keinginannya untuk membuat Baba sang ayah merasa bangga terhadapnya. Selama ini ia merasa Baba abai terhadapnya dan menyalahkan Amir atas kematian ibunya sesaat setelah melahirkan Amir. Jika ia juara, hubungannya dengan Baba akan baik dan akrab. Sedangkan Hassan adalah asisten yang sangat setia ia juga Kite Runner yang tangguh. Begitu layang-layang lawan putus dan melayang-layang di udara Hassan beserta para pengejar yang lain akan memperebutkan layang-layang tersebut. Begitu pula ketika Amir berhasil memutuskan layang-layang lawan terakhirnya, Hassan berjuang menangkap layang-layang putus itu sebagai tropi kebanggaan bukan untuknya tapi untuk Amir.
“For you a thousand times over,”
Itu adalah kalimat yang diucapkan Hassan kepada Amir. Kalimat yang begitu menggigit, yang rasanya merupakan pembelaan yang  terlalu berlebihan untuk seseorang. Tapi itulah yang dilakukan oleh Hassan terhadap Amir. Selalu menjadi teman dan pelindung bagi Amir dalam kondisi apapun. Hassan selalu membela Amir dan menjadi tameng dari kesalahan yang dilakukan Amir.
Dan ketika pengejaran layang-layang itulah, Hassan di’bully’ oleh sekelompok anak nakal yang dipimpin oleh Assef (kemudian waktu Assef menjadi anggota Taliban) yang memang sering merendahkannya sebagi anak Hazzara minoritas. Amir yang setelah menggulung layang-layangnya ikut mengejar Hassan, melihat kejadian itu namun terlalu pengecut untuk membela Hassan. Ia hanya diam lalu diam-diam pulang dan bersikap tak tahu menahu tentang hal itu. Namun ada rasa bersalah yang membuat ia tak lagi bisa bergaul dengan Hassan seperti sebelumnya. Ia malah lalu menuduh Hassan mencuri jam tangannya perbuatan yang membuat Ali ayah Hassan memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka meski Baba memohon-mohon dan tak mempermasalahkan kejadian tersebut. Amir memang menyesal namun ia membatu.( Sedih sangat di bagian ini! Kalian beneran harus baca, pasti nangis.)
Dan mereka tak pernah bertemu lagi. Hingga Rusia melakukan invasi ke Afganistan, merubah Kabul menjadi reruntuhan. Perang selalu melakukan banyak perusakan tak hanya material namun juga beban mental dan rasa tak aman hingga Babapun membawa Amir pindah ke Amerika (penuh perjuangan tentunya untuk bisa meninggalkan Afganistan). Memulai hidup baru disana.
Hingga bertahun-tahun kemudian setelah proses adapatasi di Negara yang sangat berbeda dengan Afganistan. Baba tetap menyekolahkan Amir  hingga ke Universitas. Amir lalu menikah ketika Baba juga divonis menderita kanker paru akibat kebanyakan menghisap tembakau. Hingga novelnya dipublikasikan oleh penerbit Amerika dan Baba meninggal.
Rahim Khan teman Baba menelfonnya dari Kabul, memintanya untuk kembali. Dan memberitahu berita mengejutkan tentang Hassan juga memintanya  menyelamatkan Sohreb anak Hasan yang ditahan Taliban.
“There is a way to be good again”
Cerita lalu menjadi begitu menegangkan ketika Amir kembali ke Kabul yang telah dikuasai oleh Pasukan Taliban. Kabul bukanlah kota yang dulu ia tinggali, pun rumahnya serta setiap sudut jalan tak lagi sama. Adegannya akan mirip beberapa film Amerika yang bertema ‘terorisme’ atau ‘Perang di Dunia Islam’.  Taliban diceritakan sebagai ‘bad guys’ disini. Bahkan Assef begitu kejam dan bengis dan yang mengganggu adalah tentang Syariat Islam yang dibuat begitu ‘kejam’. Meski yah, Amir juga muslim, dan mungkin memang begitulah kenyataannya?. Aku juga tidak tahu. Dan perjuangan menyelamatkan Sohreb begitu menguras tenaga dan mengancam nyawa Amir. Tapi ia harus melakukannya, karena ingin menghilangkan rasa bersalah terhadap Hassan juga karena Sohrep adalah keponakannya.
Menarik!.

Oya, dengar-dengar setelah enam tahun vakum, Khaled Hosseini kembali menerbitkan novel berjudul And The Mountains Echoed, tak sabar ingin baca.

Fhoto minjam dari www.bookpage.com

4 komentar :

  1. Baru ingat kalo saya udah lama punya ebook novel ini di lappy. Jadi penasaran, pengen baca :)

    BalasHapus
  2. Sudah baca& aku setuju bgt, ni buku mang recomended bgt :)

    BalasHapus