Aku dan supir Taxi

33 komentar
Taxi 

                Setelah berulang kali gonta-ganti pasangan eittss salah... gonta-ganti supir Taxi maksudnya, aku jadi tahu karakter-karakter atau kebiasaan-kebiasaan supir Taxi di seputaran Antananarivo.

Kebiasan Pertama :
Kalau aku jalannya pagi, seringkali Taxi akan mampir dulu di POM buat ngisi bahan bakar atau nyari cadangan bahan bakar yang dimasukkan ke dalam botol air mineral bekas.

Kebiasaan kedua :
Kalau Taxinya ngisi bahan bakar, supir akan minta aku buat bayarin dulu bensinnya. Padahal belum juga sampai di tujuan. Tapi tak apa sih karena harga sudah lebih dulu ditentukan. Dan biasanya ngisinya juga nggak lama.

Kebiasaan ketiga :
Kalau lagi hujan dan Taxi terasa susah, mereka akan menerima penumpang lebih dari satu!. Aku pernah dua kali mengalaminya. Tapi nggak masalah juga selama tujuan searah dan penumpang pertama diprioritaskan diantar duluan….dan penumpang kedua itu bukan konconya untuk melakukan kejahatan terhadap penumpang pertama  (tetap harus waspada kalau kejadian begini).

Kebiasaan keempat.
Kalau jalanan lagi padat dan macet, supir akan mematikan mesin Taxinya. Mungkin untuk menghemat. Dan pernah juga kejadian : mesin mati tiba-tiba karena kehabisan bensin, biasanya karena si supir terlupa untuk mengisi bensin dan bagi yang punya cadangan bensin di dalam botol air kemasan bekas tidak masalah, ia tinggal mengisinya di jalan. Efeknya tentu akan menimbulkan kemacetan di belakangnya.

                Awalnya sih agak-agak malas buat naik Taxi karena hal-hal diatas itu, tapi lama kelamaan dan karena kebutuhan juga, aku menjadi enjoy dan menjiwai (halah!). Malah terkadang menjadi aktif mengingatkan si supir untuk singgah di POM bensin, menawarkan membayar ongkos terlebih dahulu dan sok baik tanya-tanya nomor handphone buat dijadikan supir idaman. Maksudnya diberikan job buat antar-jemput kalau lagi malas jalan ke pangkalan Taxi. :D
                Dan mereka seperti manusia pada umumnya, juga memiliki gaya dan karakter masing-masing. Ketika menyetir ada yang cuma diam, pandangan lurus ke depan, serius menyetir. Ada yang suka setel musik berirama metal kuat-kuat, tengak-tengok kanan-kiri lalu selap selip cari jalan. Ada juga yang terlalu santai menikmati angin sepoi-sepoi dari jendela Taxinya.
                Dan sebulan ini aku bertemu juga dengan supir idola. Namanya Ruth (tulisannya kayaknya nggak begitu). Dia mangkal di ujung jalan dekat rumahku. Perkenalan pertama kami ketika aku akan ke Alliance Francaise yang jaraknya agak-agak jauh dari rumah dan ini adalah perjalanan terjauh pertamaku dengan Taxi. Ruth muncul dengan pesonanya diantara supir Taxi lain yang masih berdebat soal arah dan harga.
                “Venez avec moi madame! Je sais que la direction, Bien sure.”  -- “Ikut saya saja bu, saya tahu arahnya pasti!”
                Dan dengan gentle ia membukakan pintu membuatku segera menghalau supir-supir lain  karena Ruth memperlakukanku bak seorang princess. #prett!.
                Dan sepanjang perjalanan ia banyak berbicara memaksaku mengeluarkan kalimat-kalimat acak-kadut tidak jelas untuk merespon obrolannya. Aku tidak lagi bisa mengandalkan kalimat-kalimat yang sudah kuhafal menjadi template kalau naik Taxi seperti “Tourne a gauche” belok kiri, “Tourne a droite!” belok kanan, “Aller tout droit!” Lurus terus. Dia memaksaku berbicara lebih dari itu!.
                “Ou venez vous?” ----“ Kamu berasal dari mana?”
                “Ou est Indonesie? Est –il pres de Hogkong?” -----“ Indonesia itu dimana sih? Dekat nggak dengan Hongkong?”
                Juga banyak pertanyaan atau pernyataan lainnya yang terdengar seperti dengungan lebah di telingaku. Tapi ia terus bicara. Bahkan dia tidak perduli kalau aku hanya menjawab “Oui!” atau “Non” atau “Je ne sais pas” atau “Pardon!” atau “Oh!”. Di hadapan eh di belakang Ruth aku jadi mati kutu. Itu kesan pertama.
                Dan ternyata besok-besoknya lagi aku tetap memilih dia sebagai supirku. Obrolanpun semakin campur aduk beragam topik. Mulai dari jalanan yang macet, pasar-pasar murah di Tananarive, pertanyaan-pertanyaannya tentang Indonesia hingga menggosipkan beberapa bule yang menikahi wanita Madagascar.
                “Bule-bule tua biasanya menikahi gadis-gadis disini Madam. Uang mereka banyak sih.” Katanya suatu ketika ketika kami dalam perjalanan pulang selesai kursus.
                “Oh, dijadikan istri keberapa?” aku terpancing gosipnya Ruth.
                “Bukan yang pertama pastinya!”
                "Oooo"
                  "Nikah beneran? sah gitu?" tanyaku lagi
                  " Ada yang beneran, banyak juga yang bohongan. Nggak pake nikah.". Katanya tertawa.
Diam sebentar, Ruth ngomong lagi kali ini tentang suasana politik di negaranya yang memang baru saja selesai Pemilihan Presiden putaran pertama dan bakal ada putaran kedua namun belum tahu waktu pastinya kapan.
                 "Kalau Dr. Robintson yang jadi presiden, Madagascar nggak akan macet lagi"
                  "Kok bisa? caranya?" tanyaku bingung, secara jalan-jalan di Antananarivo ini kecil-kecil tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah. Jalan alternatif juga tidak banyak.
                  "Iya mobil-mobil tidak boleh parkir lagi di sepanjang jalan. Lalu akan ada pembangunan besar-besaran." Trus parkir dimana dong!pembangunan besar-besaran yang seperti apa? Ruth terus berbicara lebih bersemangat lagi tentang janji-janji kampaye calon presiden idolanya itu juga tapi aku tak terlalu mengerti juga tak terlalu tertarik. Je deteste politicien --- aku benci orang-orang politik yang suka tebar pesona itu. Karenanya aku juga akan menolak mati-matian kalau suatu hari nanti dicalonkan jadi presiden! Beneran! (Uwekkk!! ini kepedean ya?!). Lebih baik hidup tenang, sederhana dengan anak cucu.
         Eh, kembali lagi ke Ruth yang mulai sadar aku nggak nyambung dengan omongannya. kali ini ia menunjuk-nunjuk barang-barang atau benda-benda yang terlihat melalui jendela taxi ketika kami lewat. Mengucapkan namanya dan memintaku mengulang. Kayak guru TK gitu. :D. Dan aku berpikir bagus juga dia memaksaku untuk berbicara paling tidak aku bisa mempraktekkan Bahasa Perancis acak kadutku tanpa takut atau malu karena ia juga berlagak gentle memotivasiku untuk berbicara. Untuk sekarang aku berbicara memang untuk survive dan kupikir tak ada salahnya sambil secara pelan belajar untuk berbicara dengan lebih baik dan benar.
                “Cava madam, kamu bisa ngomong. Bahasa Perancismu lumayan bagi orang yang baru setahun disini.” Tuh kan, Ruth juga membuatku keGR-an :D. 
               "Merci beaucoup Ruth."

33 komentar :

  1. Seru ceritanya... pengamatan taxinya juga asikk.,,..hehe

    Salam kenal.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Irwan... salam kenal juga

      Hapus
  2. Ruth tuh laki-laki apa perempuan Mbak? Inget Ruth Sahanaya soalnya, hihihi. Sama kayak ojek di sini, pernah aku naik, abis bensin eh suruh bayarin dulu wkwkwk.. gapapa sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Laki-laki Un waktu dia ngomong dia bilang namanya Rutttt tapi nggak tau tulisannya gimana :D

      Hapus
  3. Wah, Nufus bahasa Perancisnya udah mantap kali ya fus :D
    Btw, biasanya Ruth adalah nama perempuan, tapi ini laki-laki ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum kak...belum mantap masih cilet-cilet :D Iya ya...besok kalau ketemu Nufus tanya lagi ah.

      Hapus
  4. loh mak nufus sudah setahun di perancis toh.. ikut suami ato sekolah mak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan di Perancis mak Hana tapi di Madagascar Afrika yang punya dua bahasa yg sering dipakai umum : Malagasy dan Perancis

      Hapus
  5. Koq pake bahasa prancis ya mba? Gagal paham ane "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮‎​​

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulunya Madagascar itu jajahan Perancis vee...trus merdeka tapi bahasanya masih sering dipakai.

      Hapus
  6. uwaaaa..seru ceritanya mbk,gimana rasanya di negeri Madagascar???^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya gado-gado Zwan kadang betah kadang pingin pulang juga :D

      Hapus
  7. haha memang seru ya tun, ditunggu cerita2 lainnya..hope hehe, ntar ajarin ya prancisnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar gantian ajarin Bahasa Arab ya Tia.

      Hapus
  8. asiknya bs di luar negeriii

    BalasHapus
  9. bentuk taxinya kayak bajaj ya, hehhehehehe kayak mobil mr. bean

    BalasHapus
  10. Cerita yang keren mbak. Bukukan deh kisah2nya di negeri orang kayak mbak Jihan Davincka yang membukukan kisah2nya di Jeddah. Cerita ini keren sangat.

    SUpirnya lucu ya :D
    Kalo kebiasaan membawa penumpang lagi .. iih ngeri saya apa ga ada kejadian apa gitu di sana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Niar...pingin banget punya buku! Semoga bisa ya mbak.

      Ada sih kejadian yang kayak gitu mbak....memang harus tetap waspada.

      Hapus
  11. harus sharing TAXI gitu sama orang lain ya mbak. mudah-mudahan aman ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak sering kok mbak...kalau lagi Taxi susah aja kayaknya dan nggak semua supir gitu sih.

      Hapus
  12. Ati ati loh mak.. jangan sampe jatuh cinta..hahahhahaha... pengamatannya dalam banget.. btw disana gak pake argo ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bakalan jatuh cinta kayaknya tapi kalau itu bisa bikin taxinya gratis boleh lah...;p
      Nggak pake argo mbak.

      Hapus
  13. Iya lho, dari awal kamu cerita tentang Ruth, aku juga ngehnya dia pengen bikin kamu practise bahasa, hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah bedanya Ruth dengan supir taxi yang lain yang rada-rada cuek mbak Dell.

      Hapus
  14. eitsss pertamax tentang gonta-ganti pasangan , yang itu jangan sampai yah

    BalasHapus
  15. Waaa...Madagaskar? taxinya suka susah klo hujan? waaah...kalau di sini bukannya malah banyak taxi berkeliaran klo hujan. Secara orang malas buat naik angkot karena turun naiknya... Mba seru banget ya di sana

    BalasHapus
  16. hihi baik banget ya supir taxi-nya, pasti jd langganan terus nih ka :D

    BalasHapus
  17. sopir taxinya berani banget ya, minta uang terlebih dahulu utk beli bensin hehehe... kayaknya kalo disini gak ada deh yg kayak begitu :D

    BalasHapus
  18. wah seru kali ya kak nufus. kakak, ajari kami bahasa prancis dong

    BalasHapus
  19. Saya juga Kak, ada dua buku bahasa Prancis yang saya beli. Tapi segera ya, mau fokus ke bahasa Jerman-nya dulu :)

    BalasHapus
  20. Naik taksi lalu kita diminta bayarin bensin dulu itu yang membuat saya heran, begitu yaa... :)

    BalasHapus