Pergi? Yokk!!!

1 komentar


Setiap orang bisa berubah ; disengaja atau tidak, dengan usaha sendiri atau pengaruh dari lingkungan sosial. Contohnya saya. Dulunya, saya bukanlah orang yang senang bepergian. Menghabiskan waktu di rumah dengan membaca novel atau menonton televisi lebih menarik bagi saya dibanding berjam-jam duduk di dalam mobil terayun-ayun hingga merasa pusing dan lelah untuk sampai ke suatu tempat yang berbeda. Dulu, saya juga tak terlalu senang bertemu orang-orang baru atau berada dalam khalayak ramai juga tak terbiasa memulai obrolan basa-basi karena menganggap tak ada yang bisa diceritakan. Namun sekarang, setelah beberapa kali melakukan perjalanan, sepertinya saya mulai berubah. Mungkin juga akibat pengaruh buku-buku traveling yang saya baca. Kisah-kisah yang diceritakan berdasarkan pengalaman penulisnya mensugesti dan memancing rasa ingin tahu dan juga ingin mengalami hal yang sama. Ya, traveling menjadi trend gaya hidup masa kini. Orang mulai menyebarkan faham kalau bepergian untuk mendapat banyak pengalaman lebih berarti dibanding membeli barang-barang mewah.
Dan memang pengalaman melihat hal yang berbeda dari keseharian kita, melihat bagian lain dari dunia yang biasa kita lihat atau berinteraksi dengan warna-warni agama, budaya juga tradisi yang ada di dunia ini membuat pikiran lebih terbuka dan lebih mampu bersikap bijak dalam menghadapi perbedaan. Dan tak jarang berada di tempat asing membuat kita 'tiba-tiba' mengenal bagian dari diri kita yang dulunya tersembunyi. Dalam sebuah perjalanan pula kita seringkali dipaksa keluar dari zona nyaman kita, juga tidak lagi merasakan kekhawatiran akan baik buruknya penilaian sanak saudara, teman atau orang-orang terdekat tentang tindakan yang kita lakukan. Makanya, orang yang merantau cenderung lebih tidak merasa gengsi untuk melakukan apa saja apalagi jika untuk bertahan hidup. 
                                 
      

Selain itu, perjalanan juga membuat kita banyak merenung dan lalu mensyukuri banyak hal. Keindahan-keindahan yang terpampang di depan mata jelas adalah anugerah. Memiliki waktu dan kesempatan menikmati karya sang kuasa, bertemu orang-orang baru adalah nikmat dari perjalanan. Juga terkadang kita mampu menemukan bagian dari diri kita ketika berada jauh dari rumah.                               

Tahun lalu saya dan teman-teman mengunjungi Mauritius yang hanya berjarak tiga jam penerbangan dari Antananarivo. Negara pulau yang berjarak 2.000 kilometers dari garis pantai tenggara benua Afrika itu menawarkan ragam keindahan : hamparan pantai dengan pasir-pasir putih, aliran sungai, hutan-hutan tropisnya juga perbukitan beserta gunung vulkanonya. Tak hanya alamnya yang alami namun juga perkotaannya yang rapi, bersih dan tertib membuat pengunjung akan betah. Mauritius termasuk negara maju di Afrika.



Ketika ke Mauritius itulah saya menemukan diri saya sangat 'penakut'. Saya menolak segala tawaran permainan yang memancing adrenalin. Ketika teman-teman begitu bersemangat melakukan snorkeling, walking in the sea, parasailing di atas laut saya berkeras tak mau ikut. Meskipun ditawari pemandu yang akan terus mendampingi, meskipun katanya aman 100%. Saya lebih memilih berjalan di pantai dan atau menunggui tas teman-teman saya. bahkan untuk berenangpun saya harus mikir dan ragu-ragu. Hingga seorang teman berkomentar 'kamu trauma sama laut ya?'. Pertanyaan yang tak terpikirkan, namun mungkin sebenarnya itu ada di bawah alam sadar saya. Pertanyaan itu mengganggu saya. Apa iya?.
Pagi esok harinya saya memutuskan berjalan sendiri ke  pantai dekat penginapan. Suasana pantai yang masih sepi sepagi itu, saya nikmati sambil merenung. Berusaha bertanya-tanya pada diri sendiri ketika memandang luas ke arah lautan sana : ‘Apa yang kamu rasakan Haya? Takutkah kamu pada luasnya samudera?’. Saya tak mau mengakui rasa takut, saya mampu menikmati pantai dan batas laut di depan saya. namun memang selintas pikir ketika melihat ombak yang bergulung.... yang saya bayangkan adalah tsunami!. That's it!. Saya trauma?. Mungkin saja ya?.
Apakah saya masih dihantui bayang-bayang tsunami yang dulu pernah saya saksikan sendiri?. Ketika itu 26 Desember 2004 saya di Banda Aceh merasai gempa besar sejak pagi, dan ikut berlari dalam huru hara yang begitu membingungkan, hingga gulungan tinggi ombak yang tanpa 'rasa kasih' menyapu apa saja yang ada di depannya. Saya sempat melihat deretan mobil dan orang yang memenuhi jalan tiba-tiba lenyap tergulung sebelum kaki saya berbelok menaiki gedung berlantai tiga di deretan opertokoan Lingke. Gulungan ombak besar itu berasal dari laut!. Ah, menceritakan itu adalah hal yang sebenarnya, selalu saya hindari. tak ingin lagi mengingat, gejolak rasa tak berdaya ketika itu. Dan memang kilasan balik pengalaman traumatis itu terkadang bukan untuk dihindari namun dihadapi dan diatasi.
 Lagi saya bertanya pada diri sendiri : Apa saya trauma dengan lautan?. Dan kesendirian untuk merenung itu membuat saya nyaman. Butuh waktu  untuk menaklukan ketakutan itu. Menyendiri membuat saya berusaha melihat ke dalam diri saya sendiri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, bisik hati saya berkali-kali. Lihat! yang ada di depan sana sangat indah dan tenang!.
 

Dan ternyata, traveling itu membuat candu. Selesai satu perjalanan saya seperti ingin segera kembali melakukan perjalanan. Apalagi keberadaan saya di Madagascar hampir mendekati deadline!. Kemungkinan besar delapan bulan lagi masa kontrak suami berakhir, yang artinya kami harus kembali ke Indonesia yang artinya 'ayo manfaatkan sisa waktu yang ada' karena bisa dipastikan entah kapa lagi bisa kembali menginjakkan kaki di pulau Madagascar ini atau di benua Afrika.
Bicara tentang Benua Afrika, saya punya wishlist yang harus saya lakukan sebelum kembali ke Jakarta yaitu : traveling ke Johannesburg, Pretoria dan Capetown!. Aminnnnnn!!!. Menurut saya tiga kota itu adalah destinasi wajib Afrika Selatan. Tapi kapan? sama siapa? uangnya mana?. Kalau mau pasti bisa, ya kan?. 
Happy Blogging!
Haya
 

1 komentar :

  1. mumpung di Afrika mbak ..harus banget di jelajahi :)

    BalasHapus