And The Mountains Echoed

16 komentar

Penampakan Novelnya

Semoga keduanya akan terus menyukai buku.

Kulihat peri kecil muram
Di keteduhan pohon kertas
Kumengenal peri kecil muram
Yang tertiup angin suatu malam

Lirik-lirik lagu itu adalah pengantar tidur yang selalu dinyanyikan ibu kepada Abdullah setiap malam. Lirik-lirik lagu itu kembali dinyanyikan Abdullah untuk Pari adiknya yang tak sempat bertemu ibu karena ibu kehilangan nyawanya begitu Pari lahir. Lirik-lirik lagu itu menjadi pengikat kedekatan hati Abdullah dan Pari, menggema melintasi masa-masa yang berlalu dalam nasib yang tak mereka inginkan.

Bukannya lebai kalau saya katakan saya takut-takut antusias ketika akhirnya berhasil memiliki novel ini. Takut yang berasal dari rasa cemas, tragedi sedih apa lagi yang akan dikisahkan oleh Khaled Hosseini. Dua novel sebelumnya : A Thousand Splendid Suns dan The Kite Runner berhasil membuat imaji saya menghidupkan toko-tokoh di dalamnya dan merasa bahwa apa yang menimpa mereka adalah sebuah ketidakadilan yang harusnya tak terjadi. Saya terus memikirkan itu berhari-hari kemudian hingga logika saya lalu berkata : Itu hanya cerita, khayalan tragis meski saya sadar ada kebenaran yang juga terselip di dalamnya. Dan saya berharap novel ketiga Khaled Hosseini ini memberikan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang indah namun tak perlu membuat pembacanya menangis (terus-terusan). Dan sepertinya harapan saya tipis ketika membaca testimoni The New York Times.

Lebih kuat dan emosional, lebih luwes dan lebih ambisius dibanding The Kite Runner, lebih kompleks daripada A Thousand Splendid Suns… bukti kekuatan Hosseini sebagai juru dongeng.”

Setting Afganistan dengan runtutan konflik yang terjadi cukup menggambarkan kepedihan apa yang bisa terjadi pada orang-orangnya. Kerasnya hidup, benturan budaya, perang dan pengkhianatan tentu menjadi warnanya.
Kisah ini dibuka oleh sebuah dongeng yang diceritakan Saboor kepada Abdullah dan pari tentang div, jin raksasa yang merajalela mengambil anak-anak kecil dari keluarga miskin di desa. Suatu malam div mendatangi rumah Baba Ayub seorang petani miskin dengan ketukan mengerikan meminta Baba Ayub menyerahkan satu orang di antara anak-anaknya untuk menyelamatkan mereka semua. Sebuah pilihan berat dibuat, Qais kecil putra yang paling disayang diserahkan esoknya sebelum fajar terbit. Sesuatu yang membuat Baba Ayub merasa tak lagi hidup sejak kehilangan Qais. Ia merasa tak berguna dan sangat pengecut. Perasaan bersalah itu membuatnya nekat mendatangi gunung benteng tempat div berada. Dan kenyataannya Qais mendapatkan kebahagiaannya disana. Dongeng ini nyatanya menjadi kisah Abdullah dan Pari yang dipaksa berpisah karena Saboor menjual Pari kepada keluarga kaya di Kabul demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin, musim dingin yang merampas nyawa Omar saudara tiri mereka dua tahun lalu.
Kisah Abdullah dan Pari ini menjadi pembuka cerita yang tentu membuat kita terus ingin tahu nasib apa yang akan menimpa kedua saudara yang bahkan merencakan untuk membangun rumah berdekatan ketika tua nanti. Namun kita harus bersabar karena selanjutnya cerita akan mengalir kepada tokoh-tokoh lain. Tokoh-tokoh yang akan diceritakan dengan point of view dan masalah mereka masing-masing. Dalam setiap kisahnya akan memiliki benang merah antar tokoh yang juga menimbulkan pertanyaan sama : apa dan bagaimana selanjutnya?.
Kisah saudari kembar Parwana dan Masooma yang terlihat berbeda namun mencintai lelaki yang sama, kisah Nabi bersama pasangan Wahdati majikannya yang hidup dalam kekosongan jiwa, kisah Idris,Timur, Amra Ademovic dan gadis kecil Roshi yang menjadi korban kekerasan, kisah Mr. Markos dokter bedah dari Yunani yang mengabdi di RS bagi korban perang di Kabul juga kisah Adel anak seorang penjahat perang.
Lalu kita kembali diberikan clue tentang keberadaan Pari yang ketika berusia tujuh tahun dibawa Nila Wahdati ke Paris, hidup dan menjadi remaja disana. Juga clue keberadaan Abdullah yang membuka Restaurant Afghan di dekat Berryessa Flea Market Amerika. Namun lalu kita dikejutkan dengan waktu yang terus berlalu tahun ke tahun menjadikan tokoh-tokohnya menua dan menghadirkan generasi selanjutnya. Maka sangatlah sesuai judul novel ini. And the mountain echoed, kehidupan keras dari Afghanistan bergaung menggema dari generasi ke generasi mempertemukan Pari dengan Pari.
Kemampuan Khaled Hosseini jelas tak diragukan lagi. Pendeskripsian yang detail tentang tempat, pemakaian kata-kata yang tak rumit namun indah adalah keahliannya selain memunculkan suspense-suspense. Wajar jika karyanya banyak dibaca dan dicintai. Novel pertamanya The Kite Runner terjual lebih dari 10 juta eksemplar di seluruh dunia. Sementara A Thousand Splendid Suns, terjual 38 juta eksemplar di 70 negara.
Dan novel ketiga ini juga sangat kompleks dan padat. Saya bersyukur ketakutan saya di awal sebelum membaca novel ini tak terjadi. Kali ini saya tak menangis dan menikmati perpindahan cerita yang mengalir sangat masuk akan dan hidup.

“Hosseini ahli dalam mematahkan hatimu, tetapi tetap membuatmu tersenyum…”
                                                                                                                      (The Telegraph)

Kekurangan novel ini, mungkin pada banyaknya tokoh dengan kisah masing-masing yang diceritakan dengan cepat. Namun ini bisa juga menjadi kelebihan jika dilihat dari segi penceritaan yang menjadikan setiap tokoh menjadi penting dengan cerita masing-masing yang unik.  Di awal saya menantikan kisah haru dan 'lebih dramatis' antara Abdullah dan Pari. Namun saya tak kecewa karena tokoh-tokoh yang lain juga diceritakan secara menarik. 
Kita bisa saja berbeda pendapat tentang sebuah novel, cobalah kamu baca dan katakan pendapatmu.


16 komentar :

Posting Komentar

Anas : 8 tahun.

5 komentar
Anas Februari ini genap berusia 8 tahun, sudah besar ya?. Padahal serasa baru kemarin ngalamin yang namanya Morning Sickness juga debar-debar aneh menyambut kelahiran anak pertama. Yah, waktu memang terus berjalan mengajak kita untuk bergerak dari satu tahap ke tahap selanjutnya dalam kehidupan. Kalau dulunya Anas akan puas bermain tanpa ada beban apapun sekarang Anas sudah memiliki tanggung jawab yang harus ia kerjakan. Salah-satunya adalah PR sekolah.

Semangat Anas!

Mengerjakan PR sekolah bukan hal sederhana bagi Anas meski juga bukan hal yang sangat serius. Sama seperti mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Tentu tak  bisa jika harus dibandingkan dengan zaman mama-papanya sekolah dulu. Juga tak bisa dibanding-bandingkan dengan para sepupunya di Indonesia. Masa, tempat dan tantangannya berbeda. Ini juga yang membuatku khawatir : apakah yang kulakukan sudah benar dalam mendukung perkembangannya?. Pingin sih memasukkannya ke sekolah Internasional yang memakai kurikulum atau bahasa pengantar Inggris karena tentu lebih umum dan lebih mudah bagi Anas juga bagi aku untuk membantunya di sekolah. Namun di Antananarivo sekolah berbasis ini hanya ada dua yaitu American school yang biayanya terlalu tinggi bagi kami dan Turkish School yang letaknya sangat jauh dari rumah. Awalnya aku suka dengan sekolah Turki karena selain menggunakan bahas Inggris, pengajar dan pengurusnya juga Muslim. Tentu lebih mengerti cara menghadapi murid Muslim semisal tentang makanan halal di sekolah juga tata pergaulannya. Biayanya juga tak terlalu mahal namun jika harus menempuh perjalanan satu jam pergi dan satu jam pulang tentu tak nyaman bagi Anas. Jadilah Claire Fontaine sebagai pilihan yang rasanya lebih tepat. Selain menjadi sekolah turun temurun bagi anak-anak Indonesia di Antananarivo, letaknya juga dekat dengan kediaman kami.
Anas bersama guru dan teman-teman kelas

Sekolah di Claire Fontaine yang mengadopsi kurikulum Perancis dalam pelajaran-pelajarannya jelas tak mudah bagi Anas. Memang untuk berbicara ia termasuk cepat menyerap bahasa secara otomatis. Namun untuk membaca, menulis, memahami dan merespon secara baku di buku bukanlah hal mudah. Aku saja sebagai orang dewasa harus menggunakan bantuan Google Translate dalam menemaninya belajar. Apalagi Bahasa Perancis termasuk bahasa dengan tata bahasa dan pelafalan yang rumit. Dan di kelasnya Anas sudah diperkenalkan dengan tata bahasa Perancis yang terus terang aku juga belum mengerti. Bagiku pribadi Bahasa Perancis lebih rumit dari bahasa Inggris.
Anas sih kelihatannya santai saja meski terkadang aku juga menangkap kekhawatiran yang wajar ketika ia kesulitan mengerjakan PRnya. Aku juga inginnya santai saja tidak memasang target apapun. Tapi Anas tetap harus memiliki rasa tanggung jawab dan memahami konsekuensi dari hal-hal yang ia kerjakan. Itu artinya PR tetap harus dikerjakan. Tak apa tak benar semua dan tak apa jika butuh waktu lama. Untungnya guru kelas Anas juga tak terlalu keras. Memang di kelas Anas ada kelompok-kelompok anak berdasarkan tingkat kemampuannya : Kelompok A, B dan C. Kata gurunya Anas berada di kelompok B. Itu artinya Anas berada di tingkat 'tengah', nilainya tak tinggi juga tak rendah.
Semangat terus ya Anas. ^^

5 komentar :

Posting Komentar