Book Review : Selimut Debu

6 komentar



 Judul                            : Selimut Debu
Penulis                          : Agustinus Wibowo
Penerbit                        : PT Gramedia
Cetakan Pertama              : Januari 2010


         Kali ini aku ingin ngomongin tentang buku keren yang sedang aku baca yaitu Selimut Debunya Agustinus Wibowo. Kenapa keren?. Karena dari semua buku kisah perjalanan yang sudah aku baca rasanya buku ini memberi arti yang lebih dalam,  karena begitu hidup, begitu berbaur dan begitu nyata. Dengan malu juga aku akui kalau aku sudah membaca buku ini hampir dua bulan! Dan belum juga selesai. Bukan kerena tebal (sebenarnya tebal banget ;p), tapi karena aku ingin membaca segala cerita orang-orang yang Agustinus temui sepanjang Afganistan, Pakistan dan Tajikistan secara perlahan. Lalu membayangkan kalau aku ada di sana di dekat Agustinus sendiri, aku akan  ikut deg-degan ketika ditangkap oleh tentara perbatasan, ikut cemas ketika tak punya lagi perbekalan dan uang setelah dicopet juga ikut menikmati indahnya alam Afganistan yang tersaji meski begitu banya granat aktif tertanam di tanahnya yang bisa meledak kapan saja.
                Bukan perjalanan yang mudah, juga jelas bukan perjalanan yang dilakukan hanya untuk sekedar melihat keindahan atau keagungan suatu tempat namun ada pencarian nilai kehidupan, pelajaran dari pergantian sejarah masa ke masa,  ragam budaya dan pandangan agama juga karakter kemanusiaan.
                As a backpacker, Agustinus has taken several routes in his journey which other travelers would have most likely avoided. (The Jakarta Post)
                Setuju banget dengan testimony The Jakarta Post. Kebanyakan kita tentu akan memilih mengunjungi negara-negara ‘aman dan nyaman’ untuk melakukan perjalanan bukan mendatangi “negeri impian-tanah Bangsa Afghan” yang  hadir berupa reruntuhan setelah konflik yang menyisakan banyaknya korban termasuk korban ranjau atau banyaknya anak-anak pengemis di jalanan umum. Tanah yang menyimpan banyak misteri tak hanya tentang wanita-wanitanya yang tertutup burqa dan terkurung dalam ketidakeksisan demi menjaga harga diri, namun juga kebanggaan dari perbedaan sunni, syiah, ismaili, Hazara, Pasthun hingga opium yang tumbuh subur di tanah Afghan. Dan salah-satu kelebihan yang aku temukan dalam cara Agustinus bercerita adalah : ia mampu mendatangkan point of view dari setiap tokoh yang ia ceritakan.
                Seperti ketika ia menulis  tentang burqa (hal :150)
                Bagi sebagian orang, ia tampak sebagai kurungan. Bagi yang lain ia adalah perlindungan. Di negeri yang kental sekali kultur patriarkatnya, menjadi perempuan anonym di jalan yang dipadati kaum lelaki beringas sangat banyak faedahnya.
                Lalu Lam Li seorang backpacker perempuan asal Malaysia berpendapat :
                “Tidak ada salahnya juga, hanya gaya hidup yang berbeda.”
                “Pernah suatu saat saya menunjukkan foto-foto wanita Malaysia yang sibuk bekerja di sawah dan di pabrik. Wanita-wanita di keluarga Kandahari bukannya kagum malah kasihan. ‘Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia itu harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka?” (Hal : 154)
                Di bagian lain Agustinus memunculkan Bibi Sarfenas yang berapi-api mengatakan :
                “Orang Ismaili adalah pecinta kebebasan. Dan sudah seharusnya ada kebebasan terhadap perempuan, karena perempuan itu sejajar dengan laki-laki…..”
                “Tetapi kami juga terkadang harus memakai burqa, yaitu ketika kami pergi ke kota. Di kota banyak orang-orang sunni. Kalau tidak pakai burqa mereka bilang darah kami halal”  (hal : 250)
                Lalu Agustinus juga memunculkan Panveen seorang wanita muda yang merupakan salah seorang pengurus RAWA(Revolutionary Association of the Women of Afghanistan yang merupakan organisasi politik radikal.
                “Tujuan utama kami adalah pembebasan perempuan Afghan. Pembebasan perempuan yang sebenarnya.” (hal : 171)
                “Perjuangan wanita Afghan masih jauh dari tujuan. Jalan menuju demokrasi dan kemerdekaan bagi perempuan masih sangat panjang. Burqa dan hijab bukanlah prioritas utama. Perempuan masih miskin, dan kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi. Kekerasan ini biasanya datang dari para suami, penjahat perang, kaum fundamentalis dan Mullah” (hal :175)

                Akan sangat panjang dan kompleks jika ingin mengulas segala hal yang ditampilkan Agustinus dalam buku setebal 461 halaman ini. Sepanjang jengkal-jengkal Afghan yang telah dilaluinya. Karenanya seperti kata Maggie Tiojakin : Agustinus bukanlah sekedar traveler ia juga explorer dan adventurer!.

6 komentar :

  1. Bukunya tebel banget ya mba... :)

    BalasHapus
  2. memang tidak bisa dipungkiri kebanyakan orang ingin bepergian ke tempat yang aman dan nyaman ya

    BalasHapus
  3. bagus kayanya ya bukunya.... mudah2an klo ke gramed ga lupa nyarinya

    BalasHapus
  4. Pastinya cerita ini menginspirasi, memberikan kita pandangan untuk lebih bersyukur hidup di negeri yang aman ya...
    Ada quote yang mengatakan "darah kamu halal...." itu serammm

    BalasHapus
  5. bagus bgt kyknya mb..jd pengen baca juga..tp kl tebel aku pasti "menghabiskannya" bs sebulan lebih, nih ^_^

    BalasHapus