Kota Antananarivo : ‘The City of a Thousand’! Sang Ibu Kota Madagaskar

27 komentar
Mari flashback sebentar ke dua tahun silam: Agustus 2012!.
Itu adalah kali pertamanya kami sekeluarga tiba di Antananarivo. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga belas jam. Dari bandara Soekarno Hatta Jakarta, transit tiga jam di bandara Suvarnabhumi Bangkok dan tengah malam sampai di bandara Ivato  Antananarivo. Itu adalah rute terdekat dan tercepat. Pilihan rute lain bisa melewati Mauritius, Afrika Selatan, Dubai atau Paris! hehehe itu sih udah sekalian keliling dulu judulnya :D.
Begitu kami menuju pintu pesawat untuk menuruni tangganya, wuzzzs! Angin dingin menampar tubuh, dingin yang menusuk tulang. Pakaian tebal yang kami pakai rasanya kurang cukup melawan udara malam Antananaivo. Aneh juga melihat uap-uap yang lalu keluar dari mulut dan hidung. Bayangan kalau Afrika itu panas dan kering terbantahkan sudah. Mungkin untuk Afrika yang lain, namun tidak Madagascar!. Saat itu temperatur suhu mungkin sekitar 10 derajat cerlcius. Ketika sampai di Apartemen Hotel Besoa dimana kami menginap untuk dua bulan pertama, kami merasa begitu asing. Yah perasaan yang tentu hadir  setiap pertama kali sampai di tempat baru. Wajar ya?. Perasaan asing yang secara perlahan berubah menjadi ‘terbiasa’ ketika hari bertukar, bulan berlalu dan tahun berganti. 

Antananarivo Shaped Multiview Postcards.


Dari pelafalannya Antananarivo (Tananarive) akan terdengar familiar di telinga kita orang Indonesia. Tana = tanah dan Rive (dibaca tanpa huruf e diujung)  = ribu. Memiliki arti Tanah bagi Seribu Pejuang atau The City of Thousand atau Place of 1000 Warriors. Raja Andriamasinavalona (1675-1710) lah yang memberikan nama itu bagi kota ini, sebagai penghormatan kepada para tentara Andrianjaka (1612-1630) yang gugur mempertahankan tanah dataran tinggi ketika Ruva (komplek Istana kerajaan Merina) sedang dibangun pada masa itu. 

Lac Anosy : berbentuk hati

Selain itu pada masa Radama I dibangun pula Lac Anosy, sebuah danau artifisial berbentuk hati dengan monumen 'angle' di bagian tengah pulau.  Monumen ini untuk mengenang para pejuang Madagascar yang gugur pada masa Perang Dunia I. Di sekeliling danau ini ditanami pohon Jacaranda yang akan berbunga ungu sepanjang bulan Oktober hingga November. Menjadikan danau ini indah dengan taman kota yang harus dikunjungi. Indah namun tak terlalu terawat baik. Ketika kami berkunjung kesana, aroma tak sedap memenuhi indra olfactory kami dan beberapa tunawisma tidur menyedihkan dengan anak-anak kecil berwajah belepotan. Bukan pemandangan yang menyenangkan. 


Jacaranda ungu mengelilingi Lac Anosy : Pstcard.

Tapi begitulah adanya. Sebagai ibukota Madagascar, Antananarivo menjadi jantung dari segala aktivits politik, ekonomi, pendidikan dan budaya. Di kota ramai ini kesenjangan sosial terlalu kentara untuk diabaikan. Café-café modern, restaurant mewah juga hotel-hotel megah terletak tak jauh dari pemukiman ‘kumuh’. Mobil-mobil mewah memadati jalanan kotanya sementara pengemis, pedagang asongan dan tunawisma tampak lebih ramai bahkan tertidur di trotoar. Nilai mata uang juga akan berbeda bagi masyarakatnya. Uang lima ribu ariary bisa berarti uang makan untuk sehari bagi sebagian orang namun bagi yang lain hanya seharga permen pelega tenggorokan. Ironi yang sebenarnya tak hanya terjadi disini namun di belahan dunia manapun.


Dan sudah dua tahun aku disini. Aku menyukai langit biru bersihnya yang terasa dekat juga keramahan orang-orang lokalnya. Disini sapaan di pagi hari bisa dari siapapun meski tak terlalu kenal baik. Kata-kata terimakasih juga sering berhamburan dari orang-orang lokal. Mereka ramah dan rendah hati. Meski yah tak semua orang, tapi gambaran keseluruhannya seperti itu yang aku tangkap. Dan secara perlahan kami tak lagi merasa asing.
“Wah, ini kayak lagi di kuala simpang ya bang!” ujarku terkadang spontan ketika berada di salah-satu sudut kotanya.
“Nah ini kita lagi di kalisari!” Seru suamiku terkadang dalam kesempatan lain ketika berada di sudut kota yang lain. 
Yah kawan, langit disini berwarna biru putih, pohon-pohonnya berdaun hijau dengan aneka bunga warna-warni. Tanah yang kami pijak juga tak beda dengan tanah yang kamu pijak. Kita masih berbagi dunia yang sama.
Namun Antananarivo yang padat bukanlah gambaran dari keseluruhan pulau Madagascar. Begitu kami meninggalkan kota menuju Tamatave (Toamasina) bagian pulau yang lain beberapa bulan kemarin. Kami terperangah karena pemandangan yang sangat berbeda!. Begitu luas dan alami!. Semoga bisa diceritakan lain kali ya. 

PS :
Jika kamu tertarik untuk tahu lebih lengkap tentang Antananarivo atau Madagascar, Wikipedia tahu banyak hal.
 Jika pembaca merasa ada data yang salah dalam tulisan ini, koreksi dan saran sangat diharapkan. 
Happy Blogging!
Haya



27 komentar :

Posting Komentar

Madagascar itu dimana?

41 komentar

“Madagascar itu dimana? Kirain Cuma judul film kartun!”
Percayalah itu bukan kalimat yang sekali dua kali aku terima ketika mengatakan kalau sekarang aku di Madagascar. Film kartun animasi karya DreamWorks yang menampilkan karakter-karakter lucu bernama Alex, Melman, Gloria itu lebih populer dibanding fakta kalau Madagascar itu sebuah negara.
“Jadi dimana?”                                           
Kalau kita melihat peta dunia, akan ada pola berbentuk pulau yang ada di sebelah barat daya Indonesia. Nah, itu dia Madagascar. Negara kepulauan yang terpisah dari daratan Afrika, dipaksa menghadapi Samudera Hindia yang sangat luas. Tapi ia tak sendiri ada negara-negara pulau lain yang ukurannya jauh lebih kecil di sekitarnya : Mauritius, Comoros, Mozambique juga La Reunion dan Mayotte yang masuk ke dalam negara territory Perancis. Madagascar ini adalah pulau terbesar keempat di dunia setelah Greenland, New Guinea dan Borneo. 





Letak Madagascar dari Indonesia


Karena tanahnya yang berusia jutaan tahun, juga akibat isolasi panjang setelah terpisah dari daratan Afrika menjadikannya sebagai rumah bagi banyak flora dan fauna yang tak ditemukan dimanapun di dunia. Sekitar 90 persen dari semua tanaman dan hewan yang ada di Madagascar bersifat endemik. Para ahli ekologi memasukkan Madagascar sebagai Biodiversity hotspot yang layak dilindungi secara Internasional untuk menjaga kelestariannya. Tak heran banyak Taman-taman Nasional dengan bantuan dana Internasional didirikan. Dan hutan tropis Atsinana yang memiliki enam taman nasional yang terbentang di bagian timur pulau Madagascar masuk ke dalam situs World Herritage oleh Unesco PBB.
Beberapa view Madagascar yang ditampilkan di kartu pos berbentuk pulau.

Yang paling menarik adalah ahli sejarah percaya kalau sekitar lima abad yang lalu pelaut-pelaut dari Borneolah yang pertamakali menginjakkan kaki di pulau ini. Iya Borneo! Kalimantan!. Kalau kita dulu sering mendengar lagu dengan lirik seperti ini :

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup
Layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Maka percayalah! Memang lagu itu secara benar menceritakan keberanian para leluhur kita yang menggunakan kapal-kapal layar sederhana menyeberangi samudera luas. Merekalah yang disebut-sebut pendiri suku Vazimba yang awalnya menempati daerah pesisir Madagascar lalu bergerak menuju highland. Ada juga yang berpendapat kalau orang Indonesia lah yang mendirikan Kerajaan Merina yang berkuasa di Madagascar selama kurun abad ke tujuh belas hingga ke delapan belas. Meski ini masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Juga, konon ditemukan batu kapur yang ditulis dengan tulisan Maanyan kuno yaitu suku dayak di Kalimantan, tulisan ini sangat mirip dengan tulisan Malagasy.  
Dari segi wajah, coba perhatikan foto presiden Madagascar Hery Rajaonarimampianina ini :
Sumber foto : http://www.diasporas-news.com/Madagascar-Hery-Rajaonarimampianina-confiant-sur-le-retour-des-financements-internationaux_a8821.html
Mirip wajah-wajah yang sering kita jumpai di Indonesia kan?. Sama gantengnya! hehehe. Begitu juga dengan bahasa, ada mirip-miripnya dengan dialek kita. 
a
Kamus Indonesia - Madagascar yang diterbitkan oleh KBRI Antananarivo


Baiklah ini dulu sebagai pengenalan awal tentang Madagascar negara yang sekarang aku tinggali, semoga ada tulisan sambungan. 
Happy Blogging!
Haya

Referensi dari http://en.wikipedia.org/wiki/Madagascar



41 komentar :

Posting Komentar

Hobimu apa?

22 komentar
Pertama-tama, aku harus benar-benar minta maaf sama blog tersayang ini. Lihat  saja, tulisan terakhir yang terposting adalah bulan April yang lalu!. Hiks... aku layak histeris dan merasa gagal  dalam merawat dan membesarkan blog ini yang dulu kuanggap lebih penting dari tembok rumah yang penuh coretan itu.. hiks..hiks lagi… #lebai. 
Beberapa bulan kemarin itu memang seperti tak ada niat sama sekali menulis di blog, malas juga bosan. Alasannya mungkin karena tampilan blog yang tak pernah diganti?, mungkin!. Alasan lain lagi mungkin karena aku dan segala konsentrasi yang aku punya sedang teralihkan untuk menikmati hobi baru : postcrossing!. 
Hobi yang seperti menjadi candu setiap kali melihat kartu-kartu bagus di grup khusus Direct Swap di facebook sana. Selalu tergoda untuk mau tukaran kartu meski lalu harus melakukan pengorbanan tak mudah. Dompet menjadi lebih tipis dan uang belanja yang harusnya buat makan orang serumah kepake.. ^^. Huhuhu... My bad!. Sebenarnya harga kartu dan perangkonya tak terlalu mahal, tapi kalau swapnya sampai lima puluh kartu? Iya lima puluh!. Harganya jadi sebanding sama uang makan buat seminggu! Huhuhuhu maaf akan aku suami dan ank-anakku.. aku khilaf!.

Modal untuk tukaran, kartu pos Madagascar milikku.
 Maka setiap kali berada di kantor pos aku berjanji, udah! Ini swap yang terakhir harus berhenti dulu setidaknya sampai bulan depan!.. Tapi itu bukan hal yang mudah, begitu banyak godaan menggoyahkan iman. Karena Madagascar termasuk dalam “Hard to get countries!” Permintaan swap untuk tukaran kirim kartu pos begitu banyak datang dengan kartu-kartu keren atau dari negara-negara yang masih belum ada di daftar koleksiku. Soalnya aku bertekad untuk mengumpulkan setidaknya satu kartu dari setiap negara. Jadinya seperti tantangan tersendiri. Jadi kalau sudah begini lagi-lagi bakal jawab "Ok, ayo kita tukaran!"

Siapa yang bisa nolak kalau ditawarin tukaran kartu dengan kartu unyu-unyu inih ^^

Atau kartu dengan view keren begini!

Atau dari negara-negara jauh seperti yang ini!

Yang ini juga tak kalah keren kan?!

Jadi ya kemarin itu ceritanya aku kembali lagi harus berpetualang ke kantor pos untuk mengirim kartu-kartu yang sudah aku janjikan ke swappers lain. Perginya dari rumah naik Taxi dengan harga standar tujuh ribu ariary karena abang Taxinya sudah kenal. Masalahnya terjadi ketika aku akan pulang, Taxinya minta 20.000 ariary alasannya macet!. Jadi hampir tiga kali lipat dari tarif normal!. Gengsi dan ego yang mulai berbicara. Tak sudi! Jangan dikira karena aku bukan orang lokal bisa dikibuli dengan harga yang abnormal. Maka aku mencari Taxi lain yang ternyata juga memberikan harga yang tak bisa aku terima, termurahnya bisa tiga belas ribu ariary. Aku berlagak pergi dengan harapan tukang Taxinya manggil... eh sampai jauh ternyata nggak dipanggil juga. Mungkin memang macet banget kali ya... Terus pulang naik apa dong?. Jalan kaki? Bisa gempor!. Pilihan lainnya adalah naik bus umum!. Biasanya aku termasuk orang yang tak suka petualangan, juga rada-rada lemot otak kalau masalah arah : timur, barat, selatan, utara. Juga tak terlalu suka mencoba hal baru apalagi sendirian. Tapi kali ini kayaknya harus keluar dari 'comfort zone' #halah!. Siang itu nekat aja berjalan ke stasiun bus terdekat. Ini Afrika Haya! Hati-hati!. Bisik hati kecil mengingatkan. Ah, biasa aja kali... udah dua tahun lohhh masak masih takut berbaur naik bis? Lagian dulu juga kemana-mana naik omprengan kan?. Kalau dipikir-pikir ini malah inisiatif yang terlambat! Jadi malu sama mas Agustinus Wibowo yang nulis buku perjalanan ke negara-negara Asia Tengah sana. 

Penampakan bus umum
Sampai di pemberhentian bis yang hanya ditandai dengan plang kecil bertulis Arret de Bus di depan sebuah rumah makan Malagasy aku bingung lagi mau naik bis yang mana. Celingak celinguk cari papan nama arah dan yap tak lama nemu juga bus dengan tulisan Ankorondrano di kaca jendelanya. Aku malas bertanya lagi pada kernetnya langsung masuk berjejal ke dalam bus. Semua kursi telah terisi. Eh ternyata di lorong antara dua deret kursi itu ada kursi cadagan berbentuk papan panjang yang bisa diletakkan di ujung kedua bangku deret kanan dan kiri (bisa bayangin?). Disitulah aku duduk sambil memeluk erat buntalan tas kain batik bunga-bunga berwarna orange (halah penting banget dijelaskan :D). Temanku pernah bercerita kalau di bus ini banyak pencopet. Guru Bahasa Perancisku pernah kehilangan handphone, neny yang kerja di rumah pernah kecopetan uang, ada juga yang tasnya diraba-raba. Aku benar-benar menjadi waspada dengan orang-orang di kanan dan kiri. Untunglah aku tak pakai berlian  (emang punya? Kagak! hehehe). 

Dan ketika bus melaju ternyata jalanan lengang tak macet!. Tuh kan supir taxi aja yang parno!. Angin dari jendela kanan dan kiri bertiup sepoi. Ok mari nikmati perjalanan ini.! Beberapa kali bus berhenti di Arret de Bus untuk menurunkan dan atau menaikkan penumpang. Semakin lama bus menjadi semakin lapang, akupun pindah ke kursi dekat jendela dengan tetap memeluk buntalan tas kain batik bunga-bunga berwarna orange milikku (eh keulang ya?).
 
Ini jalanan Antananarivo versi tidak macet! 
Pemandangan kanan dan kiri terlihat familiar, membuatku yakin tak tersesat. Ya iyalah secara Analakely ke Ivandry itu memang termasuk masih dalam area jangkauan, belum keluar dari Antananarivo. Tapi ketika sampai di persimpangan LA City bus tidak berbelok ke kanan namun terus saja lurus. Oh no! Aku dibawa menjauhi rumah sekarang. Tapi tetap tenang. Kata kunci yang kuingat adalah "Bismialak!" artinya "kiri bang!". Tapi bus tetap berjalan sombong tak akan mau menurunkan penumpang jika bukan di Arret de Bus, itu artinya bus baru berhenti beberapa meter ke depan. Dan ketika berhasil turun aku harus berjalan atau memanggil taxi-taxi kuning yang terparkir di sepanjang jalan menunggu penumpang. Ah, sudah sejauh ini masak akhirnya harus naik taxi juga?. Aku lebih memilih berjalan kaki sekitar lima ratus meter dan menunggu bus lain ke arah yang benar,

Sebuah bus berhenti. Kali ini aku bertanya pada kernetnya yang masih berumur belasan tahun! Harusnya ia masih sekolah.  "Ambojatovo?". "Oui madam." dia mengangguk. Aku masih ragu  berjalan melewatinya ke depan bus memeriksa tulisan di kaca depan. AMBOJATOVO. Baru aku naik. Kali ini bus tampak lebih kosong hanya beberapa kursi yang terisi dan memang bus ini membawaku pulang ke rumah. Rasanya bangga berhasil menyelamatkan duapuluh ribu ariaryyang kupunya. Karena tiket bus hanya seharga empat ratus ariary!. 
Oya, judulnya 'Hobimu apa?'. Jadi apa hobimu temans?.
Happy Blogging! ^^

22 komentar :

Posting Komentar