13 Fakta.

10 komentar

Foto terbaru kami ^^
Adalah GamInong, grup kumpulan para blogger-blogger keren dari Aceh yang sedang mencoba untuk seru-seruan dan berkenalan dengan sesama anggotanya. Aku yang juga ‘ngaku-ngaku’ anggota GamInong juga ingin terlibat… dan yeahhh inilah 13 hal tentangku. 13?, iya!, karena 30 fakta rasanya terlalu banyak bagi aku yang sederhana dan lebih suka gaya minimalis ini. #boleh iri. 13 hal yang juga begitu sederhana.
Pinginnya sih menulis hal-hal hebat semacam : pernah mendapat nobel perdamaian dunia (karena aku memang aslinya cinta damai banget) atau pernah jadi pemenang American Idol atau pernah menulis buku yang lebih keren dibanding karya-karya Khaled Hosseini (Aminnnnn) atau sering menolak tawaran diajak main di film Holliwood karena masalah idealisme namun setelah tepuk-tepuk pipi dan cubit-cubit tangan sendiri sadar kalau itu adalah kebohongan publik yang bisa menggoncang jagad. Jadi, ya sudahlah apa adanya saja ya… ^^d

1.     Putri kelima dari enam orang putri bapak dan mak.
Almarhum Bapak menjadi penghuni rumah terganteng, harus pasrah jika menonton bola sendiri karena yang lain lebih senang menonton sinetron. I love you sooooo much Bapak.

2.     Pulau Tiga
Selama Ramadhan ketika kami tinggal di Pulau Tiga nun di sudut Aceh Tamiang sana, keluarga besar kami menjadi penguasa mesjid. Abiwa (suami kakak Bapak) yang menjadi imam, abang sepupu menjadi muadzin, kakak yang sedang libur dari pesantren menjadi penceramah pada beberapa malam (bukan sepanjang Ramadhan karena ada juga Ustadz lain juga) dan shaf-shaf dipenuhi oleh kami sekeluarga ; keluarga Bapak dan keluarga Abiwa. Apalagi akhir-akhir Ramadhan kami semakin merajalela di dalam mesjid, satu shaff bisa kami semua!. Yang lain adalah bintang tamu. Bangga atau sinis ya?

3.     Nggak Gaul.
Enam tahun menjadi anak asrama di sebuah pesantren Langsa membuatku ‘nggak gaul’ kalau pulang kampung. Kalau di jalan ada yang nanya ‘Dari Pulau Tiga ya? Kenal si A? si B? si Z?’ aku menggeleng dan mencoba mempertahankan ego dengan menjawab ‘Sebenarnya saya lahir di Beureunun (baca : Bernun), Aceh Pidie. Tapi jika ditanya lagi ‘Rumahnya jauh dari Simpang Tanjung? ,harga emping sekilo berapa? atau tahu rumah Tgk. Daud Beureu’eh?’ akupun menutup muka, pura-pura benerin jilbab dan mengelak karena juga nggak tahu… Kuper abiss!.

4.     Mendadak Nikah
Hanya dua tahun menikmati peran tunggal sebagai mahasiswa karena di semester empat mendadak dilamar oleh seorang lelaki yang juga masih berstatus mahasiswa di Universitas Telkom nun jauh di bumi Parahyangan sana. Jodoh itu memang penuh misteri. Lima tahun belajar di sekolah yang sama tanpa saling banyak bicara tiba-tiba setelah terpisah didekatkan dengan yg namannya internet sampai menikah. Warnet, connecting couples!.

5.     Melangkahi Kakak
Keluarga mendadak panik karena aku melangkahi ke tiga kakak perempuan yang masih pada ‘kalem-kalem’ dan santai mengaktualisasikan diri. Teman-teman seangkatan ‘geger’ namun untungnya tak mencapku teman durhaka karena ngasih kabar mendadak dan undangan hanya disebar melalui sms, malah secara rombongan datang ke acara walimahan dengan menyewa bus BE ke Beureunun dari Banda Aceh. Thank you friends, you are the best friends ever!.

6.     Kejar Wisuda!
Gara-gara mendadak nikah, kuliah jadi kayak wartawan dikejar deadline, kayak supir L300 trayek Banda Aceh-Medan yang berusaha sampai ke tujuan sebelum malam. Prinsip kuliahku menjadi ‘ambisius’ : semua mata kuliah harus lulus, nggak boleh ada yang harus diulang, anti dengan yang namanya semester pendek karena mengganggu masa libur, semua sks diperhitungkan benar dan tetap punya target lulus harus tepat waktu. Semacam tertantang untuk menepis image kalau menikah sambil kuliah itu bisa jadi mahasiswa abadi atau kuliah nggak lulus-lulus atau endingnya DO. Maka jadilah aku mahasiswa cuek yang tetap ke kampus meski sedang hamil besar. Tetap percaya diri berbaur dengan teman-teman modis yang menikmati indahnya dunia… Dan ehemmm meski menikah pernah loh dapat IP 4 meski cuma sekali doang! (tepuk-tepuk dada). Itu prestasi kan? Iya kan…? Kan…?. Meski lalu itu ijazah masih belum digunakan juga hingga sekarang. Hiks!.(urut-urut dada).

7.     Korban.
Namun ternyata tetap ada yang harus dikorbankan, pengalaman sebagai harta berharga selama kuliah yang bernama ‘organisasi!’. Pernah mendaftar sebagai pengurus PEMA Unsyiah ; masuk di bagian Kesejateraan Mahasiswa, setelah mengikuti orientasi dan rapat perdana mendadak senyyyyappppppp. Kalau lewat PEMA tutup muka pake tas. Di BEM Fakultas mendaftar di bidang keputrian, bahkan tak sempat ikut menyusun proker lalu juga senyyyaapppp, menghilang. Di Program Studi lebih bertahan lama selama satu periode pengurus dan lalu…. kembali senyyyyapppp. Beneran, nyesellllll banget. Andai punya pintu kemana sajanya Doraemon, rasanya… rasanya… Ah kesalahan ini tak mungkin diperbaiki jadi lupakan!.

8.     Dan wisuda tepat waktu!
Wisuda gelombang pertama dari angkatanku dan dan surprisenya namaku yang pertama dipanggil karena IPK tertinggi #malu-malu tutup toga. Awalnya celingak-celinguk nggak percaya… meski tidak cumlaude karena ada SATU NILAI C yang entah mengapa luput dari perhatian karena malas ikut kuliah ulang!. Andai itu C berubah jadi B… ohh sakitnya tuhhhhh di angka terakhir di belakang KOMA.

9.     Setelah Wisuda
      Perjuangan masih berlanjut dengan yang namanya Kepaniteraan Klinik Keperawatan Senior K3S di Rumah sakit Zainal Abidin, RSJ, Puskesmas, Komunitas dan Panti Jompo. Jujur ini program K3S bikin tangan pegellll karena nulisin laporan!. Iya nulisnya pake tangan, berlembar-lembar. Dan prinsipnya tetap sama malah lebih parah karena suami sudah berangkat duluan ke Jakarta, kerja disana dan ultimatumnya jelas ‘Segera Susul naik pesawat tercepat!’. Pesawat apaan… aku ingin menikmati profesi ini bang!. Leave me alone!. Dan lalu drama ala sinetron...

10. Semakin diremehkan semakin melawan (1).
Curhat ya.. sebenarnya aku suka bekerja di Rumah Sakit, suka aroma obat-obatan juga suka dengan seragam putih bersih yang aku pakai, atau kalau lagi di UGD, ICU, ICCU dan ruang operasi suka dengan seragam steril khususnya. Menikmati ketika harus memasang infus pasien meski awalnya takut-takut, menikmati membersihkan luka ganggren pasien Diabetes dan mengganti perban juga merasa berarti ketika memandikan dan membersihkan kotoran pasien tak sadar di ruang ICU. Meski sebagai mahasiswa K3S cenderung dianggap remeh dan yahhhh memang sih tak seterampil para perawat beneran dan wajarkan?. Maka ketika ada perawat senior yang mentertawakan kesalahan kecil yang aku perbuat… aku berkata dalam hati. Lihat saja nanti! Lihat!...Lihat!. Dan lalu… berlalu… #eh

11.  Semakin diremehkan semakin melawan (2)
Sewaktu K3S di UGD aku pernah (sering) diremehin pasien dan keluarganya. Ketika itu sedang ramai-ramainya pasien, sehingga harus bergerak cepat dan mandiri. Dan entah bagaimana awalnya seperti dalam adegan kritis sebuah film aku menemukan diriku berada di dekat troli penuh perlengkapan pertolongan pertama, di depan pasien berwajah kesakitan yang tampak kekuragan cairan, aku sendiri diantara anggota keluarga, sanak saudara dan teman-temannya baik teman dekat maupun teman baru bertemu yang mengerubungi si pasien, bersikap seolah ingin melindunginya dari aku, semua mata menatap sangsi dan ribut berujar ‘Perawatnya mana? Kamu kan praktek! Nanti saja pasang infusnya sama perawat. Nanti kalau ditusuk bolak-balik kan sakit dan blah..blah…blah..’. Ego intelektualku terusik dan mencoba menjelaskan dengan istilah-istilah medis tentang kondisi pasien, tentang betapa pasien butuh tambahan cairan segera dalam tubuhnya, tentang blah…blah…blah…. Dan Jesss! sekali tusuk itu jarum masuk ke pembuluh darahnya dan cairan infuspun mengalir. Akupun menjadi sombong!. tahu dong kalau biasanya pasien dehidrasi itu pembuluh darahnya mengecil hingga susah dipasang infus. Makanya do not underestimate the power of  K3S student!. 

12.  Pindah ke Jakarta
Harus adaptasi cepat demi keberlangsungan pergaulan di kota besar dan setelah mulai bisa menerima kenyataan kalau Jakarta begitu padat, kalau kemana-mana itu jauh dan macet tiba-tiba, kalau juga banyak hal yang bisa dilakukan di Jakarta dan mungkin aku akan memakai lagi seragam putih-putihku…..

13.  Pindah ke AFRIKA
Hanya melalui telefon suamiku mengejutkanku ‘Dek ke Afrika yok!’. Ohh yeahhh Madagascarlah negaranya. Awal sampai disini tetap harus beradaptasi dengan kondisi alam, orang-orangnya, bahasa, sosial budaya dan lain-lain. Yang membuat sedih adalah... seragam putih-putihku! (hanger mana hanger?). Meski ternyata pengalaman melihat dunia di luar Indonesia juga menyenangkan. Bisa mengunjungi tempat-tempat eksotik khas Afrika, negara-negara tetangga yang juga indah juga bertemu orang-orang dengan beragam ras, budaya dan agama. Sekarang sudah dua tahun di Madgascar dan seperti kata Khan… ‘All iz well!’.


Udah, itu aja… 13 hal yang diungkapkan secara tak merata kalau berdasarkan tahapan kehidupan.  Happy blogging, Happy Life!.
1

10 komentar :

  1. memang masa-masa K3S ini lumayan seru ya.
    Aku menikah ketika k3s sedang berlangsung, lalu hamil, dan melahirkan tepat sebulan setelah k3s selesai. Leganya itu berasa double :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ka... rasanya nano-nano ya.. iya Nufus ingat Kak Eqi datang waktu mau yudisium setelah lahiran ya kak?

      Hapus
  2. Kak Aton sih emang berprestasi dari duluuuuu... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduhhhh Rin... tutup muka lagi ah..

      Hapus
  3. Aih serunya si Kakak dan seneng banget bisa selesai kuliah tepat waktu yaa... Ingat Kak Haya yaa ingat Madagascar (hlho ??). Sewaktu kecil suka baca cerita Ferdinand Magelhaen (Magellan?) yang menjelajah hingga ke Tanjung Harapan. Jadi suka liat2 Peta Afrika. Klu ga salah Tanjung Harapan itu di Madagascar ya, Kak? Salut sangat juga dgn prestasinya Kak. Semoga jadi inspirasi buat kita semua yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Azhar... karena jarang yg ke Madagascar ya? disini warga Indonesia cuma sekitar 35-40an orang ada juga pekerja kapal yang kadang berlabuh di pelabuhan. Tapi orang madagascar kenal sama kita hehehe...

      Hapus
  4. Menikah dadakan terus kuliah jadi makin semangat, wah ini akibat yang positif ya Mbak... Saya juga dulu 3 tahun hidup di asrama pesantren Mbak, ahamdulillah sama kasusnya. Hehe... nggak kenal siapa-siapa kalau ditanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tosss mbak Sofia.. hihihi emanglah ya kalau sering nggak di rumah jadi gak gaul abizz :D

      Hapus