Antsirabe, kota airnya Madagascar

26 komentar
Dalam perjalanan pulang dari Morondava (Provinsi Menabe) beberapa minggu yang lalu, saya dan keluarga memilih untuk menginap semalam di Antsirabe, kota terbesar ketiga di Madagascar yang memiliki julukan ‘ville d’eau’ atau kota air atau "Malagasy Vichy". Julukan itu didasarkan pada banyaknya mata air panas yang ditemukan di kota yang berjarak tiga jam perjalanan dari ibu kota Antananarvo ini. Dan Antsirabe itu sendiri bermakna 'tempat dimana ditemukan garam'. Karena letak kota ini di ketinggian sekitar 1,500 meter,iklimnya terasa sejuk subtropical highland yang saat musim dingin temperature bisa mencapai 0 derajat celcius. Ketika kami kesana di bulan Oktober, udara terasa lebih hangat karena telah melewati musim dingin. Karena temperatur pegunungannya yang segar ini pulalah, para misionaris Norwegia memilih tempat ini untuk bermukim pada tahun 1872. 



Kami sampai ketika hari sudah sore, suami saya langsung memilih hotel Royal de Palace untuk menginap, alasannya selain karena suami saya sudah pernah menginap disini juga karena hotel ini memiliki restoran bersertifikat halal. Namun ketika saya tahu harga juga kondisi kamar yang kami dapat saya berulang-ulang mengatakan ‘Kita tidak butuh yang mewah seperti ini! Kita bisa tidur di penginapan yang jauh lebih murah’, rasanya tuh pingin elus-elus dompet terus. :D  Dasar emak-emak irit ya?. ‘Udah! Nikmati sajalah, nggak sering-sering kok.’ ujar suamiku ringan. Cuma ya rasanya kebanting sekali dengan penginapan kami di Morondava kemarin.

Malamnya kami makan malam di restaurannya dengan sistem buffet yang perorangnya lagi-lagi bikin aku elus-elus dompet. Mending makan sarden aja!.

Dan esok paginya setelah Anas dan Azzam puas berenang kami bergerak meninggalkan hotel. Sebelumnya kita sudah cari-cari di internet tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ada Ankaratra Volcanik namun letaknya 100 km arah utara kota, atau sumber-sumber air panas di sekitar Lake Tritiva di bagian barat daya, namun ternyata jaraknya juga jauh dan kami tidak punya banyak waktu karena harus kembali siang itu juga ke Antananarivo. Akhirnya kami memutuskan hanya untuk berkeliling kota saja.

 Sebagai ibukota dari region Vakinankaratra, Antsirabe memiliki tata kota yang lebih teratur : hotel-hotel, taman kota, stasiun kereta dan juga kantor pos merupakan perpaduan arsitektur Perancis, Inggris dan gaya Scandinavian. Jalan-jalannya juga dibuat berbentuk lorong-lorong yang bisa disusuri dengan berjalan kaki atau menaiki becak atau yang dikenal dengan sebutan pousse-pousse. Tata kota yang menurut saya lebih teratur dibanding Antananarivo. Kota ini juga relative aman untuk para turis.

La Gare

Antsirabe memiliki stasiun kereta api yang merupakan jalur kereta api lintasan utara, yang bisa dihubungkan dengan Antananarivo dan kota pelabuhan di Toamasina. Jalur ini dioperasikan oleh Madarail, yang untuk saat ini hanya berfungsi sebagai jalur kargo atau kereta barang.


La Gare ini juga menjadi ikon bagi keindahan arsitektur kota Antsirabe. Sebelum ke Antsirabe saya sudah lebih dulu tahu tentang La Gare ini melalui kartu pos Madagascar, dan melihat langsung kondisi sebenarnya ternyata lebih berkesan. Lokasi sekitar La Gare juga menjadi titik kumpul pousse-pousses atau becak yang biasanya memang menarik perhatian para turis. Bebepara penarik pousse-pousse juga menawari kami untuk berkeliling namun mengingat waktu yang tak banyak kami menolak sopan. Anas dan Azzam malah lebih memilih menaiki mobil-mobilan yang harus didorong oleh penjaganya untuk mengelilingi bundaran di depan La Gare.



Paositra Malagasy

Saya tidak menduga kalau akan menemukan kantor pos di Antsirabe. Bangunannya terlihat besar, terletak tak jauh dari La Gare. "Mau kirim kartu pos ma?" Tanya Anas, yang kubalas dengan cengiran karena sepertinya juga tak ada waktu karena jam di tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang.





Mesjid Mohammed V Roi du Maroc.


Dan tempat yang sengaja kami cari tentu saja : Mesjid!. Supir kamilah yang lalu memberitahu kami kalau ada mesjid tak jauh dari pusat kota. Mesjid ini dinamakan Mesjid Mohammed V yang diambil dari nama Raja Maroko yang telah menyumbangkan dana bagi pembangunan mesjid ini.


Sampai disana, kami diterima oleh Bapak penjaga mesjid dengan ramah. Beliau bercerita tentang mesjid yang dibangun oleh Raja Maroko Mohammed V pada tahun 1930 ini. Mesjid ini menjadi satu-satunya mesjid sunni di Antsirabe.

                                                                                                   

Begitu dipersilahkan masuk ke dalamnya, saya terkagum dengan jendela kaca warna-warni yang jika disinari matahari akan menembuskan warna indah ke lantai. arsitektur plafon dengan ukiran-ukiran indah, lampu-lampu berkesan klasik tentu membuat kita betah beribadah di dalamnya. Pengaturan ruang juga begitu nyaman, untuk jamaah laki-laki di bagian lantai satu dan jamaah wanita di lantai dasar dengan tempat wudhu yang terletak di sebelah sayap kiri. Di bagian depan berupa teras kecil juga digelar karpet untuk pengajian anak-anak.
Mesjid ini akan ramai di hari jumat ketika dilaksanakannya sholat jumat jama'ah juga sabtu pagi karena adanya pengajian rutin bagi seluruh muslim, anak-anak juga pengajian muslimah di bagian bawah mesjid. Kami juga diantar menaiki menara mesjid yang dari sana bisa melihat kota Antsirabe secara jelas. Inginnya sih kapan-kapan bisa menulis khusu secara detail tentang mesjid ini juga tentang perkembangan Islam disini. Semoga.....


                                                                                                   
Pasar Tradisional

Dan yang terakhir harus dikunjungi tentu saja pasar tradisional yang menjual aneka hasil alam Antsirabe berupa sayur-sayuran dan buah-buahan yang terkenal segar dan murah. Jika di Antananarivo harga mangga sekilonya bisa 3000 ariary di pasar ini hanya 700 ariary saja, begitu pula dengan harga buah lainnya. Sayangnya saya tidak berani foto-foto karena terlalu ramai dan tampak tak aman.


Happy Blogging!


26 komentar :

Posting Komentar

EBOLA

6 komentar

Foto dari bbc.com

Dunia sedang ketakutan terhadap penyebaran penyakit mematikan bernama Ebola yang begitu cepat. Penyakit epidemik yang pertamakali diidentifikasi pada tahun 1976 di area South Sudan, juga Zaire Republik Demokrasi Kongo adalah penyakit yang merupakan wabah di daerah tropis sub-Sahara Afrika. Kini, penyakit ini kembali merebak  di Afrika Barat tepatnya dimulai dari Guinea pada Desember 2013 yang dalam waktu singkat bergerak menyebar ke Liberia dan Sierra Leone. Beberapa kasus juga ditemukan di Nigeria dan Senegal lalu kabar menyedihkan terbaru bahwa pekerja kesehatan di Amerika Serikat dan Spanyol juga terinfeksi penyakit serupa setelah melakukan kontak dengan pasien terinfeksi Ebola.
Tanggal 15 Oktober 2014 WHO bersama US Center for Disease Control and Prevention (CDC) dan pemerintah lokal telah melaporkan total korban terinfeksi Ebola berjumlah 8.998 kasus dengan 4.493 kasus kematian. Meski dipercayai angka sebenarnya lebih tinggi 2,5 kali lipat dari kasus yang dilaporkan. Angka yang sangat tinggi dan wajar membuat Ebola adalah sebuah bencana bagi kemanusiaan.

Sebenarnya apa sih penyakit Ebola ini?.
Ebola Virus Disease, Ebola Hemorrhagic Fever atau Simply Ebola adalah penyakit yang menyerang manusia dan mamalia lainnya yang diakibatkan oleh ebolavirus. Ada lima spesies dari virus ini yang dinamakan berdasalkan daerah tempat ditemukannya  : Bundibugyo ebolavirus, Reston ebolavirus, Sudan ebolavirus, Tai Forest ebolavirus (daerah cote d’ivoire), Zaire ebolavirus yang merupakan virus terkuat penyebab kematian terbanyak.

Lalu apa tanda dan gejalanya?
Tanda dan gejala khas dimulai sejak 2 hari sampai 3 minggu setelah pertama kali terinfeksi virus berupa :  demam, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sakit kepala. Gejala ini berlanjut dengan muntah, diare, ruam dan muncul bintil-bintil merah dikulit dan bagian tubuh bersamaan dengan penurunan fungsi hati dan ginjal. Pendarahanpun terjadi dari bagian dalam tubuh juga bagian luar. Kematian bisa terjadi dalam rentang waktu 6 sampai 16 hari sejak gejala dimulai. Penyebab utama kematian biasanya karena tekanan darah yang menjadi sangat rendah akibat kehilangan banyak cairan tubuh. Wajar ya, jika penyakit ia menjadi momok menakutkan. Melihat tubuh-tubuh para korban saja begitu menyedihkan dan mengenaskan.

Bagaimana penularan terjadi?
Penyebaran virus terjadi melalui kontak darah atau cairan tubuh lain baik dari manusia ke manusia atau juga dari hewan ke manusia. Hewan?. Iya!. Bahkan para peneliti percaya kalau ternyata monyet dan kelelawar buah adalah binatang yang membawa virus ini di tubuh mereka tanpa terinfeksi penyakitnya. Mereka mampu menularkan virus yang ada di tubuh mereka kepada manusia juga hewan-hewan, manusia dan hewan yang terinfeksi lalu meneruskan penyebaran virus tersebut kepada yang lain, baik ketika hidup ataupun setelah kematian.

Diagnosa.
Untuk mendiagnosa penyakit ini harus dibedakan benar dengan penyakit bergejala mirip seperti malaria, kolera dan demam berdarah karena virus. Diperlukan pemeriksaan darah untuk memeriksa virus di antibody, RNA atau juga untuk menemukan virus itu sendiri di dalam darah.

Dan pertanyaan pentingnya adalah : bagaimana cara mengontrol merebaknya penyakit ini lebih lanjut?
Tentu tak mudah, namun harus ada usaha yang dilakukan yaitu secepatnya mendeteksi orang yang terinfeksi juga mencari jejak atau sumber infeksi. Bagaimana caranya?. Tentu dari hasil laboratorium yang akurat dan cepat. Begitu kasus ditemukan, pasien harus segera diisolasi, pasien terinfeksi yang meninggal juga harus dikuburkan atau dikremasi dengan aman. Binatang-binatang yang mati di daerah endemik harus diamankan dari kontak dengan manusia. Kebersihan dan perlindungan diri bagi yang sehat dengan cara tidak memakan daging mentah, mencuci tangan, memakai perlindungan diri terutama bagi tenaga kesehatan yang langsung berhubungan dengan pasien sebagai proteksi diri adalah sangat penting. Untuk pengobatan belum ditemukan obat khusus, penanganan pasien hanya sebatas terapi rehidrasi secara oral ataupun intravena.

Ah, semoga Ebola segera berlalu ya teman-teman. Jika pembaca menemukan kesalahan info, saran dan perbaikannya sangat diharapkan. Terimakasih.

Referensi :
http://en.wikipedia.org/wiki/Ebola_virus_disease
http://en.wikipedia.org/wiki/Ebola_virus_epidemic_in_West_Africa


6 komentar :

Posting Komentar

Kartu pos favorit (bagian I)

2 komentar
Punya hobi itu memang bisa membuat kita santai dan rileks sejenak, melupakan hal-hal ‘ribet’ dalam kehidupan. Begitu pula jika punya barang-barang kesayangan yang kita koleksi. Aku suka mengumpulkan kartu pos, jadi bagiku memandangi kartu-kartu itu, membaca ulang pesan-pesan yang tertulis disana, mengagumi perangkonya yang bagus-bagus lalu menyusun ulang adalah hal menyenangkan, bisa menghabiskan waktu tanpa terasa. Menurutku ini juga bisa sabagai terapi kala stress melanda. Tapi aku sedang tidak stress loohh ya :D. Dan inilah salah empat dari ratusan kartu milikku :

1.     Galleria Vittorio Emanuele II
Kartu ini dikirim dari Milano Italia oleh seorang teman facebook melalui sistem swap atau tukaran. Warna latarnya yang hitam membuat kartu ini terlihat elegan dan mewah dan juga dicetak di kertas dengan kualitas bagus hingga meski telah melewati perjalanan jauh untuk sampai ke Madagascar kondisinya tetap bagus. Yal lecet dikit biasalah... Di bagian belakang, cap posnya juga terlihat jelas.


Galleria Vittorio Emanuelle II yang ditampilkan di kartu adalah satu dari mall atau pusat perbelanjaan tertua di dunia yang dibangun antara tahun 1865 hingga 1877 oleh Giuseppe Mengonibe, seorang arsitek Italia yang juga mendesain Palazzo di Bologna. Tragisnya  arsitek ini meninggal karena kecelakaan, terjatuh dari atap Galeria yang telah ia bangun. Galeri ini dinamakan dengan nama Raja pertama Kerajaan Italia Vittorio Emanuele II.
.
2.     Efes – Marmaris
Dikirim dari Istanbul Turki tanggal 14 April 2014 lalu. Foto yang terlihat seperti lukisan itu menampilkan kesan ‘ancient’ dengan bangunan yang tampak seperti reruntuhan yang dikenal sebagai Efes atau Ephesus Archeological Site.



Marmaris adalah kota pelabuhan yang terletak di Pantai Mediterania sebelah barat daya Turki. Kota ini menjadi kawasan wisata karena panorama gunung dan lautnya yang berdampingan. Setiap pada musim liburan pengunjungnya bisa mencapai 300.000 sampai 400.000 orang.
Ada alamatnya, sengaja biar kalau ada yang mau kirim kartu kejutan bisa langsung kirim :D 

Di bagian belakang ada dua stiker timbul yaitu bendera Turki kecil dan lambang Turkish Evil Eye yang dipercaya sebagai benda pembawa keberuntungan dan perlindungan.

3.     The Azure Window

Malta termasuk dalam kategori 'hard to get countries' bagiku, karena tidak banyak postcrosser asal sana yang mau swap kartu. Dan ini adalah kartu dari Malta satu-satunya yang aku punya.



The Azure Window adalah lengkungan alami bentuk jendela  yang terbentuk setelah dua gua batu kapur runtuh. Ini adalah batuan tertua di kepulauan Malta yang menjadi pemandangan menakjubkan di daerah Dwejra daerah Gozo. Perangko yang dipakai juga bagus : Knight of St.John senilai 0,51 Euro yang dikeluarkan tahun 2009.

4.     Angklung dan anak-anak ceria dari Jawa Barat

Kartu ini juga hasil swap sama teman postcrosser di grup postcrossing. Pertama lihat sukaaaaa karena dandanan anak-anaknya yang ala sunda asli cakep. Harusnya aku kecil dulu juga didandani kayak gini biar terlihat ‘menggemaskan meski sedikit genit’ hihihi. Dan anak laki-lakinya juga cakep-cakep dengan baju serba hitam dan ikat kepala.

Foto dari Dian Purnama


Perangko yang dipakai ada 3 buah dengan nominal harga masing-masing 2500 rupiah. Perangko berderet di bagian atas dengan cetakan stempel pos yang jelas adalah hal yang disukai beberapa penggemar postcard, namun di kartu ini cap posnya kurang jelas. Oh, ya aku juga suka stiker lucu imut yang ditempel. Cakeps!.

Udah ya… empat kartu dulu. Semoga bisa nyicil nulis tentang kartu-kartu lain yang udah sampai tiga kotak itu. Sebenarnya sih pingin mengelompokkan berdasarkan negara atau setidaknya berdasarkan benua tapi kok ya rada-rada malas. :D #malas dipelihara!

Happy Blogging, happy postcrossing and happy life!
Haya.

2 komentar :

Posting Komentar

13 Fakta.

10 komentar

Foto terbaru kami ^^
Adalah GamInong, grup kumpulan para blogger-blogger keren dari Aceh yang sedang mencoba untuk seru-seruan dan berkenalan dengan sesama anggotanya. Aku yang juga ‘ngaku-ngaku’ anggota GamInong juga ingin terlibat… dan yeahhh inilah 13 hal tentangku. 13?, iya!, karena 30 fakta rasanya terlalu banyak bagi aku yang sederhana dan lebih suka gaya minimalis ini. #boleh iri. 13 hal yang juga begitu sederhana.
Pinginnya sih menulis hal-hal hebat semacam : pernah mendapat nobel perdamaian dunia (karena aku memang aslinya cinta damai banget) atau pernah jadi pemenang American Idol atau pernah menulis buku yang lebih keren dibanding karya-karya Khaled Hosseini (Aminnnnn) atau sering menolak tawaran diajak main di film Holliwood karena masalah idealisme namun setelah tepuk-tepuk pipi dan cubit-cubit tangan sendiri sadar kalau itu adalah kebohongan publik yang bisa menggoncang jagad. Jadi, ya sudahlah apa adanya saja ya… ^^d

1.     Putri kelima dari enam orang putri bapak dan mak.
Almarhum Bapak menjadi penghuni rumah terganteng, harus pasrah jika menonton bola sendiri karena yang lain lebih senang menonton sinetron. I love you sooooo much Bapak.

2.     Pulau Tiga
Selama Ramadhan ketika kami tinggal di Pulau Tiga nun di sudut Aceh Tamiang sana, keluarga besar kami menjadi penguasa mesjid. Abiwa (suami kakak Bapak) yang menjadi imam, abang sepupu menjadi muadzin, kakak yang sedang libur dari pesantren menjadi penceramah pada beberapa malam (bukan sepanjang Ramadhan karena ada juga Ustadz lain juga) dan shaf-shaf dipenuhi oleh kami sekeluarga ; keluarga Bapak dan keluarga Abiwa. Apalagi akhir-akhir Ramadhan kami semakin merajalela di dalam mesjid, satu shaff bisa kami semua!. Yang lain adalah bintang tamu. Bangga atau sinis ya?

3.     Nggak Gaul.
Enam tahun menjadi anak asrama di sebuah pesantren Langsa membuatku ‘nggak gaul’ kalau pulang kampung. Kalau di jalan ada yang nanya ‘Dari Pulau Tiga ya? Kenal si A? si B? si Z?’ aku menggeleng dan mencoba mempertahankan ego dengan menjawab ‘Sebenarnya saya lahir di Beureunun (baca : Bernun), Aceh Pidie. Tapi jika ditanya lagi ‘Rumahnya jauh dari Simpang Tanjung? ,harga emping sekilo berapa? atau tahu rumah Tgk. Daud Beureu’eh?’ akupun menutup muka, pura-pura benerin jilbab dan mengelak karena juga nggak tahu… Kuper abiss!.

4.     Mendadak Nikah
Hanya dua tahun menikmati peran tunggal sebagai mahasiswa karena di semester empat mendadak dilamar oleh seorang lelaki yang juga masih berstatus mahasiswa di Universitas Telkom nun jauh di bumi Parahyangan sana. Jodoh itu memang penuh misteri. Lima tahun belajar di sekolah yang sama tanpa saling banyak bicara tiba-tiba setelah terpisah didekatkan dengan yg namannya internet sampai menikah. Warnet, connecting couples!.

5.     Melangkahi Kakak
Keluarga mendadak panik karena aku melangkahi ke tiga kakak perempuan yang masih pada ‘kalem-kalem’ dan santai mengaktualisasikan diri. Teman-teman seangkatan ‘geger’ namun untungnya tak mencapku teman durhaka karena ngasih kabar mendadak dan undangan hanya disebar melalui sms, malah secara rombongan datang ke acara walimahan dengan menyewa bus BE ke Beureunun dari Banda Aceh. Thank you friends, you are the best friends ever!.

6.     Kejar Wisuda!
Gara-gara mendadak nikah, kuliah jadi kayak wartawan dikejar deadline, kayak supir L300 trayek Banda Aceh-Medan yang berusaha sampai ke tujuan sebelum malam. Prinsip kuliahku menjadi ‘ambisius’ : semua mata kuliah harus lulus, nggak boleh ada yang harus diulang, anti dengan yang namanya semester pendek karena mengganggu masa libur, semua sks diperhitungkan benar dan tetap punya target lulus harus tepat waktu. Semacam tertantang untuk menepis image kalau menikah sambil kuliah itu bisa jadi mahasiswa abadi atau kuliah nggak lulus-lulus atau endingnya DO. Maka jadilah aku mahasiswa cuek yang tetap ke kampus meski sedang hamil besar. Tetap percaya diri berbaur dengan teman-teman modis yang menikmati indahnya dunia… Dan ehemmm meski menikah pernah loh dapat IP 4 meski cuma sekali doang! (tepuk-tepuk dada). Itu prestasi kan? Iya kan…? Kan…?. Meski lalu itu ijazah masih belum digunakan juga hingga sekarang. Hiks!.(urut-urut dada).

7.     Korban.
Namun ternyata tetap ada yang harus dikorbankan, pengalaman sebagai harta berharga selama kuliah yang bernama ‘organisasi!’. Pernah mendaftar sebagai pengurus PEMA Unsyiah ; masuk di bagian Kesejateraan Mahasiswa, setelah mengikuti orientasi dan rapat perdana mendadak senyyyyappppppp. Kalau lewat PEMA tutup muka pake tas. Di BEM Fakultas mendaftar di bidang keputrian, bahkan tak sempat ikut menyusun proker lalu juga senyyyaapppp, menghilang. Di Program Studi lebih bertahan lama selama satu periode pengurus dan lalu…. kembali senyyyyapppp. Beneran, nyesellllll banget. Andai punya pintu kemana sajanya Doraemon, rasanya… rasanya… Ah kesalahan ini tak mungkin diperbaiki jadi lupakan!.

8.     Dan wisuda tepat waktu!
Wisuda gelombang pertama dari angkatanku dan dan surprisenya namaku yang pertama dipanggil karena IPK tertinggi #malu-malu tutup toga. Awalnya celingak-celinguk nggak percaya… meski tidak cumlaude karena ada SATU NILAI C yang entah mengapa luput dari perhatian karena malas ikut kuliah ulang!. Andai itu C berubah jadi B… ohh sakitnya tuhhhhh di angka terakhir di belakang KOMA.

9.     Setelah Wisuda
      Perjuangan masih berlanjut dengan yang namanya Kepaniteraan Klinik Keperawatan Senior K3S di Rumah sakit Zainal Abidin, RSJ, Puskesmas, Komunitas dan Panti Jompo. Jujur ini program K3S bikin tangan pegellll karena nulisin laporan!. Iya nulisnya pake tangan, berlembar-lembar. Dan prinsipnya tetap sama malah lebih parah karena suami sudah berangkat duluan ke Jakarta, kerja disana dan ultimatumnya jelas ‘Segera Susul naik pesawat tercepat!’. Pesawat apaan… aku ingin menikmati profesi ini bang!. Leave me alone!. Dan lalu drama ala sinetron...

10. Semakin diremehkan semakin melawan (1).
Curhat ya.. sebenarnya aku suka bekerja di Rumah Sakit, suka aroma obat-obatan juga suka dengan seragam putih bersih yang aku pakai, atau kalau lagi di UGD, ICU, ICCU dan ruang operasi suka dengan seragam steril khususnya. Menikmati ketika harus memasang infus pasien meski awalnya takut-takut, menikmati membersihkan luka ganggren pasien Diabetes dan mengganti perban juga merasa berarti ketika memandikan dan membersihkan kotoran pasien tak sadar di ruang ICU. Meski sebagai mahasiswa K3S cenderung dianggap remeh dan yahhhh memang sih tak seterampil para perawat beneran dan wajarkan?. Maka ketika ada perawat senior yang mentertawakan kesalahan kecil yang aku perbuat… aku berkata dalam hati. Lihat saja nanti! Lihat!...Lihat!. Dan lalu… berlalu… #eh

11.  Semakin diremehkan semakin melawan (2)
Sewaktu K3S di UGD aku pernah (sering) diremehin pasien dan keluarganya. Ketika itu sedang ramai-ramainya pasien, sehingga harus bergerak cepat dan mandiri. Dan entah bagaimana awalnya seperti dalam adegan kritis sebuah film aku menemukan diriku berada di dekat troli penuh perlengkapan pertolongan pertama, di depan pasien berwajah kesakitan yang tampak kekuragan cairan, aku sendiri diantara anggota keluarga, sanak saudara dan teman-temannya baik teman dekat maupun teman baru bertemu yang mengerubungi si pasien, bersikap seolah ingin melindunginya dari aku, semua mata menatap sangsi dan ribut berujar ‘Perawatnya mana? Kamu kan praktek! Nanti saja pasang infusnya sama perawat. Nanti kalau ditusuk bolak-balik kan sakit dan blah..blah…blah..’. Ego intelektualku terusik dan mencoba menjelaskan dengan istilah-istilah medis tentang kondisi pasien, tentang betapa pasien butuh tambahan cairan segera dalam tubuhnya, tentang blah…blah…blah…. Dan Jesss! sekali tusuk itu jarum masuk ke pembuluh darahnya dan cairan infuspun mengalir. Akupun menjadi sombong!. tahu dong kalau biasanya pasien dehidrasi itu pembuluh darahnya mengecil hingga susah dipasang infus. Makanya do not underestimate the power of  K3S student!. 

12.  Pindah ke Jakarta
Harus adaptasi cepat demi keberlangsungan pergaulan di kota besar dan setelah mulai bisa menerima kenyataan kalau Jakarta begitu padat, kalau kemana-mana itu jauh dan macet tiba-tiba, kalau juga banyak hal yang bisa dilakukan di Jakarta dan mungkin aku akan memakai lagi seragam putih-putihku…..

13.  Pindah ke AFRIKA
Hanya melalui telefon suamiku mengejutkanku ‘Dek ke Afrika yok!’. Ohh yeahhh Madagascarlah negaranya. Awal sampai disini tetap harus beradaptasi dengan kondisi alam, orang-orangnya, bahasa, sosial budaya dan lain-lain. Yang membuat sedih adalah... seragam putih-putihku! (hanger mana hanger?). Meski ternyata pengalaman melihat dunia di luar Indonesia juga menyenangkan. Bisa mengunjungi tempat-tempat eksotik khas Afrika, negara-negara tetangga yang juga indah juga bertemu orang-orang dengan beragam ras, budaya dan agama. Sekarang sudah dua tahun di Madgascar dan seperti kata Khan… ‘All iz well!’.


Udah, itu aja… 13 hal yang diungkapkan secara tak merata kalau berdasarkan tahapan kehidupan.  Happy blogging, Happy Life!.
1

10 komentar :

Posting Komentar

Story of Ilakaka

15 komentar
Postcard : Childrens of Ilakaka

Seorang teman postcrosser dari Macau bertanya tentang kartu pos yang akan aku kirimkan untuknya. ‘Apa cerita dari kartu itu?’. Eh, apa ya?. Untunglah kami tak mengobrol langsung melainkan melalui chat fb jadi dia tak akan tahu kalau aku juga tak tahu :D dan aku terlalu gengsi untuk mengaku tak tahu. Karena pertanyaannya itu aku jadi lebih memperhatikan foto di kartu pos itu. Hanya ada keterangan sedikit di bagian belakangnya ‘Ilakaka’. Kenapa foto anak-anak dari Ilakaka ini menarik untuk dijadikan kartu pos?. Tentu ada alasannya. Karena pertanyaannya aku ‘terpaksa’ mencari tahu tentang itu, dan surprise! Apa yang aku temukan adalah sesuatu yg menakjubkan (setidaknya bagi aku), membuka wawasanku tentang sisi lain dari Madagascar, pulau yang sudah dua tahun aku dan keluarga diami.
Ilakaka adalah sebuah desa kecil di provinsi Ihorombe yang terletak di sebelah barat daya Madagascar. Dulunya hanya sebuah desa kecil yang dihuni oleh empat puluh jiwa penduduk dengan rumah-rumah kayu sederhana. Begitu terpencil bahkan keberadaannya tak penting untuk diketahui. Lalu segalanya berubah ketika pada tahun 1998 untuk pertama kalinya tersiar berita bahwa telah ditemukan bongkahan batu yang mengandung mica-gneiss, amphibolite, gabbro dan quartzite yang merupakan mineral radioaktif pembentuk safir dari bumi Ilakaka. Maka pendatang dengan segala kepentingan berdatangan. Penduduk dari desa-desa yang dekat dan yang jauh mencoba peruntungan dengan menjadi penambang tradisional, berharap batu-batu itu bisa membuat mereka meninggalkan kemiskinan dan hidup lebih layak. Penduduk Ilakaka booming menjadi puluhan ribu jiwa.

Foto dari : https://www.cs.utexas.edu/~shmat/photo/madagascar/01best/slides/16ilakaka1.html

Tak hanya masyarakat Malagasy yang datang, berita penemuan itu tersiar ke seluruh dunia. Para ahli/ilmuwan permata merasa harus meyakinkan diri mereka kalau permata yang ditemukan itu adalah asli, hasil bentukan alam ribuan tahun. Mereka datang dengan peralatan laboratorium canggih dan ketika tak juga puas dengan hasilnya mereka membawa beberapa karat bongkahan batu ke negaranya untuk diperiksa di laboratorium. Dan lalu berseru lantang : 'Keren! ini batu semuanya alami  dengan kualitas tinggi bukan buatan!'.
Para pedagang permata dunia melihat ini sebagai peluang besar, harta karun itu tak boleh hanya berada di bawah bumi, harus dikeluarkan agar dunia mengaguminya. Bahkan dikabarkan aktivitas riuh sekitar pertambangan Tanzania mendadak sepi karena para pedagang beralih ke Ilakaka yang merasa pertambangan di Ilakaka lebih menjanjikan pada waktu itu. Dan dalam waktu singkat Madagascar menjadi salah-satu pemasok permata dunia terbesar.

Foto dari : http://www.fieldgemology.org/
Ilakaka berkembang pesat. Rumah-rumah beton dibangun, toko-toko berderet membentuk pasar, juga dibangun gereja dan mesjid. Potensi safir bersama permata lain termasuk emas dan perak yang ditemukan sangat besar, tertanam dalam cakupan area 350 meter persegi juga di aliran-aliran sungainya. Para penambang lokal lebih mengutamakan kekuatan otot dan peralatan sederhana, meski ada juga beberapa peralatan yang lebih modern. 
Kementerian Pertambangan yang berwenang membuka kesempatan pemilik modal untuk melakukan penambangan. Petak-petak wilayahpun ditandai. Izin-izin tambang diberikan kepada kelompok besar yang lebih terorganisasi yang lalu melakukan perjanjian dengan penambang lokal. Konflik kepentingan antara kelompok pertambangan, penambang lokal, penduduk desa setempat, penambang liar yang datang dari mana saja terkadang meluap sebagai bentuk kekerasan. 
Seorang teman bercerita bahwa suatu kali pedagang Thailand datang ke Ilakaka untuk membeli permata. Setelah transaksi dilakukan mereka berencana kembali ke Antananarivo namun di tengah jalan mereka dihadang segerombolan orang tak dikenal yang menyerang mereka hingga tewas. Batu itupun kembali ke Ilakaka untuk dijual lagi kepada pembeli lain.
Foto dari : http://www.fieldgemology.org/blog_byKey.php?key=Ilakaka

Lalu apa yang terjadi sekarang? Setelah bertahun-tahun dilakukanya eksploitasi?. Tentu cadangan batu semakin menipis. Para penambang bergerak ke area yang lebih luas, menggali lebih dalam untuk menemukan batu dengan kualitas tak sebaik dulu. Namun Madagascar begitu diberkati Tuhan karena batu itu tak habis-habisnya terus muncul di bagian pulau yang lain. Tak hanya safir namun juga ruby, emerald, zamrud, emas, perak dan jenis mineral alam lain. Lalu masyarakatnya kaya?. Oh, ini menyedihkan untuk mengatakan kalau Madagascar termasuk dalam negara-negara termiskin di dunia. Kemiskinan yang begitu mencolok terlihat mata tak hanya di desa-desa pelosoknya namun juga di kota-kotanya. Ironis!. 

Sumber :
www.rwwise.com/madagascar
www.gia.edu/gia-news-research-Sapphire-Mining-Ilakaka-Madagascar



15 komentar :

Posting Komentar