Kucing sayang kucing malang

15 komentar

Foto dari http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kucing_peliharaan_(4).JPG

Kamar masih gelap karena lampu memang belum lagi dinyalakan. Tapi suara emak telah berkali-kali memanggil. Asma!Aton!Limah! Berulang-ulang Asma!Aton!Limah! Seperti  guru mengabsen murid-murid di kelas. Tentu ada tiga nama yang tak emak panggil : Erni putri tertua yang sedang kuliah di kota Banda, Nidar yang juga sekolah SMA di kota Banda  dan Ulfah anak keempatnya itu berada di kampong bersama nenek di Aceh Pidie sana. Semua anak emak perempuan. Tapi panggilan emak itu hanya terdengar sayup-sayup bagi ketiganya tak ampuh mengusir kantuk. Shubuh itu adalah waktu terbaik untuk meneruskan tidur, hangat dalam balutan selimut membuat badan enggan bergerak dan mata enggan terbuka.
Dalam kesadaran yang belum lagi pulih Limah merasa kakinya menyentuh sesuatu yang lembut dan berbulu. Itu pasti si Pus yang numpang tidur di kasurnya. Reflek kakinya menendang-nendang berusaha mengusir si pus tapi hewan itu tak bergerak malah suaranyanya yang biasanya berisik mengeongpun tak terdengar. Limah terus menggerak-gerakkan kakinya hingga satu pikiran seram terlintas. Ia terloncat bangun menarik selimutnya bersamaan dengan tubuh si pus yang terjatuh ke bawah. Tubuh itu kaku membentur lantai, tetap tak ada suara.
“Mak!” Limah histeris dan gemetar.
“Si pus mati mak!!” teriaknya ketakutan yang sontak membangunkan kakak-kakak yang tidur sekamar dengannya hanya berbeda tempat tidur.
“Mati? Kenapa?”
Bukannya menjawab Limah semakin keras menangis, tangisan takut juga merasa bersalah. Si Pus mati terjerat selimut. Mungkin ketika tidur Iimah yang sangat lasak itu tak sadar kalau si Pus masuk ke dalam selimutnya. Hingga si Pus terkurung di dalam balutan selimut dan kehabisan nafas. Kasihan sekali si Pus.
“Maafkan Limah Pus….”

Paginya emak membantu Limah mengubur si Pus dibawah pohon temuru di belakang rumah.

15 komentar :

Posting Komentar

Book Review : Selimut Debu

6 komentar



 Judul                            : Selimut Debu
Penulis                          : Agustinus Wibowo
Penerbit                        : PT Gramedia
Cetakan Pertama              : Januari 2010


         Kali ini aku ingin ngomongin tentang buku keren yang sedang aku baca yaitu Selimut Debunya Agustinus Wibowo. Kenapa keren?. Karena dari semua buku kisah perjalanan yang sudah aku baca rasanya buku ini memberi arti yang lebih dalam,  karena begitu hidup, begitu berbaur dan begitu nyata. Dengan malu juga aku akui kalau aku sudah membaca buku ini hampir dua bulan! Dan belum juga selesai. Bukan kerena tebal (sebenarnya tebal banget ;p), tapi karena aku ingin membaca segala cerita orang-orang yang Agustinus temui sepanjang Afganistan, Pakistan dan Tajikistan secara perlahan. Lalu membayangkan kalau aku ada di sana di dekat Agustinus sendiri, aku akan  ikut deg-degan ketika ditangkap oleh tentara perbatasan, ikut cemas ketika tak punya lagi perbekalan dan uang setelah dicopet juga ikut menikmati indahnya alam Afganistan yang tersaji meski begitu banya granat aktif tertanam di tanahnya yang bisa meledak kapan saja.
                Bukan perjalanan yang mudah, juga jelas bukan perjalanan yang dilakukan hanya untuk sekedar melihat keindahan atau keagungan suatu tempat namun ada pencarian nilai kehidupan, pelajaran dari pergantian sejarah masa ke masa,  ragam budaya dan pandangan agama juga karakter kemanusiaan.
                As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided. (The Jakarta Post)
                Setuju banget dengan testimony The Jakarta Post. Kebanyakan kita tentu akan memilih mengunjungi negara-negara ‘aman dan nyaman’ untuk melakukan perjalanan bukan mendatangi “negeri impian-tanah Bangsa Afghan” yang  hadir berupa reruntuhan setelah konflik yang menyisakan banyaknya korban termasuk korban ranjau atau banyaknya anak-anak pengemis di jalanan umum. Tanah yang menyimpan banyak misteri tak hanya tentang wanita-wanitanya yang tertutup burqa dan terkurung dalam ketidakeksisan demi menjaga harga diri, namun juga kebanggaan dari perbedaan sunni, syiah, ismaili, Hazara, Pasthun hingga opium yang tumbuh subur di tanah Afghan. Dan salah-satu kelebihan yang aku temukan dalam cara Agustinus bercerita adalah : ia mampu mendatangkan point of view dari setiap tokoh yang ia ceritakan.
                Seperti ketika ia menulis  tentang burqa (hal :150)
                Bagi sebagian orang, ia tampak sebagai kurungan. Bagi yang lain ia adalah perlindungan. Di negeri yang kental sekali kultur patriarkatnya, menjadi perempuan anonym di jalan yang dipadati kaum lelaki beringas sangat banyak faedahnya.
                Lalu Lam Li seorang backpacker perempuan asal Malaysia berpendapat :
                “Tidak ada salahnya juga, hanya gaya hidup yang berbeda.”
                “Pernah suatu saat saya menunjukkan foto-foto wanita Malaysia yang sibuk bekerja di sawah dan di pabrik. Wanita-wanita di keluarga Kandahari bukannya kagum malah kasihan. ‘Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia itu harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka?” (Hal : 154)
                Di bagian lain Agustinus memunculkan Bibi Sarfenas yang berapi-api mengatakan :
                “Orang Ismaili adalah pecinta kebebasan. Dan sudah seharusnya ada kebebasan terhadap perempuan, karena perempuan itu sejajar dengan laki-laki…..”
                “Tetapi kami juga terkadang harus memakai burqa, yaitu ketika kami pergi ke kota. Di kota banyak orang-orang sunni. Kalau tidak pakai burqa mereka bilang darah kami halal”  (hal : 250)
                Lalu Agustinus juga memunculkan Panveen seorang wanita muda yang merupakan salah seorang pengurus RAWA(Revolutionary Association of the Women of Afghanistan yang merupakan organisasi politik radikal.
                “Tujuan utama kami adalah pembebasan perempuan Afghan. Pembebasan perempuan yang sebenarnya.” (hal : 171)
                “Perjuangan wanita Afghan masih jauh dari tujuan. Jalan menuju demokrasi dan kemerdekaan bagi perempuan masih sangat panjang. Burqa dan hijab bukanlah prioritas utama. Perempuan masih miskin, dan kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi. Kekerasan ini biasanya datang dari para suami, penjahat perang, kaum fundamentalis dan Mullah” (hal :175)

                Akan sangat panjang dan kompleks jika ingin mengulas segala hal yang ditampilkan Agustinus dalam buku setebal 461 halaman ini. Sepanjang jengkal-jengkal Afghan yang telah dilaluinya. Karenanya seperti kata Maggie Tiojakin : Agustinus bukanlah sekedar traveler ia juga explorer dan adventurer!.

6 komentar :

Posting Komentar

Belajar Bahasa Perancis : Salutations

7 komentar
Bendera Perancis
             
 Bahasa Perancis termasuk salah-satu bahasa dengan penutur terbanyak di dunia karena digunakan di beberapa negara yang tersebar  di Eropa, Amerika, Afrika dan Oseania. Beberapa negara itu bisa dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Perancis. Selain itu bahasa Perancis juga digunakan sebagai bahasa resmi beberapa komunitas internasional seperti Uni Eropa, Komite Olimpiade Internasional, Federasi Internasional Sepak Bola juga PBB. Karenanya tidak rugi jika kita juga mempelajari bahasa ini siapa tahu suatu saat nanti dibutuhkan. Karena memang bukan bahasa ibu kita, jadi wajarlah jika butuh waktu dan ‘perjuangan’ untuk mempelajarinya. Kabar baiknya beberapa kosakata atau ungkapan dalam Bahasa Perancis banyak yang mirip atau lazim dipakai dalam Bahasa Inggris. Contohnya :
Announcer       : to announce
Amuser            : to amuse
Entrer              : to enter
Completer       : to complete
Considerer       : to consider
Suggerer         : to suggest
Survivre           : to survive
Terminer          : to terminate
Exagerer          : to exaggerate
Excuser            : to excuse
Conclurer        : to conclude
Informer          : to inform
Proposer          : to proposer
Explorer          : to explorer
Considerer      : to consider
Admirer           : to admire

Dan banyak lagi kata-kata yang lain. Jadi kalau ada yang bertanya : “Parlez-vous Francais?” “Apakah anda berbicara Bahasa Perancis?”. Kita boleh Percaya Diri menjawab ”Un petit peu.” Bisa sedikit-sedikit :D.
            Tapi tentu itu tak cukup! Karena meski terlihat sama namun pengucapannya ternyata berbeda dan penutur asli bisa berbicara dengan sangat cepat. Dan jangan lupa ada lebih banyak kosa kata yang memang tak sama dengan Bahasa Inggris. Jadi tetap harus ‘berjuang’: mari belajar!.
            Untuk mulai mempelajari Bahasa Perancis sebaiknya lupakan dulu tata bahasa atau grammar. Bagusnya kita mulai dengan salutations atau bagaimana mengucapkan salam. Karena tentu ini adalah cara awal untuk menyapa. Buka video ini dan coba ikuti dengan suara keras!.




Video dari Youtube oleh YouLearnFrench



Bonjour! Hai!
Salut! Hai!
Bonsoir! Selamat sore/malam
Bon après midi! Selamat sore!
Au revoir! Sampai jumpa!
A bientot!, a plus tard! Sampai bertemu lagi!
A demain! Sampai besok!
A Lundi! Sampai hari Senin!
A la semaine prochaine! Sampai bertemu minggu depan!
Bonne journee! Semoga harimu menyenangkan!
Bon après-midi! Selamat sore
Bonsoir!, Bonne soiree! Selamat sore
Bonne nuit! Selamat malam! (biasanya ketika akan tidur)
S’il te plait! S’il vous plait! Silahkan!
Merci! Terimakasih                 
Merci beaucoup! Terimakasih banyak
Je te remercie!, Je vous remercie! Saya berterimakasih kepada anda!
De rien! Sama-sama
Je t’ en prie!, je vous en prie! Sama-sama!
Le plaisir est pour moi! Kebahagiaan bagi saya!

 Greetings adalah permulaan yang baik untuk dipelajari, sebelum mempelajari kalimat-kalimat lain. Setuju?.

7 komentar :

Posting Komentar