Adillah dalam pikiran dan perbuatan | #TributeToPram

14 komentar

#TributeToPram 

“Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam fikiran apalagi dalam perbuatan” Pramoedya Ananta Toer.

Saya pertama sekali mengenal Pram melalui Roman Bumi Manusia yang merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru. Perkenalan yang menciptakan ruang magis keterikatan jiwa yang membuat saya ingin menjadi muridnya. Murid dalam menulis karya sastra berkarakter kuat juga murid bagi kehidupan dengan segala lika-likunya.
Menikmati Bumi Manusia mampu menciptakan kesan seolah-olah saya melihat sendiri apa yang Pram ceritakan,  seolah saya hadir pada akhir Abad ke-19 melihat dengan jelas kehidupan Hindia Belanda dengan perbauran bermacam ras manusia: Pribumi, Eropa toktok, Peranakan, Tiongkok juga Jepang. Cerita yang memadukan kisah romantis, ketidakadilan kolonialis, pemikiran-pemikiran Liberal dan keterbelakangan yang berupa sembah pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan manusia. Semuanya tertulis begitu apik, detail dan mengalir. Jika biasanya saya selalu ingin cepat menghabiskan novel yang saya baca karena penasaran dengan ending, membaca roman ini membuat saya betah berlama-lama pada setiap lembarannya. Menikmati kata perkata yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Mengena ke jiwa saya.
Setelah menyelesaikan Bumi Manusia saya terus mencari karya-karyanya yang lain. Sayangnya dari lebih 50 karyanya saya hanya bisa membaca  : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca dan Midah si manis bergigi emas. Karenanya saya belum berhenti mencari meski tentu buku-bukunya yang lain sangat susah ditemukan saat ini. Selain membaca karyanya sayapun mulai membaca biografi Pram, membaca segala tulisan tentang Pram yang banyak tersebar di blog-blog penggemarnya atau juga di jurnal-jurnal sastra dan menemukan perjalanan hidupnya yang tak sederhana. Ia begitu kritis dan berani dalam menulis, mengacuhkan pihak-pihak lain yang berseberangan ide dengannya termasuk pemerintah. Kekritisan yang mengantarnya ke dalam bui : 3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa Orde Lama dan 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses peradilan di masa Orde Baru. Ia juga dilarang menulis, karya-karyanya juga di black list. Tapi ia tak bisa disuruh berhenti, dalam penjara ia terus berkarya.
Saya menjadi begitu iri dengan keberanian Pram, iri dengan segala masalah sosial politik yang begitu hidup yang ia tuangkan dalam karyanya dengan begitu lugas dan humanis. Saya ingin bersikap adil dalam pikiran dan perbuatan saya tentang Pram. Saya mengagumi karya-karya Pram meski lahir dalam masa yang begitu berjarak dari kehidupan saya sekarang.

 
Foto dari www.city.fukuoka.com

14 komentar :

  1. Jadi terinspirasi dengan beliau ya mbak ...
    Moga menang yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terinspirasi dari karya2nya mbak, Makasih ya.

      Hapus
  2. Padahal karya-karyanya kritis dan merakyat, tapi pemerintahan pada saat itu sensi! sukses buat giveaway-nya, Mbak! ^_^

    BalasHapus
  3. Tokoh yg bsa jd panutan dah :) sukses ntuk giveaway y mba

    BalasHapus
  4. aku juga ngefans banget sama pak Pram mbak, GA nya masih ga sih??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama dong...masih sampai akhir September ini mbak. ayo ikutan

      Hapus
  5. nice topic. btw, mudah2an menang GA nya

    BalasHapus
  6. aku belum satu pu membaca buku-bukunya Pram
    Tragis memang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa baca suatu saat nanti kak.

      Hapus
  7. Aku belum pernah baca 1 pun bukunya :(

    BalasHapus
  8. Aku belum pernah baca bukunya...
    Padahal dulu ibuku punya dan udah dimakan rayap *yak jadi curcol
    Semoga menang ya mbak...

    BalasHapus