Tulisan tentang Morondava dimuat di Republika!

36 komentar
Kejutan atau berita gembira yang datang tiba-tiba tanpa ditunggu itu lebih menyenangkan daripada mimpi seindah apapun!. Ya iya lah…. ^^d. Dan kejutan indah yang menyapa pagiku di suatu hari tssahhhh adalah ini… Jreng!

Foto dari e-paper Republika Online

Setelah berkali-kali 'dicuekin' sama koran atau majalah yang kukirimin tulisan, melihat foto di atas dengan wajahku yang rasanya manis banget ituh :D bener-bener sesuatu, really something! . Bagi kamu yang suka menulis seperti aku pasti mengerti bagaimana rasanya...^^. Tulisan dimuat di Republika itu ibarat percikan pelecut semangat. Menjadi pembuktian terhadap diri sendiri bahwa apa yang aku tulis layak dibaca orang banyak. Aku lalu merasa beruntung karena tak berhenti menulis, merasa beruntung bernyali 'tebal' meski berkali-kali 'gagal'. Kirim lagi...kirim lagi... besok-besok tetap kirim tulisan terus ahhhhh.
Kita tak tahu tulisan yang mana atau tulisan yang keberapa yang akan membawa kita pada apa yang kita inginkan. Dan ini terbukti untuk kasusku.... Ini bukan tulisan pertama yang aku kirim tapi ini tulisan pertama yang dimuat di Republika. Boleh dong senang dan marukkk :D. 

Bagaimana cara mengirim tulisan ke Republika?. Untuk tulisan jalan-jalan seperti tulisanku yang dimuat di rubrik Leisure, begini teknisnya :

1.       Ketik tulisan di MS. Word Arial atau Time New Roman font 12.
2.       Panjang tulisan sekitar 8000 – 11.000 karakter dengan spasi.
3.       Gunakan EYD dan bahasa yang lugas dan informatif.
4.    Sertakan foto-foto minimal 8 buah dengan ukuran minimal 500 KB. Jangan lupa foto profil penulis.
5.       Kirim ke leisure@rol.republika.co.id
6.       Tulis surat pengantar sedikit, biodata singkat, dan nomor rekening.

Itu secara teknis namun yang tak kalah penting adalah isi dari tulisan. Selain menarik secara tempat juga harus memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Pilihan transportasi yang bisa digunakan untuk menuju lokasi, biaya yang harus disiapkan, spot-spot menarik dan kegiatan yang bisa dilakukan selama disana juga tips atau trik khusus untuk memudahkan selama berada di lokasi. Tak harus wisata luar negeri, wisata dalam negeri juga banyak yang keren dan perlu dipublikasikan. 


36 komentar :

Posting Komentar

Kids, let's see far away places!

36 komentar
Anas sedang menjadi manager tim sepak bola

Di lingkungan rumah kami banyak anak-anak usia bayi, batita, balita hingga ABG. Seringnya anak-anak ini datang ke rumah untuk bermain. Bermain bola, bersepeda, petak umpet atau kejar-kejaran yang kerap kali menimbulkan suara rame yang meriah. Namanya juga anak-anak. Mereka sering tak sungkan bermain ayunan, memanjat pohon juga memetik buah aprikot atau anggur yang masih mentah dan asam yang tumbuh di pekarangan rumah kami, terkadang mereka juga mengganggu anak-anak ayam Dadabe. 

Anas dan Azzam senang dengan kedatangan anak-anak tetangga kami tersebut. Aku juga senang karena mereka berhasil menjauhkan Anas dan Azzam dari mainan games atau menonton film kartun. Meski jadwal sudah disepakati terkadang keduanya masih saja suka 'merengek' karena alasan 'tidak tahu mau bermain apa lagi'. Jadi, kedatangan anak-anak ini menyelamatkan komitmen kami. Terkadang malah anak yang lebih besar dari mereka bisa membantu Anas mengerjakan PR sekolahnya yang suka membuat keningku berkerut.

Yang sering marah dan lalu 'ngomel-ngomel' dengan kedatangan anak-anak itu adalah Dadabe, karena terkadang anak-anak itu tak sadar telah mematahkan batang ubi kayu yang ditanam Dadabe, atau menginjak rumpun mawar yang baru saja memunculkan tunas bunga, atau terkadang membuang sampah sembarangan. Duluuuuuu sekali, awal-awal kami menempati rumah ini pernah menemukan loh sebongkah kotoran manusia di depan pintu!. #maaf bagi yang merasa jijik ya... Tapi sejak Dadabe 'galak' daerah sekitar rumah sudah bersih kok.

Mereka anak-anak yang senang meniru. Gaya hidup orang dewasa disekitar mereka tentu mempengaruhi kelakuan mereka juga. You know, masalah kebersihan adalah masalah serius disini. Di jalan-jalan kami sering kali melihat laki-laki berdiri bebas untuk buang air kecil… tak hanya di balik pohon, menghadap tembok, bahkan kadang tanpa penutup apapun di jalanan umum. Ya, Madagascar memiliki toilet umum terbesar di dunia, dimana saja dan tak perlu bayar!. Awal-awal tiba di Madagascar dulu tentu aku kaget dan risih, namun setelah dua tahun melihat pemandangan demikian, jadilah ‘biasa’. Nah apalagi anak-anak itu yang hidup dan keseharian mereka tentu mengikuti pola hidup orang tua mereka. Tapi tetap saja mereka anak-anak dengan banyak sekali hal-hal yang akan datang di kemudian hari. Dan mereka berhak untuk tahu, hal diluar pandangan mata mereka.


Awalnya anak-anak yang datang masih sedikit

Bagaimana cara melihat hal-hal lain diluar keseharian mereka?. Pernah sekali waktu dulu, aku memperlihatkan Indonesia melalui google image. Mereka senang melihat megahnya Monas, candi Borobudur, Mesjid Raya Baiturrahman dan juga pemandangan indah Indonesia lainnya seperti Sabang, Bali, Lombok, Raja Ampat dan lain-lain. Namun membuka laptop di depan mereka adalah cara yang tidak praktis, mereka akan berkumpul dan berebutan untuk duduk di depan laptop yang akhirnya membuat kegaduhan. Jadi, kenapa tidak menggunakan kartu pos koleksiku?!. tentu lebih mudah. So kids, let's see the far away places!.

Melihat foto-foto cantik di kartu itu membuat mereka bersemangat. Anak-anak yang masih lebih kecil memang masih belum terlalu mengerti dimana tempat-tempat itu berada. Namun anak-anak yang lebih besar, mereka bisa membaca dan bertanya nama-nama negara di seluruh benua tersebut.


Lelaki yang duduk di teras sana adalah Dadabe, duduk sambil terus mengawasi.

Siapa tahu, foto-foto itu juga pesan yang tertulis di atas kartu itu memancing mereka untuk ingin kesana. Siapa tahu keinginan itu terekam di alam bawah sadar mereka untuk terus hidup dan bergerak mencari jalan menjadi nyata. Siapa tahu cerita-cerita yang kami bagi saat ini terekam otak kecil mereka dan merubah sedikit saja pola pikir mereka menjadi lebih terbuka. Iya kan?.

Happy blogging, happy life!
Haya


36 komentar :

Posting Komentar

Tulisan Azzam : Di Antsirabe

13 komentar


Di Antsirabe ada kolam renang. Anas dan Azzam berenang di kolam itu. Mama dan papa lihat Anas dan Azzam berenang. Sampai Anas dan Azzam kedinginan kita kembali ke kamar. Di kamar Hotel Royal du Palace kita menonton TV kartun Spongebob dan Kura-kura Ninja.

Lalu kita sarapan dengan telur, sosis, keju, roti dan croissant, minumnya air putih dan teh panas. Setelah makan Anas, Azzam, mama, papa dan supir pergi dengan mobil jalan-jalan keliling kota Antsirabe.

Pengarang : Azzam, 5 tahun
Editor        : Mama Azzam dan Anas

13 komentar :

Posting Komentar

Tulisan Anas : Di Morondava

12 komentar
Annas
Papa dan Azzam


Waktu di Morondava ada banyak ombak. Tapi kita tidak takut, kita kesana juga. Kita adalah anak-anak, nama kita Anas dan Azzam, kita adek dan abang. Ketika kita main di ombak, rupa-rupanya airnya asin. 

Kemudian kita membuat istana pasir. Istana itu bagus sekali. Lalu kita main air lagi sebentar, habis main air kita ke kembali kehotel bungalows. Di hotel kita mandi. Lepas mandi kita tunggu supir kita lalu kita pergi ke kota Antsirabe. 

Di Antsirabe kita menginap, nama hotelnya Royal Palace. Kita menginap satu hari saja. Waktu sampai ke Antsirabe anas dan azzam mau berenang. Tapi sudah malam. Paginya kita bangun terus kita mandi lalu makan habis makan kita berenang. Waktu sudah kedinginan kita berhenti berenang dan kembali ke kamar hotel. Setelah ganti baju terus kita pergi keliling kota. Lalu kita pulang ke rumah di Antananarivo.


Penulis : Anas, 8 tahun 
Editor   : Mama Anas dan Azzam

12 komentar :

Posting Komentar

Pergi? Yokk!!!

1 komentar


Setiap orang bisa berubah ; disengaja atau tidak, dengan usaha sendiri atau pengaruh dari lingkungan sosial. Contohnya saya. Dulunya, saya bukanlah orang yang senang bepergian. Menghabiskan waktu di rumah dengan membaca novel atau menonton televisi lebih menarik bagi saya dibanding berjam-jam duduk di dalam mobil terayun-ayun hingga merasa pusing dan lelah untuk sampai ke suatu tempat yang berbeda. Dulu, saya juga tak terlalu senang bertemu orang-orang baru atau berada dalam khalayak ramai juga tak terbiasa memulai obrolan basa-basi karena menganggap tak ada yang bisa diceritakan. Namun sekarang, setelah beberapa kali melakukan perjalanan, sepertinya saya mulai berubah. Mungkin juga akibat pengaruh buku-buku traveling yang saya baca. Kisah-kisah yang diceritakan berdasarkan pengalaman penulisnya mensugesti dan memancing rasa ingin tahu dan juga ingin mengalami hal yang sama. Ya, traveling menjadi trend gaya hidup masa kini. Orang mulai menyebarkan faham kalau bepergian untuk mendapat banyak pengalaman lebih berarti dibanding membeli barang-barang mewah.
Dan memang pengalaman melihat hal yang berbeda dari keseharian kita, melihat bagian lain dari dunia yang biasa kita lihat atau berinteraksi dengan warna-warni agama, budaya juga tradisi yang ada di dunia ini membuat pikiran lebih terbuka dan lebih mampu bersikap bijak dalam menghadapi perbedaan. Dan tak jarang berada di tempat asing membuat kita 'tiba-tiba' mengenal bagian dari diri kita yang dulunya tersembunyi. Dalam sebuah perjalanan pula kita seringkali dipaksa keluar dari zona nyaman kita, juga tidak lagi merasakan kekhawatiran akan baik buruknya penilaian sanak saudara, teman atau orang-orang terdekat tentang tindakan yang kita lakukan. Makanya, orang yang merantau cenderung lebih tidak merasa gengsi untuk melakukan apa saja apalagi jika untuk bertahan hidup. 
                                 
      

Selain itu, perjalanan juga membuat kita banyak merenung dan lalu mensyukuri banyak hal. Keindahan-keindahan yang terpampang di depan mata jelas adalah anugerah. Memiliki waktu dan kesempatan menikmati karya sang kuasa, bertemu orang-orang baru adalah nikmat dari perjalanan. Juga terkadang kita mampu menemukan bagian dari diri kita ketika berada jauh dari rumah.                               

Tahun lalu saya dan teman-teman mengunjungi Mauritius yang hanya berjarak tiga jam penerbangan dari Antananarivo. Negara pulau yang berjarak 2.000 kilometers dari garis pantai tenggara benua Afrika itu menawarkan ragam keindahan : hamparan pantai dengan pasir-pasir putih, aliran sungai, hutan-hutan tropisnya juga perbukitan beserta gunung vulkanonya. Tak hanya alamnya yang alami namun juga perkotaannya yang rapi, bersih dan tertib membuat pengunjung akan betah. Mauritius termasuk negara maju di Afrika.



Ketika ke Mauritius itulah saya menemukan diri saya sangat 'penakut'. Saya menolak segala tawaran permainan yang memancing adrenalin. Ketika teman-teman begitu bersemangat melakukan snorkeling, walking in the sea, parasailing di atas laut saya berkeras tak mau ikut. Meskipun ditawari pemandu yang akan terus mendampingi, meskipun katanya aman 100%. Saya lebih memilih berjalan di pantai dan atau menunggui tas teman-teman saya. bahkan untuk berenangpun saya harus mikir dan ragu-ragu. Hingga seorang teman berkomentar 'kamu trauma sama laut ya?'. Pertanyaan yang tak terpikirkan, namun mungkin sebenarnya itu ada di bawah alam sadar saya. Pertanyaan itu mengganggu saya. Apa iya?.
Pagi esok harinya saya memutuskan berjalan sendiri ke  pantai dekat penginapan. Suasana pantai yang masih sepi sepagi itu, saya nikmati sambil merenung. Berusaha bertanya-tanya pada diri sendiri ketika memandang luas ke arah lautan sana : ‘Apa yang kamu rasakan Haya? Takutkah kamu pada luasnya samudera?’. Saya tak mau mengakui rasa takut, saya mampu menikmati pantai dan batas laut di depan saya. namun memang selintas pikir ketika melihat ombak yang bergulung.... yang saya bayangkan adalah tsunami!. That's it!. Saya trauma?. Mungkin saja ya?.
Apakah saya masih dihantui bayang-bayang tsunami yang dulu pernah saya saksikan sendiri?. Ketika itu 26 Desember 2004 saya di Banda Aceh merasai gempa besar sejak pagi, dan ikut berlari dalam huru hara yang begitu membingungkan, hingga gulungan tinggi ombak yang tanpa 'rasa kasih' menyapu apa saja yang ada di depannya. Saya sempat melihat deretan mobil dan orang yang memenuhi jalan tiba-tiba lenyap tergulung sebelum kaki saya berbelok menaiki gedung berlantai tiga di deretan opertokoan Lingke. Gulungan ombak besar itu berasal dari laut!. Ah, menceritakan itu adalah hal yang sebenarnya, selalu saya hindari. tak ingin lagi mengingat, gejolak rasa tak berdaya ketika itu. Dan memang kilasan balik pengalaman traumatis itu terkadang bukan untuk dihindari namun dihadapi dan diatasi.
 Lagi saya bertanya pada diri sendiri : Apa saya trauma dengan lautan?. Dan kesendirian untuk merenung itu membuat saya nyaman. Butuh waktu  untuk menaklukan ketakutan itu. Menyendiri membuat saya berusaha melihat ke dalam diri saya sendiri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, bisik hati saya berkali-kali. Lihat! yang ada di depan sana sangat indah dan tenang!.
 

Dan ternyata, traveling itu membuat candu. Selesai satu perjalanan saya seperti ingin segera kembali melakukan perjalanan. Apalagi keberadaan saya di Madagascar hampir mendekati deadline!. Kemungkinan besar delapan bulan lagi masa kontrak suami berakhir, yang artinya kami harus kembali ke Indonesia yang artinya 'ayo manfaatkan sisa waktu yang ada' karena bisa dipastikan entah kapa lagi bisa kembali menginjakkan kaki di pulau Madagascar ini atau di benua Afrika.
Bicara tentang Benua Afrika, saya punya wishlist yang harus saya lakukan sebelum kembali ke Jakarta yaitu : traveling ke Johannesburg, Pretoria dan Capetown!. Aminnnnnn!!!. Menurut saya tiga kota itu adalah destinasi wajib Afrika Selatan. Tapi kapan? sama siapa? uangnya mana?. Kalau mau pasti bisa, ya kan?. 
Happy Blogging!
Haya
 

1 komentar :

Posting Komentar

Antsirabe, kota airnya Madagascar

26 komentar
Dalam perjalanan pulang dari Morondava (Provinsi Menabe) beberapa minggu yang lalu, saya dan keluarga memilih untuk menginap semalam di Antsirabe, kota terbesar ketiga di Madagascar yang memiliki julukan ‘ville d’eau’ atau kota air atau "Malagasy Vichy". Julukan itu didasarkan pada banyaknya mata air panas yang ditemukan di kota yang berjarak tiga jam perjalanan dari ibu kota Antananarvo ini. Dan Antsirabe itu sendiri bermakna 'tempat dimana ditemukan garam'. Karena letak kota ini di ketinggian sekitar 1,500 meter,iklimnya terasa sejuk subtropical highland yang saat musim dingin temperature bisa mencapai 0 derajat celcius. Ketika kami kesana di bulan Oktober, udara terasa lebih hangat karena telah melewati musim dingin. Karena temperatur pegunungannya yang segar ini pulalah, para misionaris Norwegia memilih tempat ini untuk bermukim pada tahun 1872. 



Kami sampai ketika hari sudah sore, suami saya langsung memilih hotel Royal de Palace untuk menginap, alasannya selain karena suami saya sudah pernah menginap disini juga karena hotel ini memiliki restoran bersertifikat halal. Namun ketika saya tahu harga juga kondisi kamar yang kami dapat saya berulang-ulang mengatakan ‘Kita tidak butuh yang mewah seperti ini! Kita bisa tidur di penginapan yang jauh lebih murah’, rasanya tuh pingin elus-elus dompet terus. :D  Dasar emak-emak irit ya?. ‘Udah! Nikmati sajalah, nggak sering-sering kok.’ ujar suamiku ringan. Cuma ya rasanya kebanting sekali dengan penginapan kami di Morondava kemarin.

Malamnya kami makan malam di restaurannya dengan sistem buffet yang perorangnya lagi-lagi bikin aku elus-elus dompet. Mending makan sarden aja!.

Dan esok paginya setelah Anas dan Azzam puas berenang kami bergerak meninggalkan hotel. Sebelumnya kita sudah cari-cari di internet tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ada Ankaratra Volcanik namun letaknya 100 km arah utara kota, atau sumber-sumber air panas di sekitar Lake Tritiva di bagian barat daya, namun ternyata jaraknya juga jauh dan kami tidak punya banyak waktu karena harus kembali siang itu juga ke Antananarivo. Akhirnya kami memutuskan hanya untuk berkeliling kota saja.

 Sebagai ibukota dari region Vakinankaratra, Antsirabe memiliki tata kota yang lebih teratur : hotel-hotel, taman kota, stasiun kereta dan juga kantor pos merupakan perpaduan arsitektur Perancis, Inggris dan gaya Scandinavian. Jalan-jalannya juga dibuat berbentuk lorong-lorong yang bisa disusuri dengan berjalan kaki atau menaiki becak atau yang dikenal dengan sebutan pousse-pousse. Tata kota yang menurut saya lebih teratur dibanding Antananarivo. Kota ini juga relative aman untuk para turis.

La Gare

Antsirabe memiliki stasiun kereta api yang merupakan jalur kereta api lintasan utara, yang bisa dihubungkan dengan Antananarivo dan kota pelabuhan di Toamasina. Jalur ini dioperasikan oleh Madarail, yang untuk saat ini hanya berfungsi sebagai jalur kargo atau kereta barang.


La Gare ini juga menjadi ikon bagi keindahan arsitektur kota Antsirabe. Sebelum ke Antsirabe saya sudah lebih dulu tahu tentang La Gare ini melalui kartu pos Madagascar, dan melihat langsung kondisi sebenarnya ternyata lebih berkesan. Lokasi sekitar La Gare juga menjadi titik kumpul pousse-pousses atau becak yang biasanya memang menarik perhatian para turis. Bebepara penarik pousse-pousse juga menawari kami untuk berkeliling namun mengingat waktu yang tak banyak kami menolak sopan. Anas dan Azzam malah lebih memilih menaiki mobil-mobilan yang harus didorong oleh penjaganya untuk mengelilingi bundaran di depan La Gare.



Paositra Malagasy

Saya tidak menduga kalau akan menemukan kantor pos di Antsirabe. Bangunannya terlihat besar, terletak tak jauh dari La Gare. "Mau kirim kartu pos ma?" Tanya Anas, yang kubalas dengan cengiran karena sepertinya juga tak ada waktu karena jam di tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang.





Mesjid Mohammed V Roi du Maroc.


Dan tempat yang sengaja kami cari tentu saja : Mesjid!. Supir kamilah yang lalu memberitahu kami kalau ada mesjid tak jauh dari pusat kota. Mesjid ini dinamakan Mesjid Mohammed V yang diambil dari nama Raja Maroko yang telah menyumbangkan dana bagi pembangunan mesjid ini.


Sampai disana, kami diterima oleh Bapak penjaga mesjid dengan ramah. Beliau bercerita tentang mesjid yang dibangun oleh Raja Maroko Mohammed V pada tahun 1930 ini. Mesjid ini menjadi satu-satunya mesjid sunni di Antsirabe.

                                                                                                   

Begitu dipersilahkan masuk ke dalamnya, saya terkagum dengan jendela kaca warna-warni yang jika disinari matahari akan menembuskan warna indah ke lantai. arsitektur plafon dengan ukiran-ukiran indah, lampu-lampu berkesan klasik tentu membuat kita betah beribadah di dalamnya. Pengaturan ruang juga begitu nyaman, untuk jamaah laki-laki di bagian lantai satu dan jamaah wanita di lantai dasar dengan tempat wudhu yang terletak di sebelah sayap kiri. Di bagian depan berupa teras kecil juga digelar karpet untuk pengajian anak-anak.
Mesjid ini akan ramai di hari jumat ketika dilaksanakannya sholat jumat jama'ah juga sabtu pagi karena adanya pengajian rutin bagi seluruh muslim, anak-anak juga pengajian muslimah di bagian bawah mesjid. Kami juga diantar menaiki menara mesjid yang dari sana bisa melihat kota Antsirabe secara jelas. Inginnya sih kapan-kapan bisa menulis khusu secara detail tentang mesjid ini juga tentang perkembangan Islam disini. Semoga.....


                                                                                                   
Pasar Tradisional

Dan yang terakhir harus dikunjungi tentu saja pasar tradisional yang menjual aneka hasil alam Antsirabe berupa sayur-sayuran dan buah-buahan yang terkenal segar dan murah. Jika di Antananarivo harga mangga sekilonya bisa 3000 ariary di pasar ini hanya 700 ariary saja, begitu pula dengan harga buah lainnya. Sayangnya saya tidak berani foto-foto karena terlalu ramai dan tampak tak aman.


Happy Blogging!


26 komentar :

Posting Komentar